
Perguruan Awan, merupakan satu dari sekumpulan partai silat golongan putih yang cukup disegani banyak orang. Perilaku kependekaran mereka yang sangat suka buat amal untuk membantu sesama, membuat namanya cukup baik di kalangan masyarakat atau rimba persilatan.
Terletak beberapa kilometer di sebelah utara kota Talas, berbatasan langsung dengan persimpangan empat jalur Sungai Buaya yang besar dan lebar, membuat markas ini cukup strategis untuk di datangi.
Di sepanjang sungai itu, tak jarang terlihat perahu-perahu kecil besar berlabuh dan terombang-ambing arus sungai. Perahu-perahu ini tentu saja milik Perguruan Awan yang disediakan khusus untuk para murid yang ingin berpergian ke kota atau desa.
Bahkan ada beberapa perahu untuk transportasi. Selain untuk membantu orang, juga bisa dijadikan sebagai bahan penghasilan.
Di selatan markas Perguruan Awan, lebih tepatnya di seberang Sungai Buaya, berdiri satu desa kecil namanya desa Lonceng Perak. Desa itu ramai dikunjungi orang karena berada persis di pinggir Sungai Buaya yang menjadi jalur utama. Di desa inilah biasanya anak murid Perguruan Awan membeli segala macam kebutuhan sehari-hari.
Pagi itu Perguruan Awan nampak sibuk. Menghias rumah dan bangunan serta jalan-jalan masuk ke perguruan. Sudah disiapkan pula tujuh sosok murid penyambut di pintu gerbang.
Di depan aula utama, berdiri panggung megah yang sekilas lihat mirip tempat untuk adu silat.
Setelah matahari sedikit naik, kesibukan yang sebelumnya menghias markas itu berganti dengan penyambutan tamu yang datang silih berganti. Tujuh orang di pintu gerbang itu tak pernah berhenti tersenyum dan menjura guna menyambut setiap orang yang datang.
Bahkan perahu-perahu di pinggiran Sungai Buaya nampak lebih ramai kali ini. Agaknya yang datang bukan dari tempat-tempat dekar saja. Hal ini membuktikan betapa tersohornya nama Perkumpulan Awan.
Seorang pemuda, sembilan belasan tahun melompat naik ke atas panggung. Segera disambut dengan tepuk tangan gegap gembita oleh para penonton yang sudah duduk rapi di tempat masing-masing.
Pemuda ini menjura dalam, lalu tersenyum dan berkata dengan pengerahan tenaga dalam. "Selamat datang tuan-tuan sekalian. Sungguh kami merasa terhormat atas kehadiran tuan sekalian yang masih sudi membantu permasalahan perguruan ini."
Kemudian dia melanjutkan, "Seperti yang sudah kita semua ketahui, kali ini, saya Kay Su Tek, mengadakan sayembara kali ini guna menyembuhkan ayah saya, Kay Ji Kun." Setelah berhenti beberapa nafas, kembali terdengar suaranya, "Ketua Perkumpulan Awan sedang dalam keadaan bahaya."
Memang acara kali ini merupakan sebuah sayembara yang diadakan oleh pemuda bernama Kay Su Tek itu. Putra ketua Perkumpulan Awan ini merasa tak ada jalan lain untuk menyembuhkan penyakit ayahnya yang sudah lama diderita itu.
Semua orang yang hadir di sini sudah tahu akan hal itu. Beberapa di antara mereka memang seorang yang berkepandaian ilmu obat, sebagian lain datang untuk mencarikan seorang dokter setelah mengetahui penyakitnya. Sedang sebagian sisanya, hanya merasa sungkan karena yang mengundang adalah Perkumpulan Awan yang tersohor.
Setelah penyambutan singkat dan beberapa basa-basi, Kay Su Tek segera mempersilahkan siapa-siapa saja yang ingin maju dan memberi pertolongan kepada ayahnya. Langsung saja, tiga puluh orang bangkit dan berjalan menuju panggung.
Sambil berjalan seperti itu, mereka dengan bangga memperkenalkan nama masing-masing dan keahlian diri sendiri. Namun Su Tek tak terlalu peduli dan segera masuk mengantar mereka menuju kamar ayahnya.
__ADS_1
"Ayah, mereka akan menolongmu." katanya kepada seorang pria paruh baya yang rebah dengan lemas. Di samping ranjang, duduk wanita seumuran yang nampak khawatir sekali.
Wajah dan leher Kay Ji Kun berwarna hitam belang-belang. Urat-urat di leher nampak menonjol keluar dan keras sekali. Di telapak tangan, ada semacam ruam-ruam namun berwarna ungu. Ketika Kay Ji Kun membuka mata, bagian mata yang seharusnya berwarna putih itu sedikit kehijauan.
Dia menanggapi ucapan putranya dengan suara parau, "Tak perlu kau repot-repot. Sebentar lagi aku juga akan mati."
"Jangan bicara seperti itu!" sergah putrnya keras, "Aku pasti akan mencari cara untuk menyembuhkan ayah!"
