Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 246 – Semoga Saja Benar


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Sung Han, mereka hendak pergi ke Goa Emas selama satu minggu sebelum ke kota raja menemui sang putri. Gu Ren tak ada pilihan selain menyanggupi karena itu jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.


Setelah kepergian Sung Han dan Sung Hwa, Gu Ren bersama dua orang lainnya segera melakukan perjalana kembali ke kota raja. Mereka sama sekali tidak beristirahat. Satu-satunya kekurangan saat ini adalah waktu. Kekaisaran Jeiji dapat menyerbu sewaktu-waktu sedangkan Kekaisaran Chang masih melakukan persiapan sebatas blokade di sepanjang Pegunungan Tembok Surga.


Sesampainya di istana, tiga pendekar ini segera menghadap ke istana tuan putri. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa jengkel hati Gu Ren ketika memasuki komplek istana, diaelihat pemandangan yang amat memuakkan.


Di kejauhan sana, di taman bunga yang berada beberapa meter sebelah istana putri, duduk dua orang yang saling berkasih-kasihan layaknya sepasang kekasih. Mereka duduk berhimpitan di kursi panjang dan saling menempel bahu.


Khuang Peng dan Nie Chi yang melihat itu, serta masih muda hanya mampu menggelengkan kepalanya. Sebaliknya, Gu Ren menggeram dengan kedua tangan terkepal dan tubuh gemetaran.


Diam-diam baik Khuang Peng dan Nie Chi merasa kasihan sekali. Gu Ren sudah tua dan masih melajang, namun setiap datang ke sini selalu disuguhkan dengan kemesraan sepasang kekasih itu. Siapa tidak mendongkol.


"Akan kuberi hajaran sekali ini!" geram Gu Ren yang dari kedua tangannya sudah terdengar suara berekrotokan. Tanda bahwa hawa sakti sudah memnuhi kedua lengannya.


Gu Ren maju perlahan ke tengan taman. Sekali ini Khuang Peng dan Nie Chi belum berani untuk mengekor. Mereka menunggu di kejauhan.


Begitu Gu Ren sudah tiba beberapa langkah di belakang sepasang kekasih itu. Dia menghentikan jalannya dan berbisik. "Apa yang kau lakukan? Karena dengan pengerahan tenaga, maka bisikan itu terdengar mengerikan.


Dua orang pria dan wanita itu terperanjat lalu spontan memisahkan diri. Si wanita menunduk dalam sedangkan si pria segera bangkit dan bersujud.


"Ketua, selamat datang!" Khomg Tia berseru sambil sebisa mungkin pura-pura tenang. Tapi kelihatan sekali tubuhnya gemetaran. "Bagaimana hasil negosiasi?"


"Jangan lancang kau!" Gu Ren tak dapat menahan kemarahannya lagi.


Dia menggerakkan tangan, menyabet dengan ujung lengan lebarnya. Jika targetnya pendekar rendahan atau justru orang biasa, sabetan itu bisa meremukkan kepala. Namun bukannya kejam, akan tetapi Gu Ren yakin jika tidak digertak seperti itu, Khong Tiat tak akan menganggap serius.

__ADS_1


Dan benar saja, Khong Tiat mengeluarkan seruan kaget sekaligus tubuhnya bergerak. Reaksinya cukup cepat karena tahu-tahu kedua tangannya telah bergerak meliuk-liuk bagai ular. Itulah ilmu Muslihat Siluman Ular yang menjadi satu di antara ilmu-ilmu andalan Naga Hitam. Memanfaatkan penguasaan tenaga dalam tingkat tinggi yang membuat gerakan si pengguna membingungkan lawan.


Sama seperti saat ini. Seharusnya gerakan Khong Tiat itu seolah hendak menangkap tangan Gu Ren lalu dilanjut dengan totokan ke leher. Namun karena ini bukan pertarungan serius, maka Khong Tiat sungguh-sungguh hendak menangkap tangan Gu Ren.


Akan tetapi Gu Ren yang melihat ini segera melakukan serangan susulan. Saat Khomg Tiat terfokus ke tangan kanannya, tangan kirinya bergerak cepat meninju dari arah kiri. Gerakannya cepat sekali dan tanpa menimbulkan suara. Sehingga Khong Tiat tak pernah menduga datangnya serangan itu, mengakibatkan pipinya telak kena tinju dan tubuhnya terpelanting.


"Buaaakkhh!!"


"Aauuhh!!"


Khong Tiat mencoba mengurangi rasa panas di pipinya itu dengan membiarkan dirinya terus tengkurap dan menempel tanah. Sensasi dingin tanah di pagi hari disertai rumput tebal, seolah mengelus-elus pipinya dengan lembut.


