
Empat orang tua yang melawan Nie Chi dan pemuda Rajawali Putih Khuang Peng itu merupakan tokoh kelas atas dalam susunan organisasi Serigala Tengah Malam. Di dunia persilatan pun mereka ini jarang menemukan tandingannya.
Akan tetapi lawan mereka adalah pewaris-pewaris pusaka kuno, maka sedikit banyak mereka kerepotan juga sungguhpun akhirnya dapat meraih kemenangan.
Andai Nie Chi dan Khuang Peng bertemu keempat orang itu sedikit lebih lama lagi, mungkin beberapa bulan atau paling lama satu tahun, kiranya akan lebih mudah bagi keduanya untuk keluar sebagai pemenang.
Sama halnya dengan Gu Ren, sudah tak perlu dijelaskan lagi siapa adanya Naga Bertanduk. Dia merupakan salah satu tokoh pendekar sejati yang berjalan di jalan sesat. Kaum hitam amat takut kepadanya dan mersa segan. Selain kepandaiannya yang sangat menggiriskan, ilmu racunnya juga patut diacungi jempol. Maka dari itulah pangeran Chang Song Ci menjanjikan segala macam janji muluk-muluk untuk dapat merekrutnya.
Gu Ren, Nie Chi dan Khuang Peng berhasil dikalahkan. Pada waktu yang hampir bersamaan di tempat yang sama sekali berbeda.
Ini memang merupakan rencana dari pangeran Chang Song Ci. Dia licik sekali karena selain menghendaki kursi kekaisaran, orang ini juga tak mau melepaskan pusaka-pusaka keramat begitu saja. Setelah mendapat pedang gerhana, dia menjadi berbesar hati untuk menantang tokoh-tokoh besar dunia persilatan.
Dibawalah tiga orang ini menuju ke markas Serigala Tengah Malam yang berada di timur. Tiga orang ini sama sekali tidak tahu bahwa di suatu tempat, nampak banyak orang berkumpul dengan kebingungan. Mereka ini tak lain adalah rombongan pencari dari Rajawali Putih dan Naga Hitam. Tentu saja terkejut mengapa Gu Ren bersama Khuang Peng dan Pendekar Tongkat Besi datang terlambat.
Begitu sampai di markas itu, mereka dibawa masuk ke satu ruangan luas. Mata mereka masih ditutup sehingga sama sekali tidak tahu ruangan macam apa ini. Hanya dengan insting saja maka mereka dapat mengetahui ruangan itu bukan tergolong ruangan kecil.
"Buka penutup mata mereka." terdengar suara orang. Sedikit berat namun berwibawa dan mendatangkan sikap tunduk kepada siapapun pendengarnya. Akan tetapi maklum saat ini berada di kandang musuh, tiga orang itu sama sekali tidak menjadi jeri dan tak mau tunduk. Tetap dalam keadaan berlutut dengan kepala sedikit mendongak, sikap menantang dan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
Dibukalah kain hitam penutup mata mereka itu. Ketiganya menyipitkan mata saat melihat ruangan yang terang benderang. Beberapa hari mata mereka selalu ditutup sehingga cahaya sedikit saja seperti menyengat mata rasanya.
Setelah berhasil menyesuaikan diri, Nie Chi yang telah membiasakan diri lebih dulu sontak menoleh ke kiri karena melihat bayangan orang di sana. Begitu menoleh, dia berseru kaget karena mengenal orang itu.
"Wahhh....mengapa anda di sini?"
Orang yang ditanya itu juga kaget sekali dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia menoleh ke kanan dan berseru pula, "Kalian....mengapa ada di sini....?"
"Seharusnya kami yang bertanya demikian." Khuang Peng si pewaris Pedang Darah berkata.
__ADS_1
Kembali terdengar suara dari depan dan ketiganya serentak menargetkan pandangan ke arah sana. Terlihat di depan itu, duduk seorang bertopeng emas dengan hiasan batu zamrud di dahi. Dia berjubah hitam, dari atas sampai bawah hitam semua kecuali topeng itu. Di kanan dan kiri, berdiri Yu Fei dan Bo Tsunji yang menjadi pengawal setia si topeng emas.
"Tenanglah kalian." demikian si topeng berkata, "Jangan bersikap seolah kalian masuk ke kandang macan. Kita ini sama-sama manusia."
Ketiganya merasa terhina akan hal itu. Namun mereka menahan marah dan memandang dengan sengit sebagai tanggapan.
"Pastinya kalian bingung mengapa kami bawa ke mari. Biarlah aku jelaskan." katanya lagi dan dia bertepuk dua kali. Datanglah dua anggota yang membawa tiga buah benda. Sebatang pedang, tongkat dan sepasang kipas.
