
Gerakan-gerakan dari delapan orang itu sama sekali tidak mencapai kata luar biasa. Hanya bermodalkan tenaga kasar asal bacok yang mengandalkan otot terlatih. Tidak memperlihatkan seni selayaknya orang-orang bersilat, atau memperhatikan celah ketika penyerangan dimulai.
Semua orang dunia persilatan tahu, bahkan ini merupakan pelajaran dasar, di mana jika dia melakukan gerakan menyerang maka akan ada satu celah yang terbuka. Celah itulah lowongan yang dapat dimanfaatkan musuh untuk menyerang balik bahkan sebelum serangan itu tiba.
Akan tetapi delapan orang ini hanya bergerak maju mengandalkan naluri saja. Bahkan menurut Sung Hwa, gerakan paling liar dari orang-orang manusia gunung saja jauh lebih halus daripada ini.
"Huh ...."
Sung Hwa mendengus. Lalu bergerak maju melakukan langkah-langkah dengan menggeser kaki. Kaki kanan bergerak serong kanan disusul geseran kaki kiri ke depan. Tepat sebelum serangan musuh tiba, tangan kirinya bergerak menampar di iga kanan lawan.
"Plak!!"
Orang itu terpental ke samping dan wajahnya mencium meja dengan terlalu keras.
Dua orang lain pemegang golok, menargetkan kepala dan dada Sung Hwa. Kembali gadis ini mendengus, serangan yang tak bermutu, pikirnya.
Serangan ke dada itu ia tahan dengan dua jari, lalu tangkisan golok di atas kepala itu menggunakan golok yang menuju dada tadi lalu ia arahkan ke atas. Karena Sung Hwa telah mengerahkan tenaga, maka begitu kedua bilah golok bertemu, terdengar suara nyaring begitu dua golok itu sama-sama patah.
"Aiihhh!" seru orang-orang lainnya yang belum menyerang.
Nyonya muda ini melompat, berputaran di udara seperti orang menari. Lalu begitu mendarat, dia mendarat dengan kedua tangan di bawah menopang tubuh, tepat di tengah barisan pengeroyok. Tak sampai satu detik, pada saat itu juga, tubuhnya berputar seiring kakinya yang melebar. Tendangan ke segala penjuru yang luar biasa dahsyat.
"Aaahhh!!"
Para pengeroyok itu, tanpa terkecuali, terpelanting dan tak mampu bangkit lagi. Pingsan.
Sung Hwa meloncat berdiri dan membenarkan letak bajunya. Sesaat kemudian, dia tersenyum mengejek. "Heh, hanya itu?"
Pemimpin rombongan itu sudah sejak tadi menahan rasa jengkelnya. Dia sama sekali tak mau percaya betapa seorang wanita muda mampu mengalahkan delapan anak buahnya yang amat dibanggakan itu. Sudah banyak desa dan jagoan kampung mereka taklukkan, namun baru sekali inilah mereka dapat dikalahkan dengan terlalu telak.
Dia masih tak mau turun tangan karena merasa tinggi hati. Hanya seorang nyonya muda, tak perlu turun tangan, pikirnya.
Tak tahunya malah mereka sendirilah yang keok. Tentu dia menjadi marah bukan main
__ADS_1
"Nyonya cilik, kau terlalu!" katanya sambil menudingkan jari telunjuknya tepat di muka Sung Hwa.
"Apanya yang terlalu? Kau sama sekali tak memberi muka kepada suamiku dan hendak mempergunakan aku? Phuhh!!" Kegalakan Sung Hwa bangkit. Dan di akhir perkataannya, dia meludahi muka orang kasar itu.
Pria tinggi besar dengan kumis lebat itu memejamkan mata. Ludah tadi telak mengenai matanya dan dia menahan getaran tubuhnya. Normalnya, senormal-normalnya orang, dia akan merasa terhina sekali setelah mendapat bentakan dan ludahan sebagai penutupan dari seorang wanita secantik apa pun itu.
Namun lelaki ini agaknya sudah berotak bengkok, diludahi oleh Sung Hwa, wajahnya malah memerah dan napasnya memburu. Bukan karena marah, namun karena hal lainnya. Dia nampak menikmati itu.
"Hm ... heheh, heheh,"
Sung Hwa mendengus jijik menyadari reaksi itu. Tanpa sadar dia mundur satu langkah. Ini bahkan jauh lebih menyeramkan daripada menghadapi musuh yang bagaimanapun juga.
