
"Hihihik....rencanamu gagal huh?" wanita itu tersenyum mengejek. Tapi juga cukup menggoda.
Di kamarnya, raja ini sedang marah besar. Mangsanya yang tadi hendak ia jebak agar berhasil disingkirkan, sekarang malah dapat lolos. Ditambah peperangan di dalam hutan, hal ini jelas membuktikan bahwa saingannya sudah bersiap dari awal.
"Kenapa kau begitu jahat? Bukankah dia palsu? Kenapa kau sangat ingin membunuhnya? Hihihi....apakah semua kekuasaan ini tidak cukup? Istri cantik yang selalu melayanimu siang malam, apakah masih kurang?" istrinya itu kembali berkata. Setengah mengejek setengah menggoda.
"Chunglai.....keparat satu ini, tak kusangka ternyata bukan hanya tubuhnya yang kuat, otaknya pun amat hebat!! Jika itu dia, pasti sudah bersiap sejak lima tahun lalu semenjak nona Songli hilang. Kenapa dia begitu teliti?"
Istrinya merebahkan dirinya di atas kasur dan berbalik menghadap tembok. Dia berkata acuh, "Tentu saja, dia mencintainya. Bahkan kejadian ini membuktikan, betapa tulus dan suci cintanya pada nona Songli itu. Tak seperti seseorang yang setelah ditolak, malah membunuhnya."
Raja itu melotot, dia memandang istrinya dengan marah. Ia bangkit berdiri dan menghampiri ranjang, membalikkan tubuh istrinya secara paksa yang membuat wanita itu terkejut sekali.
"Kau di sini hanya pemuas nafsuku...." desisnya menyeramkan.
Wanita itu menjawab acuh, "Kau pikir aku tak tahu?"
"Kalau kau sudah tahu...." kata raja itu. Lalu melanjutkan setelah menghela napas gusar beberapa kali, "Jangan pernah menghina dia..."
"Aku tak menghina dia." ujar istrinya, masih tenang-tenang saja, "Justru aku menghinamu. Seorang raja yang tak tahu apa arti kedamaian, berani mendekati sosok paling agung milik kerajaan manusia gunung? Kau gila?"
"Sialan!!"
"Plaaakk!!"
Satu tamparan mendarat di pipi wanita itu. Tindakan ini sudah berhasil membengkokkan rahang wanita tersebut.
"Hanya bekas dayang tak berguna, kau sudah dapat kehormatan melayani raja, sekarang kau begini kurang ajar. Maka matilah!!"
Raja itu menampar sekali lagi. Terdengar suara "prakk!" ketika rahangnya berputar. Disusul tubuhnya yang berkelojotan.
"Kau....memang...harus...mati...." gumam istrinya di sela-sela sekaratnya sebelum akhirnya mati di tangan suaminya sendiri.
Mata raja itu menjadi berang, bagian putihnya sudah berubah merah saking marahnya. Napasnya memburu tak karuan. Sebelum pergi, memang wataknya seperti iblis, dia menyempatkan diri untuk menikmati istrinya terakhir kali. Setelah selesai dia memakai pakaiannya kembali dan pergi ke luar.
Api di kamar Sung Hwa sudah padam sejak tadi, namun keadaan masih geger. Ketika melihat raja mereka keluar dari ruangan dengan raut wajah kusut, semua orang terdiam.
__ADS_1
"Kiranya ada pengkhianat di antara kita. Menurut laporan pasukan khusus, tabib terhebat itulah yang melakukan semua ini dan kabur dari sini. Dia menculik nona Songli bersama dua suadara lain. Dia juga telah membunuh istriku."
Setelah ucapan ini, keadaan makin geger dan tak karuan. Siapa mengira orang terkuat kedua setelah nona Songli akan nelakukan tindakan senekat itu.
Tahun ini, ritual pemujaan dewa bulan dan matahari kembali kacau sama seperti lima tahun lalu. Nona mereka hilang lagi!!
...****************...
"Guru, ajarilah aku."
"Ajari apa?"
Pemuda ini memandang dengan tatapan berbinar ke arah wajah gurunya. Sedang perempuan itu merasa tak nyaman. "Ada apa sih?" katanya lagi.
"Sudah beberapa bulan lamanya sejak saya menjadi murid anda, dan saya selalu penasaran bagaimana cara merawat kulit supaya bisa tampak awet muda. Umur anda sudah lebih dari lima puluh kan? Tapi kelihatan seperti seumuran saya."
Gurunya itu melongo, mulutnya terbuka lebar. Lantas dia tertawa, "Hahaha, tak perlu kuajarkan. Anak lelaki mengapa harus repot-repot memikirkan soal penampilan?"
Ketika tawanya reda, dia berkata lagi. Kali ini nada suaranya sedikit berubah, "Semua itu hanya membawa perpecahan."
