
Beruntungnya Bu Cai cukup pintar untuk menyembunyikan perahu kecil itu di tempat yang memang sangat tersembunyi. Tempat itu seperti rawa-rawa atau danau kecil yang di mana jalan masuknya tertutup untaian batang dan daun pohon-pohon besar. Sehingga dari luar sama sekali tidak terlihat.
Mengapa Sung Han bisa sampai sini? Sejujurnya hal itu adalah akibat ketidaksengajaan. Ia awalnya ingin meletakkan perahu di bagian luar, namun malah terseret arus kecil dan tanpa sengaja memasuki tempat ini.
Ia menambatkan perahunya tepat di samping perahu Bu Cai. Menggunakan tali-tali pohon yang bergantungan, ia ikat perahunya ke salah satu batang pohon.
"Dasar perempuan ini, pantas saat dikurung tidak mati-mati. Kiranya hatinya sudah sekeras batu, kepalanya sekokoh karang. Keras kepala!!" Sung Han mengomel sendiri sambil terus mengikatkan tali pada batang pohon.
Cepat-cepat ia berjalan menuju tengah daratan setelah menyelesaikan kegiatannya. Ternyata di bagian ini memang amat terlantar, pohon-pohon besar disertai semak belukar tinggi sedikit banyak menyulitkan Sung Han. Niat hati ingin melompat dari pohon ke pohon, tapi bukannya satu dua kali dia malah tersanduk dan terjerat oleh tali-tali pohon panjang itu.
"Ah....tak ada pilihan! Lagipula tidak ada yang lihat!"
Terdengar suara nyaring, "Siiiingg." ketika Pedang Gerhana Matahari sudah lolos dari sarungnya dan membabati semak serta segala penghalang jalan itu. Maka sebentar saja sembari mengerahkan ilmu lari cepatnya, Sung Han sudah dapat melihat tembok tinggi Perguruan Awan.
Matanya memicing ketika melihat bayangan berkelebat yang cepat sekali, menuju ke arahnya. Lalu setelah makin dekat, dapat ia lihat sorot mata orang itu terbelalak melihat kedatangannya.
"Mampuslah!!" bentak orang itu dan memukulkan telapak tangannya.
Tentu saja Sung Han terkejut dengan kelakuan orang, cepat ia masukkan kembali pedang gerhana dan dengan cekatan mengelak ke kiri. Namun kiranya orang itu lanjut melakukan serangan balasan dengan cakaran tangan kiri.
"Tahan!!"
"Plakk!!" tangan Sung Han menyambar dan berhasil menyampok pergelangan tangan orang itu. Kiranya dia adalah perempuan.
"Eh, Sung Han?" orang itu terkejut melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
Begitu pula dengan pemuda itu, cepat ia lepas cengkeraman tangannya ketika menyadari identitas penyerang gelapnya. "Bu Cai."
Sebelum sempat Sung Han melanjutkan, Bu Cai sudah mendekap mulutnya dan mendorongnya paksa menuju semak-semak di belakang Sung Han. Pemuda ini tak bisa melawan karena pada saat itu juga telinganya mendengar langkah kaki beberapa orang.
"Keparat!! Kemana setan cilik itu!"
"Sial, kita kehilangan dia lagi!! Sudah dari kemarin malam selalu saja lolos!"
Dua orang yang nampak berangasan, memegang golok di tangan masing-masing, celingukan mencari keberadaan Bu Cai. Sung Han menyadari hal ini, lebih-lebih lagi menyadari baju yang dikenakan dua orang tersebut.
"Hati Iblis!" gumamnya mengetahui ukiran-ukiran unik itu.
"Kau ke sana, dan aku ke sana." kata salah seorang itu yang langsung melesat ke kanan. Sedangkan satu orang lagi menuju ke arah tempat Sung Han dan Bu Cai bersbunyi.
__ADS_1
"Tangkap dia Sung Han!" bisik Bu Cai.
"Tanpa kau beritahu juga akan kulakukan!"
Saat orang itu sudah tiba dekat, kaki Sung Han berkelebat menghadang langkah kaki lawan. Ketika tubuh orang itu tersandung dan jatuh, sebelum membentur tanah Sung Han sudah menotoknya dan menarik ke balik semak.
Orang itu terbelalak saat menyadari Bu Cai. Sedetik kemudian kilatan amarah nampak jelas di matanya. Namun dia merasa sedikit heran dengan keberadaan lelaki lain yaitu Sung Han.
"Kau tertangkap, katakan semuanya!"
...****************...
"Kau harus pulang!!!"
Dengan terpaksa sekali Sung Han mengangkat tubuh Bu Cai dan membantingnya. Sungguhpun tidak keras, tapi cukup membuat wanita itu kaget setengah mati.
"Kalau kau ketahuan seperti aku bagaimana!" katanya membantah mencengkeram pergelangan Sung Han yang masih berada pada kerah bajuanya.
Sung Han tersenyum miring, "Kau pikir aku ini apa? Jika memang ketahuan, mana bisa aku membuat nyawa Ki Yuan kabur?"
"Ah!" Bu Cai terkaget mendengar alasan itu. Cepat ia memutar otak untuk mencari alasan lain. "Jin Yu itu kuat, apalagi dua orang bertopeng itu, aku bakal mati kalau tidak berhasil kabur!"
"Pulang!! Temani kakekmu yang sudah kau tinggal kabur!!"
"Uaaahhh!!" pekik Bu Cai dan bergulingan karena di posisinya saat itu jalan menurun curam. Lalu terdengar lagi pekiknya mengaduh-aduh dan sumpah serapah kepada Sung Han.
Tapi pemuda itu akhirnya berhasil bernapas lega karena Bu Cai sudah tak lagi mengejar. Sebenarnya ia khawatir kalau-kalau lemparannya terlalu keras, tapi ia memantapkan hati dan berbalik arah untuk menuju Perguruan Awan.
Menurut keterangan dari orang tadi, beberapa waktu lalu Jin Yu bersama pangeran Chang Song Ci dan berbagai perguruan silat sekitar menyerbu ke Perguruan Awan.
Ketika ditanya apa alasannya, orang itu menjawab bahwasannya Perguruan Awan tidak ingin diajak bekerja sama dengan pemerintah. Maka dari itulah Chang Song Ci menganggap mereka pemberontak.
Lalu yang membingungkan, saat ditanya lagi mengapa Jin Yu dan berbagai macam perguran silat ikut andil pula.
Ia menjawab, untuk perguruan silat, mereka merasa tidak terima atas perilaku Perguruan Awan sebelumnya. Sung Han tahu jika itu berkatian dengan penculikan banyak gadis.
Lalu untuk Hati Iblis, dia menjawab, "Kami sudah berjanji untuk selalu membantu pangeran Song Ci!" katanya tegas.
Setelah itu Bu Cai membunuhnya. Memang wanita kejam.
__ADS_1
Setelah tiba dekat dengan tembok dan bersembunyi di balik semak, Sung Han memandang sekeliling. "Jadi seharusnya di dalam sana adalah sisa-sisa Hati Iblis? Hahaha, Naga Hitam dan Rajawali Putih sepertinya kurang teliti." gumamnya.
Setelah memastikan keadaan aman benar, ia melompat ke pohon paling tinggi di dekatnya. Dengan bantuan pohon ini, sekali lompat ke depan kaki Sung Han sudah dapat menjangkau tembok perguruan.
Tapi hampir saja dia memekik karena tepat di bawah tembok tempat dia mendarat ada sepasang muda mudi yang tengah memadu kasih. Memang tempat Sung Han mendarat itu berada di sudut tembok, agaknya sebagai ruang pengawasan.
Baik Sung Han dan sepasang muda-mudi itu menjadi pucat wajahnya. Kaget, heran dan bingung campur aduk menjadi satu.
"Siapa kau!!?" si pemuda bertanya karena memang tidak mengenal Sung Han. Apalagi dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Ia meloncat sambil menarik tangan kekasihnya dan mengambil pedang di tumpukan bajunya.
Sedangkan Sung Han terkejut dengan hal lain, saat ia lihat tumpukan baju itu, mulutnya tanpa sadar bergumam, "Baju pemerintah?"
"Hiyaaatt!!" ia tak dapat berpikir lebih jauh karena si pemuda yang sudah tanpa pakaian itu telah menerjang.
Sadar bahwa orang ini pastilah anggota Chang Song Ci, yang dasas-desusnya berpotensi sebagai pemberontak. Juga mendengar keterangan sandera itu yang berarti orang ini ikut berkonstribusi dalam penghancuran Perguruan Awan, maka Sung Han menganggap musuh.
Ia tidak menghindar, justru melompat turun dan menyambut datangnya lawan. Orang itu terkejut sekali karena jarak Sung Han sudah terlalu dekat, yang membuat pedangnya tak mungkin dapat menyerang sempurna. Maka dengan nekat ia gebukkan gagang pedang ke leher Sung Han.
"Hup!"
Dengan gerak cepat Sung Han menangkap pergelangan tangan lawan menggunakan tangan kiri. Lalu tangan kanannya merebut pedang dan tanpa basa-basi ia tusukkan tepat ke ulu hati, sampai tembus ke punggung.
"Auuughhh!" pekik tertahan terdengar.
Tak berhenti sampai di sana, Sung Han terus maju dan menusuk pula si wanita yang menjadi kaget sekali. Kebetulan letaknya berada di belakang si pemuda.
Maka dua orang itu mati bersama dengan pedang yang sama dan dalam waktu yang sama. Pedang masuk dari dada si lelaki, dan keluar di punggung perempuan. Dua tubuh tanpa pakaian itu jatuh ke samping dengan mata melotot tanpa nyawa.
Sung Han memandang seklias, kemudian menggunakan baju lelaki dan perempuan untuk menutupi dua jasad itu. Ia menepuk-nepuk bahu si wanita.
"Kalau saja riasan dan gincumu tidak sehebat itu, kiranya aku akan berpikir kau adalah gadis desa dan pasti akan menyelamatkanmu." lalu Sung Han membuka penutup itu dan menggosok-gosok bagian bawah mata kiri si gadis.
Mulutnya bergumam, "Ternyata kabar itu benar." katanya melihat simbol titik hitam yang dia tahu bukanlah tahi lalat, "Hati Iblis punya sekumpulan pelacur yang ditandai dengan titik hitam ini, kiranya kau masih selamat dari penyerbuan Naga Hitam dan Rajawali Putih."
Dan memang wanita ini satu-satunya pelacur Hati Iblis yang masih selamat. Karena saat Sung Han menyelidik di markas itu, semua orang yang memakai pakaian Hati Iblis adalah lelaki.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1