Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 98 – Perkenalan


__ADS_3

Sumg Hwa yang kehilangan tujuan hendak pergi ke mana itu akhirnya membuat keputusan. Ini membuat Yu merasa senang sekali karena usulnya kemarin secara tidak langsung akan terlaksana.


Kala itu, setelah tiba jauh di kota raja, Sung Hwa berkata pada keduanya, "Bahaya sekali kalau sampai pengkhianat-pengkhianat macam dia itu mengenali aku. Jelas sekarang ini keberadaanku di sini sudah sangat tidak aman."


Mi berkata setelah memastikan tidak ada pengejar yang mengejar, "Lalu pergi ke mana nona?"


"Ke selatan. Tak ada pilihan lain, di sana keadaan kita pasti jauh lebih aman." katanya sambil duduk di salah satu batang pohon tumbang. Dia mengipas-ngipasi leher serta wajahnya dengan ujung jubah.


"Itu artinya, kita akan melewati Pegunungan Tembok Surga?" tanya Yu tiba-tiba dengan raut wajah girang.


"Ya, memangnya kenapa? Ada apa dengan perubahan ekspresimu itu?" Sung Hwa bertanya heran. Sebentar kemudian dia teringat, "Ah...jangan bilang kau ingin mencari para pertapa itu?"


"Tentu saja!" jawab Yu cepat-cepat. "Mereka bahkan lebih langka dan susah ditemukan daripada setan sendiri. Kalau sampai bertemu, bukankah akan sangat menguntungkan kita?"


Sung Hwa menghela napas, "Terserah, sesukamu lah."


Mereka lalu beristirahat di sana selama beberapa jam. Memang keadaan tubuh mereka letih sekali setelah melakukan perjalanan jauh dan malah harus dikejar-kejar para tentara. Mereka duduk dalam diam menikmati semilir udara sejuk yang berhembus di seluruh penjuru hutan itu.


"Oh iya..." kata Sung Hwa tiba-tiba yang mengejutkan dua saudara seperguruan itu.


"Ada apakah nona?" Yu bertanya heran.


"Sekian lama, bahkan sudah lama sekali aku pergi berpergian bersama kalian berdua, tapi kalian belum pernah memperkenalkan nama asli. Siapa nama keluarga kalian?"


Pertanyaan ini memgejutkan keduanya. Yu dan Mi saling pandang. Yu nampak ragu-ragu dan menunggu keputusan seniornya itu. Mi yang sadar akan hal ini menghela napas lalu menjawab.


"Jika saja bukan nona, bahkan jika itu kaisar pun kiranya kami masih berpikir seribu kali untuk berkata jujur." Sung Hwa mendengarkan dengan penuh perhatian. Kiranya dia sudah dipercaya penuh oleh dua orang itu. Lalu Mi melanjutkan, "Tapi karena nona sendiri yang bertanya, baiklah, kami akan katakan."


Mi menghela napas sekali, "Sebenarnya Yu dan Mi itu adalah nama keluarga kami. Nama asliku Mi Cang, sedangkan adik juniorku ini Yu Nan Sia. Kami dua orang gelandangan, dua anak yatim piatu yang tak punya rumah dan sebatang kara, yang memutuskan bergabung dengan Hati Iblis untuk menumpas pemerintah!"


Tubuh Sung Hwa menegang ketika mendengar itu. Ucapannya seperti dalam mimpi ketika dia bertanya, "Kenapa begitu?"


"Bukan tanpa alasan nona..." kata Yu menimpali, "Keluarga kami diratakan oleh pasukan pemerintah saat kami masih kecil. Karena kepala desa waktu itu dianggap memberontak."

__ADS_1


"Apa, tidak mungkin! Itu pasti ulah para pemberontak!"


Yu dan Mi saling pandang, tatapan mereka sayu dan sulit diartikan. Kembali Yu menjawab, "Andai saja kami tidak pergi bersama anda, mungkin saat ini kami sudah memikirkan cara untuk menggulingkan kaisar. Jujur saja kami tak pernah percaya kepada pemerintah."


"Kalian picik!!" bentak Sung Hwa dan menjitak kepala keduanya dengan keras, "Waktu itu kalian masih kecil, kenapa pula sok tahu jika penyerangan itu dilakukan pemerintah!?"


Mi mengaduh-aduh, jitakan itu cukup keras juga dan menimbulkan rasa sakit. Dia menjawab sambil meringis, "Rasa sakit hati kami terlalu besar nona."


"Bahkan kakakku satu-satunya pun hilang entah ke mana..." gumam Yu yang mengejutkan Sung Hwa.


"Eh...kau punya kakak?"


Yu mengangguk dengan raut wajah sedih. Sung Hwa melihat ini dan hatinya menjadi kasihan sekali. Ia mengusap rambut pemuda itu perlahan. Mengusap di mana tadi dia menjitak.


"Sudahlah, lupakan soal pemerintah. Hidup kita sekarang saja belum pasti. Ahahaha..." dia tertawa paksa untuk mencairkan suasana. Tak sadar bahwasannya pemuda yang sedang diusap kepalanya itu sedang terbelalak dengan muka merah sekali.


"Cukup istirahatnya, sekarang kita berangkat!!"


...****************...


Setelah beberapa hari melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mereka tiba di lereng terluar Pegunungan Tembok Surga. Tak bisa dipungkiri ketiganya merasa kagum sekali melihat pegunungan yang sangat panjang seolah tak berujung itu.


"Mari kita singgah ke desa. Lihat, di sana ada satu desa." Sung Hwa berkata setelah menyeka keringatnya. Wajahnya kusut dan nampak lelah sekali, namun kecantikannya sama sekali tidak pudar.


Ketika dia hendak berjalan, tiba-tiba kepalanya menjadi pening dan pandangannya berkunang. Jalannya mendoyong ke kanan kiri sebelum akhirnya jatuh.


"Nona!!"


Yu Nan Sia sudah bertindak cepat, menggerakkan lengannya untuk menahan perut nona itu. Sedang tangan kanannya memegang pundak.


"Ayo lekas pergi ke desa." Mi Cang berkata pula, "Nona, anda terlalu memaksakan diri selama ini!" tegur pria itu lagi.


Memang Sung Hwa selama ini terlalu memaksakan diri sendiri. Bahkan sudah kelewat batas. Dia sendiri yang bilang kepada dua orang itu untuk melupakan pemerintah, seolah hendak menghilangkan api dendam di antara keduanya. Tapi dia sama sekali tidak memandang kepada diri sendiri.

__ADS_1


Api kemarahan pada sosok Sung Han selalu berkobar di dalam dadanya seolah bisa membakarnya kapan saja. Dia mampu menyembunyikannya dengan baik, namun dua orang itu cukup jeli untuk dapat melihat.


Setiap tiba di desa atau kota, pada malam harinya Sung Hwa selalu berlatih seorang diri. Entah berlatih pedang atau ilmu silat, intinya dia terus berlatih. Yu Nan Sia dan Mi Cang yang melihat ini diam-diam selalu mengawasi dari jauh secara bergantian, mengantisipasi kalau nona itu dinganggu orang.


Tindakan ini didorong oleh rasa malunya karena kepandaian diri sendiri belum mampu mengimbangi Sung Han itu. Waktu itu, dalam segebrak saja Sung Han sudah mampu memaksanya minggir dan dia lolos tanpa dapat ia kejar.


Karena hal inilah maka dia berlatih melampaui batas dan kurang tidur. Membuat tubuhnya kelelahan sekali. Dan saat ini, wajahnya memucat.


Dibantu oleh Yu Nan Sia, akhirnya mereka sampai di pedesaan sederhana di kaki gunung itu. Satu desa kecil yang amat sederhana. Rumah-rumah di sana terbuat dari anyaman bambu dengan atap rumput kering.


Ketika ketiganya masuk, segera saja mereka menjadi pusat perhatian semua orang. Ibu-ibu dan anak-anak langsung minggir ke tepi jalan dan mengawasi dari jauh. Sedang ayah dan suami mereka memandang penuh perhatian. Sikap orang-orang itu sama sekali tidak mengandung permusuhan, namun cukup aneh bagi ketiganya.


Akan tetapi tiga orang itu tidak peduli dan acuh. Mi Cang bergerak cepat menghampiri seorang pria berpakaian petani yang tadi juga menonton di pinggir jalan.


"Maaf sobat, bisakah kau beritahu kami di mana adanya penginapan?"


"Penginapan?" orang itu balas bertanya heran, "Mana ada penginapan di desa sekecil ini?"


"Kalau begitu bisakah kami tinggal di rumahmu selama beberapa hari? Akan kami bayar. Adikku itu sedang butuh pertolongan." Mi Cang mengakui Sung Hwa sebagai adiknya.


Lelaki ini memandang gadis itu dengan kasihan, terlihat Sung Hwa yang makin pucat dan napasnya terengah-engah. Dipapah oleh Yu Nan Sia dengan raut wajah khawatir sekali.


Salah seorang warga lain menghampiri dan berkata ketika melihat lelaki berpakaian petani itu nampak ragu.


"Kawan, marilah ikut kami ke rumah kepala desa. Untuk urusan seperti ini, kami tak berani sembrono membuat keputusan."


"Kenapa begitu? Adikku butuh perawatan segera!"


"Biar nanti kawanku itu memanggil tabib desa. Marilah engkau dan kedua adikmu ikut aku." kata orang itu dan menyuruh si petani untuk memanggil tabib desa. Sedangkan dia sendiri memimpin jalan menuju rumah kepala desa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2