
Sebenarnya Sung Han merasa ada yang aneh dengan cahaya itu, ia sama sekali tidak berpikir atau percaya itu adalah pedang gerhana. Tapi entah bagaimana, hatinya tertarik karena pedang gerhana memang mengeluarkan sinar-sinar aneh.
Maka dia mengikut saja saat orang-orang dengan berbondong-bondong mencari jalan turun ke bawah.
Mereka lari ke satu lereng yang tak begitu curam, di sana terdapat jalan menurun namun terlihat sangat sukar. Tapi walaupun begitu orang-orang tetap nekat dan turun melalui jalan itu. Semuanya berebut.
"Wah...wah...wah...orang-orang serakah." komentar Sung Han yang diangguki oleh Bao Leng.
Bao Leng, Ky Su Tek dan Sung Han merupakan tiga orang berkepandaian tinggi. Maka mereka menunggu orang-orang lain turun lebih dulu sedang tiga orang ini turun terakhir.
Walau turun terakhir pun, tetap saja orang-orang yang sebelumnya turun lebih dulu dapat terkejar.
Jurang ini dalamnya bukan main, dan makin dalam jalan makin licin serta sulit. Bahkan di kedalaman tertentu, jalan benar-benar hilang dan memaksa semua orang untuk merayap turun melintasi dinding cadas berbatu.
Kegelapan mulai menyelimuti mereka, cahaya matahari hanya mampu menerangi sedikit tempat yang terlalu dalam ini.
Selang dua jam, barulah mereka tiba di dasar jurang yang gelapnya keterlaluan, padahal hari masih siang. Mulailah orang-orang itu berinisiatif menyalakan obor menggunakan ranting kering yang berserakan di sana.
"Cari!" seru pemimpin salah satu rombongan. Begitu Sung Han perhatikan ternyata mereka adalah rombongan pertama yang menemukan cahaya dasar jurang.
Seruan ini seolah menjadi perintah semua orang yang lekas bergerak mencari-cari. Bermodalkan obor sebagai cahaya penerangan, mereka menyusuri jalan jurang yang gelap itu.
Karena memang sedari awal Sung Han tidak terlalu tertarik, maka dia hanya mengikut kemana Bao Leng dan Kay Su Tek melangkah. Sedangkan dia malah lebih fokus memandangi dinding jurang yang tinggi di kanan dan kiri.
Terdapat goa-goa di dinding jurang itu, entah terbentuk karena apa Sung Han tak ingin tahu. Tapi dari bawah sini lamat-lamat dapat ia lihat ada semacam cahaya dari dalam goa. Tak hanya satu goa, ada beberapa.
Matanya memicing tajam, mencoba memperjelas pandangannya namun percuma, terlalu jauh. Maka ia menganggap kalau itu mungkin memang warna batu langit-langit goa yang mirip cahaya obor. Sung Han tak mempedulikan itu lagi.
Setelah sibuk mencari-cari, akhirnya mereka mencapai ke sebuah tempat lapang. Di tengah-tengahnya, ada semacam gundukan tanah yang di atasnya ada sebuah benda bercahaya redup.
"Itu dia!!" seru beberapa orang bersamaan.
"Pedang Gerhana Bulan!"
Di atas gundukan itu, menancap sebatang pedang dengan gagahnya. Mengeluarkan cahaya biru redup yang menarik perhatian banyak orang. Ukiran-ukiran di bilahnya itu sungguh indah.
__ADS_1
Tapi, Bao Leng dan Sung Han saling lirik dengan kening berkerut.
Tanpa dikomando lagi, orang-orang yang sudah amat penasaran dan menginginkan pedang itu segera menyerbu maju. Gelombang pertama ada dua puluh orang dari perkumpulan berbeda yang menubruk pedang itu.
"Akhhhhh–Aargggghhh!"
Tak berselang lama, terdengar jeritan-jeritan nyaring dari dua puluhan itu. Kiranya ada bayangan kehijauan yang melesat entah dari mana menerjang mereka, sampai menyisakan lima orang saja.
"Itu Putri Elang!" orang itu kaget melihat dua perwakilan Putri Elang yang sudah bergerak sigap menghadang jalan. Sedangkan anggota yang lain sudah mendekati gundukan tanah itu.
Tiba-tiba salah satu dari penghadang jalan itu berseru nyaring seraya berbalik. Suaranya nampak ngeri dan kaget, "Nona awass!!!"
Wanita bercadar yang letaknya paling dekat dengan gundukan tanah langsung berbalik dan betapa kaget hatinya ketika ada sebuah tombak panjang hampir menusuk matanya.
"Syuutt!!"
Cepat ia mengelak dengan memundurkan badan atasnya sehingga tombak itu lewat saja tanpa mengenai sasaran. Dan dia berseru tertahan ketika sedetik kemudian tombak itu melanjutkan gerakan dengan bacokan kuat.
"Aihhh!!" gadis ini bergulingan dan sebentar saja sudah bertanding hebat melawan si pemegang tombak. Begitu pula dengan tujuh orang rombongan pria bertombak itu yang sudah menerjang belasan anak Putri Elang.
Bao Leng maju setindak dan mengamati pedang itu sungguh-sungguh. Makin lama dipandang, makin dalam kerutan di wajahnya yang menandakan bahwa orang ini juga merasa aneh dan tak beres.
"Ada apa memangnya? Bukankah kita datang ke mari untuk ini?" Kay Su Tek tampak tak puas dan berusaha melepas paksa tangannya, tapi Sung Han terus mencekalnya.
"Kau akan tahu nanti." kata Sung Han serius dengan mata melotot lebar.
Kekacauan itu terus berlanjut dan mereka semua sibuk membela diri di samping membunuh-bunuhi orang dari perkumpulan lain. Yang mereka pikirkan adalah perkumpulan sendiri dan nyawa pribadi tentunya.
Ruangan luas di dasar jurang itu nampak gemerlapan dengan sinar-sinar obor yang berkelebatan dibarengi senjata seseorang. Teriakan-teriakan menggema sampai ke permukaan jurang diiringi cipratan darah segar.
Ini perang!!!
"Sungguh....apa ini?" Bao Leng berkata gusar, "Mereka saling bunuh!"
Sung Han hanya diam di belakang sana, diam-diam ia mengamati sekeliling kalau semisal ada senjata nyasar.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Kita tunggu atau merebut pedang itu?" Sung Han bertanya kepada Bao Leng.
Lelaki ini berpikir sejenak, kemudian berkata, "Ayo kita rebut pedang, hanya kita bertiga. Yang lainnya tetap di sini!"
Tanpa menunggu jawaban, Bao Leng sudah melesat menembus kerumunan dan mendaki gundukan tinggi itu. Sung Han mengikut di belakang bersama Kay Su Tek yang sudah memerintahkan rombongannya menanti.
"Syuut–syuut–syuutt!"
Tiba-tiba ada angin tajam yang menyambar ke arah ketiganya. Dengan sigap mereka berjungkir balik untuk menghindari serangan. Tapi kembali ada serangan susulan yang berupa sambitan paku-paku hitam, mereka segera menangkis rontok itu semua.
Sedetik kemudian, ada tiga bayangan hitam berkelebat dan sudah berdiri di hadapan mereka, dekat dengan puncak gundukan tanah itu. Entah siapa mereka Sung Han tak kenal, tapi jelas kalau tiga orang inilah yang tadinya menyambitkan senjata-senjata rahasia.
"Siapa kalian? Minggir!" bentak Bao Leng penuh wibawa.
"Pedang Gerhana Bulan milik kami...." kata salah seorang dingin dan memandang tajam, "Langkahi dulu mayat kami...."
"Keparat!!" Bao Leng melesat maju menggunakan goloknya, sedangkan Kay Su Tek sudah mencabut pedang dan Sung Han mengirim pukulan jarak jauh sebagai serangan pembuka.
"Wuushh–wuushh!"
Dengan mudah dua orang dari mereka menghindari terjangan angin dingin Sung Han. Mereka meloncat ke kanan dan kiri yang segera di sambut hujan serangan oleh Bao Leng serta Kay Su Tek.
Tersisalah satu orang yang berhadap-hadapan dengan Sung Han.
Orang itu tersenyum miring seraya berkata, "Tunjukan kepandaianmu."
Belum juga sempat menjawab, orang ini tiba-tiba sudah melesat mengirim satu pukulan hebat.
"Bukk!!"
Dengan refleks yang terburu-buru, ia menangkis pukulan lawan yang mengarah pusar. Kemudian Sung Han melompat beberapa langkah ke belakang.
"Sialan!!" bentak Sung Han yang kemudian segera meloncat mengirim pukulan hebat pula. Orang itu sambil terus terkekeh-kekeh, menyambut serangan Sung Han.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG