Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 218 – Keputusasaan Sung Han


__ADS_3

Sung Hwa kebingungan hendak melakukan apa karena untuk saat ini, orang yang paling ia percayai adalah Sung Han. Tak ada seorang pun di benteng ini yang bisa ia percayai, karena semua orang tentu memusuhi pemberontak Rajawali Merah.


Sung Hwa membawa Sung Han ke hutan dan menyuruhnya untuk beristirahat di sana. Dengan raut khawatir dan takut, pemuda itu bertanya.


"Apa yang akan kaulakukan?"


Masih sibuk untuk merias wajahnya agar kembali menjadi sosok Han Ji, Sung Hwa menjawab. "Jangan sampai pasukan yang menggempur desa Alang-Alang sampai sini."


"Aku tanya kau akan melakukan apa," sahut Sung Han. "Bukan bertanya mengenai tanggapanmu."


Sung Hwa mendengus, menatap Sung Han dengan bibir memgerucut. "Diam saja di sini bisa tidak? Aku pun ada rencana untuk menghentikan mereka."


Sung Han masih terlalu lelah untuk mendebat. Lukanya sungguh parah sekali, baik luar maupun dalam. Samurai-samurai jenderal Fujimiro amat kuatnya. Bahkan ketika Sung Han bentrok dengannya, dan dia dibantu beberapa samurai, ia menjadi kewalahan.


Ilmu pedang samurai pasukan Fujimino Shiro amat jauh berbeda dengan milik pasukan jenderal Suga. Perbedaannya bagaikan bumi dan langit. Sekarang Sung Han malah ragu apakah jenderal Suga berhasil mendapatkan posisi jenderal dengan tangan bersih.


Ia mengamat-amati seluruh tubuhnya, mengumpat dalam hati mengapa dalam keadaan gawat seperti ini, dia sama sekali tak berdaya. Akhirnya Sung Han putuskan untuk menghimpun hawa alam sekitar. Akan tetapi baru juga dirasanya aliran hawa alam masuk, rasa sakit menusuk dadanya dan dia muntah darah.


"Jangan paksakan dirimu," sergah Sung Hwa dan mengangkat tubuh Sung Han, menyandarkannya pada batang pohon. "Kau tahu seberapa parah keadaanmu–"


"Aku tahu!!" Sung Han meraung. Wajahnya terlihat merah karena marah, namun di sisi lain matanya menyinarkan keputusasaan. "Aku tahu ...." sambungnya lirih.


Sung Hwa memandangnya sendu. Ia tahu seberapa keras hati seorang pria, apalagi pendekar. Jika sekali dia menyatakan diri sebagai pendekar, dia akan merasa malu sekali ketika tidak mampu menyelesaikan tujuannya sampai akhir. Lebih memalukan lagi ketika dia masih hidup dan melihat semua kegagalan itu.


Sung Han nampak lelah, letih lahir dan batin. Sung Hwa mampu melihat itu dan mencoba memahami hati Sung Han. Pemuda itu agaknya ingin cepat-cepat mati dengan membantu penahanan pasukan yang datang dari barat, dari desa Alang-Alang.


Hati Sung Hwa terasa sakit ketika mengingat betapa pemuda itu, menyaksikan segala macam perkosaan, pembunuhan, dan pengorbanan saudara-saudara segolongan tanpa mampu membantunya. Dan dia hanya bisa lari. Sung Han pasti menganggap diri sendiri sebagai pengecut.


"Kenapa kau memilih pergi saat itu? Tidak ikut mati bersama yang lain?" Pertanyaan ini terdengar amat kejam. Namun nada suara Sung Hwa sama sekali tidak mengejek. Halus penuh pengertian.


"Jika aku mati, apa bedanya? Negara ini hanya akan runtuh, dan itu sama saja aku lari dari kenyataan," jawab Sung Han lirih. "Ketika aku lari dari sana, tindakanku lebih pengecut lagi. Tapi setidaknya aku bisa memberi kabar di sini, dan setelahnya, sekecil apa pun itu, aku berharap ada peluang untuk menang. Beruntung aku bertemu denganmu, sehingga tak perlu repot-repot memikirkan cara bagaimana menyampaikan pesan ini kepada para jenderal."


"Kau tak punya pilihan. Ah, kau dipaksa menjadi seperti pengecut ...."


Sung Han menatap Sung Hwa dan seketika matanya melotot penuh kemarahan. Sung Hwa sedikit gemetar untuk ini.

__ADS_1


"Aku tak minta kau mengasihaniku! Siapa takut mati? Sekali ini aku akan turun ke pertarungan langsung, Pedang Gerhana Matahari akan menunjukkan taringnya!"


"Sung Han tenanglah ...."


Sung Han kembali muntah darah karena memaksa untuk meditasi. Agaknya pusat tenaga dalamnya terluka parah sehingga bahkan untuk menyerap hawa alam, dia tidak mampu.


"Memang aku tak layak memiliki pedang ini. Kurasa aku mulai iri dengan keteguhan hati Kay Su Tek yang tegas mengambil keputusan tanpa kenal takut akan risikonya." Pemuda itu tersenyum pahit.


