Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 144 – Dia Inilah Orang yang Kau Maksudkan


__ADS_3

"Dia datang tiba-tiba, sialan!!"


Sung Han mencak-mencak di ruangan itu dan entah sudah berapa kali meja itu kena tampar dengan tangannya. Yang Ruan menjadi bingung sampai beberapa kali memegang kedua tangan pemuda itu agar tidak melakukan kebisingan dengan gebrakan-gebrakan berikutnya.


Han Fu Ji bersama Ma Kiu memandang bingung dengan senyum pahit. Mereka pun merasa bingung sekali dengan serangan tiba-tiba dari Rajawali Merah tadi. Segera saja Sung Han, Yang Ruan, Ma Kiu dan Han Fu Ji berkumpul di rumah keluarga Han untuk membicarakan masalah ini.


Ma Kiu sadar jika Sung Han pasti merasa marah dan jengkel karena telah disergap secara tiba-tiba. Serangan ini pun berhasil membakar ruang tamu rumah nona Han. Untung bagian dapur tidak terkena jilatan api, maka dari itulah mereka melakukan cakap-cakap ini di ruang dapur.


"Di mana tempat sembunyinya cecunguk itu? Kukira dia orang gagah yang tak hanya pandai main gertak, kiranya malah mengandalkan banyak orang untuk membinasakan seorang lawan. Pengecut besar!!"


"Plakk!!"


Tangannya yang sudah hendak menggebrak meja lagi itu berhasil disampok oleh tamparan Yang Ruan. Gadis itu meringis kesakitan, tapi hanya sebentar saja sebelum menegur keras.


"Tenanglah, Sung Han!!"


"Bagaimana aku bisa tenang, bukankah Rajawali Merah itu seorang pemberontak? Aku harus mampuskan dia!"


Mendengar ini, Han Fu Ji dan Ma Kiu saling pandang. Seolah dalam pandangan itu mereka sudah bersepakat akan suatu hal. Namun di dalam pandangan Ma Kiu, pria itu memandang dengan kening berkerut dan menggeleng kepala. Namun Han Fu Ji mengangguk beberapa kali penuh kepastian.


Yang Ruan dan Sung Han masih saling cekcok dengan hebatnya. Sung Han juga merasa marah sekali ketika mengetahui Yang Ruan terluka sungguhpun hanya luka ringan.


"Luka seperti ini bagi pendekar seperti kita, apa artinya?"


"Tentu ada artinya, kau kira aku akan terima jika kawanku dilukai pemberontak pengecut? Mending kalau dia datang secara gagah dan menantang, dengan begitu kalau kau mati pun aku tak akan turut campur!"


"Kau ingin aku mati hah!!?"


"Bukankah mati dalam pertarungan antar pendekar adalah satu hal biasa!?"


"Kau benar-benar ingin aku mati!?" tangannya bergerak dan tepatlah telapak putih halus itu menampar wajah Sung Han yang seketika menjadi merah.


Mereka masih hendak melanjutkan adu mulut itu ketika tiba-tiba Han Fu Ji berkata.


"Kakak Han, aku tahu di mana kau bisa bertemu dengan Rajawali Merah."

__ADS_1


"Bagus. Nona yang baik, sekarang juga kita berangkat!!"


"Besok saja!!" bentak Yang Ruan yang sudah naik pitam dan mengangkat kakinya tinggi. Kemudian tumitnya dengan telak mengenai ubun-ubun Sung Han yang segera menjadi pening bukan main


...****************...


Jumlah prajurit di desa ini mungkin sekitar lima puluh orang. Itu sudah termasuk dari yang muda sampai yang tua.


Mereka bukannya prajurit kekaisaran yang diutus untuk menjaga desa itu, mereka murni adalah prajurit desa. Karena mereka adalah calon prajurit kekaisaran, maka mereka pun memiliki tubuh kuat-kuat selayaknya para prajurit.


Pagi hari itu, dikawal oleh tiga puluh prajurit desa, bersama Sung Han dan Yang Ruan mereka pergi meninggalkan desa itu menuju hutan tak jauh dari sana. Hutan ini adalah tempat di mana terdapat sungai yang setiap sore Han Fu Ji mengambil air di sini.


Gadis itu lalu mengarahkan Sung Han ke tempat di mana tebing retak yang kemarin di jadikan pertarungan mati-matian. Setibanya di sana, mereka berhenti.


"Tempat apa ini?" Sung Han berkata karena penasaran. Matanya pun tak buta untuk melihat jika di tempat ini telah terjadi suatu pertempuran sebelumnya.


Han Fu Ji dan Ma Kiu mengerutkan keningnya. Mereka melirik Sung Han dengan heran. Bukankah dia sendiri yang kemarin melakukan pertarungan mati-matian di sini? Demikian pikir mereka.


Sebenarnya, Han Fu Ji sama sekali tidak tahu di mana tempat Rajawali Merah berada. Namun dia memiliki keyakinan, jika orang itu selalu mengawasi desa di mana dia tinggal. Maka dengan bermodalkan firasat ini, dia pergi menjauhi desa untuk menunggu munculnya si rajawali itu.


Tak berselang lama, dari jauh nampak bayangan banyak orang berkelebat yang tahu-tahu telah mengurung rombongan prajurit desa itu. Melihat dari pakaian, mereka cepat menduga jika pengurung ini adalah Serigala Tengah Malam. Di dalam barisan itu, nampak tubuh ramping kecil, dengan pakaian ketat berwarna merah. Namun pakaian ketat itu sedikit tertutup dengan mantel lebar yang juga berwarna merah. Dialah Rajawali Merah.


"Heh, rajawali gadungan, kemari kau!! Kita bertanding sampai salah satu dari kita mampus untuk dijadikan makanan harimau liar!" bentak Sung Han yang entah mengapa merasa jengkel sekali dengan orang berpakaian merah bertopeng itu.


Rajawali Merah hanya mendengus dan melirik sekilas. Kemudian pandangannya tertuju kepada nona Han yang berdiri di tengah-tengah barisan. Gadis itu yang merasa dipandang menjadi jeri juga.


"Hei....kalian!! Apakah sudah memenuhi permintaanku?" kata Rajawali Merah itu memancing.


Han Fu Ji meneguk ludah susah payah beberapa kali. Tindakan ini diikuti oleh Ma Kiu dan seluruh prajurit desa yang tak dapat menyembunyikan perasaan seramnya. Bagaimana pun, Rajawali Merah itu telah mengerahkan tenaganya dalam ucapan tadi.


"Menurut dugaanku, kalian pasti sudah membawanya. Maka akan kukembalikan dia jika memang tidak ada kebohongan di sini." kata Rajawali Merah kemudian dan menjentikkan jari.


Barisan terbelah dan dari belakang datang seorang kakek tinggi besar. Wajahnya menyeramkan sekali, apalagi dengan matanya yang hanya tinggal sebelah, benar-benar mendatangkan rasa ngeri.


Dia ini tidak sendirian, melainkan datang dengan seorang tawanan wanita yang diseret menggunakan tali.

__ADS_1


Sung Han yang melihat kakek tersebut, matanya membeliak karena merasa kenal dengan kakek ini. Setelah diingat-ingat, ternyata kakek itu adalah seorang kakek aneh yang dahulu ikut mengawal penculikan Sung Hwa. Kalo tak salah, julukannya Naga Bertanduk.


"Hei, bukankah ini yang dinamai Naga Bertanduk? Pemberontak hina, pencuri ibu orang!!" seru Sung Han yang membingungkan mereka semua. Begitu pula dengan Yang Ruan.


"Sung Han, apa maksudmu?"


Sung Han hanya diam ketika melihat Naga Bertanduk itu nampak terkejut. Tapi ketika dia sudah tiba di depan dan melemparkan sandera wanita itu, terdengar jeritan Han Fu Ji dan dia sudah menubruk.


"Ibu!!"


Gadis ini berlari dan langsung memeluk ibunya yang agaknya berada dalam keadaan pingsan itu. Susah payah ia mencoba melepaskan ikatannya, namun percuma.


Ma Kiu juga terkejut sekali melihat nyonya mereka, cepat dia datang mendekat untuk menolong membuka belenggu tali itu. Namun sekali menggerakkan tangan, Naga Bertanduk sudah membuat Ma Kiu roboh terjengkang.


"Kesepakatan! Berikan orang yang kumaksud itu. Seorang lihai."


Tiba-tiba, tangis Han Fu Ji berhenti. Hanya nampak pundaknya saja yang bergerak naik turun.


Yang Ruan yang melihat bahwa suasana tiba-tiba menjadi berubah dan aneh itu, mengerutkan kening penuh waspada. Dia mendekati Sung Han dan berbisik.


"Sung Han..."


Belum juga menyatakan apa yang menjadi ganjalan hati, lebih dulu suara Han Fu Ji memecah kesunyian.


"Dia inilah orang yang kau maksudkan!!" teriaknya sambil menunjuk Sung Han.


Pemuda itu terbelalak mendengar ini. "Apa maksudmu!!" dia sudah menerjang hendak menangkap pundak Han Fu Ji untuk minta penjelasan.


Tapi pada saat itu...


"Sung Han si pemberontak!! Mari kita beradu ilmu!!" Naga Bertanduk berseru dan menerjanglah ia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2