"Nyonya manis, kau benar-benar ...." Ucapan itu tidak dilanjutkan ketika si kumis lebat menubruk dengan kedua tangan terkembang. Pedang katana ternyata sudah ia sarungkan kembali.
Sung Hwa melirik Sung Han, berharap pemuda itu melakukan tindakan. Namun dia semakin mendongkol saat melihat pemuda itu menraik kursi dan duduk menonton sambil bertopang dagu. Benar-benar acuh terhadap istri sendiri.
"Sialan!"
"Aahhh!!"
Sung Hwa memekik seraya melirik kepada suaminya. Kepala Sung Han sedikit tersentak saat mengetahui Sung Hwa sudah tertangkap.
Wanita itu kembali berteriak. Kini lebih keras dari yang tadi. Tubuhnya meronta-ronta dalam pelukan orang Jeiji yang kasar itu.
"Heheh, tenanglah manis, kau akan senang malam nanti," kekehnya sembari berusaha mencium wajah Sung Hwa namun tak kunjung berhasil. "Kawan, kupinjam semalaman ini ya? Aku akan melakukan di sini, tak jauh-jauh darimu!" dia mengacungkan jempolnya ke arah Sung Han.
"Suamiku, tolong!" Sung Hwa memekik panik ketika dia ditotok lumpuh dan dipanggul. Matanya berkaca-kaca ketika tangannya mencoba menggapai-gapai Sung Han.
Si kumis itu tertawa. "Hahaha, dia sudah meminjamkanmu manis, kau tak perlu–"
"Buaghh!!"
Tiba-tiba, si kumis merasakan denyutan keras di bagian tengkuknya. Pandangannya gelap seketika dan perasaan terakhir sebelum ia hilang kesadaran adalah kepalanya terpelanting ke depan.
__ADS_1
...****************...
Sung Hwa duduk di lantai, bersila, dengan kepala menunduk. Tangannya digerak-gerakkan gelisah membentuk lingkaran kecil di atas lantai. Matanya melirik sana-sini seolah sedang menghindari sesuatu.
Ketika dia melirik ke atas, tubuhnya berjengit ketika tanpa sengaja bertemu pandang dengan sepasang mata suaminya. Seperti mata naga, pikirnya. Naga yang sedang marah seolah sarangnya diganggu.
"Hm ...."
"Hihh!!" Sung Hwa kembali berjengit ketika mendengar suara Sung Han. Hanya gumaman biasa, namun itu seperti petir di siang bolong bagi telinga Sung Hwa.
"Suamiku, aku ... aku, itu ...."
"Hah? Kenapa? Apakah istriku terlalu gugup hanya untuk melepaskan totokan itu?"
"Eh, bukan!" Sung Hwa cepat-cepat membela diri. Wajahnya merah sekali dan dia bingung harus berkata apa. "Itu ..., itu karena salahmu!" akhirnya dia berkata penuh percaya diri sambil menunjuk wajah Sung Han.
Sung Han melebarkan mata. Beberapa saat kemudian giginya bergemelutuk.
"Ya, itu salahmu! Siapa suruh diam saja ketika istrinya sedang terancam? Kau harusnya menolongku." Sung Hwa mendapat kepercayaan dirinya lagi ketika Sung Han masih diam. Wanita ini bangkit berdiri dan bersedekap. "Hmph, kau sih tak punya rasa cemburu."
"Sung Hwa ...."
Sung Hwa cepat-cepat menoleh. Sikapnya kembali galak dan angkuh. Ini sudah biasa, bahkan terhadap suaminya sekali pun. Namun ketika dia menoleh, tatapannya melebar.
"Plak!!"
Kepala Sung Hwa terpelanting. Rasa panas berdenyut di pipi sebelah kirinya. Namun rasa sakit di hatinya jauh lebih terasa. Seluruh tubuhnya bahkan sampai bergetar, dan matanya mulai terasa panas.
"Aku suamimu, dan kau masih berani main-main seperti itu? Apa kau sudah tak menghormatiku lagi?" desis Sung Han tajam. Nadanya penuh daya intimidasi. "Ingat, kau bukan lagi gadis lincah seperti dahulu, yang bisa dengan menggunakan siasat apa saja untuk menundukkan lawan. Kini kau sudah menjadi istri, tolong sadari itu!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1