
Kerajaan manusia gunung, memiliki berbagai macam tradisi dan kebudayaan. Namun kepercayaan mereka tetap satu, yaitu menyembah keapada dewa matahari dan bulan. Karena orang-orang ini menganggap jika tidak ada keduanya, maka segala macam sesuatu di dunia ini tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.
Saat Sung Hwa mendengar itu, hampir dia tertawa kalau tidak cepat-cepat menggigit lidah sendiri. Bagaimana pun dia tidak mau menghina kepercayaan orang walaupun menurutnya cukup lucu dan sedikit tidak masuk akal.
Menurutnya, jika memang kepercayaan itu benar, maka kenapa tidak menyembah kepada langit? Bukankah matahari dan bulan sesembahan mereka itu tidak akan punya tempat kalau tidak ada langit? Akan tetapi Sung Hwa tak mengatakan itu untuk menghormati orang lain.
Salah satu tradisi dalam kepercayaan mereka adalah pemujaan dewa bulan dan matahari setiap lima tahun sekali. Hal ini dilakukan sebagai bentuk rada syukur dan terima kasih kerajaan manusia gunung kepada dewa-dewa yang telah melimpahkan rumah, makanan dan kehidupan bagi mereka. Sung Hwa sebenarnya tak ingin ikut, selain tidak tertarik itu juga bukan kepercayaannya.
Tapi dia lupa bahwa selama ini dia sedang berperan sebagai nona Songli yang sedang lupa ingatan. Dia lupa bahwasannya posisi nona Songli di kerajaan ini amat pentingnya. Bahkan pernah sekali waktu dia berpikir nona itu lebih tinggi dari pada raja, karena bulu merak di topinya berjumlah tiga, tidak seperti sang raja yang hanya satu.
Maka dengan terpaksa sekali, dia ikut dalam acara ini.
Pagi hari sebelum rombongan berangkat menuju kuil jauh di tengah hutan, Sung Hwa sudah dirias oleh dayang-dayang istana yang telah terbiasa dengan pekerjaan ini. Bahkan mereka merasa amat bahagia karena dapat merias nona mereka lagi.
Sung Hwa hanya diam saja menanggapi semua pujian dan ungkapan kagum mereka akan kecantikannya.
Sung Hwa diberi pakaian serba mewah. Berjubah merah dengan ditutup mantel bulu berwarna putih. Jubahnya itu adalah jubah pemberian Chunglai, dia tak mau memakai jubah selain jubah itu, demikian Sung Hwa beralasan.
Kepalanya ditutup sebuah topi bulu dengan tiga batang bulu merak di bagian dahi. Singkatnya, penampilannya saat ini hampir sama persis dengan yang ada di gambar seorang bocah yang dua tahun lalu menyambut kedatangannya. Hanya saja saat ini dia tidak memakai anting-anting dan wujud topi bulunya sedikit berbeda.
Setelah selesai, dia dituntun keluar menuju ke kereta kuda. Di sana sudah berdiri Mi Cang, Yu Nan Sia, Chunglai dan raja sendiri bersama istrinya. Dia tersenyum menyapa mereka semua dan masuk ke dalam kereta mewah itu.
Semua ini diiringi teriakan-teriakan penuh kagum dari anggota rombongan yang akan ikut nantinya. Mereka ini terdiri dari tokoh-tokoh penting istana dan ahli-ahli agama. Orang-orang yang ilmu kebatinannya cukup tinggi di wilayah kerajaan gunung.
Tanpa berlama-lama lagi, mereka berangkat menuju kuil dan altar yang berada di tengah hutan sana. Para warga bersorak-sorai mengiringi kepergian mereka yang berjumlah dua puluh empat orang itu jika Sung Hwa dihitung sekalian.
Kiranya, perjalanan menuju kuil tidaklah singkat. Mereka harus melewati beberapa suku manusia gunung untuk mencapai tempat itu. Dan baru pada saat inilah Sung Hwa menyadari jika kerajaan manusia gunung sejatinya cukup luas. Hanya dia saja yang seolah menjadi katak dalam tempurung, tempatnya hanya di sekitar istana saja. Eh, tunggu?
"Hah, kenapa aku berpikir aku ini katak dalam tempurung?" gumam dara itu di dalam keretanya. Tiba-tiba dahinya berkerut seakan hampir menyatukan kedua alisnya, "Benar juga, jika diingat-ingat, selama ini raja tak memperbolehkan aku pergi ke suku lain kecuali ke sukunya sendiri yang berada di sekeliling istana, di luar komplek istana."
__ADS_1
Makin dipikir, makin aneh. Dan betapa tololnya dia baru menyadari sekarang. Saking terobsesinya dengan Sung Han, dia sampai lupa segala.
"Ah...biarlah." katanya menenangkan diri, "Masalah tidak penting."
Saat hari telah memasuki senja, mereka akhirnya sampai di kuil tujuan. Sebuah kuil yang nampak amat kuno. Bahkan bentuknya pun tak pernah Sung Hwa lihat sebelumnya. Mungkin kuil ini semacam kuil-kuil jaman dahulu kala yang sudah ditinggalkan dan digunakan oleh manusia-manusia gunung sebagai tempat pemujaan.
Ternyata di sana tak hanya berdiri sebuah kuil. Di sekeliling bangunan kuno itu, terdapat banyak bangunan yang bentuknya seperti rumah-rumah pemukiman penduduk. Berupa kubah-kubah dari batu. Melihat kubah itu agaknya tidak berumur setua si kuil.
Sung Hwa turun dari kereta begitu dipersilahkan dan dia digiring menuju satu kubah batu paling besar.
"Apa yang harus aku lakukan nanti?" bisik Sung Hwa yang memang tidak tahu apa tugasnya. Dia bertanya khawatir kepada Mi Cang dan Yu Nan Sia.
Kedua saudara seperguruan ini saling pandang dengan tatapan bingung. Kemudian terdengar Yu Nan Sia menjawab, "Jangankan nona, tugas kami sendiri pun kami tidak paham."
Sung Hwa merasa putus asa dengan itu. Akhirnya dia memutuskan untuk mengikut alurnya saja sebagaimana mestinya. Pasti nanti juga akan tahu sendiri, pikirnya.
Hari upacara akan dilaksanakan besok pagi. Maka dari itulah sejak senja hari ini, orang-orang dipersilahkan untuk istriahat.
Sebelum pergi ke kamarnya, sang raja itu berkata kepada Sung Hwa dan dua orang lain, "Nona dan dua sahabat, marilah kita minum arak dulu. Untuk kebahagiaan kita karena masih diberi makmur oleh para dewa sampai sekarang, dan sekaligus untuk merayakan kembalinya nona Songli dalam acara pemujaan kali ini."
Yu Nan Sia girang sekali mendengar itu. Berbeda dengan dua orang lain yang mengerutkan kening.
Sudah sejak awal Mi Cang tidak setuju tinggal di kerajaan manusia gunung. Maka dari itulah sangat jarang melihat dia tersenyum semenjak tinggal di sini. Berbeda dengan Sung Hwa yang sejak sebulan lalu merasakan keanehan dalam arak raja. Kali ini dia berwaspada.
...****************...
"Krieeett...."
Pintu kamar Sung Hwa dibuka perlahan oleh orang dari luar. Kemudian ditutup kembali dengan perlahan pula. Keadaan gelap gulita, sehingga tak nampaklah wajah orang itu. Hanya bisa dilihat dari perawakannya kalau dia ini seorang lelaki.
__ADS_1
Sung Hwa yang berbaring terlentang di atas kasur, dengan pakaian yang sudah tak karuan, terbuka di sana-sini hanya melirik saja. Wajahnya merah sekali dengan napasnya yang memburu. Seolah dia kepanasan.
"Siapa di sana....?" tanyanya lemah kepada orang yang baru masuk itu.
Orang itu bergeming sesaat di depan pintu, terdengar napasnya yang memburu pula. Kemudian tanpa aba-aba dia menubruk Sung Hwa dan menciumi wajahnya. Membuat Sung Hwa kelabakan dan tak sempat hanya untuk berteriak.
"Nona..." gumam pria itu lirih. Dan Sung Hwa yang sedang dalam keadaan setengah sadar setengah pingsan itu terbelalak.
"Kau....!!"
"Nona...sejak saat itu aku sudah mencintai anda. Anda....anda...begitu perhatian kepadaku dan kepada senior. Anda sangat baik. Aku tak bisa menahannya lagi...." dia lalu semakin liar menciumi wajah Sung Hwa.
"Yu Nan Sia, kau gila!! Apa yang kau lakukan!!?" Sung Hwa memekik tertahan.
Saat keadaan makin tak karuan dan gadis itu semakin tidak sadar karena pengaruh arak aneh pemberian raja, tiba-tiba saja jendela terbuka dari luar. Tirai penutup jendela berkibar tak karuan.
Ada sesosok bayangan yang berkelebat masuk dengan gerakan cepat sekali. Sebelum dua orang muda itu bereaksi, sosok misterius itu sudah menotok lumpuh keduanya.
Lalu sambil terkekeh, ia menyalakan api dengan gesekan batu bawaannya. Diarahkan percikan api itu ke jendela, tirai dan taplak meja. Maka timbulah cahaya terang dari api yang mulai membakar kamar itu.
"Heheheh...."
Sambil terkekeh-kekeh, sosok ini pergi melalui jalan dari mana dia masuk tadi dan menutupkan jendela.
Sung Hwa dan Yu Nan Sia yang sedang dalam keadaan tumpang tindih dan setengah sadar itu hanya terbelalak kaget, tak mampu berbuat apa-apa karena tubuh mereka telah dibuat lumpuh total.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1