
Xian Fa dab Han Ji mengamati keributan itu dengan tegang dari salah satu atap genteng. Keduanya memerhatikan setiap orang yang bolak-balik dengan membawa ember air untuk memadamkan api gudang yang membandel.
Mereka berdua sejak tadi mengamati secernat mungkin, dan tak tampak batang hidung Naga Bertanduk ataupun pangeran. Itu berarti bahwa pangeran tak menganggap serius masalah ini hingga dia dan penagwal-pengawla pribadinya tidak sudi bergerak.
"Bagus," kata Xian Fa. "Untung mereka tidak datang ke sini. Mari kita pergi ke tempatnya."
Han Ji mengangguk, mengamati ke bawah sekali lagi untuk benar-benar memastikan keadaan sedang kacau, lalu dia mengikuti Xian Fa pergi ke tempat Hok Liu seharusnya berada.
Sedangkan di sisi lain, Hok Liu yang sudah paham dengan "tanda" yang dimaksus oleh Xian Fa tadi adalah kebakaran gudang, maka setelah terlihat asap mengepul tinggi di kejauhan, dia segera melancarkan aksinya.
Hok Liu keluar dari balik gedung tempat dia bersembunyi sejak tadi, berindap-indap pergi ke tempat kediaman Naga Bertanduk. Dia tak mau ambil risiko dengan melompat-lompati pohon atau atap karena orang seperti Naga Bertanduk itu, memiliki mata amat tajam untuk menyadari gerakan tak wajar bahkan di tempat-tempat tak terduga sekali pun.
Jika dia terus berindapan seperti ini, dia bisa untuk menyembunyikan diri lebih baik di balik bayang-bayang pohon, semak atau bangunan, lain halnya jika di genteng yang terbuka.
Di depan sana sudah terlihat sekomplek rumah-rumah mewah yang Hok Liu sudah ketahui siapa penghuninya. Tempat itu merupakan tempat yang didiami oleh pengawal pribadi kaisar sebelum dirinya ini. Bahkan mungkin sekali, tempat itu adalah sarang para pendekar tingkat tinggi milik Serigala Tengah Malam yang sedang menyamar sebagai pengawal pribadi pangeran.
Dia berindapan melalui bagian belakang rumah-rumah itu dan mengintip melalui jendela. Satu per satu ia lihat siapa penghuni di dalamnya, dan betapa kaget hatinya betapa di dalam itu kalau tidak kosong, tentu dihuni oleh seorang wanita muda.
Hok Liu mengerutkan kening dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia ingat sebelumnya sudah mengitari area ini san sudah yakin bahwa di sinilah tempat Naga Bertanduk bersemayam. Atau dia pergi ke tempat kebakaran?
Ketika masih sibuk dalam pemikirannya, tiba-tiba dia mendengar gerakan yang tak wajar di atasnya. Sontak Hok Liu mendongak dan melihat kelebatan bayangan yang langsung bersembunyi begitu dia memandang. Hok Liu menjadi curiga. Tanpa mengeluarkan suara, tubuhnya melesat ke atas genteng.
"Jangan lari!" serunya ketika bayangan itu sudah nampak di kejauhan, melompat-lompat di atap genteng bangunan menuju ke luar komplek kediaman tuan kota.
Tanpa pikir dua kali, Hok Liu mengerahkan ilmu lari cepat dan melakukan pengejaran. Diam-diam Hok Liu merasa kagum dengan sosok itu, karena dia seperti tidak sedang melarikan diri darinya, tapi seperti mempermainkannya. Karena beberapa kali kepalanya menoleh, dan ketika Hok Liu sudah tiba dekat, dia mempercepat gerakannya.
Hok Liu sudah mencapai tingkat pendekar sejati sehingga kecepatan gerak larinya bahkan beberapa kali lebih cepat dari larinya kijang. Namun bayangan ini masih bisa terus mempermainkannya dengan cara jika Hok Liu mempercepat larinya, dia juga ikut mempercepat larinya. Atau sengaja melambat untuk mempercepat lagi.
__ADS_1
"Keparat, berhenti!!" Hok Liu merasa jengkel terus dipermainkan sehingga dia memilih menggunakan kekerasan. Tempatnya kini sudah cukup jauh dari rumah tuan kota dan berada di hutan dekat persawahan. Sehingga kini dia tak ragu-ragu lagi.
Tangan kanannya mengirimkan pukulan jarak jauh dengan jari terbuka. Angin menyambar, mengeluarkan suara berdesing nyaring.
Pria yang sedang dikejar-kejar itu menghentikan langkah dan membalikkan tubuh. Merogoh sesuatu dari bailik jubahnya dan melakukan gerakan menangkis.
"Wuuss!!"
