
Memang kalau sudah jodoh, dipisahkan sejauh apapun tetap akan bertemu juga. Tak ada satu pun kuasa di dunia ini yang mampu memisahkan takdir itu.
Sama halnya dengan Nie Chi dan si cebol ini. Tadinya mereka salah mengejar rombongan empat belas orang Serigala Tengah Malam. Yang seharusnya mengejar ke kanan berupa arah timur, mereka malah berbelok ke kiri menuju barat.
Sampai terlibat dengan keributan di desa dan bertemu dengan Sung Han serta Ratu Elang.
Akan tetapi saat melanjutkan perjalanan ke barat, mereka benar-benar kehilangan jejak empat belas orang itu dan menjadi lelah sendiri. Maka dengan kekecewaan besar, kakek pendek itu mengajak muridnya kembali ke timur.
Pada saat itu, Wan Jin dan Khuang Peng serta si kusir sedang dikejar-kejar dan melarikan diri menuju arah barat, saling bersilangan dengan si cebol.
Maka tanpa dapat dicegah lagi keduanya bertemu dengan rombongan Wan Jin yang kala itu sudah dirubungi pasukan pangeran.
Saat Nie Chi hendak turun tangan, gurunya melarang dan berkata untuk melihat situasinya lebih dulu. Tapi saat kitab yang dibawa si kusir terlempar dan tertangkap oleh pangeran, tanpa pamit si cebol itu mendekat dan melihat.
Sungguhpun sudah tua, tapi dia dapat dengan jelas membaca judul buku di halaman pertama kitab tersebut, dan ini membuatnya girang bukan main.
Dengan anehnya, dia kembali ke tempat muridnya berada dan mengeluarkan tawa sambil terus meloncat dekat. Entah apa maksud tindakannya yang amat aneh dan lucu ini.
Demikianlah mengapa guru dan murid itu bisa tiba di sana saat Wan Jin dan dua saudaranya dikurung pangeran.
Sedangkan untuk Sie Kang sendiri, kedatangannya bersama empat orang tokoh Rajawali Putih adalah karena rasa khawatirnya kepada Khuang Peng dan Wan Jin. Karena dua orang itu bersama rombongan pulang sedikit terlambat. Maklum bahwa barang bawaan mereka merupakan barang penting, maka Sie Kang menduga pasti ada sesuatu. Karena itulah dia menyusul.
Saat ini di tengah hutan dalam perjalanan kembali ke rumah terbalik, Nie Chi mengerutkan kening dengan bingung. Dia bersama gurunya sedang istirahat di bawah sebatang pohon besar, namun mata pemuda itu selalu memandang heran ke arah gurunya yang terus tersenyum-senyum sambil mengamati tongkat besi hitam itu.
"Kenapa dari tadi pandanganmu sinis begitu? Kau tak senang mendapat satu dari warisan Raja Dunia Silat?" katanya sambil terus menggosok-gosok tongkat itu. Seolah tak memerhatikan namun ucapannya telah membuktikan segalanya.
"Maaf saja guru, tadi engkau bilang akan saling untung. Tapi tuan Rajawali tadi mendapat kitab bersama pusakanya. Sedangkan kita hanya mendapat pusakanya, apakah warisan Topeng Kuning tak ada kitabnya?"
Tiba-tiba gurunya tertawa, "Hahahaha....memang benar hanya Sie Kang yang dapat mengerti aku. Tanpa kuberitahu pun dia sudah paham."
__ADS_1
Nie Chi makin heran dengan ini. Dia hendak membantah lagi namun gurunya sudah mengantisipasi dan cepat berkata, "Kau lihat sajalah nanti."
Setelah istirahat selama beberapa saat, mereka melanjutkan perjalanan lagi menuju selatan. Perjalanan yang lumayan jauh karena memakan waktu dua hari setengah. Barulah mereka tiba di desa yang menjadi tempat kediaman kakek cebol aneh itu.
Segera saja tanpa basa-basi keduanya pergi ke sudut desa dan nampaklah pemandangan aneh, sebuah rumah terbalik. Kakek itu meloncat dan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Nie Chi.
