
Dua puluhan ronin itu menjadi bingung juga terbelalak. Entah apa yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan mereka. Takut, kaget, heran, penasaran, semua menjadi satu hingga tak ada yang mampu menggerakan seluruh anggota badan.
Setelah muka pimpinan ronin itu kena disambit seuntai tasbih besar, keadaan menjadi tegang. Hal ini saja membuktikan betapa tinggi kepandaian si penyambit itu karena mampu mengenai muka pimpinan ronin dengan mudah. Mengingat kepandaian pemimpin ronin itu bukan kacangan.
Seorang sosok tinggi bermantel hitam serta bercaping lebar berdiri di hadapan mereka semua. Mendengar suaranya tadi, semua orang berpikir bahwasannya yang baru datang tadi pastilah masih muda.
Namun mata yang mencorong itu seakan mampu menghunjamkan belati-belati ke benak mereka. Tubuh mereka gemetar.
"Eh, kenapa diam?"
Ucapan pembuka yang terdengar polos ini menyadarkan mereka semua. Seolah baru sadar kalau ada manusia lain yang berdiri di hadapan mereka.
Pemimpin rombongan itu cepat-cepat memulihkan diri dari rasa terkejutnya. Dia membentak untuk sekadar mengusir rasa jerinya yang sempat timbul tadi. "S-siapa kau? Dan apa hubungannya dengan paea biksuni ini?"
Xian Fa memandangi mereka satu per satu, mengamati setiap wajah asing itu dengan seksama. Sesaat kemudian, dia sudah menarik kesimpulan bahwa dua puluh orang ini tidak akan ada yang mampu mencelakakannya. Bahkan dengan keroyokan sekali pun.
"Ah, pasti anda yang telah menjatuhkan tasbih itu?" tanya Xian Fa seraya menjura ke arah nenek biksuni. Yang kelihatan paling tenang dan bijaksana. Xian Fa melihat tidak ada kalung di lehernya.
Nenek itu tersenyum dan mengangguk-angguk. "Tidak salah dugaanmu anak muda," dia mengamati tubuh Xian Fa dari atas sampai bawah. "Siapa namamu?"
"Xian Fa, datang dari utara."
Nenek itu mengangguk-angguk, namun keningnya sedikit berkerut. Ia melirik ke belakangnya, melihat gadis muda yang meringkuk dalam pelukan saudari-saudarinya. Yang memandang Xian Fa itu sedikit kecewa.
"Ah, kau mirip seseorang yang kukenal. Dahulu. Kiranya bukan," nenek itu berkata sambil menghela napas.
Percakapan yang terdengar santai dan mengalir tanpa dibuat-buat ini seolah sedang dilakukan bukan di tempat gawat. Hal ini membuat para ronin itu menjadi berang karena merasa diacuhkan. Ketika Xian Fa hendak membuka mulut, pimpinan ronin itu sudah mengambil tasbih yang tadi menghantam wajahnya dan melemparkannya ke wajah Xian Fa.
Lemparannya begitu cepat, terdengar angin berdesingan ketika tasbih itu berputar di udara. Namun dengan enaknya Xian Fa hanya mengangkat jari telunjuk kanannya dan begitu tasbih itu sampai, dengan sempurna tasbih itu sudah melingkari tangannya, ditahan dengan jari telunjuk tadi.
"Kau tidak sopan, bagaimana kalau kau merusaknya?" Xian Fa lalu mengantongi tasbih itu.
Setelah itu dia tak mau main-main lagi, kembali matanya mengekuarkan sinar mencorong bagai mata naga, menyapukan pandangannya di antara dua puluh ronin itu.
"Kalian mata-mata Jeiji?" tanyanya penuh intimidasi.
__ADS_1
"Kami ronin, bukan samurai!"
"Kau pikir aku cukup bodoh untuk mengetahui bahwa dalam penjajahan kalian, pasukan ronin juga bersekutu dengan para smaurai?" balas Xian Fa. "Sepertinya sudah tidak ada waktu untuk kita saling bercakap-cakap. Kalau akhirnya harus beradu pedang dan kepandaian, mengapa tidak dilakukan sekarang saja agar selesai lebih cepat?"
"Kau berani!" pimpinan itu mencabut katana diikuti seluruh anak buahnya. "Cabut senjatamu dan mari kita adu ilmu."
Terdengas dengusan yang jelas sengaja dikeras-keraskan. "Aku tak bawa senjata."
"Bohongmu kurang baik. Lalu apa gunanya jubah panjang itu jika bukan untuk menyembunyikan segala trik kotor? Hayo keluarkan seluruh senjatamu, kau pikir kami takut?"
Xian Fa menaikkan capingnya, sehingga wajah bagian atasnya nampak sedikit jelas. "Hoh, kau kiri jubah ini untuk menutupi trik kotor?" lalu terdengar suara kekehan. "Maksudmu, seperti ini?"
