
Yu Ceng dan Yu Ping merupakan anggota pertama Naga Hitam setelah Giok Shi menundukkan berbagai macam kelompok bandit serta rampok. Setelah bertahun-tahun Naga Hitam berdiri, kakek itu menyelamatkan Yu Ceng dan Yu Ping yang terlunta-lunta di jalanan kota.
Kemudian dua orang itu diasuhnya di markas utama. Semenjak kehadiran Yu Ceng, banyak orang-orang yang ingin bergabung dengan Naga Hitam. Hingga beberapa bulan berlalu anggota murid baru sudah mencapai tiga puluh tujuh orang.
Tapi mungkin dasar watak mereka yang berbeda, satunya mantan bandit dan satunya para pendekar, setiap hari dua kelompok ini selalu adu mulut, tak ada yang mau kalah.
Saat itulah Yu Ceng memohon kepada Giok Shi untuk memindahkan tempat tinggal murid-murid baru ke lain tempat, kakek itu pun menyetujuinya. Maka dari itulah, panggilan "nona" tersemat untuk Yu Ceng, yang secara tidak langsung menjadi pimpinan para murid baru.
Tapi walau pun sering terjadi ketegangan di antara dua kelompok ini, namun bisa dilihat dengan jelas bahwasannya kedua kelompok itu pun memiliki rasa kekeluargaan yang erat. Terbukti ketika terbantainya pemukiman murid baru, para murid lama itu merasa marah sekali dan jelas mendendam kepada Si Nenek Bibir Merah.
Demikianlah sekilas kisah mengenai Yu Ceng yang tak mampu ilmu silat, namun dia mampu meredakan ketegangan di antara dua kelompok di satu perkumpulan. Maka dari itulah, mengetahui kematiannya yang demikian tragis, tak ada satu orang pun di Naga Hitam yang tak menyumpahi si nenek peyot dari Hati Iblis itu.
...****************...
Sung Han terus membawa Yu Ping menuju barat, entah kemana dia pun tidak tahu. Terakhir kali gadis itu bicara adalah saat dia berteriak-teriak ketika Sung Han bentrok dengan Giok Shi. Setelahnya, matanya nampak kosong dan sikapnya seperti boneka.
Pemuda ini menggandeng tangan Yu Ping, tak pernah ia lepas barang sekedipan pun. Takut kalau-kalau Yu Ping hilang lagi seperti waktu itu.
Sampailah ia di desa Alang Alang. Desa yang namanya cukup aneh. Namun sesuai dengan namanya, desa ini berdiri di tengah padang rumput alang-alang. Cuaca di sini panas dan terik.
Ia mengajak Yu Ping pergi ke salah satu rumah makan yang ada di sana. Mendudukkan diri di tempat pojokan dan memanggil satu pelayan.
"Kau hendak makan apa?" tanya Sung Han halus. Akan tetapi Yu Ping terus bungkam dengan menatap kosong meja makan.
Sung Han menghela nafas, bukan pertama kalinya seperti ini. Setiap kali dia mencoba untuk membuka obrolan, yang menjadi jawaban kalau tidak gumaman kecil, berarti gelengan kepala.
"Daging sapi dan air hangat. Dua porsi." ucap Sung Han kemudian kepada pelayan yang segera pergi menyiapkan pesanan.
Sung Han dan Yu Ping makan dalam diam. Walau pun begitu Sung Han terus memerhatikan Yu Ping dengan prihatin. Saat ini gadis itu bernasip sama sepertinya, sebatang kara tanpa orang tua atau sanak saudara.
"Tolong jaga adikku..." ucapan Yu Ceng ini menggema di relung kalbunya, membuat hatinya sakit sekali seperti ditikam ratusan pisau.
"Maaf saja Yu Ceng, aku tak bisa terus-terusan membawa adikmu. Jika itu kulakukan, maka hanya akan ada kesengsaraan baginya."
Selesai makan, Sung Han membawa keluar Yu Ping dan berniat melanjutkan perjalanan. Namun dari arah belakang, terdengar bisik-bisik penduduk yang nampak kagum akan sesuatu.
Sung Han cepat menoleh dan terpaku, ternyata orang-orang desa itu sedang membicarakan serombongan wanita-wanita gundul yang nampak lemah lembut. Mereka ada sepuluh orang, semuanya memakai jubah berwarna putih bersih tanpa sehelai rambut pun di kepala.
"Biksuni?" gumam Sung Han
__ADS_1
Mereka memang para biksuni atau biksu wanita. Paras mereka cantik-cantik dengan pipi kemerahan. Raut wajahnya nampak lembut dan alim, melambangkan kedamaian dan kesejahteraan.
Begitu sepuluh orang ini lewat di depan Sung Han, pemimpin dari rombongan merangkapkan tangan dan membungkuk sekilas ke arah pemuda itu disertai senyum tipis. Refleks Sung Han balas penghormatan orang.
"Para biksuni....jika aku menitipkan Yu Ping pada mereka, maka keselamatannya akan terjamin!" Sung Han berseru dalam hati.
Cepat ia menoleh untuk memandang Yu Ping yang juga sedang memerhatikan rombongan biksuni itu. Dia memegang kedua pundak gadis itu sambil berkata. "Yu Ping dengar, bukan aku hendak membuangmu, tapi jika kau ikut denganku maka kau bisa mati muda. Maka dari itulah–"
"Ya, aku mau." ucap singkat Yu Ping dengan nada datar. "Aku tak ingin merepotkan kakak lagi..." lanjutnya.
"Yu Ping....maaf...."
"Aku yang harus minta maaf. Kakak lanjutkanlah urusan kakak." katanya kemudian.
...****************...
Setelah mengikuti rombongan sepuluh orang biksuni itu, akhirnya Sung Han sampai di sebuah hutan di pinggiran padang rumput itu. Tak berselang lama, sampailah mereka di sebuah kuil besar yang didominasi warna emas dan merah. Ada dua patung singa-singaan di kanan dan kiri pintu gerbang.
Ketika Sung Han sampai dekat, ada seseorang dari dalam yang berseru. Suaranya menggema, jelas dengan pengerahan tenaga dalam.
"Ada apa ini? Kenapa tuan muda datang ke kuil kami? Adakah keperluan?"
"Anda...bukankah yang di depan rumah makan tadi?" tanya pemimpin rombongan dengan kaget dan juga agak takut. Bagaimana pun juga, para biksuni sudah menyucikan diri dan sangat menjaga jarak dengan kaum lelaki. Mengetahui ada lelaki apalagi demikian muda, mereka menjadi khawatir.
Sung Han tak pedulikan ucapan pemimpin rombongan itu, justru ia lebih tertarik dengan si pengirim suara. Maka ia balas sapaan orang dengan pengerahan tenaga dalam pula.
"Maafkan bila yang muda ini berlaku lancang. Tapi saya memang ada sedikit urusan di kuil ini, lebih tepatnya meminta bantuan. Karena nona-nona adalah para biksuni yang baik hati dan penuh cinta kasih, agaknya yang muda ini bisa tertolong."
Dari dalam kuil, keluar seorang wanita tua yang mungkin berumur lima puluh tahun. Kepalanya gundul dan wajahnya masih cantik dengan sedikit keriputan. Langkahnya teratur dan halus, saking halusnya seolah orang itu seperti terbang. Senyum selalu terhias di wajahmya.
Saat sampai di depan Sung Han, orang ini berkata, "Namaku Lan Kouw, kebetulan aku yang menjadi pimpinan kuil ini. Bantuan apakah yang hendak engkau mintakan kepada kami?" katanya halus.
Sung Han memberi hormat dan menjawab, "Adik saya ini, ingin saya titipkan ke kuil anda."
...****************...
"Jadi begitu....sungguh malang." Lan Kouw menampakkan ekspresi sedih, begitu pula dengan para biksuni lainnya.
"Jika sudah begini, bagaimana mungkin kami menolak? Sudahlah, tak usah sungkan, adik manis ini akan kami rawat sampai kapan pun kau mau. Bahkan untuk selamanya kalau perlu." tambah wanita tua itu.
__ADS_1
Sung Han menatap Yu Ping dan mengelus kepalanya, "Yu Ping, kau akan tinggal di sini, karena itulah mulai sekarang kau harus jadi–"
"Tidak perlu!" potong Lan Kouw cepat-cepat, "Tak perlu jadi biksuni jika ia tidak mau. Kami menolong bukan untuk menambah pasokan para biksuni, biarlah dia tinggal di sini sebagai salah satu saudari kami." sambungnya.
Sung Han menghela nafas lega, ia menunduk dan menatap sepasang mata Yu Ping. "Maafkan aku...." katanya perlahan.
Yu Ping maju setindak dan mencium kedua pipi Sung Han, kemudian dahinya. Suatu hal yang sering ia lakukan kepada Yu Ceng untuk menenangkan wanita itu saat sakitnya kambuh.
"Kau jangan meminta maaf, biarlah aku tinggal di sini dan selesaikan urusanmu." katanya tersenyum. Senyum pertama yang Sung Han lihat sejak kematian kakaknya.
Hati Sung Han terasa tak karuan, ingin ia membawa gadis ini dan merawatnya sampai besar, menjadi walinya jika kelak ia menikah dengan seorang pemuda. Namun takdir berkata lain. Sudah takdirnya untuk ia dan Yu Ping berpisah di sini. Tak bisa ia terus bersama Yu Ping guna memenuhi permintaan Yu Ceng. Hanya inilah yang bisa dilakukan Sung Han untuk menjaga gadis tersebut.
Sung Han memeluk Yu Ping, menenggelamkan wajah ke bahu mungilnya. "Kau janganlah nakal di sini, jangan merepotkan nona-nona ini. Sapu halaman di pagi hari, bersihkan kuil, bantu pekerjaan para saudarimu. Jangan manja!"
Walau pun terdengar seperti memerintah, tapi Yu Ping mampu mendengar setiap kalimat Sung Han itu diucapkan dengan menahan isak. Yu Ping tersenyum kecil dan balas memeluk Sung Han, mengelus punggungnya.
"Hahaha, jangan kau kira aku ini gadis rewel! Tentu saja akan kulakukan apa yang bisa kulakukan, mengerjakan apa-apa saja yang diperintahkan. Kalau aku sanggup tentunya." dengan nada cerianya, Yu Ping mencoba menghibur Sung Han.
Sung Han melepas pelukan Yu Ping dan mencium keningnya sejenak, lalu bangkit dan mengusap kepalanya.
"Nona Lan Kouw, aku titipkan Yu Ping." katanya kepada wanita tua itu yang dibalas anggukan kepala.
"Nah Yu Ping, kau berkenalanlah kepada saudari-saudarimu. Yang akrab dan jaga sopan santun."
"Ihhh...kau ini ibuku? Kenapa seenaknya mengaturku? Aku pun juga paham akan hal itu. Nah sekarang lekas pergi lakukan pekerjaanmu!" seru gadis itu sambil cemberut.
Sung Han tak bisa tak tersenyum, setelah mengecup kening Yu Ping sekali lagi, ia pergi tanpa menoleh lagi.
"Kapan-kapan aku akan mampir." katanya begitu sudah sedikit jauh.
Selepas Sung Han pergi jauh dan hilang dari pandangan, Yu Ping jatuh berlutut dan menangis sesenggukan. Menutupi wajahnya dengan kedua tangan namun tetap ada air mata yang keluar dari sela-sela jari saking derasnya air mata itu.
Sekarang dia benar-benar tak punya siapa-siapa lagi. Hanya para biksuni ini sajalah yang dapat ia jadikan keluarga. Lan Kouw dan beberapa biksuni menghampiri untuk menghiburnya, tapi setelah tiga hari berselang barulah Yu Ping dapat berhenti menangis dan merelakan kepergian dua kakaknya.
Sung Han memang berkata demikian, akan tetapi sampai lewat bertahun-tahun, Yu Ping tak pernah mendengar suara apalagi melihat sosoknya. Sung Han tak pernah kembali dan entah kapan dia akan kembali.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1