Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 207 – Pertarungan Antar Pewaris


__ADS_3

"Apa-apaan?!" pekik Sung Hwa memandang potongan pedangnya. Dia melongo heran.


Di sana Naga Sakti pun bereaksi sama seperti orang lain, memandang bengong potongan Pedang Gerhana Matahari yang telah patah itu.


Namun keheningan ini pecah tatkala dari pinggiran sana Kay Su Tek tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha, lihat. Pedang Gerhana Bulan telah berhasil mematahkan Pedang Gerhana Matahari! Naga Sakti, tunggu apa lagi? Habisi lawanmu!!"


Kakek tertua dari Naga Sakti itu seperti tersadar dari mimpi. Ia menyeringai ke arah Sung Hwa karena balas dendamnya hampir terlaksana. Tiga muridnya, Naga Sakti Ujung Timur yang dibunuh gadis ini selalu menghantui tidurnya.


Naga Sakti Ujung Timur itu memang merupakan murid-murid tersayang dari tiga kakek Naga Sakti. Begitu mereka diutus untuk mengacaukan di desa patriot kala itu, tak pernah kembali lagi setelahnya. Begitu orang-orang memyelidiki, kiranya pendekar Rajawali Merah telah membunuh mereka.


"Terimalah kematianmu, Rajawali Merah!!" Naga Sakti menubruk dengan sinar pedangnya lebih dulu mengancam leher.


Sung Hwa yang masih kebingungan itu terlambat bereaksi. Ditambah guncangan batin saking terkejutnya, dia terlambat mengelak.


Namun saat itu, nampak kelebatan bayangan yang berasal dari barisan para penonton, dan tahu-tahu orang ini telah berdiri di depan Sung Hwa dengan kedua lengan terpentang.


Semua orang kaget begitu melihat wanita berkerudung yang berkaki buntung itu telah berdiri di depan Sung Hwa demikian cepatnya. Gerakan itu merupakan gerakan ahli silat tinggi!


Sama dengan Sung Han. Dia sendiri pun terkejut sekali dengan siapa yang baru saja datang menghadang serangan Naga Sakti itu. Apalagi ketika tudung jubahnya terbuka, hampir pemuda ini menangis.


Cepat ia bangkit dan mencabut pedang, lalu memelesat ke tengah kancah pertarungan. Sedetik kemudian, dia sudah berdiri tepat di hadapan dua orang gadis itu.


"Mengalahkan pedang palsu, jangan berbangga diri!!!" Sung Han membentak. Pedangnya berkelebat dan membentur pedang lawan dengan keras, membuat Naga Sakti itu terpental beberapa tombak.


"Ughh...." dari ujung bibir kakek itu, mengalir darah segar.


Semua orang seketika terdiam, keadaan menjadi hening.


Lalu pertama-tama, yang sadar lebih dulu adalah kakek Sie Kang.


"Pedang palsu, apa maksudmu?"


"Sudah jelas di depan mata!" Sung Han berseru, ditujukan kepada semua orang. "Inilah Pedang Gerhana Matahari yang asli. Dan orang inilah yang menjadi pewarisnya!" kata Sung Han sambil menunjuk diri sendiri.


Gegerlah keadaan di sana. Para penonton bangkit berdiri untuk memandang lebih jelas wujud pedang itu. Mereka belum pernah melihat Pedang Geehana Matahari secara langsung, hanya pernah mendengar jika pedang itu terjatuh ke tangan Serigala Tengah Malam.


Namun pedang itu telah patah. Dan sekarang muncul satu pemuda yang membawa pedang itu, sama persis bentuknya.

__ADS_1


Tak mungkin Pedang Gerhana Matahari ada dua.


"Ah, dia pasti Sung Han!" seru salah seorang. Agaknya sudah mengenal pemuda ini. "Dia pemberontak Sung Han. Dialah pewaris pedang Gerhana Matahari yang asli."


"Bukankah dia sudah lama mati?"


"Tidak mungkin!"


Keadaan makin ribut, namun tidak dengan dua rombongan dan dua pihak yang bersangkutan.


Sung Han menoleh ke belakang. "Kukira kau sudah mati..."


Pemuda ini tersenyum getir, namun penuh kelegaan. Ia melihat betapa wanita berkaki buntung itu telah jatuh berlutut dan menangis.


"Kupikir....kau juga sudah mati..." ucapnya.


"Yang Ruan, bawa nona Sung Hwa mundur," ia lalu menoleh kepada Sung Hwa. "Saudariku, ambil ini!"


Sung Hwa kaget ketika Sung Han melemparkan sesuatu. Kiranya itu sebuah roti kering.


"Anggap saja itu untuk balas budiku akan pertolonganmu yang pertama. Dan pertarungan kali ini, merupakan balas budiku untuk pengampunan nyawaku di waktu itu. Kita impas." Sung Han tersenyum lebar.


"Nah, sekarang mari kita tentukan," Sung Han menudingkan pedangnya ke depan. "Ahli waris Perang Gerhana Matahari sudah berdiri di sini. Apakah pemilik Gerhana Bulan masih juga bersikap pengecut dengan membiarkan penggantinya dijadikan perisai?"


