
Tugas pengepungan di bukit itu, mereka anggap selesai. Sung Han bersama empat orang lainnya mendatangi jenderal Khu dan berpamit, kemudian pasukan pendekar ini pergi dari sana. Meninggalkan pasukan kekaisaran yang harus menyelidik sekeliling tempat itu lebih dulu.
Perjalanan dilakukan dengan amat gembiranya. Mereka tidak terburu-buru, menaiki kuda asal naik dan jalan saja. Tidak mengeprak kuda itu sehingga menyiksa si kuda. Sebaliknya, mereka melakukan perjalanan seperti orang berpelesir, menikmati pemandangan sambil bercakap-cakap.
Tentu saja mereka merasa girang dan bangga. Pasukan pendekar yang semua orang kira tak akan pernah bersatu, telah menunjukkan taringnya dalam tugas pembersihan pasukan Jeiji itu.
Yang lebih hebat lagi, pimpinan utamanya yaitu Sung Han, sama sekali tidak muncul apalagi dilihat musuh. Sehingga siapa pun orang Jeiji yang mampu selamat dari insiden tersebut, tak akan bisa memberi informasi mengenai kepala penyerangan para pendekar.
Mereka telah berhasil membuat nama. Membuktikan bahwa diri sendiri tidaklah seperti yang orang lain kira. Satu awalan yang gemilang.
Pagi hari itu ketika mereka sedang beristirahat, duduk di bawah pohon sembari membiarkan kuda-kuda makan rumput sekitar, datang seseorang dengan pakaian sederhana. Sekilas lihat seperti seorang petani dusun, namun dia menunggang kuda yang baik sekali.
Begitu sampai di tempat para pendekar beristirahat itu, orang ini segera menyapukan pandang ke sekeliling. Sama sekali tidak merasa gentar betapa seluruh pasang mata menatapnya dengan penuh intimidasi. Orang ini seolah tidak melihat sekumpulan pendekar itu.
"Saudara, siapa engkau? Kalau mau lewat, silahkan," salah satu pendekar tua berkata. Walau suaranya terdengar ramah, namun jelas mengandung kecurigaan dan pengusiran halus.
Orang berpakaian petani ini memandangnya penuh perhatian. Lalu melompat turun dari kuda. Semua orang tertegun sejenak melihat betapa ringannya gerakan itu. Seolah bukan kali pertama petani itu naik turun kuda.
Dia menghampiri si lelaki tua dan menjura dalam. "Maaf tuan pendekar, saya kemari untuk mencari seseorang marga Sung bernama Han."
"Sung Han?"
"Tidak salah."
Sontak, semua kegiatan berhenti. Mereka yang makan pagi menghentikan kunyahannya. Yang sedang setengah tidur langsung terjaga. Dan yang hanya duduk-duduk saja segera bangkit berdiri. Memandang lelaki itu yang sama sekali tidak kelihatan takut.
Pendekar tua itu menyipitkan matanya. "Kalau boleh tahu, apa urusanmu dengan Sung Han?"
"Menyampaikan pesan."
"Dari siapa?" tuntut pria tua itu.
"Paduka putri."
"Apa?"
Kini semua orang terkejut dengan mata terbelalak. Bahkan ada suara batuk-batuk tanda tersedak makanan.
"Kau jangan bicara sembarangan!" bentak si pendekar tua. "Mana buktinya!"
Petani itu masih bersikap tenang. Perlahan ia merogoh saku di balik bajunya dan memperlihatkan gulungan surat bertali emas. Tanda bahwa surat itu datang dari kekaisaran langsung.
__ADS_1
Kini mereka tak ada keraguan lagi. Pemuda ini memang utusan sang putri. Karena untuk memalsukan surat kekaisaran, selain bunuh diri, juga agaknya tidak mungkin karena kertas itu dibuat khusus oleh orang-orang istana. Yang cara pembuatannya tidak ada orang yang tahu selain mereka.
Si pendekar segera menghormat. "Maafkan kelancangan kami. Mari saya antar ke tempat tuan Sung."
Si pemuda petani mengangguk.
Namun beru tiga langkah berjalan, keduanya terkejut ketika tampak bayangan hitam berkelebat yang tahu-tahu sudah berdiri di hadapan mereka. Baik si pendekar maupun si pemuda terhenyak.
Namun, hanya beberapa saat mereka terkejut sebelum si pendekar tua menjura hormat. "Tuan, ada yang mencari anda."
Melihat sikap si orang tua, pemuda itu maklum bahwa yang dihadapinya kini adalah Sung Han. Maka dia menjura pula. "Saya utusan paduka putri. Menyampaikan sepucuk surat untuk tuan Sung."
Sung Han balas menjura. "Surat apakah itu?"
"Silahkan, tuan," ucap si petani seraya menyerahkan surat tersebut.
Sung Han segera melepas segel dan membacanya.
