
Mereka sudah berkemas dan hendak pergi ketika pendengaran mereka yang tajam menangkap suara tidak wajar dari dalam semak belukar. Serentak belasan orang itu menghentikan kegiatan mereka dan memandang ke arah yang sama. Pandangan mata mereka mencorong sebagaimana layaknya seorang ahli silat siap untuk bertempur.
"Siapa?" tegur salah seorang yang dekat dengan hutan.
"Seorang sahabat!" jawab orang yang ada di hutan itu. Dengan pengerahan pada suaranya, sehingga suara halus jernih itu dapat bergema sampai jauh.
Orang yang menegur untuk pertama kalinya itu mengerukan kening dan menoleh kepada kawan-kawannya. Seolah dalam tatapan matanya dia bertanys, "Seorang wanita?"
Tak lama setelah itu, suara berkeresakan semak belukar yang dilanggar langkah kaki orang makin terdengar berisik. Tahulah belasan orang ini jika wanita itu tak datang sendiri.
Akhirnya, setelah ditunggu beberapa saat, munculah seorang wanita tiga puluhan tahun yang cantik jelita. Matanya bersinar-sinar bagai bintang di langit malam, mulutnya tersenyum penuh kelembutan.
Hampir saja mereka semua jatuh terduduk saking terkejutnya jika tidak cepat berlutut memberi hormat. "Paduka putri..." kata mereka serempak begitu sadar siapa orang yang telah mengirim suara tenaga dalam dari dalam hutan tadi.
"Bangkitlah, kalian orang-orang gagah tak perlu banyak sungkan." kata putri Song Zhu.
Seperti yang telah mereka rencanakan, putri Chang Song Zhu akan mengatakan semua penuturan perwira Gin yang secara tak terduga telah menemukan markas dari Serigala Tengah Malam.
Setelah bangkit berdiri, dengan hormat seorang pria yang tadi menegur berkata, "Ada apakah paduka putri sampai jauh-jauh datang ke sini.*
Wanita itu tersenyum dan mengajak mereka semua untuk duduk. Kemudian dia mengatakan semua rencananya soal mengikuti rombongan mereka secara diam-diam guna mencari bukti kuat agar kaisar percaya jika pangeran Chang Song Ci adalah ketua Serigala Tengah Malam.
"Selama ini, kalian pun tidak percaya benar dengan omonganku kan? Yah....memang hanya aku yang pernah melihat sosoknya sebagai ketua perkumpulan sesat itu."
Para pendekar itu saling pandang. Memang benar ucapan putri ini, diam-diam mereka masih kurang percaya karena walaupun mereka cukup yakin pangeran itu bukan orang baik, namun tak pernah terlintas sedikit pun di benak mereka bahwa pangeran itu akan menjadi ketua dari perkumpulan sebesar Serigala Tengah Malam.
Walaupun sejatinya dalam hati mereka benar-benar mengharapkan omongan putri itu benar. Maka dengan demikian, maka tak ada alasan lagi bagi mereka untuk meragu jika hendak membunuh pangeran tersebut. Karena bukti sudah nyata.
Dengan nada tidak enak dan sungkan, orang itu menjawab, "Maafkan kami soal itu paduka."
"Jangan pikirkan itu, tak masalah. Yang jelas, aku ingin menyampaikan satu berita penting untik kita semua. Dan ini menentukan masa depan kita." kata Song Zhu penuh keyakinan.
__ADS_1
Mereka semua menjadi tertarik, membuat mereka pasang telanga baik-baik untuk mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir putri itu.
Sang putri memanggil perwira Gin, kemudian dia mengenalkannya kepada para pendekar itu, "Dia bernama perwira Gin. Dia ini sudah tiga hari tidak pulang dan ternya bahwa dia tersesat jalan. Dalam keadaan tersesat itu, tanpa sengaja dia menemukan keberadaan markas Serigala Tengah Malam yang selama ini kita cari-cari."
Terkejutlah mereka, dengan mata terbelalak secara serentak belasan pasang mata itu ditujukan ke arah perwira Gin yang berdiri tegak di samping sang putri.
Putri Song Zhu kemudian menyuruhnya duduk kembali dan dua mulai bercerita.
"Menurut kesaksian Perwira Gin, saat itu dia sedang memata-matai salah satu rombongan kalian, dan dia tersesat."
"Saudara itulah orangnya." kata perwira Gin menunjuk salah seorang pria paruh baya yang duduk di rombongan pendekar, "Saat tiba di turunan lereng gunung, saya kehilangan dia ketika di tikungan." lanjutnya menjelaskan.
Putri itu mengangguk-angguk, kemudian dia bertanya kepada orang yang ditunjuk perwira Gin tadi, "Saudara, ke mana pergimu saat itu?"
"Ah...yang dia maksudkan di lereng gunung tepi jurang kecil itu?" katanya memastikan, sebelum melanjutkan kemudian, "Tiba di tukungan, aku meloncat ke atas pohon dan pergi ke arah utara. Lalu kembali ke timur untuk menuju ke sini."
"Ahh....." putri itu mengangguk-angguk. Dia lantas menoleh kepada perwira Gin yang mendengarkan penuh perhatian, "Perwira Gin, kiranya engkau terus melaju ke timur sehingga kau malah mendahului dia?"