"Keadaan semakin buruk sejak berakhirnya ritual pemujaan dewa bulan dan matahari. Sebentar lagi akan mencapai puncaknya. Saat itu kau harus menemaniku melihat."
"Baik." balas Kay Su Tek singkat.
Wanita ini menatap langit senja itu dengan sendu, lantas mengelus topi bulunya, "Sudah ada penggantiku yang memegang peran sebagai nona Songli. Aku tak menyangka ini. Tapi mungkin dia bisa menjadi pemersatu dari dua belah pihak itu."
"Bagaimana kalau tidak bisa?" kata Kay Su Tek. Dia sudah melihat siapa sosok pengganti itu dan ternyata dia sudah kenal. Wanita itu tak lain adalah orang yang datang hendak membunuh Jin Yu di Perguruan Awan waktu itu.
Nona Songli berkata lagi, "Aku sudah pikirkan. Kau tak usah banyak tanya karena kalau kau sampai tahu, bisa-bisa aku dikurung olehmu. Hahaha"
Ini sudah ke puluhan kali nona Songli itu berkata demikian, dan setiap kali kelakar satu ini terdengar dari mulutnya, hati Kay Su Tek selalu merasa tak tenang.
...****************...
Sejak hari di mana lenyapnya Sung Hwa itu, keadaan kerajaan manusia gunung tak seperti biasanya. Penuh ketegangan dan kecurigaan di antara masing-masing pemimpin suku.
__ADS_1
Sejak saat itu pula, Chunglai lenyap entah ke mana. Ada yang mengkhawatirkannya, ada pula yang menghujatkan karena termakan omongan raja. Tapi yang jelas, di dalam lubuk hati semua orang, mereka menginginkan agar Chunglai lekas kembali.
Setelah satu minggu, perang-perang kecil sudah sering bermunculan di sana-sini. Dua minggu kemudian, dari perang kecil bertambah menjadi perang sedikit besar yang memaksa para penduduk mengungsi di goa maupun hutan-hutan yang jarang terjamah oleh mereka.
Satu bulan kemudian.
"Sung Hwa, kau harus pergi bersama dua orang saudaramu itu. Bawa bekal ini dan jangan pernah kembali lagi." berkatalah Chunglai dengan buru-buru pada pagi hari itu.
Mi Cang bergumam sambil mengerutkan kening, "Benar dugaanku, kiranya selama ini kami seperti dikurung di dalam lingkungan istana. Semua kejadian ini memperjelas semuanya." Setelahnya, dia berkata kepada Chunglai, "Paman, bukankah kau benci pendekar? Mengapa kau melakukan semua ini?"
"Memang aku benci!!" jawabnya cepat-cepat. Yang diangguki lima kepala suku lain, "Tapi kami bukan anak kecil. Kejadian yang menimpa kami sekarang ini, telah membuka mata bahwasannya kami sendirilah yang seharusnya dibenci. Aku sudah menyombongkan diri kala itu dengan mengatakan para pendekar hanya pencari kemuliaan semata, kiranya kami tak beda jauh."
Chunglai berkata lagi kepada Sung Hwa, "Sung Hwa, terima kasih padamu yang telah menyamar sebagai nona Songli selama ini. Dengan itu semua kebusukan raja akhirnya terungkap. Sekarang tugasmu selesai, kau pergilah! Bekal ini dan bekal ilmu yang kuajarkan padamu, gunakan dengan baik." pria ini memberi buntalan makanan itu dengan paksa kepada Sung Hwa, lalu tanpa menoleh lagi dia berjalan ke depan barisan untuk naik kudanya.
"Sekarang semuanya akan mencapai titik akhir. Ini merupakan keputusan sulit, kerajaan gunung akan hancur."
Sung Hwa membolatkan matanya, "Kenapa kau memilih ini? Bukankah kau menyayangi seluruh warga kerajaan? Ada apa denganmu!!?"
Chunglai hanya diam. Lima kepala suku lain juga menanti jawaban dari Chunglai itu, tapi dia harus menelan kekecewaan ketika jawaban Chunglai sungguh tak sesuai harapan.
"Jika kau ingin jawaban akan pertanyaanmu, maka kutarik kata-kataku tadi. Jangan pergi dan lihat!! Lihat semuanya sampai akhir!! Ini merupakan pelajaran terakhir dariku sebagai gurumu. Sebuah pelajaran yang tak seharusnya kau tiru!"
Setelah memandang Sung Hwa beberapa saat, dia tersenyum lembut. Sebuah senyuman yang selama ini belum pernah Sung Hwa lihat. Sedetik kemudian, dia berteriak keras.
"Ayo berangkat!! Ini penentuan!!!"
"Yaaaaa!!!"
"Basmi pengkhianat!!"
Diiringi sorak-sorai pembakar semangat, pasukan pendukung Chunglai itu berangkat. Sedang Sung Hwa di belakang sana menatap nanar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1