
Dua perwira yang berubah sikap menjadi amat ramah dan baik begitu mengetahui identitas Sung Hwa, menawarkan sebuah kamar penginapan tak jauh dari sana. Tentu saja Sung Hwa tanpa pikir panjang menerimanya.
Ketika Kay Su Tek menegur, "Mengapa kau terima? Tak sadarkah kau bahwa mereka punya niat buruk?"
Dengan santai Sung Hwa menjawab, "Aku tahu, hanya saja tak ada ruginya kita menuruti mereka. Lagipula bukankah menguntungkan kita akan mendapat kamar penginapan tanpa bayar?"
"Mereka pasti akan mencelakakan kita!"
"Untuk apa takut? Mereka ini orang-orang besar mulut bisa apa terhadap kita?"
Maka pergilah dua orang muda dan mudi ini diantar oleh dua perwira ke rumah penginapan tersebut. Pemilik penginapan sudah tahu siapa adanya dua perwira itu maka tanpa sulit-sulit, mereka mendapat dua kamar yang sudah dibayar lebih dulu oleh salah satu perwira.
"Terima kasih." kata Sung Hwa pada keduanya begitu dia hendak membuka pintu kamar, "Sebenarnya kalian tidak perlu repot-repot." lanjutnya.
Seorang perwira menjawab, "Tak mengapa nona, kami sama sekali tidak repot. Justru ini adalah sebagai permohonan maaf kami yang sudah bersikap lancang terhadap nona dan teman nona."
"Hahaha, permohonan maaf atau permohonan agar aku tutup mulut dengan kejadian tadi?" kelakar Sung Hwa dan tanpa menunggu jawaban, dia masuk ke kamarnya diikuti oleh Kay Su Tek yang masuk ke kamar sebelah.
Seperginya dua orang ini, dua perwira itu memandang sengit. Jelas raut ketidak sukaan terpampang jelas di wajah mereka. Dengan langkah gusar keduanya pergi keluar penginapan. Setibanya di luar salah satu dari mereka memanggil anak buahnya dan berkata.
"Panggil dia ke mari, paling lambat tengah malam nanti."
"Tapi dia cukup keras kepala tuan, sulit diatur." kata anak buahnya itu.
"Beri sepeti uang emas, ingin kulihat apakah dia masih bisa membandel seperti biasa."
Anak buahnya itu lekas pergi melaksanakan perintah. Dia membawa sepeti kecil yang berisi emas permata. Dibawanya menuju ke luar desa untuk memanggil seseorang yang benar-benar amat dibutuhkan untuk saat ini.
"Heh....kita lihat siapa yang menang nanti!"
"Benar, aku ingin lihat apakah dia masih bisa menunjukkan wajah sombong itu setelah kutarik paksa ke ranjangku!"
__ADS_1
Dua orang ini lantas tertawa-tawa membayangkan malam nanti Sung Hwa akan bertekuk lutut di bawah kaki mereka. Setelah melihat gadis secantik itu, wanita-wanita lain tidak ada yang menarik perhatian dua perwira bejat ini.
...****************...
Dua orang muda itu memiliki kekuatan yang amat hebat, bahkan mereka berdua bisa dibilang sudah mencapai pada titik pendekar sejati. Kekuatan serta ketangkasan keduanya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kebanyakan pendekar lain.
Walaupun begitu, Kay Su Tek yang merasa khawatir sekali sama sekali tak dapat tidur. Jelas dua orang perwira itu amat tertarik terhadap Sung Hwa. Dia maklum karena kecantikan Sung Hwa memang luar biasa.
Makin malam, keadaan makin sunyi. Makin kuatlah keyakinan pada hatinya jika dua perwira itu sudah merencanakan sesuatu. Pemuda ini tak sadar jika di kamar sebelah, sosok yang dikhawatirkannya itu sedang mendengkur dalam posisi terlentang yang sangat tidak rapi. Agaknya model tidur Sung Hwa ini tiada kenal sungkan-sungkan ketika sedang sendirian.
Tiba-tiba, indera pendengar Kay Su Tek yang tajam menangkap suara-suara dari kejauhan. Dia cepat-cepat menarik selimut dan pura-pura tidur. Namun diarahkan matanya menuju jendela yang sengaja dibuka.
Telinganya mendengar suara langkah-langkah kaki beberapa orang yang mulai mengurung rumah penginapan ini. Walau gerakan mereka ringan dan gesit, namun tak cukup ringan untuk tidak terdengar oleh telinga Kay Su Tek.
Pemuda ini dapat mendengar jelas bahwasannya mereka itu melompat ke atas genteng. Saling berunding dengan bisikan-bisikan di atas sana, lalu menyebar. Menyisakan empat orang yang berdiri di atas genteng.
"Hehehe...ini akan mudah." kata sebuah suara. Perkataan itu seperti orang yang sedang sakit tenggorokan, serak tak enak didengar.
"Aku akan menangkap gadis itu sesuai rencana, kalian robohkan si pria. Bunuh sajalah tak apa." kata suara serak itu lagi.
Dia memang tidak tahu apakah orang-orang ini adalah bawahan dua perwira tadi, tapi yang jelas mereka itu menargetkan Sung Hwa. Dan itu semua akan lebih masuk akal jika dikait-kaitkan dengan masalah tadi siang.
Kay Su Tek melihat dua orang melompat masuk ke dalam kamarnya melalui jendela. Dia tak dapat melihat jelas wajah mereka karena keadaan sedang gelap gulita. Dua orang itu mendekati dipan Kay Su Tek dan tangan-tangan mereka bergerak cepat menotoknya.
"Cuss-cuss-cuss-cusss!"
Empat kali totokan empat tangan mereka, membuat tubuh Kay Su Tek lumpuh seketika. Begitulah yang terjadi jika pemuda ini tidak cepat-cepat membelokkan aliran darahnya.
"Penggal!" kata seorang menyuruh temannya.
Temannya itu mengangguk dan mencabut golok panjang. Ia arahkan golok itu ke leher Kay Su Tek beberapa saat sebelum mengangkatnya tinggi dan membacok sekuat tenaga.
__ADS_1
"Trang!"
Kejadian berikutnya benar-benar membuat dua orang itu hampir pingsan saking terkejutnya. Normalnya, seharusnya leher Kay Su Tek lah yang terpisah dari badan. Tapi kenyataannya adalah, golok itu lah yang terpisah dari gagang.
Keduanya terkejut dan melompat mundur dengan sikap waspada. Tapi mungkin saking gobloknya mereka, jelas-jelas golok yang patah itu pasti perbuatan Kay Su Tek yang pura-pura tidur, keduanya tidak sadar dan kembali mendekat. Kay Su Tek ingin tertawa keras melihat kepolosan dua orang itu.
Namun dia tak mau main-main lagi. Begitu keduanya mendekat, Kay Su Tek cepay bergerak menendangkan dua kakinya. Sontak tubuh dua orang penyergap itu terpelanting sampai menghantam dinding.
Hebatnya, walaupun punggung mereka menghantam dengan keras, namun tak ada sedikit pun suara terdengar. Seolah suara itu teredam masuk ke dalam dinding.
Keduanya memandang terbelalak dengan muka pucat ketika Kay Su Tek, mangsa mereka mulai bangkit perlahan-lahan.
"Katakan, siapa yang menyuruh kalian? Dugaanku sih, pasti dua perwira itu kan?" Kay Su Tek berkata dingin. Ini menbuat dua orang itu makin gemetaran. Bahkan salah satunya sudah pingsan. Kecil sekali nyali mereka.
...****************...
"Bangsat cilik ini!" geran lelaki brewok bermata lebar dan ganas itu. Dia inilah pendekar yang dipanggil oleh dua perwira tadi siang menggunakan emas sogokan. Dia ini merupakan salah satu pendekar rimba persilatan yang menggabungkan diri dengan pasukan pemberontak.
Kembali dia menggerakkan tangan berusaha untuk menotok tengkuk Sung Hwa, lagi-lagi gadis itu dapat berkelit dengan cara merengganggkan tubuhnya.
Sudah sejak tadi dua orang itu tak mampu menawan Sung Hwa. Pasalnya gadis ini terus menghindar dengan cara aneh dalam keadaan tidur. Entha itu dengan menguap yang tangannya bisa menangkis tangan lawan, atau merenggangkan tubuh, atau pura-pura bermimpi buruk yang membuat kakinya menendang-nendang.
Memang Sung Hwa sudah bangun sejak tadi dan dia mendapat akal untuk mempermainkan dua lawannya itu. Dengan cara pura-pura tidur dan menangkis ke sana-sini. Anehnya, dua orang itu tidak sadar kalau dia sedang pura-pura tidur. Entah tak sadar atau terlalu tolol.
Tapi tiba-tiba, baik Sung Hwa dan dua orang lain terbelalak ketika mendengar suara menyanyat dari kamar samping. Sung Hwa yang ingat akan kawannya, bertindak cepat melompat ke jendela lalu masuk ke kamar Kay Su Tek melalui jendela pula.
Sampai di sana, wajahnya pucat.
"Kenapa kau bunuh mereka!!??" seru Sung Hwa kaget dan marah melihat kelaukan Kay Su Tek yang telah membunuh dua orang penyergapnya. Pemuda ini menoleh dengan tatapan dingin.
"Aku musuh pemerintah."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG