
Tentu saja mereka semua terkejut mendengar suara suitan yang teramat nyaring itu. Kiranya suara itu berasal dari mulut topeng emas sendiri.
Mendengar ini, sebagai orang-orang yang berpengalaman tahulah mereka apa maksudnya. Itu merupakan satu isyarat atau kode rahasai untuk para sekutu. Dan benar saja, tepat setelah suara ini terdengar, dari kejauhan meluncur sebuah cahaya merah ke langit sebelum meledak di ketinggian.
Kejadian ini susul-menyusul sampai tiga kali banyaknya. Kiranya itu adalah sebuah suar yang ditembakkaan dari kejauhan. Sebuah suar yang merupakan tanda bahwa mereka telah mendengar lengkingan nyaring dari si topeng emas itu.
Para prajurit dan pendekar itu saling pandang dengan bingung dan setengah khawatir, bukan berarti mereka tidak paham dengan suar-suar itu. Pastilah saat ini mereka sudah terkepung
Dalam keadaan seperti ini, jenderal Tang Lin mendatangi putri Song Zhu dan berbisik, "Paduka, apa yang harus kita lakukan?"
Wanita ini menelan ludahnya, dia juga sadar seberapa kritis keadaan saat ini. Namun dia berusaha untuk bersikap tenang, selain untuk menjaga semangat para prajurit, dia juga tidak ingin memperlihatkan kelemahan kepada lawannya.
Setelah mengamati suar-suar itu satu persatu, kemudian berpikir ini dan itu, maka dia hanya punya satu pikiran. Setelah menimang-menimang untung dan rugi, agaknya keadaan saat ini jelas berakhir rugi.
Tujuan utamanya bukanlah bentrok dengan Serigala Tengah Malam, sebenarnya dia tidak mau melakukan ini, setidaknya untuk saat ini. Prioritas utamanya adalah membawa para pemberontak dan tiga orang sahabat itu.
Akan tetapi jelas tidak akan mudah, selain akan banyak makan korban saat terjadi pertempuran, juga belum dapat dipastikan apakah pohak kerajaan mampu meringkus mereka. Juga apakah jika pihak kerajaan berhasil merebut lima orang itu, belum dapat dipastikan jika tiga orang pewaris itu masih memegang pusakanya.
Namun tak ada pilihan lain, suara gemuruh dari jauh itu jelas menandakan bahwa Serigala Tengah Malam tak ada niat damai. Maka dia berseru nyaring seraya melompat ke punggung kuda.
"Serigala Tengah Malam telah dipastikan memberontak! Prioritas utama, selamatkan kawan kita, Serang!!"
Mereka bergegas melompat ke atas punggung kuda dan membentuk formasi. Benar saja, tak berselang lama setelah itu dari tiga penjuru datang tiga pasukan berkuda yang jelas diketahui berasal dari Serigala Tengah Malam. Mereka langsung mengeroyok pihak kerajaan.
"Bawa masuk lima orang ini, kemudian kita hajar mereka!" ucap topeng emas kepada bawahannya dan dia sendiri suda melompat maju terjun ke medan perang diikuti anak buahnya yang lain.
Hebatlah perang tanding di depan benteng Serigala Tengah Malam itu. Dua ratus pasukan kerajaan dibantu para pendekar melawan seratusan orang anggota Serigala Tengah Malam. Walaupun menang jumlah cukup banyak, namun pihak kerajaanlah yang sedikit terdesak. Karena semua penyerbu Serigala Tengah Malam itu merupakan orang-orang tingkat atas.
Jenderal Tang Lin dan Khong Tiat tak berani jauh-jauh dari sang putri. Mereka ini seperti dua orang muda yang hendak bersikap gagah di depan pujaan hati. Padahal jenderal itu sudah beristri dan dia melakukan ini hanya untuk kewajibannya sebagai seorang jenderal. Kalau niat Khong Tiat itu mungkin lain lagi.
__ADS_1
Akan tetapi kepandaian Khong Tiat ini memang patut diacungi jempol. Walaupun dia hanya sebagai seorang pengurus patung naga yang jarang keluar markas, namun gerakannya demikian tangkas dan pukulannya kokoh kuat.
Jenderal itu pun bukan tidak bisa ilmu silat, dia cukup lihai untuk seukuran seorang jenderal. Gerakannya gesit dan cepat, pedangnya berkelebat menyambar-nyambar mencari mangsa.
Akan tetapi walaupun demikian, tetap saja dia seorang jenderal yang lebih pandai ilmu perang yang menyangkut banyak orang. Bukan ilmu silat yang khusus perorangan, maka sedikit repot juga pria paruh baya ini.
Yang paling hebat dalam perlawanan pasukan kerajaan itu adalah sang putri sendiri. Dia memang seorang putri namun dapat juga main silat, bahkan bukan silat sembarangan saja karena gurunya ini juga termasuk orang yang memiliki kepandaian lumayan. Maka dibantu perlindungan Khong Tiat dan jenderal Tang Lin, dia dapat mengamuk dari atas punggung kudanya. Pedangnya menebas ke sana-sini dengan hebatnya, merupakan gulungan sinar putih keperakan.
Di tengah-tengah amukannya itu, topeng emas juga dapat melihat sepak terjang putri itu. Walaupun bukan termasuk ancaman untuknya, namun untuk anak buahnya dapat merepotkan juga serangan wanita itu. Maka dia berinisiatif untuk membuka jalan darah, menebar maut dengan sambaran-sambaran hawa pukulannya sambil jalan mendekati tempat di mana sang putri berada.
"Hyaaahhh!!"
Ketika di tengah-tengah usahanya mendekati sang putri itu, dia dihadang dua orang dari kanan dan kiri. Topeng emas tak menjadi gugup, sebaliknya malah. Dia memandang rendah dan tanpa menoleh telah merentangkan kedua lengan ke kanan dan kiri.
"Breeesss!!"
Dua orang itu terpelanting dalam keadaan pedang masih tergenggam. Namun nyawa mereka telah lari meninggalkan badan.
"Wuuusss!!"
Putri Chang Song Zhu bukan seorang yang ceroboh, dia telah memasang kewaspadaan sampai tingkat tertinggi yang dia mampu. Dia dapat mendengar dan merasakan serangan pukulan itu, maka seperti bergerak sendiri, tubuhnya membalik berbareng dengan tebasan pedangnya.
Topeng emas terkejut dengan mata terbuka lebar. Bukan terkejut dengan gerakan sang putri, melainkan terkejut dengan dua lelaki yang sudah menyambar dari kanan kiri putri itu dengan serangan ampuh. Seketika, jika sebelumnya dia hendak mengincar putri seorang, tahu-tahu kini sudah dihadang oleh dua orang lain.
"Dessss!!"
Topeng emas terpental saat tiga serangan itu tepat mengenai tangannya. Seluruh lengannya terasa ngilu dan bergetar. Sedangkan pedang putri itu berhasil melukai sedikit telapak tangannya.
Ia memandangi darah di telapak tangannya, "Sial..." umpatnya.
__ADS_1
"Sebelum kau macam-macam dengan paduka, langkahi mayat kami terlebih dahulu!!!" bentak Khong Tiat yang berdiri paling dekat dengan topeng emas. Sedangkan jenderal Tang Lin sudah berdiri di samping kuda sang putri.
"Bangsat!!" pekim topeng emas lalu menerjang maju.
"Bressss!!"
Dua telapak tangan mereka bertemu dan dua tenaga hebat saling beradu. Keduanya terkejut karena baru sadar jika tingkat tenaga dalam mereka berimbang.
Kemudian keduanya terhuyung ke belakang beberapa langkah sebelum melesat lagi mengirim serangan. Khong Tiat dan topeng emas itu melakukan pertarungan yang demikian seru dan hebat.
Baik Khong Tiat dan si topeng emas tak mau secara gegabah mengadu lengan sembarang kecuali secara terpaksa sekali. Keduanya maklum akan bahayanya hal itu mengingat gebrakan pertama tadi sudah berhasil menggetarkan lengan masing-masing.
Maka dari itulah, pertarungan dua orang ini kelihatan aneh dan lucu, seperti orang main opera. Jika salah satu melayangkan pukulan, satu lagi tak berani menangkis dan hanya mampu mengelak. Begitu pula jika yang satu mengelak, sambil mengelak pasti mengirim serangan yang dapat dielakkan pula oleh lawan. Pertandingan itu berjalan demikian sunyi.
Tiba-tiba, dalam keadaan tegang rucuh seperti itu, terdengar suara gaduh dari pasukan yang berada di dekat benteng. Tak hanya gaduh, lebih tepatnya mereka terpelanting ke kanan kiri dengan kacaunya. Semua orang menjadi panik akan hal ini.
"Heeeiii....biarkan aku yang melawan topeng itu!!" seru seseorang.
Hati topeng emas tergetar mendengar ini sampai tanpa sadar ia melompat mundur menjauhi lawannya. Dia menengok ke sana-sini dengan waspada. Namun baru saja gema suara itu hilang, tiba-tiba ada suara orang yang seperti berbisik di dekat telinganya.
"Kembalikan pusaka kami....."
"Wuaaahhh!!" ia mengelak dengan cara memundurkan badan. Lalu dilanjut dengan menggelinding jauh.
Begitu memandang, betapa terkejut dia mengetahui orang itu. "Mengapa kau bisa bebas?!"
"Itu merupakan kesialanmu!!" bentak Gu Ren garang dan menerjang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG