Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 136 – Keadaan Saat Ini


__ADS_3

Pada saat itu, daratan Chang utara kembali gempar dengan berita terkini berupa tertangkapnya satu dari tiga pemberontak. Dia adalah Sung Hwa, yang baru beberapa hari lalu ketahuan sedang berada di kamar putri Chang Song Zhu.


Menurut cerita sebagian orang, kronologi dari tertangkapnya Sung Hwa itu adalah ketika dia menyamar sebagai pelayan dan memberi racun pada makan minum sang putri. Untung saat itu ada salah satu perwira yang sadar akan tindakan ini, maka cepat ia panggil teman-temannya untuk membekuk Sung Hwa.


Tapi benarkah demikian? Tentu saja tidak!


Waktu itu, putri Chang Song Zhu dengan tangan terbuka telah menyambut Sung Hwa dan diajaknya bicara. Gadis itu menceritakan semuanya tanpa ditambah ataupun dikurang. Selama mendengarkan, tak henti-hentinya putri itu mengeluarkan seruan tertahan dan raut wajahnya berubah-ubah.


Namun aneh sekali, tiba-tiba dari luar telah masuk dua jenderal bertopeng yang lihai ilmunya. Baik putri maupun Sung Hwa tidak tahu siapa orang ini, hanya tahu bahwa dua orang itu merupakan jenderal-jenderal kelas atas kekaisaran Chang.


Semasuknya mereka, tiba-tiba keduanya bersuit nyaring sekali dan tak lama setelah itu muncul puluhan pasukan pengawal.


"Harap mundur paduka putri!" teriak seorang pengawal yang kebetulan saat itu masuk melalui jendela dekat Chang Song Zhu berada. Dia segera menarik putri itu.


Bertepatan dengan ini, dua orang bertopeng itu berseru nyaring dan menyerbulah mereka itu ke arah Sung Hwa yang menjadi kalang kabut. Ruangan yang sempit serta banyaknya orang itu membuatnya tidak leluasa, maka dari itulah dia cukup kerepotan.


Namun karena sosok Sung Hwa adalah pendekar sejati, dikeroyok puluhan orang itu pun dia sama sekali tidak mundur. Bahkan mampu mendesak musuh-musuhnya.


Akan tetapi, dia hanyalah seorang pendekar sejati yang menguasai hawa sakti, bukan menguasai kekebalan tubuh akan segala macam racun. Maka saat itu, dia roboh oleh kelicikan dua orang jenderal bertopeng yang secara tiba-tiba, melontarkan obat bubuk yang berupa racun kuat.


Obat bubuk ini buatan Naga Bertanduk yang kebetulan juga pandai ilmu racun. Mereka semua telah mengenal bahwasannya Naga Bertanduk telah menjadi anggota Serigala Tengah Malam, maka dari itulah dia tak berani bertindak sembrono di dalam kota.


Karena itulah, dia membawakan obat bubuk itu kepada kedua jenderal yang juga sejatinya merupakan pemberontak. Obat itu digunakan untuk berjaga-jaga kalau bertemu dengan orang lihai. Siapapun orangnya, jika menghirup obat bubuk buatannya, maka orang itu akan langsung tak sadarkan diri.


Dan benar saja, Sung Hwa yang kala itu sedang dikepung dengan pengeroyokan ketat, tak dapat berbuat banyak. Saat secara tak sengaja menghirup bubuk itu, kepalanya pening seketika dan dia langsung pingsan.


Dibawalah dia ke kamar tahanan oleh kedua jenderal.

__ADS_1


Akan tetapi, walaupun demikian, dia adalah murid Chunglai yang kepandaiannya di luar nalar. Hawa alam yang membangkitkan hawa sakti di tubuh Sung Hwa demikian murni karena hawa sekitar di kerajaan manusia gunung memang masih amat bersih belum tercemar. Sehingga hawa sakti di tubuh Sung Hwa, tanpa sepengetahuan dirinya, menjadi lebih kuat dan lebih bersih dari kebanyakan orang. Itulah yang membuat dia lekas sadar setelah dimasukkan ke dalam penjara.


Ketika sadar, segera dia berontak dan mengamuk. Waktu itu dua jenderal topeng itu belum pergi jauh, maka mereka berdua segera kembali dan betapa terkejut menyaksikan tawanan mereka sudah mengamuk hebat di tengah kepungan para pengawal itu. Keduanya ikut membantu, namun yang didapat berupa luka yang amat parahnya. Hampir mati kalau saat itu tak datang bantuan.


Maka tak lama kemudian, keadaan kekaisaran Chang utara kembali geger dengan lepasnya si pemberontak berjuluk Rajawali Merah. Dan seorang gadis yang menjadi kambing hitam ini benar-benar menebar rasa ketakutan di hati rakyat.