Aku mengirim mata-mata, dia sudah melihatnya. Mengirimiku pesan melalui burung merpati. Hasil kerjamu dan pasukanmu sungguh luar biasa dan amat mengangumkan. Aku punya tugas untukmu.
Jenderal Tang kuutus untuk menyelidiki tempat-tempat di sekitar Pegunungan Tembok Surga, dan dia menemukan salah satu sarang, bahkan benteng, Kekaisaran Jeiji di sela-sela himpitan jurang. Kini mereka menemui jalan buntu. Menyerang tak mungkin, mengepung pun tak akan berarti apa-apa.
Menurut pelaporannya, Tujuh Pendekar Telaga Dewa ada di sana. Maka dari itulah, bantuan orang-orang sakti seperti kalian amat dibutuhkan.
Kening Sung Han berkerut dalam dan dia memandang si petani tajam. "Di mana adanya jenderal Tang dan siapa itu Tujuh Pendekar Telaga Dewa?"
Pemuda itu agaknya sudah menduga bahwa Sung Han akan menanyakan hal tersebut. Dia mengeluarkan sebuah peta dan membukanya.
"Tempat jenderal Tang ada di sini," ujarnya sambil menunjuk ke satu tempat yang dekat dengan area sungai. Di sana, terdapat gunung-gunung yang membentuk jurang dalam.
"Lalu, Tujuh Pendekar Telaga Dewa?"
"Mereka adalah tujuh ronin tua mantan samurai. Mereka adalah para legenda bahkan ada yang bilang hanya dongeng. Mereka sudah merantau ke banyak tempat, salah satunya daratan kita ini. Sehingga tidak mengejutkan lagi jika mereka menguasai kepandaian silat dari daratan kita."
Mata Sung Han melebar. "Dibandingkan Kushinage Tenko dan jenderal Fujimino Shiro, kuat mana?"
Pemuda itu nampaknya sedang berpikir. "Kata orang, Kushinage Tenko sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan seorang dari Tujuh Pendekar Telaga Dewa."
"Jenderal Fujimino?"
"Saya tidak tahu."
__ADS_1
Sung Han kembali memandangi surat itu, menelitinya beberapa saat dan menggenggamnya erat. "Mari kau masuk dulu untuk beristirahat."
...****************...
"Mereka sengaja menampakkan diri. Bukankah mereka sedang menunggu invasi dari selatan datang ke sini?"
Khuang Peng menyetujui ucapan Sung Hwa barusan. "Tapi kenapa pasukan dari selatan tak kunjung tiba?"
"Campur tangan manusia gunung," celetuk Sung Han. "Mungkin."
Mereka semua memandang kepada Sung Han. Tatapan mereka menunjukkan sedikit ketidak percayaan. Apakah Sung Han demikian percaya dengan hal itu?
"Sudahlah," sela Sung Han ketika menyadari arti tatapan mereka. "Yang penting, lihat ini."
Sung Han membuka sebuah peta dan menunjuk ke salah satu titik yang sudah diberi tanda tinta merah. "Jenderal Tang dan lainnya sedang terjebak di sini. Menyerang tak mungkin, memgepung pun sia-sia."
"Bagaimana bisa?"
"Seperti yang sudah kukatakan," Sung Han menjawab kebingungan Nie Chi. "Mereka telah membangun benteng di tengah himpitan jurang. Akan sulit bagi pasukan besar untuk menghancurkan mereka."
"Wah, ini artinya tugas kali ini tidak berbeda jauh dari yang pertama."
"Kukira begitu," jawab Sung Han sembari menggulung peta itu kembali. "Paman, kira-kira sampai berapa lama ransum itu bertahan untuk kita?"
"Tak lebih dari satu minggu."
Sung Han mengangguk-angguk. "Selama perjalanan ke sana, kita harus selalu singgah di desa atau kota untuk mengisi persediaan makanan. Selebihnya, kalian harus berhati-hati dengan Tujuh Pendekar Telaga Dewa."
Semua mata melebar. Siapa itu?
"Siapa itu? Aku belum pernah dengar." Nie Chi berkomentar.
Sung Han mengepalkan tangannya. "Menurut penjelasan utusan paduka putri tadi, aku simpulkan mungkin mereka inilah yang benar-benar mampu menghadapi kita dengan satu lawan satu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai semua, apa kabar? Semoga dalam keadaan baik selalu.
Di sini saya menulis pesan singkat untuk memberitahukan kepada kalian semua, para pembaca setia Sepasang Pedang Gerhana, bahwa mungkin kini jadwal update tidak serutin sebelumnya. Saya mohon maaf sebesar-besarnya.
Kegiatan dan tugas-tugas dunia nyata makin padat, waktu untuk menulis semakin sedikit. Jadi yah ... Mohon dimaklumi.
__ADS_1
Sekian.
BERSAMBUNG