Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 103 – Kekuatan dari Dewa


__ADS_3

Sudah sekitar seminggu lamanya Sung Hwa, Yu Nan Sia dan Mi Cang tinggal di kerajaan manusia gunung. Setelah tiga hari tinggal di sana barulah mereka paham akan keadaan sekitar.


Ternyata komplek tempat mereka tinggal itu merupakan komplek kumpulan rumah-rumah orang penting dalam kerajaan. Bukan menteri atau pejabat seperti di kekaisaran, melainkan berbagai kepala suku yang tersebar di seluruh lereng Pegunungan Tembok Surga ini.


Sedikit cerita, sudah sejak lama sekali manusia-manusia gunung itu hidup damai di antara mereka sendiri. Dan hal ini juga yang menjadi awal mula kebencian mereka terhadap kaum pendekar timbul.


Dahulu sekali, agar lebih mudah gunakan saja acuan ketika masa Pendekar Hantu Kabut masih hidup, ada satu sosok pendekar yang menjadi raja di salah satu suku manusia gunung. Tidak ada yang tahu namanya, dia hanya mengaku berjuluk Naga Emas.


Dia amat pandai bahasa manusia gunung karena gurunya dulu adalah manusia gunung. Dia merupakan orang yang dimuliakan karena pandai ilmu silat dan pandai dua bahasa. Bahasa mansia gunung dan manusia dataran rendah. Naga Emas pula yang menyatukan seluruh suku untuk pertama kalinya.


Tapi karena kesombongannya sendiri, para manusia gunung sering terlibat bentrok dengan orang-orang dataran rendah. Bahkan mereka juga pernah melawan Pendekar Hantu Kabut bersama kawan-kawannya. Itulah pertama kalinya mereka menganggap Naga Emas tidak setia terhadap kaum sendiri. Inilah yang membuat mereka membeci para pendekar.


Seperginya Naga Emas, manusia gunung kembali terpecah belah. Banyak raja-raja yang memimpin beberapa suku dan saling berperang satu sama lain. Saat itu, munculah satu orang misterius yang sangat-sangat kuat dan berhasil mendamaikan seluruh suku manusia gunung. Dia inilah seorang raja yang mengusulkan untuk berkenalan dengan desa-desa sekitar.


Dan sejak saat itu, seluruh kepala suku dikumpulkan menjadi satu di suatu tempat, itu tak lain berada di komplek tempat Sung Hwa tinggal inilah.


Selama hidup di sini, Sung Hwa hidup berkecukupan. Dilayani dan dihormati sekali. Pakaiannya selalu bersih dan bagus. Di kepalanya menggunakan topi bulu yang berhias tiga batang bulu merak, sama persis seperti di gambar. Hanya saja kalau diperhatikan, ada yang sedikit berbeda. Tapi topi di kepalanya itu tetap indah, tak kurang dari yang di gambar.


Pagi hari itu dia sedang duduk di belakang kediamannya, menikmati keindahan alam berupa gugusan pohon-pohon tinggi besar yang seolah tak berujung. Mendengar nyanyian alam berupa kicau burung-burung yang membangun rumah di setiap batang pohon. Berbagai macam jenis kupu-kupu hinggap di atas bunga-bunga cantik tak jauh darinya. Sung Hwa tersenyum melihat itu dan datang menghampiri.


"Nona...."


Suara ini mengurungkan niatnya yang hendak menyentuh salah satu kupu-kupu. Ia berbalik dan tersenyum. "Kiranya engkau, ada apakah?"


Mi Cang, dia lah orang itu. Entah mengapa, semenjak tinggal di sini Sung Hwa merasa ada perbedaan dalam diri pemuda tersebut.


"Nona, saya selalu merasa aneh dan tidak nyaman. Kita di sini seperti tawanan." katanya dengan raut wajah sulit diartikan.


Sung Hwa menghela napas, "Mi Cang, sudah berapa kali kau katakan itu? Asal kita bertiga selalu bersama, aku yakin tak akan ada masalah. Kau percayalah pada nonamu."

__ADS_1


Mi Cang menunduk dalam. Lantas dia berbalik pergi, "Aku selalu mengikuti nona ke manapun anda akan pergi." katanya sambil menjauh.