"Syuutt!!"
Saat ucapan itu baru saja berhenti, tiba-tiba Xian Fa melakukan gerakan aneh dan entah bagaimana sudah tiba persis di depan hidung pimpinan ronin itu. Lebih-lebih lagi, tangan kanannya sudah terulur mengarah dahi dengan sebuah totokan mematikan.
Tentu saja ronin itu tak mau memeberikan kepalanya secara cuma-cuma. Ia tebaskan pedangnya dari bawah kanan ke atas kiri. Jika berhasil, tentu akan memotong tubuh Xian Fa jadi dua.
"Tingg....bugg!!"
Kawan-kawannya sibuk membantunya untuk bangkit berdiri. Setelah tubuhnya sudah dapat tegak kembali, ia memelototi Xian Fa.
Akan tetapi sejatinya itu merupakan satu tindakan pencegahan untuk tidak memperlihatkan rasa jerinya. Dia maklum betapa jika tadi Xian Fa ingin, maka dapat dengan mudah mampu membunuhnya dengan totokan kilat di ulu hati.
"Itu yang kau sebut trik kotor?" tanya Xian Fa acuh sembari memandangu kuku-kuku jarinya. "Jika memang benar, aku masih punya banyak trik-trik semacam itu untuk kutunjukkan."
Namun basa-basi Xian Fa tak dipedulikan lagi karena pada saat itu, pimpinan ronin ini sudah berteriak memberi komando disusul suara berdesingnya banyak senjata yang menargetkan tubuh Xian Fa.
Pemuda itu tak bergerak, seolah tak tahu akan datangnya serangan. Akan tetapi begitu lima orang terdepan sampai di hadapannya, nampak bayangan berkelebat ketika Xian Fa menggerakkan kaki tangan dan lima orang itu terpental seketika. Terpelanting ke sana-sini sehingga sejenak menghentikan gerak para ronin lainnya.
"J-jangan takut! Maju!!" pimpinan ronin itu mencoba memengaruhi anak buahnya dan dia menerjang.
Xian Fa masih tak acuh, dia mendengus sambil menghindar. Lalu menggerakkan kaki ketika dari kanan datang serangan.
"Dukk!!"
__ADS_1
Penyerang itu terhuyung lima langkah. Xian Fa melanjutkan serangan berupa sikutan ke dada pemimpin ronin yang sudah kembali menerjang.
Para biksuni menonton dalam senyap, seolah-olah mereka sudah lupa caranya bicara. Yang bisa mereka lakukan hanyalah bernapas dengan memburu akibat dari deguban jantung yang kian mengeras.
Yu Ping lah yang paling tertarik dari semua orang. Postur tubuh orang itu sama sekali tidak asing baginya. Bahkan mata itu...mata kuning rembulan itu.
"Kak Sung Han..." tanpa sadar ia bergumam lirih.
Saudari-saudarinya yang memahami ini memeluknya lebih erat dengan perasaan penuh iba.
Sekitar seperempat jam kemudian dan Xian Fa sudah berhasil meratakan rombongan ronin itu. Dengan luka seminimal mungkin dan berusaha untuk tidak menumpahkan darah, Xian Fa menghabisi mereka semua dengan totokan kilat.
"Maaf sudah membunuh orang di depan kalian." katanya seraya berjalan menghampiri. "Ini." Xian Fa menyerahkan tasbih itu kepada nenek biksuni yang menerimanya penuh rasa syukur.
"Terima kasih...terima kasih...kau menyelanatkan kami semua."
Xian Fa menggeleng. Dia menjura sekali lagi dan berbalik pergi. Seolah semua itu tak pernah terjadi sebelumnya.
"Nenek...." Yu Ping berkata kepada pimpinan biksuni itu dengan mata berair.
Sosok Xian Fa sudah pergi jauh, di balik kegelapan malam. Entah sudah berapa jauh pemuda itu pergi.
Nenek ini menoleh memandang Yu Ping sejenak. Lalu mengangguk singjat seraya tersenyum. "Baiklah."
Yu Ping nampak girang. Cepat ia ambil sebatang kayu dan membakarnya dengan api unggun. Lalu dia pergi mengejar Xian Fa yang sudah tak terlihat lagi sosoknya. Yu Ping mengejar sembarangan, dia hanya ingat bahwa sosok itu pergi menuju selatan.
Sambil mengandalakn cahaya obornya, Yu Ping berlari kalang kabut di tengah gelapnya malam. Apalagi karena pohon-pohon besar itu, membuat keadaan menjadi angker. Tapi Yu Ping menahan-nahan perasaan ngerinya dan terus mengejar.
Dia melihat siluet hitam berjalan di kejauhan sana, ia mempercepat langkah.
"Kak Sung Han...!!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1