Merah wajah Kay Su Tek. Seketika pandangannya mengeluarkan kilat-kilat mengerikan. Ia mengangkat tubuhnya bangkit dari duduk dan sekali melompat, sudah berada di hadapan Sung Han.


"Kemarikan!" ujar Kay Su Tek singkat merenggut pedangnya dari Naga Sakti. "Kembali ke tempatmu!"


Naga Sakti menjura hormat dan dengan patuh kembali ke tempat semula. Berdiri di antara dua saudaranya yang lain.


Saat ini keadaan menjadi lebih tegang, jauh lebih tegang daripada yang sebelumnya. Bagaimana tidak, yang berdiri saling berhadapan saat ini adalah pemilik asli pedang gerhana. Pewaris yang sesungguhnya, pastilah pertandingan kali ini jauh lebih hebat.


"Sung Han, kukira kau telah mati."


Sung Han mendengus. "Hmph, aku tak akan mati sebelum mematikanmu!"


Kay Su Tek mengeluarkan kekehan meremehkan. "Kupikir kau tak mau melawanku."


"Kali ini tidak!" Sung Han berkata tegas. "Kutukan itu ternyata nyata."

__ADS_1


Kekehan Kay Su Tek makin keras, makin terdengar meremehkan. "Heheh, kau ternyata percaya tahyul!"


Sung Han tak menyahut. Melihat ini, Kay Su Tek menghentikan kekehannya dan memandang penuh perhatian. Diam-diam keduanya telah mengerahkan hawa sakti ke seluruh tubuh, siap menghadapi kemungkinan apapun.


Secara bersamaan dan dalam gerakan lambat-lambat, kedua pemuda itu melakukan gerakan pembuka dari kuda-kuda mereka.


Kay Su Tek mengarahkan pedangnya ke tanah, kedua kaki diposisi depan dan belakang. Sedangkan baju lengan kirinya berkibaran tertiup angin. Matanya mengeluarkan sinar mengerikan.


Berbalik dengan Sung Han. Pemuda itu mengacungkan pedangnya ke langit, lalu perlahan menempatkan gagang pedang di dahinya. Tangan kiri dengan jari terbuka diletakkan di depan dada, kedua kaki rapat.


Inilah kuda-kuda dari ilmu silat yang tingkatnya teramat tinggi. Bahkan tiga orang pertapa yang memiliki kepandaian amat tingginya itu memandang pemuh kagum.


Tiga orang ini bertindak sebagai wasit, dan mereka telah memutuskan bahwa pertandingan mengadu Pedang Gerhana belum selesai karena ternyata kedua orang tadi bukanlah pewaris asli. Maka dari itulah ketika dua orang muda ini maju, tak ada dari mereka yang menghentikan.


Kuda-kuda pembuka dari kedua orang itu memang berasal dari ilmu silat yang tingkatnya tinggi sekali. Semua orang tahu itu. Terlihat dari sikapnya yang seolah-olah membuka seluruh celah tubuh, padahal jika diperhatikan lebih teliti, bahkan di titik buta sekali pun dua orang ini tak memiliki celah.


Ini pertarungan antar pendekar sejati! Pendekar sejati tulen!


Sampai lama keduanya berdiri dalam sikap seperti itu, sama sekali tak bergerak seperti arca. Keduanya saling menunggu pihak lawan untuk menyerang lebih dulu, karena bagaimanapun untuk pertarungan silat tingkat tinggi, siapa yang menyerang lebih dulu akan membuka satu celah di tubuhnya.


Keduanya melakukan semacam pertarungan bayangan, memikirkan segala kemungkinan di otak mereka. Memikirkan kemungkinan terbesar apa yang akan lawan lakukan di serangan pertama, bagaimana reaksinya dan bagaimana serangan balasannya. Karena pertarungan pikiran inilah, tiga puluh menit berselang mereka belum juga bergerak dari tempat.


Namun walau demikian, tak ada satupun orang yang berani buka suara.


Akhirnya, Kay Su Tek memutuskan untuk menyerang lebih dulu.


Serangan pertama berupa langkah kilat dengan satu langkah cepat nan lebar. Tiba-tiba dia sudah sampai di depan Sung Han dan menebaskan pedangnya ke kedua kaki.


Sung Han sudah menduga ini karena kedudukan kakinya memang yang paling terbuka. Namun dia sudah menggerakkan pedang tepat ketika Kay Su Tek menebas.


"Trang!!"


Dua pedang dengan tenaga raksasa saling bertemu dan keduanya terpental dua tombak. Mereka segera memeriksa senjata masing-masing dan menghela napas lega ketika mengetahui tak ada kerusakan.


Keduanya maklum, kekuatan mereka berimbang.


Kembali keduanya, dengan sikap sigap dan cekatan, telah memasang kuda-kuda yang sama seperti sebelumnya. Dan sekali ini, mereka berdiri diam sampai satu jam lamanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2