Kesempatan ini digunakan oleh Chang Song Ci yang segera ambil tindakan. Selama putri Chang Song Zhu berada di kota raja, dia tak berani pulang. Namun dia tidak takut kalau putri itu melapor terhadap kaisar, karena memang tidak ada bukti.


Di istana kota Daun, pangeran Chang Song Ci sedang sibuk mengatur siasat dengan para anak buahnya. Ini adalah untuk membuat si Rajawali Merah menjadi pemberontak betul-betul. Atau lebih tepatnya lagi, untuk memburukkan nama Rajawali Merah agar para pendekar dan pemerintah semakin gencar mencarinya.


...****************...


Kehebohan tak hanya terjadi di utara saja, melainkan di selatan tak kalah ngerinya.


Kekaisaran Jeiji telah melakukan invasi untuk kedua kalinya setelah sekian ratus tahun sejak Perang Sejarah berakhir. Untuk awal mula, mereka telah menguasai sepanjang pantai timur daratan selatan Chang.


Sekian minggu telah berlalu dan rakyat di sepanjang pantai sudah percaya penuh kepada kekaisaran jeiji yang mengeluarkan berbagai kebijakan menguntungkan bagi mereka. Sejak saat itu, kekaisaran Chang sudah tak punya kuasa dan kewenangan di pesisir, maka diam-diam jenderal Hong Ciu yang memegang tampuk kepemimpinan di selatan ini jadi pusing kepala.


Semakin pusing lagi ketika makin lama para penyusup kekaisaran lawan mulai lebih berani untuk melebarkan sayap ke tengah pulau. Akibatnya banyak tokoh persilatan dan para rakyat yang kena hasut oleh mereka. Membuat kedudukan kekaisaran Chang makin melemah.


Maka beberapa waktu lalu itu, kekaisaran Jeiji sudah berhasil meruntuhkan benteng terdekat dengan pantai, memaksa pasukan Chang terus mundur ke kota Emas. Keadaan makin pelik saat para penyusup itu sudah menyebar ke mana-mana untuk menyebarkan pengaruh.


...****************...


Orang muda itu selalu berjalan berdampingan dengan seorang gadis cantik jelita yang sayang kecantikannya sedikit tertutup oleh cadar putih bersih. Namun melihat dari sinar mata yang tajam berkilat-kilat, membayangkan kemauan kuat, maka orang yang melihat tentulah dapat mengira dia ini memang seorang dara jelita.


Namun melihat pemuda itu pula, yang sikap jalannya tegap teratur, bahkan ketika melangkah cepat pundaknya sama sekali tak bergerak, menunjukkan kepandaian orang itu. Maka orang yang melihat dara ini akan langsung mengkirik dan balik kanan, tak mau ambil resiko.

__ADS_1


Sikap keduanya jelas sekali berasal dari golongan persilatan, karena mereka ini bukan lain adalah Sung Han yang ditemani oleh Ratu Elang.


Seperti yang diceritakan di depan, Sung Han menyuruh Yang Ruan untuk mencari tempat sembunyi. Tidak di perguruan karena itu malah semakin membahayakan, baik diri sendiri maupun saudari-saudari lainnya.


Karena itulah, Yang Ruan memutuskan untuk mengikuti Sung Han sementara waktu sampai dia mendapat sebuah tempat persembunyian.


"Nyatanya kau tetap belum bisa melupakan Kay Su Tek. Memang seharusnya begitu, kau membuatku kagum. Cinta kasihmu bersih." kata Sung Han di tengah perjalanan itu ketika melihat gadis ini berjalan sambil melamun.


Yang Ruan tersentak sesaat, namun kembali menundukkan muka. Jawabnya lirih, "Seharusnya aku sudah melupakannya. Jika seperti ini, itu hanya akan mencemarkan namanya."


"Mengapa demikian? Siapa yang akan merasa tercemarkan ketika dicintai oleh nona Ratu Elang."


Yang Ruan tersenyum pahit, matanya tiba-tiba memanas, "Harus kukatakan ini, karena jika aku terus berdekatan denganmu, maka itu hanya akan mencemarkan engkau. Agaknya perjalanan bersama ini sudah tak lama lagi."


Sung Han menoleh, lebih tepatnya melirik, "Kenapa? Aku justru merasa senang ditemani oleh seorang ratu." katanya sedikit menggoda.


Yang Ruan makin menunduk, "Ketahuilah, aku dulunya itu pelacur."


"Waduh aku salah dengar."


"Perkataanku tidak salah."


Sung Han diam, mukanya pucat pias.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2