Gu Ren memicingkan matanya kepada tuan putri saat wanita itu bergerak sedikit. Seketika, hilang sudah semua wibawa putri Chang Song Zhu. Tubuhnya menegang di hadapan Gu Ren.


"Paduka, tolong ingat posisi anda ...," ujar Gu Ren sambil menghela napas lelah. "Sudah berapa kali saya ingatkan?"


Akhirnya, putri Song Zhu tak ada piluhan lain selain pura-pura tidak melihat kejadian barusan. Dia berdeham beberapa kali dan menegakkan posisi duduknya. "Apa yang kalian peroleh?" Walau masih dengan muka merah menahan malu, dia mencoba membuat nadanya sedatar mungkin.


Gu Ren kembali menghela napas. Entah kenapa wanita yang sudah berumur ini setiap kali bersama Khong Tiat selalu berubah seperti gadis kecil. Akan tetapi dia tak ingin membuang banyak waktu. Gu Ren menjura sekali lagi sebelum berkata.


"Sung Han dan Sung Hwa menyetujui. Tapi mereka mau datang ke mari setelah seminggu berada di Goa Emas."


Tanpa mampu dicegah, mata sang putri melebar menampakkan kegembiraan. "Oh, benarkah itu? Tapi kenapa mereka harus pergi lebih dulu ke Goa Emas?"


Ketiganya saling pandang. Benar juga, mereka sama sekali tak pernah terpikirkan dengan hal ini. Karena terlalu girang mendengar Sung Han akan membantu, mereka sama sekali tidak memedulikan hal-hal lain.

__ADS_1


"Aku baru ingat akan hal ini," celetuk Nie Chi. "Dia bilang untuk memenuhi permintaan guru? Siapa gurunya?"


"Apa di Goa Emas memang ada penghuninya? Atau, terlepas dari itu semua, gurunya menyuruh Sung Han pergi ke Goa Emas dengan alasan yang tak bisa kita ketahui?" Khuang Peng menyahut.


Keduanya lalu memandang kepada Gu Ren yang masih diam. Namun keningnya menunjukkan kerutan dalam. Dia mencoba mengingat-ingat, siapa sosok yang berhubungan dengan Goa Emas. Seingatnya, hanya ada satu orang yang dia dengar dari kisah dongeng. Dan itu entah benar atau tidak.


"Satu-satunya tokoh Goa Emas. Pasti Tok Ciauw," sahut Khong Tiat yang sudah bangkit duduk. Dia asal bersuara ketika teringat betapa dahulu tanpa sengaja pernah membaca sejarah Goa Emas di tempat penyimpanan buku Naga Hitam. "Sung Han muridnya ya?"


"Tok Ciauw? Maksudmu iblis itu?" sang putri juga terkejut dengan wajah memucat. "Yang benar saja?"


Berbeda dengan dua orang pemuda itu. Mereka masih terlalu muda dan belum pernah mendengar nama Tok Ciauw. Dongeng tentang kependekaran yang paling mereka kenal hanya beberapa saja. Salah satunya Sepasang Naga Putih dan Sepasang Pedang Gerhana.


"Tok Ciauw? Siapa?" tanya Nie Chi polos.


"Kalian tak tahu?" Gu Ren setengah membentak. "Dia yang berjuluk Iblis Peti Goa Emas. Entah sudah berapa puluh tahun dia tak keluar ke dunia persilatan. Dan kini Sung Han akan menghampiri sarangnya."


"Wah, berarti dia tentu ada hubungan. Kurasa Sung Han tidak sesinting itu hingga berani melawan tokoh dongeng." Nie Chi melompat berdiri dengan mata terbelalak.


Ketika keempat orang itu saling ribut mengenai Tok Ciauw. Khong Tiat justru memikirkan hal lain. Jika Sung Han akan mendatangi Goa Emas, bahkan berdiam di sana selama seminggu, itu hanya satu hal.


"Sung Han tak mungkin melawan Tok Ciauw. Tapi yang paling mungkin, dia menjadi murid Tok Ciauw. Itu masuk akal mengapa dia akan tinggal di sana selama seminggu," katanya tenang sambil mengusap-usap pipinya. "Bukankah hal bagus? Bisa jadi gurunya itu ikut membantu Kekaisaran Chang."


Keempatnya serentak menoleh. Putro Song Zhu meneguk ludah sedangkan tiga orang lainnya menghentikan napas beberapa detik. Jika benar demikian, maka boleh jadi Kekaisaran Chang akan kembali memenangi Perang Sejarah generasi ini.


"Semoga saja benar," gumam putri Song Zhu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2