
Keduanya terbengong saling pandang satu sama lain. Sung Hwa seolah terlupa akan apa tujuannya datang ke mari, hatinya terlalu kaget dan heran melihat sosok pemuda yang waktu itu hanyut dan meracau tak jelas.
Begitu pun dengan Sung Han, seolah lupa daratan, rahang bawahnya terbuka lebar seolah dapat jatuh kapan saja. Memang sejak awal bertemu ketika dia menjambret roti gadis itu, pemuda ini sudah merasa kagum sekali akan kecantikan Sung Hwa.
Di lain sisi, Mi dan Yu menjadi serba salah serta bingung harus berbuat apa. Mereka juga cukup penasaran dengan tuan muda Perguruan Awan yang tahu-tahu sudah bertangan satu itu. Keduanya hanya bungkam.
Sampai lama mereka saling diam dan saling tatap, hingga Sung Han buka suara duluan. Seperti suara terkejut dan tubuhnya berjengkit macam kucing yang kaget akan keberadaan ular.
"Ah, mereka!" tubuhnya berbalik cepat. Dilihatnya dua orang topeng perak sudah bangkit dan mulai berlari menjauh.
"Jangan kabur!!" Sung Han membentak, disusul genjotan kakinya ke bumi, membuat tubuhnya melesat cepat. Tak sampai di sana, kedua tangannya juga masih sempat untuk sekedar mengirim angin pukulan kuat.
"Wuuusss"
Dua orang itu terpental dan bergulingan. Tapi Sung Han terpaksa harus merutuki kebodohan sendiri karena tindakannya itu malah membuat dua orang itu makin jauh. Dengan cerdik keduanya cepat bangkit dan lenyap di balik bangunan.
Sung Han tak ingin menyia-nyiakan waktu untuk membiarkan mereka makin jauh. Dia menerjang. Akan tetapi terpaksa harus miringkan tubuh ke kanan ketika ada satu tendangan mengarah kepalanya.
"Syuuutt!!"
Pemuda ini kaget ketika gadis muda yang baru datang itu telah menerjangnya dengan tatapan membunuh. Gerakan ini belum berhenti, secepat kilat kakinya turun dan menggunakan kaki kanan yang tadi digunakan menendang sebagai tumpuan, ia tendang jakun Sung Han menggunakan kaki kiri.
"Happ!!" Sung Han mundurkan sedikit kepala dan menangkap pergelangan kaki itu. "Tenang nona!!" ia memberi peringatan.
Tapi nona muda itu sungguh luar biasa, kaki yang ditangkap Sung Han itu ia jadikan tumpuan untuk memutar tubuhnya ke atas. Lalu tiba-tiba menggunakan tumit kaki kanan ia menendang tepat di pelipis Sung Han.
Saking bingung dan kagumnya dengan gerakan itu, Sung Han terbengong dan dengan telak tumit kaki itu bersarang di pelipisnya.
"Ugh!" keluhnya terjajar dua langkah ke belakang. "Minggir nona!! Dua orang itu harus kuhabisi!!" bentaknya yang benar-benar sudah kehilangan dua orang itu.
"Setan!! Kau lah yang harus mampus hari ini!!" Sung Hwa membentak dan meloncat tinggi. Kemudian dari atas sana meluruk cepat ke bawah dengan kedua kaki lebih dulu.
"Bandel sekali kau!" Sung Han mengumpat. Ia gunakan kakinya pula untuk menahan terjangan itu. Hasilnya luar biasa, dua kaki seorang gadis bertumbuk dengan telapak kaki Sung Han yang menjulang tinggi ke atas.
__ADS_1
"Bugh–desss!!"
Sung Hwa terkejut sekali ketika kalah tenaga setingkat dan dirinya kembali melambung ke atas. Gadis itu jungkir balik beberapa kali dan mendarat dengan indah.
Saking serunya perseteruan itu, Sung Han bahkan sampai tidak sadar akan kehadiran Mi dan Yu yang sudah dikenalnya. Sedangkan dua orang itu terlalu takut untuk mengusik salah satu dari mereka.
"Minggir!!!"
Melihat musuhnya hanya menggunakan kaki sedangkan pedang hanya dipegang saja, maka kali ini Sung Han pun melakukan tendangan. Sebuah serangan berupa sapuan kaki kanan yang disusul sepakan kaki kiri setelah memutar.
Sung Hwa dapat mengelakkan serangan pertama, namun tangannya hampir remuk ketika menangkis terjangan susulan kaki kiri Sung Han.
"Akhhh!!" ia terpekik dan terlempar beberapa langkah.
Sung Han tak peduli lagi dan langsung melesat menuju perginya dua orang bertopeng tadi. Terdengar teriakan dan maki-makian Sung Hwa, pemuda ini tak ambil peduli dan terus melesat.
...****************...
"Mau lari kemana kau!?"
"Syuut–wiingg!!"
"Craaasss."
Sebatang pohon setinggi si pemilik pedang terpotong seketika. Beruntung Jin Yu sudah meloncat lebih dulu untuk menghindarkan diri.
Tepat saat tubuhnya mendarat, Jin Yu memutar otak. Memikirkan cara paling tepat untuk melarikan diri dari sini. Tapi setelah dipikir-pikir akhirnya dia maklum kalau untuk menghadapi pedang pusaka itu, tak mungkin dirinya kabur.
Tapi ada satu hal yang menurutnya masih unggul dibandingkan pemuda itu. Sungguhpun dia bertangan kosong, tapi jelas umur dan pengalamannya beda jauh, dia yang lebih menang.
Maka bermodalkan satu hal ini, Jin Yu menerjang mengirim ilmu andalannya, Terkaman Raja Hutan. Dengan gerengan bagai singa yang sedang marah, tubuh raksasa itu menubruk ke depan dengan kedua tangan terbentang ke kanan kiri. Dua tangan itu sama sekali tidak bisa dianggap remeh, karena sudah teraliri aliran tenaga dalam tingkat tinggi.
Beruntung di tangan Kay Su Tek terdapat pedang pusaka itu, kalau tidak kiranya tak sampai lebih dari dua puluh jurus maka ia akan keok. Karena bagaimana pun juga, sama persis dengan perkiraan Jin Yu tadi, Kay Su Tek masih kalah pengalaman.
__ADS_1
Bertandinglah dua orang itu dengan seru dan sengit. Pedang Gerhana Bulan berkelebatan mencari titik vital paling berbahaya di tubuh si raksasa itu. Sedangkan Jin Yu tak mau mengadu tangan langsung dengan pedang, maka dia lebih sering menghindar.
Tapi inilah keistimewaan dari ilmu Terkaman Raja Hutan. Selain serangannya yang berhawa maut, juga ketika menghindar penggunanya dapat mengirim serangan pula secara bersamaan. Hal inilah yang sangat diwaspadai Kay Su Tek, sehingga tak jarang ketika Jin Yu mengelak, dia juga bergerak menghindar.
Sehebat-hebatnya ilmu Jin Yu dan pengalamannya, namun yang dihadapinya kali ini adalah Pedang Gerhana Bulan, sebuah pedang keramat!!
Karena itulah menginjak jurus ke tujuh puluh, Jin Yu kecolongan dan Kay Su Tek melihat kesempatan besar. Agaknya saking gugupnya, pria besar itu yang seharusnya menghantam kepala, justru malah menghantam dada.
Inilah kesalahannya sehingga membuka celah. Kay Su Tek mengelak ke kiri dibarengi kelebatan pedangnya yang merupakan gulungan sinar hitam kebiruan.
"Craaattt!!"
Darah menyembur ketika tangan besar dan keras itu dengan mudahnya terpotong pedang Kay Su Tek. Jin Yu mengaduh-aduh sambil melompat jauh.
"Aakkhhhh....." Jin Yu menjerit tak kuasa menahan rasa sakit yang menusuk sampai jantungnya itu. Bilah pedang gerhana sungguh aneh, mengeluarkan hawa tidak biasa yang membuat rasa sakit di tangannya terasa cukup aneh.
Kay Su Tek tak menyia-nyiakan kesempatan dan kembali menerjang. Pedangnya di hadapkan lurus ke depan menuju jantung Jin Yu. Cepat pria besar ini menggerakkan tangan kiri menyampok bagian pinggir pedang.
Tapi naas, Kay Su Tek melihat itu dan membelokkan laju pedang. Membelah tangan besar itu sampai pangkal lengan. Membuat tangan kirinya menjadi dua bagian.
"Keparat!! Terkutuk engkau!!" jerit Jin Yu mulai timbul rasa jerinya.
Kay Su Tek hanya memandang dingin, sama sekali tidak tampak tertarik. "Engaku yang terkutuk, apa tidak cukup bagimu yang sudah dihancurkan sampai dsar-dasarnya. Seharusnya kau mengasingkan diri saja di gunung-gunung. Kau cukup berani mengusik Perguruan Awan, kau tak merasa heran aku tidak ada saat penyerbuan?"
"Sial...dia pasti tak akan memaafkanmu!!" bentak Jin Yu.
"Dia siapa? Pasukan pemerintah laknat itu? Bagus, aku memang ingin agar mereka sama sekali tidak memaafkanku supaya aku bisa menumpas kepala mereka." katanya tenang, masih dengan ekspresi datar, "Nah...mampuslah."
Terdengar jerit mengerikan di hutan itu yang menggema hingga beberapa lamanya. Mulai hari itu, Hati Iblis tidak terdengar lagi namanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1