Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 99 – Si Jubah Merah


__ADS_3

"Ah....ini terlalu sulit. Saya bukan pendekar dan penyakit ini agaknya berhubungan dengan yang disebut tenaga dalam. Saya tak mampu sembuhkan ini." ucap tabib itu menyesal. Setelah mengecek kondisi Sung Hwa selama beberapa saat, akhirnya dia mengalami kebuntuan total.


Kepala desa, Yu Nan Sia dan Mi Cang menjadi khawatir sekali. Apalagi Yu Nan Sia, wajahnya selalu nampak tegang dan tidak tenang.


Tabib bangkit berdiri dan mengemasi barang-barangnya. Ia memandang prihatin ke arah Sung Hwa yang sudah pingsan beberapa saat lalu.


"Biar kulihat." Mi Cang berkata dan maju ke depan. Ia tempelkan dua jari tangannya ke pergelangan Sung Hwa, kemudian mengalirkan tenaga dalamnya perlahan.


Beberapa saat kemudian, Mi Cang berseru tertahan saking kagetnya. Tubuhnya menjadi kaku sekaligus lemas. Wajahnya memucat.


"Senior, ada apa?" Yu Nan Sia bertanya khawatir.


"Ini....aneh sekali. Sepertinya karena terlalu memaksakan diri, tubuh nona menjadi tak karuan. Aliran tenaga dalamnya sangat kacau, bergejolak seperti air dalam bak yang diaduk-aduk." Mi Cang memastikan sekali lagi dan ternyata pemeriksaannya tidak salah. Ia berkata lagi, "Jika dibiarkan, nona bisa mengalami kelumpuhan. Dia tak akan bisa menjadi pendekar lagi."


"Apa!?" Yu Nan Sia memekik kaget, "Jika begitu, lalu kita harus ke mana!?"


Kepala desa menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas berat. Walaupun dia tak mengenal tiga orang ini, namun dia memiliki rasa empati besar terhadap sesama. Dia memandang si tabib dengan kening berkerut.


Sedangkan si tabib yang dipandang seperti itu, raut mukanya berubah. Dia berkata, hampir seperti bisikan, "Tuan, anda tidak berpikir begitu kan? Jika dilakukan, itu hanya akan mencelakakan tiga orang ini."


"Mau bagaimana lagi...?"


"Jangan!! Harap jangan lakukan itu!? Saya akan memanggil tabib terbaik dari kota terdekat, tunggu selama beberapa hari lagi."


Kepala desa itu menggelengkan kepala, "Tapi tak ada yang bisa memastikan gadis kecil ini bisa bertahan selama itu."


Yu Nan Sia yang mendengar ini cepat menyahut, "Apa yang kalian bicarakan?"


Kepala desa itu meliriknya dan tersenyum, "Tak apa, adikmu ini pasti selamat. Aku akan memanggil dia."


"Tuan, jangan, itu berbahaya!!" si tabib kembali memperingatkan.


Sedangkan kepala desa menoleh cepat dengan tatapan tajam, ucapannya keras sekaligus tegas, "Aku yang tanggung jawab!! Cepat panggil dia!!"


Si tabib itu diam seribu bahasa. Begitu pula dengan beberapa pelayan yang ada di ruang tersebut. Wajah mereka pucat pasi dengan tubuh gemetar. Mereka melirik-lirik ke arah tiga orang itu dengan iba.


Mi Cang dan Yu Nan Sia melihat ini lalu mengerutkan kening. Lagat mereka terlalu aneh, seaneh para warga desa ketika mereka masuk ke tempat ini.


"Memangnya ada apa sih? Kenapa kalian bersikap begitu?"


"Kau tenang saja." kata kepala desa itu, "Aku akan berusaha semampuku." setelahnya dia pergi dari kamar itu dan berkata kepada si tabib.


"Tolong jemput dia ke mari menggunakan kuda. Seharusnya satu setengah hari kau sudah kembali." kepala desa berkata lagi sebelum si tabib sempat membantah, "Tak ada penolakan!"

__ADS_1


...****************...


Memang tubuh Sung Hwa sedang tidak baik-baik saja. Walaupun seorang pendekar seperti dia, apalagi setingkat dia, rasa-rasanya hampir mustahil untuk terserang penyakit. Kecuali kalau terkena racun dalam pertarungan.


Karena terlalu memaksakan diri itu, akibat pertama yang ditimbulkan tentu saja kelelahan. Tapi Sung Hwa terus memaksa dan membuatnya kurang tidur. Makan minum pun hanya sekedarnya untuk mengisi perut. Sama sekali tidak menikmati.


Akibat kedua, karena Sung Hwa terlalu berambisi untuk menjadi kuat dalam waktu dekat, dia kurang memerhatikan aliran tenaga dalamnya. Dalam meditasi dia menyerap banyak hawa alam dan sebelum sempurna ia sebar ke seluruh peredaran darah, dia sudah berlatih lagi. Membuat tenaga dalamnya saling tumpuk dan kacau.


Jika sudah seperti ini, aliran darah akan terganggu karena terjadinya penyumbatan. Membuat darah yang mengalir ke otak berkurang dan membuat kepalanya pusing disertai pandang mata berkunang.


Puncaknya, ketika siang hari itu tiba di luar desa, karena sinar matahari yang terik, juga kelelahan, lapar dan haus, Sung Hwa tak mampu bertahan lagi. Seluruh tubuhnya seperti ditusuk-tusuk jarum. Lalu ketika masuk ke desa, tubuh Sung Hwa makin lemah dan akhirnya pingsanlah ia.


Tepat satu setengah hari kemudian, pada sore hari dan cuaca sudah hampir gelap, dari arah luar desa nampak dua orang yang menunggang kuda. Satu di antara mereka adalah si tabib itu, sedang satu lagi adalah orang asing yang penampilannya cukup mencolok.


Pakaiannya berupa jubah lebar warna merah, dengan bagian ujung lengan terdapat sulaman benang berbagai warna. Jubah dalamnya berwarna coklat. Dia memakai kalung yang di mana gantungannya itu merupakan paruh ayam jantan, sedang talinya merupakan susunan tulang belakang kucing hutan yang disusun rapi. Di kepalanya terdapat topi bulu yang indah. Dia memakai mantel tebal dari bulu beruang hutan.


Setibanya di desa, para warga menyambut dengan menjura hormat. Orang ini membalas dengan menjura pula dari atas punggung kuda. Sikapnya amat menghargai sesama namun tidak tampak senyum sedikit pun. Wajahnya datar dan dingin.


Si tabib segera membawanya ke rumah kepala desa. Setibanya di sana, ternyata kepala desa bersama Mi Cang dan Yu Nan Sia sendiri sudah menunggu di luar rumah.


"Mana orang itu? Katanya dia sedang sakit keras." kata orang berpakaian merah itu setelah turun dari kuda diikuti si tabib.


Kepala desa menyempatkan diri untuk menjura memberi hormat. Dia tersenyum sungguh pun jelas sekali senyum itu terpaksa.


"Singgg!!"


"Singg-singg!"


Secepat kilat, orang berjubah merah itu sudah mencabut belati kecilnya yang terbuat dari taring singa. Warnanya hitam pekat, jelas itu beracun.


Berbareng dengan ini, Mi Cang dan Yu Nan Sia sudah mencabut senjata dan bersiap. Sikap ketiganya kereng sekali dan hawa sekitar otomatis menjadi berat.


"Agaknya kau kawan-kawannya? Harusnya aku sudah tahu ketika melihat pedang itu. Biasanya orang-orang sekitar sini kalau tidak membawa sabit, dia pasti menggotong cangkul."


"Tenang tuan, biarkan kepala desa menyelesaikan ucapannya." Mi Cang berkata. Dia terlihat lebih sabar dibanding juniornya itu.


Orang ini melirik ke arah kepala desa. Jelas menuntut jawaban.


Kepala desa dan si tabib yang sudah gemetaran itu menghela napas lega melihat ketiganya tak jadi bentrok. Inilah sebenarnya mengapa si tabib sangat tidak ingin memanggil pria berjubah itu. Jika begini pasti akan menimbulkan geger.


"Harap tuan tenang dulu, nereka memang pendekar, namun bukan orang jahat."


"Munafik!!" bentak pria berjubah merah itu, "Mana ada pendekar baik!? Mereka hanya mengejar-ngejar kemulian semata, saling bunuh, tak memandang sebelah mata pun terhadap nyawa lain orang. Yang seperti itu kau anggap baik? Matamu picak hah!?"

__ADS_1


Melihat tamunya itu sudah marah-marah bahkan sebelum masuk rumah, membuat kepala desa serba salah. Semua kalimat dan ucapan yang sudah disiapkan sejak satu setengah hari lalu itu seketika buyar karena nyalinya menciut.


"Siapa kau berani menghina kami para pendekar!?" Yu Nan Sia tak mampu menahan emosinya.


Mendengar bentakan ini, orang itu menoleh dan membentak marah, "Kami orang-orang gunung! Bertempat di lereng-lereng gunung Pegunungan Tembok Surga!! Hei orang dataran rendah, kalau saja bukan karena rasa malas dan muak kami terhadap kalian, kami sudah turun gunung sejak lama untuk menguasai daratan!! Yang kalian lakukan hanyalah membuat onar!"


"Kalian orang-orang ketinggalan jaman bisa apa terhadap kami?" Yu Nan Sia membentak lagi.


Saat itu, terdengar suara bentakan nyaring. Kiranya si jubah merah itu telah menyerang dengan belatinya. Senjata itu bergerak cepat sekali, merupakan gulungan sinar kehitaman yang sulit dilihat mata mengingat hari sudah gelap.


Yu Nan Sia yang tak menduga akan hal ini menjadi terkejut, namun dia sudah cepat menangkis.


"Trang...!!"


Pedang menangkis belati, dan betapa terkejut Yu Nan Sia saat mengetahui secara aneh pedangnya rontok menjadi debu. Bahkan sebelum dia menarik senjatanya, pedang itu sudah tertiup angin dan menyatu dengan udara.


"Gila!!" pekik Yu Nan Sia.


Mi Cang yang melihat itu meneguk ludah susah payah.


"Ini kan yang kalian para pendekar banggakan? Ini kan tenaga dalam? Sombong, hanya mengandalkan kekuatan sendiri dan menghiraukan para dewa!! Kalian memang sombong!!"


Setelah membentak demikian, orang ini secepat kilat sudah duduk bersila dengan kedua telapak tangan saling bertemu. Mulutnya komat-kamit membaca mantera.


Selang beberapa saat, matanya terbuka lebar dibarengi dengan teriakan keras dan hentakan dua tangan ke depan.


"Mampuslah!!" satu bentakan nyaring disertai hawa sihir dahsyat. Kepala desa dan si tabib yang ketakutan, sekaligus putus asa karena gagal membujuk tamu itu, sudah pingsan terkena pengaruh hawa sihir.


Mi Cang dan Yu Nan Sia yang menjadi target serangan itu langsung muntah darah. Dada mereka sesak seperti dihantam batu besar. Mereka jatuh berlutut dengan kondisi telinga berdengung seperti jeritan-jeritan ratusan wanita.


Saat itu, ketika si pria berjubah sudah bangkit dan hendak mengakhiri nyawa dua orang ini, dari dalam rumah kepala desa terdengar jerit menyanyat dan nampaklah seorang gadis cantik.


"Yu Nan Sia, Mi Cang....!!" Ia berlari keluar dan langsung berlutut di hadapan mereka berdua. Setelah memastikan keduanya baik-baik saja, hanya terluka dalam biasa, dia berdiri dan menghadang langkah kaki si pria berjubah yang melongo.


"Kau setan!! Siapa kau berani mencelakakan saudara-saudaraku!?"


Hal yang lebih aneh terjadi. Pria berjubah itu menjatuhkan belati racunnya dan berlutut hormat. Dia menangis saking terharunya.


"Akhirnya....syukurlah...syukurlah...kiranya nona masih hidup dan sehat....syukurlah...."


Sung Hwa bengong seakan rahangnya itu bisa jatuh kapan saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2