Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 223 – Situasi yang Kacau


__ADS_3

"Oh, soal cerita itu?" Sung Hwa menanggapi, dia sudah mulai paham.


"Ya, kau pasti tahu kan bagaimana Hati Iblis dan Pedang Hitam dapat hancur di Perang Hitam Putih?"


Sung Hwa mengangguk-angguk.


Sung Han melanjutkan. "Nah, menurut cerita yang beredar, Lin Tian si Pendekar Hantu Kabut itu menyusup ke markas mereka, lalu mengadu domba keduanya. Di sini bilang begini, di situ bilang begitu. Akhirnya dua perkumpulan bentrok."


Sung Hwa tentu saja sudah mengenal dengan cerita itu, dan dia sedikit menyayangkan kisah selanjutnya. Betapa Lin Tian terpaksa harus kabur karena rencananya diketahui. Tapi walaupun gagal, namun boleh dibilang hasilnya cukup besar.


Sung Hwa juga sedikit kecewa mengapa pada saat itu orang-orang Hati Iblis tidak habis sekalian di Perang Hitam Putih. Sehingga jika demikian, maka di masa kini tak akan pernah muncul Hati Iblis lagi.


Tapi ada satu hal yang membuat Sung Hwa merasa heran. Maka dia cepat mengutarakannya. "Bukankah sebenarnya kekacauan itu disebabkan oleh dua wanita? Yang bersaing memperebutkan Lin Tian?"


"Eh?" Sung Han melongo. "Aku tak tahu soal itu."


Gadis itu menepuk jidat. "Sudahlah, sekarang kita harus bagaimana?"


"Cari informasi dulu, kita tak tahu siapa musuh kita. Kita juga tak bisa memastikan apakah para pemberontak sudah mulai bergerak."


"Kalau begitu, ayo pergi ke desa terdekat yang biasa kukunjungi untuk membeli bahan makanan."


Mereka segera pergi menuju timur gunung itu, tempat berdirinya satu desa kecil yang cukup makmur. Tak pernah terganggu oleh peperangan, tak juga pernah tersentuh oleh para orang jahat. Namun karena kemakmuran inilah desa itu sering dikunjungi oleh para pendekar. Hanya untuk menenangkan diri.


Mudah saja bagi Sung Han dan Sung Hwa untuk menemukan informasi terkini di sana. Penduduk desa sudah menganggap bahwa pemuda dan pemudi itu merupakan pasangan suami istri yang sakti. Karena bukan sekali saja Sung Han atau Sung Hwa turun gunung mengobati orang sakit.


Apalagi Sung Hwa yang pernah tinggal di kerajaan manusia gunung, tentu dia pun paham akan ilmu obat setelah menjadi murid Chunglai. Dan Sung Han sedikit paham juga setelah diajari gadis itu.


Pada masa itu, setelah meninggalnya kaisar, keadaan istana benar-benar kisruh. Para pangeran berusaha saling tuduh sana-sini untuk menyingkirkan pangeran lain. Berbagai siasat dijalankan agar diri sendiri bisa naik tahta.


Putra mahkota Chang Song Jue pun tak bisa menghindari keributan. Bahkan sudah beberapa kali dalam sehari ada orang-orang suruhan pangeran lain yang hendak membunuhnya. Sejak saat itu, dia selalu dekat-dekat dengan putri Chang Song Zhu. Atas desakan putri itu sendiri, serta bantuan jenderal Tang dan para pendekar, putra mahkota diminta untuk segera naik tahta.


Maka dari itulah, seminggu semenjak kematian kaisar, perdana menteri setia yang cukup tua melakukan siasatnya. Dia adalah seorang sarjana yang pintar sekali membuat sajak, puisi, syair dan kaligrafi.


Setelah berunding dengan putri Song Zhu, putra mahkota Song Jue, jenderal Tang dan beberapa pendekar kepercayaan, salah satunya Khong Tiat, perdana menteri ini lalu diminta membuat surat wasiat palsu.


"Surat wasiat yang menggunakan tulisan kaisar." Demikian putri itu berkata yang segera dituruti oleh perdana menteri.

__ADS_1


Dia lalu membuat surat wasiat yang isinya pengangkatan putra mahkota sebagai kaisar baru menggantikan kaisar. Tulisannya dibuat semirip mungkin dengan tulisan kaisar.


Tak ada orang yang mampu melawan karena semuanya mengira itu memang surat wasiat dari kaisar. Bahkan dengan bantuan selir satu dan dua, seorang yang amat setia dengan kekaisaran, demi meredamkan suasana, mereka mendukung siasat putri Song Zhu. Dan mereka inilah yang menyakinkan orang-orang istana dengan berkata.


"Kaisar sudah membuat surat wasiat sejak pertama kali Kekaisaran Jeiji tiba di selatan."


Itu merupakan perkataan yang terdengar amat meyakinkan dan jelas


Setelah sepuluh hari sejak kematian kaisar, putra mahkota Chang Song Jue diangkat sebagai kaisar baru dan sejak saat itu dialah yang memimpin kekaisaran.


