
Ada empat pasukan besar utama yang menjadi penopang dari benteng Mustika Naga. Setiap pasukan itu dipimpin oleh seorang jenderal tinggi yang sudah pengalaman dalam ilmu perang. Di bawah pimpinan setiap jenderal, terdapat perwira-perwira yang memimpin pasukannya.
Sung Hwa menjadi salah satunya. Dia bersama para pendekar lain berada di bawah pimpinan jenderal Guo Cu. Pria ini cukup terkenal di ketentaraan karena kesetiaan dan siasat-siasatnya.
Setelah mendaftar menjadi prajurit sukarelawan, Sung Hwa diantar menuju barak tempat di mana seluruh prajurit berkumpul. Lebih tepatnya seluruh pendekar. Karena pendekar dan para tentara diberi tempat terpisah. Bagaimanapun juga, orang-orang persilatan memiliki watak aneh-aneh, sehingga tak menutup kemungkinan bahwa satu di antara watak aneh itu adalah "senggol bacok".
Begitu Sung Hwa masuk, segera ruangan tiga lantai yang berisik itu menjadi sunyi. Semua pasang mata tertuju pada Sung Hwa yang mengenakan mantel lebar untuk menutupi seluruh tubuhnya. Gadis ini sama sekali tampak tak acuh.
Satu langkah masuk lebih jauh, terdengar suitan-suitan nyaring untuk menarik perhatiannya. Sung Hwa tidak tertarik bahkan menoleh pun enggan. Ia hanya berjalan lurus dan duduk di salah satu bangku kosong.
"Manisnya ...."
"Malam nanti aku tak akan bisa tidur."
"Ingin kucicipi!"
Ucapan terakhir ini membuat darah Sung Hwa mendidih. Tapi sebisa mungkin ia tahan.
Hingga seorang biksu berkepala botak dan berjubah lebar datang menghampiri Sung Hwa. Tasbih di tangan yang dirangkapkan bagai orang berdoa. Namun wajah itu, bukannya tampak alim dan menenangkan, justru cengar-cengir selayaknya para hidung belang.
"Kata orang tak kenal maka tak sayang. Maka bolehkah saya yang bodoh ini minta izin untuk berkenalan guna membangkitkan rasa sayang?" ucap biksu itu halus. Namun bernada kurang ajar sekali.
Ucapan ini disusul dengan gelak tawa oleh semua orang yang mendengar. Kelakar biksu itu sungguh berkelas.
Sung Hwa menahan-nahan rasa jengkelnya. Dia menjawab dengan suara keras agar semua orang bisa dengar. "Kepala kinclong jubah kebesaran, kiranya hanya penampilan semata."
Tawa yang menyambut ucapan ini lebih keras lagi dari pada yang tadi. Sungguh ejekan yang amat menusuk.
Biksu tiga puluhan tahun itu masih tersenyum ramah sungguhpun alisnya sempat berkedut dua kali.
"Duhai nona manis, ternyata mulutmu lebih pedas dari cabai utara dan lebih tajam dari pedang pusaka." Entah mengejek atau memuji, tapi yang jelas di daratan Chang cabai utara terkenal pedas sekali.
Sung Hwa terkekeh. "Biksu gundul, apa kehendakmu sampai harus basa-basi mengungkit-ngungkit cabai utara dan pedang pusaka? Kalau begitu kekembalikan pujianmu. Kepala gundulmu itu agaknya dipoles dengan batu asah yang sama dengan batu giok itu." Sung Hwa menunjuk batu hias yang tergantung di tembok. "Sama licinnya, sama mengkilapnya, sama kinclongnya."
Tawa di seluruh ruangan terdengar makin keras. Saking kerasnya, bahkan lantai barak seolah bergetar hendak runtuh. Sekali ini wajah si biksu memerah karena marah.
__ADS_1
"Nona, harap suka hadapi pukulanku untuk tanda persahabatan!" biksu itu membentak dan menggerakkan tangan kanannya. Sebelum pukulan itu sampai, Sung Hwa sudah dapat merasakan angin pukulan menyambar.
Gadis ini tak mau memandang ringan sungguhpun dia tahu kepandaiannya sudah jauh melampaui biksu itu. Dia menggerakkan tangan, memapaki tangan biksu itu dengan pengerahan tenaga.
"Plak!"
Keduanya terkejut. Biksu itu terpental dan kursi tempat duduk Sung Hwa bergeser beberapa jengkal. Jika tangan biksu itu terasa kesemutan dan lumpuh, adalah tangan Sung Hwa terasa sedikit panas. Tahulah dia bahwa biksu ini memang memiliki kepandaian tinggi sekali. Mendekati pendekar sejati.
"Hahaha, kau mau belajar kenal? Baiklah, sambut ini!" Sung Hwa bangkit dari duduknya dan mengirim serangan jarak jauh dengan kedua tangan. Hawa dingin memancar dari dua tangannya yang mengincar dada kanan dan kiri biksu itu.
