Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 209 – Kisah Mereka


__ADS_3

Beruntung dengan adanya tiga orang pertapa itu, tidak terjadi sedikit pun keributan sampai di bawah gunung. Sung Han yang menjadi pemenang memilih untuk membawa serta Pedang Gerhana Bulan di tangannya. Bersama dengan dua orang gadis, Yang Ruan dan Sung Hwa, Sung Han menuruni puncak gunung.


"Setelah ini pasti akan ada banyak orang yang mengincarku." Demikian antara lain Sung Han berkata di tengah perjalanan itu. "Setelah ini kalian hendak ke mana?"


Tak ada yang menjawab. Yang Ruan masih larut dalam kesedihan. Kantung hitam tercipta di kelopak matanya karena terlalu sering menangis, sedangkan Sung Hwa bingung hendak menjawab apa.


Sung Han menghela napas gusar. "Kita istirahat dulu di depan sana." Dan keduanya menurut saja.


Sung Han membawa mereka ke tepi sebuah sungai besar yang menjadi sumber mata air di gunung tersebut. Sung Han mencuci mukanya yang terdapat noda darah dan keringat. Dia lalu duduk bersila di atas salah satu batu untuk memulihkan diri selama beberapa saat.


Dalam keadaan seperti ini, suasanya benar-benar sunyi.


Ketika Sung Han sudah selesai, dia mencoba untuk buka suara. "Sung Hwa, siapa gurumu yang dibunuh oleh mereka? Dan...Yang Ruan, ada apa dengan kakimu?"


"Guru kami," Sung Hwa mengoreksi. "Mereka membunuh guru kami karena telah memata-matai organisasi mereka."


Sung Han terkejut. "Guru kalian?"


"Iya." Kemudian Sung Hwa mulai menceritakan kisahnya. Tanpa diminta oleh Sung Han.


Dahulu, beberapa tahun lalu setelah Sung Hwa berpisah dari Sung Han setelah pertemuan terakhir itu, Sung Hwa berencana untuk pergi ke tempat Kay Su Tek.


Karena memang tidak memiliki tujuan lagi, Sung Hwa berencana untuk menggabungkan diri dengan Kay Su Tek. Dia tidak memikirkan apa pun lagi, karena pada saat itu dia hanya bisa berharap pada Kay Su Tek yang menjadi sahabatnya.


Namun di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Yang Ruan yang terluka parah setelah bertempur melawan beberapa orang golongan hitam. Saat itu keadaan Yang Ruan benar-benar memprihatinkan dengan kaki buntungnya. Sejak saat itulah mereka berkenalan.


Namun kiranya orang-orang yang dilawan Yang Ruan sebelumnya mampu mengejar dan akhirnya tanpa dapat dicegah, keduanya bertemu dengan mereka. Kiranya mereka adalah beberapa orang yang dipimpin oleh tiga orang kakek berjuluk Naga Sakti.


Tiga Naga Sakti itu segera mengenal Sung Hwa yang berjuluk Rajawali Merah. Mereka teringat akan keadaan murid mereka, Naga Sakti Ujung Timur, yang telah tewas di tangan Sung Hwa. Maka mereka mengeroyok Sung Hwa pula.


Ketika itulah Sung Hwa mengurungkan niatnya untuk bergabung dengan Kay Su Tek karena sudah tidak mungkin lagi. Di dalam aliansi itu terdapat tiga orang musuhnya yang sakti-sakti, maka dari itulah Sung Hwa memutuskan mengambil jalan aman.


Singkat cerita, Sung Hwa berhasil membawa kabur Yang Ruan yang saat itu sedang terluka parah. Mereka hidup terlunta-lunta tak tentu arah selama beberapa bulan. Namun keduanya memiliki rasa setia kawan tinggi, tak pernah mau berpisah.


Sampai ketika keduanya bertemu dengan seorang sastrawan di salah satu desa. Seorang sastrawan yang keduanya kenal sebagai tukang pemberi informasi.

__ADS_1


Saat melihat keduanya, sastrawan itu berkata sambil tersenyum memperlihatkan gigi-giginya.


"Anak malang, maukah kalian ikut saja denganku? Belajar sastra?"


Entah bagaimana, dua orang yang sudah seperti tak punya harapan itu menyetujui. Mereka bingung hendak pergi ke mana lagi. Sejak saat itulah Sung Hwa dan Yang Ruan menjadi murid kakek sastrawan itu yang kita semua kenal sebagai Sastrawan Pinggir Jalan.


Menjadi murid orang itu dan mempelajari sastra memang mengasyikkan. Bertahun-tahun merantau ke banyak tempat dan bertemu orang-orang lihai. Lambat laun dua gadis itu semakin pandai dalam hal tulis-menulis aksara indah dan membuat puisi atau sajak. Lama kelamaan mereka melupakan akan dunia persilatan dan berniat mengundurkan diri dari dunia penuh kesengsaraan itu.


"Tapi semuanya berubah ketika guru memutuskan untuk menyelinap ke markas utama golongan hitam. Dia terlalu teropsesi dengan segala informasi dunia persilatan, sehingga nekat," Sung Hwa mulai terisak.


Tak perlu mendengarkan lebih lanjut lagi agaknya Sung Han sudah paham. Setelah itu pasti sastrawan itu mati, dan entah bagaimana dua muridnya berakhir di tempat ini.


"Serigala Tengah Malam memberi tawaran, memintaku untuk mewakilkan mereka dalam pertarungan kali ini. Aku menerimanya untuk melakukan pembalasan. Apalagi setelah mengetahui, bahkan Kay Su Tek dengan kejamnya menyuruh orang-orangnya untuk membunuh bekas tunangannya." ia melirik Yang Ruan dengan iba. "Itu hanya membuat kemarahanku semakin berkobar."


Sung Han mengangguk-angguk paham, dia sudah cukup mengerti dengan duduk perkaranya. Dan itu semua adalah akibat dendam Kay Su Tek. Mungkin dia menganggap bahwa Ratu Elang merupakan ancaman dan batu pengganjal untuk tujuan besarnya, maka dari itulah dia mengutus tiga Naga Sakti mengakhiri hidup Yang Ruan.


Dan karena pedang gerhana, atau entah karena mereka tak sepaham, membuat Sung Han dan Kay Su Tek harus saling bunuh dan mengakibatkan Yang Ruan menderita pukulan batin yang amat hebat.


"Yang Ruan, kau..." ucapan Sung Hwa tak bisa diselesaikan saking terkejutnya.


Sung Han memandang dan hampir saja ia memekik jika tidak cepat ditahannya. Nampak pada belahan rambut Yang Ruan, helaian rambutnya yang hitam halus itu sudah memutih. Dan wajah Yang Ruan nampak lebih tua beberapa tahun walaupun masih cantik jelita.


Saat itu hati Sung Han serasa ditusuk-tusuk. Dia semakin merasa bersalah. Teringatlah pesan gurunya.


Jadilah orang baik


"Ahh, guru, maafkan muridmu yang durhaka ini," Sung Han semakin merasa menjadi orang jahat yang bahkan lebih jahat daripada orang-orang jahat pada umumnya. Di mana kejahatannya dilakukan secara tidak langsung, ia merasa kesengsaraan dua orang gadis itu adalah salahnya.


"Biarlah, anggap saja ini penebusan dosaku," Yang Ruan akhirnya berkata sambil tersenyum pahit. "Pelacur hina yang mengharapkan seorang kekasih. Betapa lucunya."


"Yang Ruan!!" Sung Hwa membentak. Gadis ini paling tidak suka jika Yang Ruan mengungkit-ungkit masa lalunya.


Sung Han termenung dalam diamnya. Lalu mendekati Yang Ruan setelah beberapa lama kemudian. "Yang Ruan, kau bawalah Pedang Gerhana Bulan ini."


Satu permintaan yang tak tersangka-sangka. Dua gadis itu melongo.

__ADS_1


"Kenapa harus aku?" Yang Ruan bertanya bingung.


"Sekadar untuk melindungi dirimu sendiri. Tapi sembunyikanlah di balik jubahmu," Sung Han berkata. "Setelah ini pasti aku akan jadi incaran orang."


"Lalu jika aku membawa satu, kau tidak jadi diincar orang?"


Sung Han menggeleng. "Bukan begitu. Hanya saja jika aku harus mati nanti dan pedangku terampas, setidaknya satu pedang lain masih berada di tangan orang baik," Sung Han menjelaskan dan memohon setelahnya. "Yang Ruan, tolong."


Yang Ruan terenyum. Senyum yang tak semanis dulu. Senyum yang mengandung sejuta duka. "Maaf, aku tak bisa menerimanya."


"Kenapa?"


"Aku tak bisa menerimamu," Yang Ruan berkata. "Tidak lagi. Jadilah sahabat terbaikku Sung Han, itu sudah lebih dari cukup."


Sung Hwa miringkan kepala heran. Sedangkan tatapan Sung Han menyendu. Ia paham apa maksudnya.


Kutukan pedang gerhana, salah satunya adalah, jika pemiliknya laki-laki dan perempuan, maka keduanya akan menikah.


Sekarang, dari pertempurannya melawan Kay Su Tek, sudah dibuktikan kebenaran ucapan itu. Sung Han mulai percaya dengan kutukan itu.


Yang Ruan pun paham, maka penyerahan pedang ini merupakan semacam lamaran secara tidak langsung.


Yang Ruan tersenyum kecil. Mengelus kepalanya. "Aku mencintamu, amat mencintamu Sung Han. Aku tak bisa mengorbankan kebahagiaanmu. Bagaimana bisa aku mengecewakan sosok penyelamatku?"


"Kau tidak mengecewakanku. Aku rela–"


"Sung Han, aku merasa hina," potong Yang Ruan cepat. "Aku tak cukup layak untuk bersanding dengan siapapun juga. Aku sudah ternoda. Terlalu kotor dan menjijikkan. Biarlah setelah ini aku mengambil jalan biksuni untuk meminta ampun."


Sung Hwa dan Sung Han terbelalak.


"Yang Ruan, jangan melantur!" bentak Sung Hwa.


Seolah tak menghiraukan bentakan Sung Hwa, Yang Ruan berdiri dan berjalan tertatih-tatih menjauhi mereka. "Selamat tinggal, hati-hatilah ketika keluar dari wilayah gunung ini," sebelum benar-benar pergi, dia menoleh sekali lagi. "Semoga kita bisa bertemu di lain waktu. Dalam keadaan yang lebih baik tentunya." Air matanya menetes.


Sebelum dapat dicegah oleh mereka, tubuhnya sudah berkelebat lenyap tanpa meninggalkan bayangannya sedikit pun. Sung Han dan Yang Ruan terbelalak, dalam keadaan yang sunyi dan hening ini, tanpa terasa air mata keduanya mengalir deras.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2