Inilah kabar yang didengar oleh Sung Han dan Sung Hwa setelah mereka berputar-putar di desa sekitar.


"Kota Daun, tempat Chang Song Ci berkuasa!"


"Yang benar saja? Jangan bunuh diri!" Sung Hwa menyangkal.


"Kau dengar apa kata penjual daging keliling tadi kan?" kata Sung Han. "Dia sedang ingin merekrut pengawal-pengawal pribadi dari golongan dunia persilatan. Kita harus jadi salah satunya dan membunuhnya!"


Sung Hwa mengerutkan kening. "Kau tak berpikir membunuh di istananya kan? Bagaimana dengan pengawal yang lain?"


"Kita akan membunuhnya ketika dia melakukan penyerbuan ke kota raja."


"Karena jika Song Ci mati, maka satu masalah selesai. Dan juga, ah ...."


"Apa?" bingung Sung Hwa ketika Sung Han berhenti bicara tiba-tiba.


Sung Han teringat akan sesuatu. Dia akhirnya paham mengapa Chang Song Ci membunuh kaisar dengan selirnya. Agaknya dia ingin menyingkirkan satu-satunya penghalang yang membuatnya tak bisa menyentuh putri Song Zhu. Dengan matinya kaisar, maka putri Song Zhu dan dia tak ada yang melindungi lagi, namun hal itu berarti bahwa keduanya akan segera terlibat dalam pertempuran.


"Selama ini yang membuat putri dan pangeran topeng itu damai-damai saja adalah karena keberadaan kaisar, kan?" tanya Sung Han.


"Ya, dan sekarang kaisar telah ..., ah, jadi begitu. Kita harus segera membunuh salah satunya sebelum keduanya geger!"


"Nah!" Sung Han menunjuk Sung Hwa. "Kekuatan mereka luar biasa. Pasukan pendekar yang menjadi dukungan keduanya bisa mengacaukan medan pertempuran, dan itu hanya menguntungkan pihak Jeiji."


Sung Hwa menundukkan mukanya dan mengusap-usap wajah. Urusan politik benar-benar membingungkan. Dia lebih senang untuk berkelana dan menghajar pantat-pantat para perampok dari pada harus terlibat dalam perebutan kekuasaan yang rumit ini.


"Kita harus ke sana, dan kau tak boleh untuk tidak ikut denganku!" tegas Sung Han.

__ADS_1


Kali ini Sung Hwa terkejut. Alisnya terangkat tinggi dengan wajah sedikit tak senang. Dia amat pantang untuk dipaksa-paksa orang. "Apa maksudmu memerintahku?"


"Kau kan calon istriku! Harus selalu ikut calon suami!"


"Plakk!!"


Sudut bibir Sung Han pecah-pecah karena tak sempat mengelak dari tamparan penuh tenaga dalam gadis itu.


...****************...


"Xian Fa."


"Han ji."


Petugas yang menerima calon-calon pengawal pribadi penguasa kota itu mengangguk sambil mencatat nama dua orang itu.


Dia sedikit terkekeh ketika bertanya. "Nama julukan? Ah, kalian masih begitu muda, agaknya tidak–"


"Setan Tanpa Wajah," potong Sung Han atau Xian Fa.


"Cakar Rajawali," lanjut Han Ji. Tentu saja julukan itu hanya karangannya yang spontan.


Petugas itu sedikit terkejut. Dia tak kenal dengan Cakar Rajawali, namun dia sudah mengenal dengan pendekar Setan Tanpa Wajah. Seorang pendekar yang baru muncul dan terlihat hanya beberapa minggu, atau bahkan hari. Tapi sepak terjangnya mengerikan. Membantai semua orang Jeiji yang terlihat di depan matanya.


"Bisa tolong buka penutup wajah kalian?"


Xian Fa menurunkan penutup wajah dan mengangkat sedikit capingnya. Nampak wajah pemuda yang tampan dan halus seperti batu giok yang dipoles. Pada dagunya terdapat jenggot tipis. Jelas penampilan yang telah dirombak oleh Sung Hwa ini tak akan pernah dikenali orang. Xian Fa pun merasa yakin kalau sekarang tak akan ada orang mampu mengenali dia sebagai Sung Han.


Han Ji pun menurunkan penutup wajah, hanya wajah seorang wanita cantik. Tentu saja wajah Han Ji, bukan wajah Sung Hwa.


Kembali petugas itu mengangguk-angguk. "Kalian akan melewati pengetesan. Dan hasilnya menentukan posisi kalian, menjadi pengawal luar atau pengawal pribadi."


"Tentu saja pengawal pribadi," sela Han Ji percaya diri. "Ingin kulihat siapa yang mampu melampaui kami di sana."


Petugas itu hanya menganggapnya sebagai angin lalu. "Datanglah ke sini tiga hari lagi."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2