Sebelum biksu itu sempat memulihkan diri dari rasa terkejutnya, dia sudah harus cepat-cepat melindungi diri dari serangan dahsyat itu. Dikerahkannya hawa panas dan dipapakinya hawa serangan itu dengan pukulan jarak jauh pula.
"Desss!!"
Dua hawa berlainan bertemu di udara dan akibatnya luar biasa. Kaki biksu itu melesak sampai sedalam lutut dan tubuhnya bergeser sejauh tiga tombak. Sedangkan Sung Hwa terdorong mundur sejauh tiga langkah. Sungguh perbedaan yang teramat jauh.
Semua penonton memandang terbelalak penuh kagum dan girang. Jarang-jarang mereka bisa menemukan adu silat yang setinggi itu tingkatnya. Dalam segebrak saja, Sung Hwa sudah dapat membuktikan keunggulannya, namun biksu itu agaknya belum mau terima sudah.
Ketika semua orang menanti-nanti pertandingan berikutnya dengan hati cemas dan tegang, terdengar suara orang dari luar.
"Nona, harap maafkan kelancangannya."
"Khuang Peng, Nie Chi," gumamnya.
Nama kedua pendekar ini sudah amat terkenal di kolong langit sebagai pewaris-pewaris pusaka keramat Raja Dunia Silat. Banyak sudah orang-orang yang ingin merebutnya dari mereka, namun tak ada satu pun yang berhasil.
Dalam adu pedang gerhana kala itu, mereka tak mampu hadir dikarenakan tugas di benteng Mustika Naga ini. Sekarang, setelah bertemu, Sung Hwa benar-benar merasa kagum.
Mereka ini merupakan pemuda pilihan yang selain tampan gagah, juga memiliki kepandaian tinggi. Mudah saja bagi wanita mana pun untuk jatuh hati kepada keduanya.
Sung Hwa tahu diri dan untuk menutupi identitas, dia menjura. "Kiranya para pewaris pusaka keramat."
Khuang Peng dan Nie Chi balas menjura. Lalu Khuang Peng, yang tadinya menegur si biksu berkata. "Sungguh kami kagum dengan kepandaian nona. Bolehkah kami tahu nama nona yang tersohor? Nama saya Khuang Peng, dan dia saudara Nie Chi."
Sung Hwa kagum juga dengan gaya bicara yang sopan itu. Jika saja dia tidak menjadi buronan, pasti dia akan bangga sekali untuk bersahabat dengan mereka.
__ADS_1
"Aku Han Ji. Senang berkenalan dengan saudara berdua."
Biksu itu sudah bangkit dan memandang penasaran. Namun melihat adanya dua pemuda itu, dia segera mundur dengan perasaan tak puas.
Nie Chi maju dan menjura. "Sekadar untuk berbasa-basi, sebagai ahli-ahli silat pasti nona sudah tidak asing bagaimana caranya berkenalan satu sama lain."
Sung Hwa tersenyum. "Saudara tak jauh beda dengan kepala gundul tadi."
Nie Chi tertawa, sedang si biksu itu menahan jengkel. Namun dalam tawanya, terdengar pemuda itu berkata. "Saya masih merasa yakin akan lebih baik dari pada dia."
"Kalau begitu, silahkan."
"Nah, kau sambutlah nona!"
Nie Chi segera memasang kuda-kuda, lalu entah bagaimana kakinya bergeser-geser dan tahu-tahu sudah berada di depan Sung Hwa. Gadis itu terkejut juga.
"Wuuut!"
Sambaran tangan kanan Nie Chi mampu dielakkan dengan mudah oleh Sung Hwa. Namun elakan ini dimanfaatkan oleh Nie Chi untuk mengirim cengkeraman ke arah pundak. Sung Hwa berseru nyaring.
"Heitt!"
Ia gerakkan tangan untuk menangkis. Dan akibatnya membuat keduanya berseru nyaring.
Keduanya terpental beberapa langkah jauhnya dengan tangan kebas. Tahulah jika kekuatan masing-masing cukup berimbang.
Akan tetapi ketika Sung Hwa hendak maju lagi, Nie Chi sudah menjura hormat dan berkata sopan. "Wah, hebat betul kepandaian nona. Biarlah kita anggap seri."
Sung Hwa menghela napas dan balas menjura. Kagum juga dia betapa tadi pemuda itu sengaja membelokkan pukulannya ke arah pundak. Padahal melihat cara gerakan itu, ilmu yang digunakan Nie Chi tadi merupakan ilmu tingkat tinggi yang bertujuan untuk membunuh dalam sekali serang. Tapi karena Nie Chi tak mau dianggap kurang ajar, sehingga pukulan yang seharusnya menyambar dada guna melubanginya, ia belokkan menuju pundak.
"Saudara pun hebat." Sung Hwa tak ada pilihan lain selain mengirim pujian balik.
Pada saat itu, ketika Khuang Peng hendak maju untuk menguji Sung Hwa, salah seorang tentara memasuki barak.
"Jenderal Guo Cu menyuruh perwakilan kalian untuk mendatangi pertemuan."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG