
Demikianlah singkat cerita mengapa putri Chang Song Zhu bisa sampai ke markas Serigala Tengah Malam bersama sepasukan prajurit kerajaan dan belasan orang para pendekar.
Setibanya di sana, seperti yang sudah dijelaskan, setelah para anggota yang berjaga di markas terluar Serigala Tengah Malam mengetahui rombongan besar ini, dia segera melapor kepada topeng emas yang kala itu sedang menginterogasi tiga orang tawanan.
Setibanya di depan markas itu, dengan penuh pengerahan tenaga dalam, Khong Tiat berseru nyaring sekali. Sekaligus untuk menarik perhatian sang putri tentunya.
"Heii....kalian para serigala, keluarlah sambut kami jika masih ada kegagahan dalam jiwa kalian!!"
Belasan anggota yang berdiri di liar markas itu bersiap siaga. Markas itu bentuknya sudah seperti benteng saja, dengan dinding batu yang amat kokoh tanpa celah. Menjulang tinggi dengan tiang pengawas di setiap sudut tembok.
Sehingga baik yang menjaga di pintu gerbang maupun yang menjaga du atas tembok benteng siap dengan senjata di tangan. Baik itu golok, tombak ataupun panah.
Setelah beberapa lama menunggu, terdengar bentakan halus yang datang dari dalam.
"Buka pintu!"
Suara nyaring berderitnya pintu kayu raksasa yang kokoh tebal itu sedikit mengganggu pendengaran. Namun baik pasukan kerajaan dan para pendekar tetap memasang sikap gagah tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.
Pintu terbuka perlahan, menampakkan puluhan sosok anggota tingkat atas Serigala Tengah Malam. Hal ini terbukti dari wajah mereka yang kesemuanya tertutup topeng.
Melihat ini, putri Chang Song Zhu lompat turun dari atas kudanya, memandang penuh perhatian ke arah si topeng emas. Tak salah lagi, suara itu adalah suara kakaknya yang sudah dia kenal.
"Kau tak akan bisa lari lagi...." bisik putri itu dalam hati.
Puluhan orang itu berjalan perlahan keluar dari wilayah benteng mengikuti topeng emas. Maju beberapa tindak sampai dua rombongan itu hanya terpisah sekitar lima tombak saja. Topeng emas berhenti berjalan dan dua rombongan itu saling pandang dengan sikap kereng.
Pria itu menjura hormat, "Kiranya sang putri sendiri yang datang, ada apakah tiada hujan tiada angin tiba-tiba berkunjung ke tempat kumuh ini?"
Panas hati putri itu mendengar ini, memang benar-benar pandai bersandiwara kakaknya ini. Dia menjura pula membalas penghormatan orang seraya menjawab.
"Memang bukan hujan dan angin yang menggiring langkahku untuk datang ke tempat kumuh ini. Hanya saja beberapa urusan benar-benar menarik perhatian dan rasa penasaranku." ucapan ini jelas mengejek karena dia menyetujui ucapan si topeng emas tentang tempat ini yang kumuh.
Namun topeng emas nampak tidak bereaksi, dia menjawab pula, "Jika demikian, bolehkah saya tahu beberapa urusan yang dapat menarik perhatian sang putri kerajaan?"
Topeng emas masih tetap bergeming di tempatnya ketika putri itu melakukan bisik-bisik dengan para pembantunya. Setelah beberapa saat putri itu terdengar bersuara.
__ADS_1
"Aku mendengar kabar angin yang mengatakan jika markas Serigala Tengah Malam memang di sini adanya. Kebetulan saja tiga kawan kami lenyap entah ke mana." dia berhenti sejenak untuk melihat reaksi dari si topeng emas. Namun pria itu sama sekali tidak bergeming, entah ekspresi apa yang sedang dipasang oleh lelaki itu.
Kemudian dia melanjutkan, "Mohon untuk menjawab dengan jujur, seorang gagah tak akan pernah mengingkari atau menyangkap setiap perbuatannya." sengaja putri itu menyinggung-nyinggung soal kegagahan karena bagi setiap pendekar kehormatan lebih penting daripada nyawa.
Dan benar saja, ucapan putri tepat mengenai sasaran. Terjadi raut perubahan di balik topeng emas itu dan dengan cepat dia menjawab.
"Ucapan paduka putri tepat sekali, pantang bagi seorang gagah untuk menyangkal setiap perbuatannya. Maka akan kujawab. Ya, kami yang mengambil mereka, lantas bagaimana tanggapan paduka."
Mendengar ini merahlah wajah mereka semua, seperti dikomando belasan pendekar itu sudah menggerakkan tangan hendak mencabut senjata. Namun atas isyarat sang putri mereka mengurungkan niat, karena bagaimanapun sekarang mereka sedang berada di markas musuh.
"Apakah tindakan itu merupakan suatu kesengajaan? Kami tahu kalian tak akan pernah bisa akrab dengan tiga sahabat kami itu, namun apa maksudnya menawan mereka?"
"Hem....jika mereka memang sahabat kalian, pastilah tak perlu kujelaskan apa maksud kami menawan mereka."
Tatapan sang putri menajam, dia mengepalkan tangan, "Apakah demi pusaka itu?"
"Iya?"
"Oh...apa maksudnya ini, apakah Serigala Tengah Malam mencoba merongrong kerajaan?" kali ini Khong Tiat yang berkata. Dia memancing untuk memanas-manasi rombongan musuh.
"Merongrong kerajaan, hahaha...." ucap topeng emas sambil tertawa. "Kami bukti, walaupun kami termasuk kaum sesat, namun ucapan tuan ini cukup melenceng."
Topeng emas bertepuk tangan dua kali, dan rombongam itu membelah. Terlihat empat orang menyeret dua orang yang tubuhnya dibelenggu rantai batu khusus. Itu adalah batu misterius pengekang tenaga dalam.
Mereka merupakan seorang pemuda dan pemudi. Yang pemuda tampan sekali begitu pula yang pemudi pun cantik sekali.
Baik para prajurit maupun para pendekar terkejut melihat dua orang itu. Jelas mereka semua telah mengenal siapa adanya dua orang tersebut karena keduanya merupakan tokoh-tokoh persilatan yang sedang naik daun saat ini.
Yang pemuda itu merupakan seorang pemberontak yang paling dicari, dia bernama Sung Han. Sedangkan yang perempuan merupakan sosok pendekar wanita yang paling dikagumi untuk saat ini. Selain keanggunannya, juga kepandaiannya yang lihai sekali. Dia adalah Yang Ruan atau yang biasa dikenal dengan Ratu Elang.
"Kami telah menawan para pemberontak ini, apakah ini belum cukup untuk meyakinkan paduka?" kata topeng emas santai setelah dua orang itu tiba di antara dua rombongan itu.
"Manusia curang!! Mana itu kakek mata satu, tukang obat bajingan!!" umpat Sung Han yang marah sekali. Memang sebelumnya dengan cara paksa, setelah melewati pertarungan keroyokan melawan Naga Bertanduk, akhirnya Sung Han dapat dipaksa untuk menelan obat pemunah hawa sakti. Walau tidak untuk selamanya, namun amatlah merepotkan.
Begitu pula dengan putri Chang Song Zhu yang memandang dengan terbelalak. Jelas dia kenal dengan Sung Han ini karena dia tahu orang inilah yang telah menculiknya dahulu itu.
__ADS_1
Dia memandang dengan marah ke arah pemuda itu.
"Paduka putri, mereka tukang fitnah, jangan percaya! Mereka hanyalah segerombolan serigala palsu. Serigala pengecut!" Yang Ruan berseru-seru untuk membela Sung Han dan dirinya. Dia sudah tahu apa alasan Sung Han sampai dianggap pemberontak.
"Mengapa kalian menangkap Ratu Elang pula? Seorang pendekar gagah!?" Chang Song Zhu tak hiraukan ucapan Yang Ruan dan malah mengirim pertanyaan kepada topeng emas.
"Hahaha, waktu itu dia terlihat bersama Sung Han. Jelas kawan pemberontak merupakan pemberontak pula."
"Sekarang kembalikan tiga sahabat kami!!!" Khong Tiat berseru.
Topeng emas kembali bertepuk tangan dua kali dan datanglah beberapa orang yang menyeret Gu Ren, Nie Chi dan Khuang Peng. Setibanya di depan, tiga orang itu saling pandang dengan Sung Han. Keheranan dan keterkejutan nampak jelas di dalam sorot mata mereka.
"Mengapa kalian tertangkap pula?" tanpa sadar Sung Han bertanya.
"Seharusnya kami yang bertanya." jawab Gu Ren.
Topeng emas memandang mereka dengan dingin, dia tahu seberapa gawatnya situasi saat ini, maka diam-diam sejak awal dia muncul di luar benteng tadi, dia sudah membuat persiapan.
Dia melirik ke sana-sini dengan awas, lalu tersenyum menyeringai.
"Sekarang, apa mau paduka?"
"Kembalikan mereka dan habis perkara!"
"Para tawanan pemberontak ini pula?"
"Benar, mereka menjadi tanggung jawab kami!" kemudian dia melanjutkan lagi, "Jika kau menolak berarti kau memang benar-benar pemberontak pula!"
"Heh, tak akan semudah itu!"
Terdengar suitan nyaring, dan dari langit meluncur benda merah bercahaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1