"Lihat."
Gu Ren, Khuang Peng dan Nie Chi melihat benda-benda itu dengan mata melotot. Kiranya senjata yang hilang setelah siuman dari pingsan itu telah berada di tangan topeng emas. Ketiganya memandang makin tajam.
"Ini merupakan tiga buah pusaka keramat yang paling dicari oleh semua orang. Dan aku pun sudah dapatkan yang ini." ucapnya lalu mengeluarkan sebatang pedang lain dari balik punggung.
Saat itu, baik Gu Ren, Nie Chi dan Khuang Peng menahan seruannya. Jelas mereka kenal baik dengan pedang itu, bahkan mengenal orangnya pula. Pedang berbilah hitam dengan ukiran-ukiran berwarna merah gelap yang mengeluarkan sinar aneh. Pedang Gerhana Matahari!
Memang aneh sekali ini, dia sadar bahwa Sung Han merupakan seorang pemberontak. Namun diam-diam selama ini dia amat kagum dengan sosok pemuda itu yang dianggapnya sebagai salah satu tokoh persilatan yang gagah. Sehingga melihat senjata ampuhnya dicuri orang, panas juga hatinya.
Tak langsung terdengar jawaban dari si topeng emas, orang itu mendengus beberapa kali sebelum melanjutkan, "Yang jelas kami bisa dapatkan pedang ini. Tidak seperti Naga Hitam beberapa tahun yang lalu."
Dibalas sindiran seperti itu, merah juga muka Gu Ren dan dia hanya mampu diam. Memang sebelumnya mereka hendak mengambil pedang gerhana dari Sung Han, hanya saja pemuda itu yang terus berkeras.
"Sekarang apa maumu?! Cepat katakan!!" bentak Nie Chi yang sudah tak sabar.
Kembali topeng emas itu mendengus, "Huh, kami hanya menghendaki kitab pasangan dari senjata-senjata ini. Dengan begitu nyawa kalian aman."
"Tidak sudi!!" seru ketiganya secara berbareng. Sama sekali tidak ada nada keraguan di balik seruan mereka.
__ADS_1
Khuang Peng melanjutkan, "Bunuh saja kami daripada harus merendahkan diri dengan menuruti anjing-anjing bulus berkedok serigala."
"Buaaghh!!" satu tendangan tepat mengarah ke pipi kanan pemuda itu ketika salah anggota yang menjaga di kanan kiri tiga orang itu merasa tak terima.
"Jaga omonganmu!" bentak anggota itu dengan muka merah.
"Hah?!" Khuang Peng menanggapi dan melirik orang itu. Sontak orang yang dilirik itu mengkirik dan merinding, dia tahu jelas siapa yang telah ditendang. Hanya karena di sini terdapat banyak orang maka dia berani bersikap demikian. Akan tetapi sejatinya, jika satu lawan satu, merinding dia memabayangkan.
"Nah, kau sudah dengar penolakan kam. Sekarang mau apa?!" seru Gu Ren.
"Kalian..."
Ucapan topeng emas ini terpotong tatkala pintu ruangan dibuka secara kasar dari luar. Nampak seorang pria berdiri terengah-engah dengan wajah pucat. Tak hanya itu, bahkan kaki tangannya menggigil seperti orang kedinginan ketika dia memasuki ruangan itu.
"Bedebah!! Apa yang kau lakukan?!" bentak Yu Fei geram akan kelakuan orang itu.
Orang yang baru datang ini cepat berlari dan menjatuhkan diri berlutut di hadapan si topeng emas. Dia melaporkan keadaan di luar markas dengan suara gemetaran hebat sehingga suaranya tak keluar dan hanya terdengar gigi atas dan bawah beradu. Tak-tuk-tak-tuk.
"Bicara yang benar!!" Bo Tsunji membentak geram.
"B-baik...!!" orang itu menjawab, lalu menarik napas beberapa kali. Setelahnya dia melanjutkan. Sungguhpun tidak jelas benar karena masih gemetar, namun orang-orang dapat mendengarnya jelas, "Di luar sana, kita sudah dikepung dua ratus pasukan khusus kekaisaran. Dipimpin oleh putri Chang Song Zhu dan jenderal Tang Lin. Beserta beberapa puluh orang persilatan yang siap pula."
Namun anehnya, baik topeng emas ataupun dua orang lain tidak merasa terkejut. Ketiganya saling pandang dan si topeng emas bangkit berdiri, "Kita sambut mereka!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1