Tanpa mempedulikan ayahnya lagi, segera ia mempersilahkan kepada para dokter itu untuk memeriksa Kay Ji Kun.
Mereka-mereka ini memang termasuk dokter lihai dan banyak sudah menyelamatkan orang yang terkena racun ganas. Tapi tak perlu ilmu dokter yang tinggi, orang awam saja sudah paham kalau kondisi Kay Ji Kun ini hampir tak tertolong.
Bergiliran orang-orang itu menghampiri untuk kemudian menghela nafas dan menggeleng kepala. Mereka mundur perlahan.
Namun tiba giliran orang terakhir, seorang tua botak dan berjenggot panjang lancip serta ada luka memanjang di pipi, ketika menghampiri tubuh Kay Ji Kun, dia terkekeh. Tentu hal ini menimbulkan tanda tanya di hati orang-orang, tapi karena maklum orang ini merupakan orang lihai, terlihat dari cara jalan yang senyap sungguhpun sepatunya berlapis besi, maka mereka tak berani buka suara.
Dengan sebatang kayu kecil selebar jari kelingking, kakek ini menekan-nekan jidat Kay Ji Kun. Lalu dilanjutkan ke leher dan pergelangan tangan. Terakhir, ia mengetuk-ngetuk pelan pelipis Kay Ji Kun yang membuat lelaki paruh baya itu merintih.
Dia bertanya gugup, "B-bagaimana? Apakah tuan tahu akan permasalahannya?"
Kakek botak ini terkekeh sejenak sebelum menjawab sembari menganggukkan kepala. "Luka ini ia dapat setelah bertempur kan?"
"Benar!" seru Kay Su Tek, "Tapi menurut pengakuan ayah, ia tak tahu siapa dan apa musuhnya itu. Wajahnya hanya ditutupi kain hitam. Ayah sampai ragu lawannya itu masih manusia."
"Hahaha...." tiba-tiba kakek ini tertawa, mengejutkan semua orang. Namun cepat-cepat ia lanjut berkata, "Tentu masih manusia. Hanya saja yang kepandaiannya macam iblis!"
Semua orang kaget sekali. Sudah cukup terkenal di jagat raya ini siapa adanya Kay Ji Kun, ketua Perguruan Awan. Dia adalah sesosok pendekar gagah yang disegani dari golongan hitam dan putih.
Tapi saat ini ada seseorang yang berani meracuni orang itu dengan demikian dahsyat, tentu orang itu lihainya tak terukur. Diam-diam, para dokter itu mengumpat dan memusuhi siapa pun yang berani melakukan hal ini kepada Kay Ji Kun.
"Lalu, apa obatnya tuan? Kita sebagai sesama dokter akan saling membantu. Jika mungkin, beri kami tugas untuk mencari bahan obatnya." kata salah satu dokter.
__ADS_1
"Obatnya banyak." ujar kakek ini santai, "Bahkan di ruangan ini pun sudah ada dan tercecer di sana-sini." katanya lagi.
Kay Su Tek menjadi girang dan reflek memegang kedua pundak kakek itu. Dia sedikit mengguncangnya. "Mana itu, mana obatnya?"
Kakek ini sedikit menyeringai, "Memang obatnya banyak. Tapi bagimu dan bagi ibumu dan bagi dokter ini serta bagi semua orang yang hadir, akan sulit."
Kay Su Tek mengerutkan kening, "Memangnya apa itu?"
"Hehe...kau yakin ingin tahu? Kalau kau mau, biarlah kau fokus merawat ayahmu. Biar aku saja yang mencari obat itu bersama para dokter ini." katanya.
"Tidak!" sergah pemuda itu, "Aku akan bantu!"
"Hahaha, memang patut menjadi anak berbakti! Kalau kau mau membantu, bantuanmu sudah lebih dari cukup. Nah para dokter sekalian, maaf saja tapi aku tak bisa merepotkan kalian."
Dokter-dokter ini sedikit kecewa dan mendongkol. Merasa diremehkan, jelas ucapan kakek itu secara tidak langsung berkata, "Aku tidak membutuhkan bantuan kalian." Tapi sadar dengan siapa lawan bicaranya, mereka hanya mengangguk dan berangsur-angsur pergi setelah memberi hormat.
Menyisakan kakek gundul, Kay Su Tek, Kay Ji Kun dan istrinya.
"Nah, apa obat itu?" desak ibu pemuda ini, "Ah, sebelum itu bolehkah kami tahu nama tuan penolong kami?"
Dengan lagak aneh, kakek ini terkekeh. "Tentu kalian harus mengenal aku agar enak kita bicara. Nah dengarlah, namaku Ki Yuan."
Ibu satu anak itu sedikit tersenyum walau nampak dipaksakan. Dia memandang suaminya dan kembali berkata, "Jadi....apa obatnya?"
Senyum Ki Yuan makin aneh saat menjawab, "Obat itu adalah...." dia membisikkan sesuatu kepada Kay Su Tek.
"Apa!?" pekik pemuda ini kaget
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1