Angin yang tercipta jauh lebih kuat sampai Hok Liu hampir terhuyung. Dua terkejut, tak disangkanya ada yang bisa menandingi ilmu Gulungan Ombak Samudra miliknya. Walau tadi dia belum serius, tapi harusnya jarang ada orang yang bisa menahan.
Hok Liu mengenal orang sakti, dia menjadi waspada. "Kau seperti sengaja menuntunku ke tempat ini. Siapa engkau?"
Terdengar suara kekehan dari orang tersebut. Keadaan gelap dan bulan masih tertutup awan, sehingga wajahnya sama sekali tak tampak. Namun akhirnya terdengar suaranya menjawab. "Menurutmu?"
Hok Liu menggertakkan gigi. "Kupikir kau bukan orang yang berniat bagus, maka terpaksa aku harus melumpuhkanmu!"
Tak berhenti sampai di sana, ketika musuh berhasil menghindar dan membelokkan laju angin, Hok Liu mainkan ilmu Muslihat Siluman Ular dengan gerakan membingungkan dan tangan kirinya bergerak menotok lambung.
"Dukk!"
Dengan pergelangannya musuh itu berhasil menangkis, langsung disusul dengan serangan balasan. Ia memanfaatkan gerakan pergelangan tangannya yang tadi menangkis totokan untuk menggerakkan senjatanya, suara berdesing terdengar jelas ketika angin berpusing menyambar wajah Hok Liu.
"Aihhh!!"
Ketua Naga Hitam ini tak mau ambil resiko dan dia miringkan kepala sambil melompat kebelakang. Saat itu angin terasa lebih keras dan perlahan awan tebal yang tadinya menutup bulan berhasil disapu pergi. Dengan bantuan cahaya bulan dan sianr bintang-bintang, akhirnya Hok Liu dapat pula mengebal lawannya.
"Naga Bertanduk!" ucapnya sengit sekaligus terkejut. "Ternyata kau sudah tahu?!"
__ADS_1
Naga Bertanduk mengeluarkan suara tawa remeh. "Hahaha, kaupikir aku tak sadar betapa sejak tadi sore kau terus berputaran di kediaman pangeran? Aku tahu ada sesuatu padamu bahkan ketika kau baru bergabung," ucapnya. Dia lalu menggerak-gerakkan sepasang kipas curian itu. "Kenapa, kau sudah mengenal kipas ini? Oh, kukatakan padamu, ini adalah pusaka Raja Dunia Silat yang berhasil kuambil dari ketua Naga Hitam. Ini barang berharga, tahu?"
Hok Liu menggertakkan gigi. "Itulah tujuanku, ke marikan!!"
Sambil membentak, tangannya menyambar dan angin tajam membelah udara malam menuju leher Naga Bertanduk. Satu serangan yang bertujuan sekali hantam langsung bunuh. Namun tentu saja Naga Bertanduk tak akan dapat ditundukkan segampang itu. Ia mengelak lalu balas menyerang.
Di dalam hutan yang remang-remang itu, terjadi pertarungan hebat dan mati-matian antar dua pendekar sejati yang kadang keberadaannya masih diragukan. Akan tetapi inilah kenyataannya, dua tokoh tingkat tinggi dunia persilatan saling beradu ilmu dalam rangka berebut benda pusaka.
Jika ada orang di sekeliling mereka, jelas hal itu amat berbahaya karena banyak serangan nyasar atau berbelok yang memporak-porandakan tempat sekitar. Tak hanya satu dua pohon yang tumbang, bahkan setelah seperempat jam saja sudah sekitar lima pohon tumabang dan tiga pohon pecah.
Tempat ini jauh dari wilayah komplek kediaman tuan kota, sehingga rasanya mustahil akan ada yang mengetahui di saat-saat begini.
"Hahaha, kupikir kawan-kawanmu itu akan datang membantu," kata Naga Bertanduk yang menejutkan Hok Liu. "Apa mereka sudah meninggalkanmu?"
"Tutup mulutmu!"
Tangan kanannya menyambar, membentuk kepala ular. Angin berdesing terdengar saat tangan itu mengarah tulang iga lawan.
Naga Bertanduk memapaki serangan itu dengan kipasnya, tangan Hok Liu membalik namun dia masih memiliki tangan kiri untuk melakukan serangan balasan.
"Ah, begini saja, lebih baik kita lakukan ini," ujar Naga Bertanduk dengan senyum lebar. "Aku tak bisa membiarkan mata-mata hidup lebih lama lagi. Hyaaahhh!!"
Teriakan mengguntur yang membuat tanh di hutan itu serasa gempa. Bersamaan dengan itu, ujung mata Hok Liu melihat bayangan beberapa orang yang bergerak cepat menuju tempatnya. Salah satunya adalah Burung Walet Hitam.
"Sial!! Sialan!" Hok Liu memaki, namun tak ada pilihan lain selain mempertahankan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG