
Hari ini, adalah hari di mana pangeran Chang Song Ci akan pergi ke barat kota guna melihat lahan pertanian di sana. Ini sudah merupakan rutinitas dari pangeran tersebut untuk berkeliling kota di waktu-waktu tertentu. Entah ini karena dia memang menvinta rakyat atau hanya berkeliling untuk mencari jalan kabur jika seandainya pemberontakannya terbongkar.
Pagi itu rombongan besar keluar dari komplek kediaman tuan kota, disambut oleh warga kota yang bersorak-sorai memanjatkan segala doa baik. Wajar mereka tidak tahu seperti apa wujud asli dari sosok pangeran Chang Song Ci.
GmTiga orang pengawal pribadi barunya, mengiringi rombongan ini dengan naik kuda dan berjalan di belakang kereta pangeran. Mereka berdiri saling berdekatan. Ini satu di antara siasat mereka agar jika sewaktu-waktu terdapat perubahan rencana, akan lebih mudah mendiskusikannya.
Pada malam dua hari lalu, Xian Fa telah pergi menyelidik ke barat kota dan menemukan beberapa informasi. Salah satunya adalah tempat kediaman pangeran yang nantinya akan digunakan pria tersebut beristirahat selama tinggal di sana.
Juga Xian Fa mengatakan di mana letak-letak yang cocok untuk melakukan pertempuran. Yaitu di hutan dekat persawahan, selain tempatnya yang gelap, juga tanahnha datar sehingga memudahkan mereka bergerak. Bagi mereka, kegelapan di malam hari tidak terlalu berpengaruh pada pertarungan. Mereka masih punya kedua telinga dan indra penciuman yang amat tajam.
Beberapa menit berselang, akhirnya rombongan besar ini sampai juga di bagian wilayah barat kota. Begitu mereka memasuki daerah barat ini, suasana seketika berubah. Jika tadinya terdengar suara hiruk-pikuk perkotaan yang membisingkan telinga, kini suara jengkrik dan kicau burung yang menemani perjalanan mereka.
Sejauh mata memandang, yang ada hanya warna hijau daun padi yang menyegarkan. Lereng gunung di bagian barat sana menambah keindahan dari wilayah ini. Seolah gunung itu merupakan sosok penjaga bagi wilayah barat ini.
Kedatangan pangeran disambut baik. Walau desas-desus akan pemberontakannya sudah terkenal sekali, namun bagi warga yang tak terlalu memedulikan siapa pemimpin mereka, dapat menyambut setiap kedatangan bangsawan dengan cukup ramah. Tak terkecuali para warga di bagian barat ini.
Lebih dulu pangeran dibawa menuju kediaman yang ada di barat ini, kemudian ditemani selir-selirnya, dia pergi berkeliling kota melihat-lihat. Sejauh ini, keadaan cukup nyaman dan terkendali. Belum ada tanda-tanda kecurigaan dari semua orang. Namun Xian Fa dan dua orang lain harus selalu menahan diri dan bersikap tenang hingga setidaknya malam menyapa nanti.
...****************...
Pintu tempat istirahat Xian Fa diketuk. Dia sudah menunggu ini sejak tadi dan segera membuka pintu. Sekedip kemudian, dia menutup kembali. Namun, di dalam ruangannya telah berdiri dua orang.
"Kupikir kau sudah tidur,"
"Oh, kau meremehkanku," ucap Xian Fa membalas perkataan Han Ji. "Kau ngantuk kan? Haha, pendekar sekelas dirimu masih bisa mengantuk?"
__ADS_1
Han Ji mendengus dan mengucek mata. Memang matanya terasa sedikit lebih berat kali ini. Akan tetapi tak akan begitu bermasalah jika dia segera bermeditasi mengumpulkan hawa alam.
"Jadi, kita lakukan sekarang?" kata Hok Liu memastikan.
Xian Fa mengangguk. "Tunggu sebentar lagi. Beberapa saat lagi waktu hampir mendekati pagi, itu saat yang amat rawan karena para pengawal mulai lelah dan mengantuk."
"Baik, kalau begitu kita menunggu di sini," Hok Liu menyetujui dan segera duduk mendeprok di lantai kamar. Diikuti oleh Han Ji yang segera bermeditasi.
Xian Fa tak ada pilihan lain selain ikut duduk dan bermeditasi pula.
Waktu berlalu tanpa terasa dan satu jam telah terlewat sejak mereka bertiga berkumpul di kamar itu. Waktu sudah menjelang pagi dan inilah saat-saat yang paling berbahaya. Di mana para penjaga mayoritas sudah mengantuk dan tertidur. Lagi pula mereka tak akan pernah berpikir jika malam ini akan ada keributan.
"Kau tunggu tanda dari kami," Xian Fa mengingatkan dan dibalas anggukan oleh Hok Liu.
Sebelumnya Xian Fa sudah menyelidiki ke tempat ini sampai satu hari lamanya. Dia berputar-putar di sekeliling kota Daun wilayah barat ini untuk mencari celah di mana mereka bertiga bisa bertindak.
Dan dia menemukan satu tempat bagus untuk dijadikan sumber kekacauan, yaitu gudang berisi tumpukan sekam inilah. Dan jumlah bangunan ini ada tiga buah.
Di sana sama sekali tak ada penjaga yang mau repot-repot mengawasi tempat itu. Terakhir kali dua muda itu bertemu penjaga, yaitu di kandang kuda tak jauh dari sini.
Han Ji menoleh ke kanan-kiri, ketika dirasanya keadaan sudah aman, dia memberi tanda kepada Xian Fa.
Pemuda itu paham dan menyalakan obor, dibawanya ke atap gudang dan melemparkan obor itu ke dalamnya setelah membuka genteng. Hal yang sama ia lakukan terhadap dua bangunan lain.
Awalnya tak terjadi apa-apa, butuh proses yang cukup memakan waktu sampai membuat asap terlihat mengepul melalui celah-celah gedung. Melihat ini Xian Fa segera melompat turun dan menghampiri Han Ji.
__ADS_1
"Beres!" kata Xian Fa.
"Berarti sekarang kita hanya tinggal menunggu," kata pula Han Ji. Dia mengintip dari balik tembok bangunan, melihat ke arah kandang kuda yang berada tak jauh di sana. Wajahnya nampak cemas. "Semoga mereka tidak sadar dengan asap-asap itu. Kenapa lama sekali terbakar?"
Xian Fa tersenyum canggung. "Sepertinya sekam itu sedikit basah. Tunggu saja sebentar lagi."
Dan benar saja, suara sekam terbakar terdengar makin nyaring sampai mereka yang berada di luar gedung mampu mendengarnya. Apa sudah mulai terlihat dari balik celah gudang itu. Nampak merah terang menyala-nyala. Namun belum ada yang sanggup keluar kecuali hanya asap hitam yang makin lama makin tebal. Dari kejauhan, gudang itu hampir mirip dengan sebuah tungku yang mengeluarkan asap.
Ketika Han Ji dan Xian Fa sibuk memerhatikan gedung yang terbakar, mereka terkejut ketika melihat beberapa orang yang sebelumnya menjaga kandang kuda menghampiri gudang itu. Walau sikap mereka terlihat malas.
"Ah, gudang terbakar!" seru salah satunya. Dan kantuknya hilang seketika.
Ketujuh orang itu segera berbalik untuk memperingatkan yang lainnya. Namun seperti dikomando, Xian Fa dan Han Ji sudah keluar dari persembunyian dan mengejar mereka. Sekali bergerak, tujuh orang itu sudah roboh terpelanting.
"Seharusnya dari tempat Hok Liu ini sudah cukup terlihat. Mari kita ke sana dan bantu dia."
Han Ji mengangguk, ia dan Xian Fa segera mencari jalan untuk pergi ke tempat Hok Liu berada.
Benar saja apa kata Xian Fa, kiranya sudah banyak pengawal yang mendatangi tempat ini dengan beramai-ramai. Mereka menjadi berisik dan panik ketika melihat tujuh orang dari mereka roboh tewas di tengah jalan.
Malam hari itu juga, kediaman ini menjadi geger oleh kebakaran gudang. Dan mereka semua sama sekali tidak sadar dengan pertarungan hebat yang terjadi di sisi sebaliknya dari gudang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1