"Sung Han ...." Sung Hwa menekan pundak pemuda itu. Mencengkeramnya. Membuat Sung Han sedikit mengerang menahan sakit. Namun Sung Hwa tak beranjak dan menatap kedua mata pemuda itu. "Sung Han, apa kau percaya padaku?"


"Siapa lagi yang dapat kupercaya?"


Sung Hwa tersenyum. "Kalau begitu diam lah di sini dan sembuhkan luka-lukamu perlahan. Lakukan meditasi sebagaimana menghimpun hawa sakti, itu bisa sedikit meringankan luka dalam di pusat tenaga dalammu."


"Heh, dari mana kau tahu itu?"


Sung Hwa tersenyum bangga. "Agaknya tak ada satu manusia pun di dunia ini yang paham soal hawa sakti sepaham guruku."


Sung Han diam. Memandang bingung.


"Aku juga tahu itu. Guruku juga mengajariku seperti itu." Sung Han merengut. "Aku tadi mencobanya, dan kau lihat–"


"Sung Han." Sung Hwa memotong, dan entah bagaimana Sung Han tak berani melawan. "Kau tadi sama sekali tidak berniat menyembuhkan lukamu."


"Kau tahu apa? Aku–"


"Sung Han."


Sung Han diam, lalu menundukkan kepalanya. "Aku tak mau terlihat lemah. Aku tak mau hanya berdiam diri di sini sedangkan melihat semuanya hancur berantakan."


Sung Hwa tersenyum. "Kapan kira-kira pasukan dari sana akan sampai di sini?"


"Mungkin sampai kalian menjadi lemah. Jika kalian terus mengulur waktu dengan bertempur di sini, mungkin saja mereka juga akan menunggu sampai kalian tak kuat menahan gempuran barisan armada mereka."


Sung Hwa mengangguk. "Aku akan mengabari para jenderal."

__ADS_1


Setelah gadis itu bangkit dan hendak pergi, Sung Han menarik tangannya. "Kau bodoh, bagaimana mereka dapat memercayaimu? Kau tak punya bukti, bahkan kau bisa saja tak memercayaiku saat ini."


"Hahaha," Sung Hwa tertawa tiba-tiba. "Sung Han, aku seorang wanita. Juga pendekar dan pembela bangsa. Kau tahu, aku rela mengorbankan apa pun untuk kemenangan kita."


Sung Han diam, menunggu kalimat selanjutnya dari Sung Hwa. Namun gadis itu hanya tersenyum saja sambil memandang padanya, seakan tak berniat menjawab.


"Lalu?"


Senyum Sung Hwa makin lebar. "Kalau perlu, aku bisa menggoda mereka agar percaya."


...****************...


"Aku yakin, sekarang lebih baik kita pergi ke sana menyelidik. Bagi kita, apa susahnya menyelinap ke luar?"


Nie Chi dan Khuang Peng mengangguk-angguk setuju dengan usul Han Ji itu. Keduanya saling pandang dan kembali mengangguk.


Khuang Peng berkata. "Usulmu bagus, nona."


Han Ji tersenyum sumringah dan harapan baru muncul di benaknya. Siapa di sini yang berani memandang sebelah mata kepada Pendekar Pedang Darah dan Pendekar Tongkat Besi. Kalau pun para jenderal menganggap mereka sebagai petualang liar, setidaknya kaum pendekar akan sangat menghormati dan memercayai segala omongan dua orang itu.


Han Ji sebelumnya telah berkata pada Sung Hwa untuk merayu para jenderal jika perlu. Tapi dia bukanlah gadis bodoh bersifat lacur rendahan, tentu saja hal itu hanya menjadi pilihan terakhir untuk dilakukan jika segala macam daya upaya tak ada yang berhasil.


Dia juga tak ingin menyerahkan tubuhnya cuma-cuma kepada para pria tua itu. Bisa-bisa dia tak akan keluar lagi dari tenda mereka. Karena dia cukup bangga dengan bentuk tubuhnya. Dia sudah bersumpah akan menggunakannya hanya untuk melayani sang suami kelak, jika melanggar maka mati!


Dan sekarang dua orang itu telah memercayainya, untuk apa mengkhawatirkan soal penyerahan diri? Maka malam hari itu juga, Sung Hwa, Nie Chi dan Khuang Peng menyelinap keluar dari benteng dan pergi ke barat. Melakukan penyelidikan.


Mereka berpesan kepada para penjaga jika ketiganya akan pergi dan mungkin besok siang baru kembali lagi.


Para penjaga mengangguk karena menurut perkiraan para jenderal, besok Jeiji tidak akan menyerang lagi karena kerusakan yang mereka terima cukup parah. Sehingga mungkin memerlukan beberapa waktu untuk memulihkan diri.


Di sisi lain, kekaisaran Chang juga tak berani balas menyerang. Dengan begitu, maka keadaan mereka juga menjadi makin lemah. Bagaimanapun juga, kekaisaran Jeiji punya armada dan kapal perang besar. Pertempuran air tak menguntungkan.


Dengan kecepatan seorang pendekar sejati, sebentar saja mereka telah meninggalkan jauh wilayah benteng. Untuk seukuran mereka, hanya kecepatan lari biasa saja sudah beberapa kali lipat lebih cepat dibanding lari kuda. Sehingga mungkin dalam semalaman, mereka sudah bisa sampai di perbatasan dan mengintai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2