Begitu tiba di dalam, kakek itu menjejak tembok di samping kiri dan dia menempel di sana. Sedangkan Nie Chi menempel di tembok kiri pula namun tidak sesempurna gurunya. Tamgannya masih memegang tiang rumah untuk pegangan.
"Nah, sekarang ikut aku." si cebol itu berkata dan meloncat turun ke bawah. Mengarah atap rumah yang menjadi dasarnya.
Ada perapian sekaligus lubang cerobong asap di rumah ini. Tapi tempat itu tak pernah digunakan barang sekali pun. Si sakti cebol itu sama sekali tidak butuh perapian untuk sekedar menghangatkan diri. Sehingga lubang perapian kosong tanpa isi, bahkan bersih.
Juga karena rumah ini terbalik, maka otomatis cerobong asap itu menghadap ke bawah. Dari luar tak nampak, tapi sejatinya cerobong itu menancap di tanah.
Dan perapian ini merupakan tempat yang didatangi oleh si kakek.
"Huahahah, ada-ada saja kau ini. Cerobongnya mengarah ke bawah, jika kita membuat api unggun pasti rumah ini akan penuh dengan asap karena asapnya tak ada jalan keluar." jawab gurunya.
Dia melanjutkan seseaat setelah berhentinya ucapan pertama, "Yang akan kita lihat itu dalamnya. Ayo ikut aku!"
Kakek ini bergerak cepat dan Nie Chi berdiri kagum dibuatnya. Pasalnya tubuh yang kecil itu dapat dengan mudah memasuki lubang perapian kemudian terus meluncur ke bawah melalui cerobong asap.
Saat ada suara terdengar dari bawah, barulah dia sadar, "Ayo cepat turun. Tunggu apa lagi?"
Cepat-cepat Nie Chi bergerak mendekati perapian dan merangkak perlahan. Bagaimana pun juga tubuhnya lebih besar dari kakek itu sehingga cukup sulit juga. Bahkan saat dia meluncur melalui cerobong asap, pundaknya tak jarang bergesekan dengan dinding cerobong dan itu cukup nyeri.
"Woah!!" Nie Chi berseru ketika secara aneh ruangan menjadi luas. Kiranya dia telah sampai di ruangan bawah tanah. Saking kagetnya, hampir saja dia tidak mendarat sempurna.
Ruangan itu tak cukup besar, hanya kecil saja. Tak ada apapun di sini jika saja tidak diletaki sebuah peti kecil di pojokan ruangan. Hanya ada sebatang obor yang dipegang gurunya dan entah dapat dari mana.
__ADS_1
Si cebol itu menghampiri ujung ruangan dan mengambil peti usang itu. Ia amati sejenak dan mengangguk-angguk puas begitu sadar tidak ada perubahan apa pun pada tubuh peti.
Dia lalu menggapai Nie Chi yang segera mendekat dengan heran.
"Apa isinya guru?" tanpa mampu menahan rasa penasarannya, Nie Chi bertanya.
"Heheh...ini akan membuatmu terkejut dan senang." orang itu terkekeh dan memberikan peti itu pada Nie Chi. "Bukalah sendiri." perintahnya.
Dengan bingung, Nie Chi menerima peti itu dan memandangnya sejenak. Ia masih heran dan bingung akan sikap gurunya itu. Lalu dengan ragu-ragu dibukanyalah peti kecil tersebut.
Satu kitab kecil usang terlihat di dalam sana. Nie Chi mengerutkan kening dan memandang gurunya menuntut penjelasan.
"Nah, bukalah..." kata gurunya itu dengan senyum lebar.
Dengan penasaran yang makin bertambah besar, Nie Chi mengambil kitab kecil itu dan membukanya. Saat membaca halaman pertama, diterangi cahaya obor yang dipegang kakek cebol, ia berseru tertahan.
Kakek cebol itu mengangguk-angguk dan tersenyum-senyum, seolah puas akan reaksi Nie Chi. Pemuda itu bertanya.
"Guru....apakah ini, nyata?"
"Kau kira mimpi? Jelas nyata!! Benar kan kataku, kita sama-sama untung!"
Nie Chi kembali memandang kitab kecil itu dan membacanya. Berulang kali dibaca namun judul dari buku tersebut sama sekali tidak berubah. Ia bergumam.
"Ilmu Tongkat Penghancur....warisan Topeng Kuning."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1