Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 228 – Identitas Para Penyamar


__ADS_3

Xian Fa sudah mengenal pria ini, seorang pria yang mungkin umurnya hampir mencapai angka lima puluh, atau lebih sedikit. Sudah nampak banyak keriput namun masih terlihat kegagahan serta ketampanannya.


Begitu kedoknya terbuka, dia sama sekali tidak menunjukkan kelemahan dengan memperlihatkan ekspresi takut. Sebaliknya, dia memelototi Xian Fa dan Han Ji secara bergantian seraya mulutnya memaki.


"Bunuh saja aku jika kalian mau. Dasar anjing pemberontak! Siapa takut mati?" katanya.


Han Ji tak mengerti akan perubahan sikap Xian Fa. Mengapa pemuda itu tadi kelihatan amat terkejut. Sontak dia bertanya. "Siapa dia? Kau kenal?"


Xian Fa memandangnya. "Tentu saja, mengenal baik malah." Ia melihat pria itu kembali. "Dia ini ketua Naga Hitam. Gu Ren."


Kini Han Ji lah yang terkejut dan dia hampir memekik keras jika tidak cepat-cepat membungkam mulutnya dengan tangan. "D-dia ini?"


Xian Fa hanya mengangguk.


Gu Ren sama sekali tidak menunjukkan rasa takut begitu identitasnya ketahuan. Walau ada raut keterkejutan di wajahnya, namun mulutnya memaki. "Bunuh saja aku, siapa takut mati? Dasar anjing pemberontak sialan!"


Xian Fa mengacuhkannya. Sebaliknya dia malah menyeret kaki Gu Ren dan membawanya menuju ke pondok kecil tempat biasa mereka bercakap-cakap. Sesampainya di sana, Han Ji menyalakan lilin namun dicegah oleh Xian Fa ketika hendak menyalakan lilin kedua. Pemuda itu berkata.


"Cukup satu saja, ini pertemuan rahasia kita."


Xian Fa lalu mendudukkan tubuh Gu Ren ke bangku, sedangkan dia sendiri bersama Han Ji duduk di depannya. Gu Ren menatap keduanya berganti-gantian, seolah menantang.


"Siapa kalian sampai bisa mengetahui aku sedang menyamar," tanyanya dengan nada sedikit gusar. "Apakah ini semacam jebakan dari pangeran gadungan itu?"


"Dia pangeran asli, setahuku," koreksi Han Ji.


"Hanya darahnya yang pangeran, sikapnya bahkan lebih rendah dari perampok! Hanya berani main pengecut!" kembali Gu Ren melirik keduanya bergantian. "Hayo cepat bunuh aku, aku sudah mencela junjungan kalian."


Han Ji melirik ke arah Xian Fa, menyerahkan segalanya kepada pemuda itu. Sedangkan pemuda itu sendiri, tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Hanya datar saja dan sesekali menghela napas panjang.


Dia melepas topi capingnya dan sekali lagi menghela napas. Menurunkan kain penutup wajahnya lalu berkata. "Kebetulan tujuan kita sama. Agaknya engkau pun membenci pangeran satu itu sampai harus masuk ke sarang harimau ini."


Gu Ren mengerutkan kening. Antara tertarik, penasaran dan ragu. "Maksudmu?"


"Aku ini bukan anjingnya pemberontak, mau saja kau ditipu," Xian Fa berkata sambil menarik jenggot palsunya. Mengusap-usap wajahnya beberapa kali dan nampaklah wajah aslinya. "Kupikir kau masih mengingatku."


Kini mata Gu Ren yang terbelalak, bahkan mulutnya melongo saking kagetnya ia. Dia meneliti setiap bagian dari wajah Xian Fa, menyapunya dengan pandang mata dari atas sampai bawah. "Kau ..., Sung Han?"


"Selama kita di sini, panggil saja aku Xian Fa," Sung Han atau Xian Fa itu mengingatkan. "Bisa repot jika orang lain mengetahui identitasku."

__ADS_1


"Tapi ..., tapi ..., kau kan, bukankah salah satu dari mereka?" tanya Gu Ren masih setengah percaya.


Xian Fa tertawa. "Hahaha, kalian semua telah kena fitnah. Kau tahu apa yang menyebabkan aku dituduh pemberontak?"


"Kau menculik sang putri!" berkata demikian, wajah Gu Ren memerah menahan marah. Jika teringat akan hal itu, dia selalu emosi karena pelakunya adalah Sung Han. "Dan dahulu, bertahun-tahun lalu ketika kau masih bocah, aku yang menyelamatkanmu. Kiranya aku menyelamatkan seorang pemberontak!"


Xian Fa memghela napas. Dan entah ada dorongan dari mana, Han Ji menggenggam tangannya. Sekali ini wajah Xian Fa menunjukkan sedikit perubahan. Raut wajah yang membayangkan kelelahan batin dan kekecewaan.


"Itu bohong."


"Buktinya?" tuntut Gu Ren, dia malah makin tak percaya kepada Xian Fa. "Aku melihatmu sendiri kau sedang memanggul tuan putri!"


"Waktu itu, tuan putri sedang ditawan di markas Serigala Tengah Malam bersama dia." Xian Fa menunjuk Han Ji. Dan dia mengerutkan kening. "Perkenalkan dirimu."


"Han Ji."


Mata Xian Fa menyipit.


"Baiklah ...," akhirnya dia mengalah. Han Ji mengusap-usap wajahnya dengan lengan jubah dan nampaklah wajah aslinya. Gu Ren kembali berseru kaget.


"Wah, kau!"


"Sung Hwa. Kupikir kau kenal karena gambar wajahku cukup terkenal di utara sini." Entah kenapa, sekali ini Han Ji merasa bangga sebagai pemberontak. "Tapi ingat, panggil aku Han Ji di sini."


"Dengarlah dulu penjelasanku, kuyakin engkau bukan seorang yang terlalu buta untuk melihat kenyataan. Walaupun ceritaku cukup sulit dipercaya," kata Xian Fa menenangkan. "Waktu itu, tuan putri diberi semacam obat dan membuat dia pingsan. Saat itulah, dan secara kebetulan sekali, mendiang Kay Su Tek si Pendekar Tangan Satu datang menyelamatkan Sung Hwa. Sedangkan aku menyelamatkan sang putri yang sudah pingsan, tapi kami mengambil jurusan yang berbeda."


"Sesama pemberontak wajar kalau saling bela," dengus Gu Ren.


Xian Fa mengacuhkannya dan tetap melanjutkan. "Waktu itu aku menyamar sebagai anggota Serigala Tengah Malam. Di tengah jalan, aku bertemu rombongan kalian. Dan ketika sang putri bangun, kiranya dia sudah lupa ingatan."


"Ya ..., ya ..., aku percaya," ujar Gu Ren memotong perkataan Xian Fa. Terdengar sama sekali tak tertarik. Dia lalu mengalihkan pandangannya kepada Sung Hwa atau Han Ji. "Ceritamu?"


Han Ji tak langsung menjawab, gadis itu memberikan tatapan tegas penuh keyakinan. Dan hal ini membuat Gu Ren jengah sekaligus tak sabar.


"Ceritamu?" ulangnya.


"Kau termasuk pasukan patriot, kan? Berada di belakang tuan putri, kan?"


"Tentu saja."

__ADS_1


Han Ji mengangguk. "Kalau begitu, untuk sementara ini kita menjadi sekutu. Setelah selesai, kau temuilah tuan putri dan katakan padanya, 'Sung Hwa baik-baik saja', lalu lihat reaksinya. Kupikir itu cukup meyakinkanmu."


Gu Ren menatapnya dengan ekspresi bodoh. Keterangan macam apa itu? Dia kemudian melihat Xian Fa dengan tatapan menuntut penjelasan, namun Xian Fa yang sudah mengetahuinya hanya mengangguk.


"Lakukan itu, dan setelahnya aku tanggung kau akan menjadi sahabat kami."


"Bwahahaha!!!" Gu Ren tertawa sambil mendongakkan kepala. "Lelucon dari mana ini? Aku diajak bersahabat dengan para pemberontak?"


Tawanya makin keras, namun dia merasa aneh mengapa dua orang itu masih tetap bergeming. Tidak terbakar emosi atau jengkel. Mereka berdua hanya memandang Gu Ren dengan datar seolah menunggunya hingga berhenti tertawa. Tindakan ini membuat Gu Ren malu sendiri dan dengan otomatis, tawanya berhenti.


"Kalian sudah merasa yakin benar?" Gu Ren menyeringai.


"Aku yakin," Han Ji menjawab.


"Aku yakin dengan Han Ji, namun tidak yakin apakah tuan putri juga akan percaya padaku setelah tahu dia akan menjadi istriku."


Han Ji cemberut dan membuang muka.


Xian Fa melanjutkan. "Tapi aku yakin sekali, kau telah menjadi saksi betapa kami berdua sudah saling percaya. Dan jika perkataan Han Ji benar, aku ragu kau akan meragukanku. Kau menjadi menyebalkan hanya karena keadaan, bukan sifat aslimu."


"Apa-apaan itu?" dengus Gu Ren. "Jadi, selama kita di sini kita akan jadi sekutu?"


"Jika kau keberatan, harap jangan ganggu urusan kami. Itu saja."


Gu Ren berpikir beberapa saat. Ucapan keduanya tadi sungguh menyakinkan walaupun cerita Xian Fa lebih mirip seperti dongeng. Akan tetapi ada celah yang membuat keanehan di sini. Yaitu soal hilang ingatannya sang putri pada waktu itu.


Tiba-tiba Gu Ren berpikiran sesuatu. Jika tuan putri tidak pingsan dan melihat semuanya, bagaimana jadinya?


Agaknya kunci dari semua ini adalah mempertaruhkan semua nasibnya dengan memercayai Han Ji. Jika dia berkata pada sang putri 'Sung Hwa baik-baik saja' dan putri itu menunjukkan sikap bersahabat, maka dia akan percaya bahwa cerita Xian Fa tidak bohong. Bagaimanapun juga, sampai kini sebenarnya Gu Ren masih ragu jika Xian Fa adalah seorang pemberontak. Entah kenapa.


Berarti yang menyebabkan segala keruwetan ini adalah hilangnya ingatan sang putri waktu itu. Karena dengan demikian, tidak ada saksi mata lain kecuali si pelaku yaitu Sung Han sendiri yang kala itu entah menolong atau menculik sang putri.


"Aku sebagai pendekar tidak takut mati. Aku akan bertaruh, sekali ini, hanya di sini, selama belum pasti apakah ucapan Han Ji tadi benar adanya, maka aku hanya menjadi sekutu kalian, bukan sahabat. Setelah kita keluar dari sini maka hubungan kita adalah sebagai pemberontak dan patriot," kata Gu Ren.


"Tapi setelah aku menyampaikan, 'Sung Hwa baik-baik saja' kepada sang putri ...," dia berhenti sejenak. "Dan melihat reaksinya, dari situlah aku akan memutuskan bersahabat atau tidak dengan kalian."


Han Ji menyeringai. "Coba saja, aku juga akan bertaruh. Semoga tuan putri masih ingat pada pengawal pribadinya, hehe ...."


Mata Gu Ren terbelalak dan dia sedikit terkejut. Namun hanya sekejap saja.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2