Entah kenapa, selama seminggu ini lambat laun dia mulai terpengaruh dengan ucapan Mi Cang itu. Namun dia selalu berusaha menepis berbagai macam pikiran buruk. Sung Hwa pergi dari pelataran rumahnya untuk berjalan-jalan.


Di ujung sana, terdapat satu tanah lapang yang cukup luas. Tempat ini Sung Hwa tahu sebagai lapangan latihan para tentara khusus. Sekitar dua ratusan orang sedang melakukan gerakan-gerakan menyerang atau bertahan di sana.


Seperti biasa, tabib hebat dari kerajaan manusia gunung itu yang jadi pemimpin.


Atas desakan dan paksaan dari Chunglai sendiri, maka Sung Hwa memanggil namanya secara langsung.


"Chunglai."


Pria itu menghentikan gerakan dan menoleh, ia tersenyum lembut, "Ah...nona, ada apa datang ke mari pagi-pagi begini?"


Sung Hwa tak langsung menjawab. Ia justru mengamati dua ratusan orang itu lebih teliti.


Pria tiga puluhan tahun yang masih nampak muda itu tertawa sejenak lantas menjawab, "Hahaha....asal nona tahu, dahulu nona sendirilah yang paling hebat. Sekumpulan orang ini mana ada artinya untuk anda?"


Sung Hwa terkejut sekali, juga amat tertarik. Kiranya nona Songli yang diagung-agungkan seluruh rakyat itu adalah orang hebat. Dia berkata lagi, "Lalu mengapa engkau tak mengajariku? Agar aku bisa sekuat dulu? Bisa saja dengan itu ingatanku kembali?"


Kali ini tawa Chunglai makin keras, "Hahahaha...inilah yang kutunggu-tunggu. Aku terlalu sungkan dan kurnag ajar untuk mengajukan diri sebagai pembimbing nona. Tapi jika nona meminta, mana bsia saya tolak?"


Sung Hwa girang sekali mendengar ini. Matanya cukup tajam untuk mengenali ilmu tingkat tinggi, dan sekali lihat saja gerakan dua ratusan orang itu, sungguhpun asing sekali, namun bukan gerakan lemah.


Dengan semangat dia mengangguk setuju. Dan pada hari itu jugalah dia secara tidak langsung menjadi murid Chunglai.


...****************...


Sebulan telah berlalu dan kenyataan hebat diterima oleh Sung Hwa. Mi Cang dan Yu Nan Sia yang mendengar berita itu hanya mampu melongo sambil geleng-geleng kepala saja.

__ADS_1


"Benarkah itu nona?"


"Benar, Chunglai sendiri yang bilang."


Mi Cang yang tadi bertanya, menutupi mukanya saking terkejut dan terguncang hatinya. Tubuhnya bahkan gemetaran.


"Tapi untuk yang lainnya, mereka sekuat kalian berdua. Tapi, jika kalian melawan satu orang sjaa di antara mereka, kalian lah yang kalah."


"Apa!?" pekik Yu Nan Sia saking terkejutnya.


Sebenarnya apakah yang membuat mereka terkejut? Itu adalah soal ilmu tarung dari orang-orang manusia gunung.


Seperti yang diucapkan oleh Chunglai di rumah kepala desa, bahwasannya para pendekar terlalu sombong dengan kepandaian sendiri sampai melupakan dewa mereka. Hanya bermodalkan tenaga dalam saja.


Kiranya di sini Sung Hwa juga diajari meditasi, namun bukan untuk menyerap tenaga dalam, melainkan sesuatu yang lain.


Saat hawa alam memasuki tubuhnya, atas perintah Chunglai, dia menyuruh hawa alam itu dipadatkan pada suatu tempat di bawah pusar. Saat itu terjadi, Sung Hwa merasakan kekuatan aneh yang sangat kuat keluar dari dalam dirinya.


Ketika dia bertanya, Chunglai menjawab, "Itu kekuatan dari dewa." katanya sumringah mengetahui keberhasilan nonanya. "Walaupun nona harus menjalani latihan dari awal, namun anda sudah berhasil membangkitkannya lagi."


Saat itu, Sung Hwa bertanya lagi soal apa yang dibangkitkan itu. Dan inilah yang membuat ketiganya terkejut.


"Aku pasti tak salah dengar. Saat itu Chunglai berkata dengan jelas." Sung Hwa menghentikan ucapannya sejenak.


"Dia bilang, kekuatan dari dewa itu disebut dengan hawa sakti!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2