"Hm...jika memang begitu berarti kita hanya harus menuju ke timur sesuai arah tersesatnya perwira Gin." ujar sang putri menoleh ke arah timur, "Perwira Gin, apakah dari sini masih cukup jauh?"
Perwira itu juga memandang ke timur dan menerawang ke kejauhan sana, "Masih cukup jauh paduka, walau tidak sangat jauh."
Informasi ini tentu menggembirakan hati para pendekar itu. Mereka menjadi girang dan tersenyum lebar, agaknya tiga orang tokoh utama mereka telah mengetahui hal ini pula dan mendahului mereka menyelidik ke sana.
"Kalau begitu, kami harus segera menyusul ketua." kata seorang anggota Naga Hitam.
Putri itu tersenyum memandang padanya, "Itulah yang ingin kami lakukan pula. Bagaimana jika kita melakukan perjalanan bersama? Bukankah saat ini kita satu tujuan?"
Makin giranglah hati mereka. Dengan adanya sang putri dan jenderal serta pasukan sebanyak itu yang menemani, makin besar hati mereka. Apalagi ditemani oleh putri kerajaan yang cantik jelita, dikagumi semua orang dan dihormati. Betapa bangganya hati mereka para pendekar itu bisa melakukan perjalanan bersama sosok tersebut.
Para pendekar itu menolehkan kepalanya ke arah seorang tua yang agaknya paling dihormati di sini. Dan memang benar, dia termasuk tokoh kosen dari Naga Hitam, walaupun kepandaiannya jauh sekali dari Gu Ren, namun Gu Ren sendiri pun amat menghormat padanya. Maka dalam perjalanan kali ini, orang itu seperti dianggap pemimpin setelah hilangnya Gu Ren.
__ADS_1
Pandangan yang ditujukan padanya itu seolah minta persetujuan. Daripada minta, lebih condong ke arah memaksa. Orang tua itu terkekeh sejenak kemudian menjura ke arah sang putri, "Kalau begitu, kami hanya mampu menuruti apa kehendak paduka."
"Bagus!" seru sang putri, Tunggu apa lagi? Kita berangkat sekarang!"
Dengan semangat meluap-luap, mereka bangkit dan segera menuju timur dipandu langsung oleh perwira Gin. Bahkan saking semangatnya, mereka melakukan perjalanan sambil bernyanyi-nyanyi.
Ternyata putri itu demikian ramahnya kepada mereka, tidak seperti para bangsawan lain yang seolah memandang rendah siapapun yang tidak punya kedudukan seperti mereka.
Padahal putri ini adalah putri kaisar, seorang putri dengan kedudukan paling tinggi. Akan tetapi dia tanpa ragu dan pelit-pelit untuk melempar senyum kepada semua orang.
Pria paruh baya yang amat dihormati tadi, yang berumur empat puluh dua tahun itu, yang kebetulan sedang berjalan di samping sang putri dan diajak bercakap-cakap oleh wanita itu, berjalan dengan dada membusung dengan sikap digagah-gagahkan. Bangganya bukan main ketika mendapat perhatian sang putri yang bertanya ini itu soal keadaan dunia persilatan.
Banyak pertanyaan yang diajukan dan tidak sedikit yang membuat dia kebingungan dalam mencara jawaban. Namun jika sampai pada titik ini, dia hanya menjawab, "Harap paduka maklumkan saya yang perpengetahuan sempit ini, saya hanyalah tokoh kelas tiga yang tidak terlalu berarti." padahal dia bisa menjawab dengan singkat berupa, "Saya tidak tahu soal itu." namun karena hendak pasang muka, dia mencari jawaban yang lebih meyakinkan dan berkesan.
Orang-orang lainnya hanya geleng-geleng melihat kelakuan pria lajang yang dari lahir sampai setua itu belum pernah sekali pun mendapat pasangan. Karena itulah, sekali didekati wanita, wanita itu adalah sang putri! Tentu saja dia bangga bukan main.
"Tuan, kita sudah bercakap-cakap mengenai banyak hal, namun aku belum mengenal namamu. Siapakah orang gagah dari Naga Hitam ini?" tanya sang putri di satu kesempatan dengan senyum terukir.
"Perkenalkan, saya yang rendah ini bernama Khong Tiat. Julukanku Singa Gunung Naga." katanya seraya menjura hormat.
Demikianlah, mereka dapat menyusul Gu Ren dan dua pemuda lain yang sudah dalam keadaan tertangkap di markas Serigala Tengah Malam. Sebentar lagi tentu akan terjadi kegemparan karena di markas itu pula, Sung Han dan Yang Ruan sedang tertawan.
Ketika Khong Tiat memperkenalkan nama julukan, sama sekali dia tak sadar bahkan putri Song Zhu pun tak sadar jika di barisan belakang sana ada beberapa orang yang berbibisik-bisik penuh keheranan.
"Julukannya demikian hebat, tapi sejak kapan dia dapat julukan itu? Bukankah dia hanya sebagai penjaga patung naga di tempat kita?"
"Iya, kau benar. Itulah ciri-ciri orang jatuh cinta."
"Hahaha....seperti anak muda saja..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG