
Terdapat sepiring kecil yang berisi satu roti kering keras. Rasanya cukup enak jika saja itu adalah makanan hangat, tapi sayang roti-roti yang datang setiap tiga hari ini selalu roti lama yang hampir berjamur.
Di sebelahnya, segelas air dingin untuk sekedar melarutkan makanan juga tersedia di dalam tempat kecil dari bambu. Gelas kecil itu bahkan tidak lebih tinggi dari telapak tangan Sung Hwa.
Dua orang penjaga itu meletakkan makanan dan minuman dengan wajah tidak nyaman. Tentu saja, yang dikurung nona mereka!
Sung Hwa menatap mereka dengan dingin.
"Nona jadi lebih menyeramkan...." bisik salah satu penjaga kepada kawannya begitu sudah agak jauh.
"Wajar saja, hatinya pasti tidak baik-baik saja..." balasnya sambil melirik-lirik Sung Hwa yang masih memelototi mereka.
Hari masih terlalu pagi, matahari belum nampak namun makanan sudah tiba. Jika Sung Hwa makan sekarang, maka itu adalah makanan pertama sekaligus terakhir untuk hari ini. Ya, selama tiga hari ini dia hanya mendapat jatah makan satu kali sehari.
Sung Hwa menatap roti itu lamat-lamat, kemudian ia masukkan ke dalam saku jubah dan meminum habis air di dalam wadah bambu.
Selang beberapa saat, ditatapnya dua orang penjaga itu yang masih asyik membicarakan dirinya. Gadis itu tak ambil pusing dan segera bangkit berdiri.
"Hiaaatt!!"
Pekiknya sesaat sembari mengayunkan kepalan tangan kanan dengan pengerahan tenaga penuh. Terdengar suara berkerontangan ketika kerangkeng besi itu pecah berhamburan terkena tinjuan Sung Hwa.
"Ada apa!?"
"Nona?"
Dua penjaga itu serentak bangkit dan memandang ke arah kerangkeng. Debu masih mangepul tinggi menutupi pandangan mereka, tapi walaupun begitu tak ada satu pun dari mereka yang berani mendekat.
"Ughh..."
"Aghh!"
__ADS_1
Dengan gerakan kilat, tanpa disadari dua orang itu Sung Hwa melompat tinggi bagai burung elang yang kemudian meluruk ke bawah. Saat itu dua tangannya bergerak cepat menotok jalan darah di tengkuk mareka yang membuat pingsan seketika.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Sung Hwa melompat tinggi ketika telinganya mendengar suara langkah kaki beberapa orang mendekat. Ia memandang ke bawah sesaat ketika orang-orang itu sibuk mengecek keadaan dua orang penjaga.
Dia membiarkan mereka pergi mencari. Lalu matanya terpusat ke arah beberapa orang yang menuju barat sana. Langsung saja dia melompat jauh untuk pergi ke arah mereka. Bagaimana pun juga pohon tanpa daun tempat tadinya dia bersembunyi cukup berbahaya.
Tiga orang para pencari di arah barat itu tanpa suara sudah jatuh malang melintang terkena totokan Sung Hwa. Setelah dipastikan sudah benar-benar pingsan, ia pergi dari sana menuju sungai sesuai kesepakatan kemarin bersama Yu dan Mi.
...****************...
Sung Hwa melesat cepat. Kadang berlari, tapi tak jarang pula melompat tinggi seperti burung yang bermain-main di angkasa. Jika jalan terlalu sukar, maka dia akan berlompatan dari satu pohon ke pohon lain seperti kera hutan. Gerkannya sangat luwes dan terlatih.
Berkali-kali dia menengok ke belakang dengan wajah tegang. Bagaimana pun dia masih ada rasa jeri untuk menghadapi Jin Yu.
Setelah beberapa lama kemudian, dan memastikan tidak ada orang yang mengejar, ia menghela napas dan melambatkan larinya. Gadis ini memilih berjalan kaki untuk menuju tempat pertemuan. Sekalian mengistirahatkan badan.
Ia ambil roti kering itu dan memakannya perlahan. Tekstur yang keras dan kasar tak dipedulikannya, ia cukup bersyukur bisa makan. Saat itu matahari sudah mulai tampak kemerah-merahan.
Ia berjongkok dan membasuh muka beberapa kali. Juga di sepanjang lengan dan kakinya untuk sekedar menyegarkan tubuh. Niat hati ingin mandi, tapi akan merepotkan saat Yu dan Mi datang sedangkan dia masih dalam keadaan tanpa busana.
"Hah, apa itu?" matanya memicing tajam ketika di kejauhan melihat sesuatu hanyut terbawa aliran air sungai, "Balok kayu?" gumamnya tak jelas.
Hari masih begitu pagi, walaupun cahaya matahari sudah menyoroti beberapa bagian hutan, tapi tetap saja keadaan sekitar masih remang-remang.
Sehingga setelah benda itu terpisah kurang lebih lima langkah dari Sung Hwa, barulah nampak olehnya jika itu tubuh manusia.
"Gawat!" ujarnya panik dan cepat melompat dari batu ke batu. Kemudian tanpa ragu ia menceburkan diri ke air sungai dan detik berikutnya sudah melesat keluar lagi membawa tubuh itu.
Tubuh ini masih muda, amat muda malah. Mungkin seumuran dengan dia. Enam tujuh belas tahunan.
Wajahnya cukup tampan dengan postur tubuh ideal. Bentuk tubuh yang cukup disukai Sung Hwa, tidak terlalu kekar tapi juga tidak kerempeng kekeringan.
__ADS_1
Namun ketampanan pemuda ini seolah sirna dengan banyak sekali luka di wajah dan tubuhnya. Matanya terpejam rapat, kulitnya pucat dengan kelopak hitam dan bibir membiru. Sung Hwa ngeri sendiri untuk membanyangkan apa yang telah terjadi pada pemuda ini.
Pakaiannya banyak yang terkoyak, tapi berbahan dari kain sutra mahal. Sung Hwa tahu dia seorang pendekar, dari cara mengenakan pakaian dan sebatang pedang di pinggang.
"Hei...!!" Sung Hwa mengguncang-guncang tubuhnya. "Bangunlah!" katanya lagi memukul dada orang itu sedikit keras.
Mata yang terpejam itu terbuka sedikit dan orang ini menggumam, "Kau pikir aku tidur dari tadi?"
"Eh?" Sung Hwa kaget sendiri. "Apa yang terjadi padamu? Bunuh diri?" tanpa sadar ia bertanya.
Pemuda itu bukannya menjawab, dia malah mengangkat tangannya ke atas, "Batu, batu besar, batu-batu besar, menimpa aku..." katanya seperti orang mengigau, "Dua minggu, eh....tiga minggu. Ah, entahlah berapa lama aku tidak tahu, lagipula semua gelap dan tak bisa kubedakan mana siang dan malam."
Pemuda ini jelas membingungkan Sung Hwa, sehingga gadis itu hanya memandang aneh sambil miringkan kepala.
Pemuda itu menurunkan kedua tangan dan melirik tubuh Sung Hwa. Mulutnya sedikit meringis, "Lapar...." kemudian tanpa basa-basi, melihat ada sesuatu di bagian dada Sung Hwa, ia cepat menggerakkan tangannya.
"Ehh!!" Sung Hwa keget, mengira orang hendak berlaku kurang ajar. Maka ia cepat mengelak dengan melompat mundur. Tapi lebih kaget lagi ketika pemuda itu sudah menggenggam rotinya yang tinggal setengah.
"Bagaimana dia bisa tahu kalau ada roti di balik jubahku?" tanyanya dalam hati penuh rasa kagum.
Pemuda itu sudah dalam posisi duduk sambil mengunyah roti curiannya. Tak berselang lama ia bangkit berdiri dan berbalik pergi.
"Minta rotimu ini." katanya lagi dikejauhan, setelah menghabiskan roti.
Sung Hwa tersadar akan sesuatu dan cepat mengejar. Sekali lompatan ia sudah tiba di hadapan si pemuda. "Siapa engkau? Mengapa bisa sampai hanyut di sungai?"
Orang aneh itu berhenti sejenak sebelum lanjut berjalan lewat samping Sung Hwa, "Kuberitahu pun kau tak akan percaya." gumamnya di sebelah Sung Hwa.
Setelah itu, dia benar-benar pergi tanpa menoleh lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG