Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 198 – Xian Fa


__ADS_3

Xian Fa mengendikkan bahu, mencoba acuh akan sikap mereka. Dia lalu mulai menyibukkan diri dengan pura-pura memilih-milih barang dagangan dari pedagang tersebut. Beberapa sepatu dan sandal rumput yang dijahit sederhana. Namun mengandung unsur seni yang cukup baik.


Xian Fa mengangkat satu sandal, satu pasang. Ia mengangkatnya dikedua tangan dan menimang-nimang.


"Sandal petani dan penduduk desa bukan seperti ini. Kalian benar-benar dari Jeiji kan?" tanyanya dengan suara biasa. Entah tergolong ramah atau sinis karena nada itu demikian datar tanpa intonasi. "Kau pedagang Jeiji?"


Pedagang itu umurnya masih muda, tak lebih dari empat puluh tahun. Berwajah cukup tampan namun sedikit janggal rasanya dia menguncir rambutnya dengan gaya orang-orang sekitar. Seolah gaya rambut itu tidak cocok untuk bentuk kepalanya. Atau mungkin orang ini belum lama menggunakan gaya rambut itu.


Orang ini tersenyum. "Aku tak menyangkal," katanya. "Barangkali kau tertarik?"


Xian Fa menggeleng. "Sepatuku sudah cukup baik," ia mengangkat kaki kanannya. "Hujan turun pun masih tetap hangat."


Pedagang itu mengangguk-angguk. Dia mengambil sepasang sandal lainnya. Ini modelnya lebih bagus dan bahannya pun berbeda. Lebih tebal serta nampak kokoh kuat. Pedagang itu menyodorkannya kepada Xian Fa.


"Kau tertarik dengan yang ini? Lebih ringan daripada sepatumu. Yah...bagaimana pun sandal tetap sandal, tak lebih baik dari sepatu," ia letakkan sandal itu di meja depan, agar Xian Fa dapat melihat lebih jelas. "Kau bisa lari lebih cepat."


Mata Xian Fa memicing, ia meletakkan kedua sandal tadi dengan kasar lalu mengamati sandal yang lebih tebal itu. "Apa maksudmu dengan lari?"


Pedagang ini tertawa renyah. "Lari dengan ilmu," ia menepuk-nepuk kedua sendal itu, memolesnya. "Ini juga yang dipakai oleh para samurai."


Xian Fa melirik kaki dari para pengawal yang berdiri di belakang pedagang itu. Yang di pinggangnya terselip batang samurai. Matanya makin menyipit dan tatapannya semakim tajam. Setelah itu ia memandang pedagang itu lagi. "Kau bunuh diri."


Hening sampai lama.


Beberapa orang yang berbeda bangsa itu saling pandang dengan intens. Tujuh orang pengawal itu terus berdiri tegak, namun sinar mata mereka menyorot tajam seolah hendak menembus tubuh Xian Fa yang juga memandang dingin ke rombongan mereka.


Pedagang itu masih duduk tenang, namun hanya sebentar saja karena dia sudah bangkit berdiri. "Mari kita selesaikan. Tunggu sebentar."


Ia lalu mengemasi dagangannya, memasukkan sandal sepatu itu ke dalam buntalannya. Sedangkan meja yang tadi ia gunakan untuk berjualan hanya ditaruh di pinggir jalan. Sepertinya itu bukan miliknya karena dari dalam gedung tak jauh dari meja itu diletakkan, muncul seorang pria yang menerima ucapan terima kasih dari si pedagang Jeiji itu.


Tanpa berkata apa-apa, mereka lalu pergi dipimpin oleh si pedagang. Sedangkan Xian Fa hanya mengikuti dari belakang dengan hening, tak bersuara sedikit pun juga.


Beberapa waktu berlalu hingga mereka mencapai jauh keluar dari desa tersebut dan tiba di hutan kecil yang sunyi. Tujuh orang pengawal itu lalu berdiri dengan sikap siaga di belakang si pedagang yang masih dapat tersenyum santai.


"Tak ada yang perlu disembunyikan lagi," ucap Xian Fa. "Jangan kau kira aku termasuk ke dalam golongan orang kejam yang hanya main bunuh dengan membuta. Jika saja kalian hanya pedagang, dari mana pun itu, aku tak ada hak untuk mengusik."

__ADS_1


Mata pedagang yang tadi menyipit akibat tersenyum lebar itu kini membuka sedikit. "Oh, lalu sekarang kau hendak berkata bahwa kau memiliki hak untuk mengusik kami?"


Xian Fa melirik kaki-kaki mereka. "Sandal tadi itu dipakai oleh para samurai kan?" ia berkata penuh penekanan. "Apa kau pikir kami sebodoh itu?"


Si pedagang itu memandangi seluruh tubuh Xian Fa, dari atas sampai bawah. Mengamati pakaian itu penuh perhatian. "Berpakaian aneh-aneh. Hm, ini kan yang disebut sebagai pendekar?"


"Matamu cukup tajam."


Kembali mereka terjebak ke dalam keheningan yang cukup lama. Hanya saling pandang dengan penuh waspada dan curiga.


"Siapa kau?" bersamaan dengan ucapan pedagang ini, Xian Fu berkata. "Siapa kalian?"


Keduanya tersentak, demikian pula dengan para pengawal yang bersenjata katana. Lalu suara pedagang itu terdengar lebih dulu. "Kami samurai. Kehormatan kami tak mengijinkan untuk bertindak rendah dengan cara membohong."


"Bagus," ujar Xian Fa. "Jika kalian menganggap aku seorang pendekar, maka anggap saja begitulah."


"Sepertinya sudah tak ada alasan bagi kita untuk saling bicara. Kau sudah mengetahui kami sebagai samurai maka kau pasti juga mengetahui apa tujuan kami berdagang di sini," pedagang ini mengangkat lengan kanannya. Dan serentak tujuh pengawal itu mencabut pedang.


Saat itu, Xian Fa bukannya menjadi gugup karena hendak dikeroyok dengan serombongam samurai yang terkenal tangguh-tangguh itu. Justru dia menatap pedang-pedang di tangan mereka penuh perhatian. Seketika ucapan gurunya teringat di benaknya.


Mengingat ini, Xian Fa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Mereka bisa saja berbohong. Bisa saja mereka para bandit yang sengaja memakai-makai nama samurai untuk mengangkat nama. Maka dia butuh kepastian.


Sekali melangkah, tubuhnya sudah bergerak cepat berubah menjadi kelebatan hitam yang sukar diikuti pandang mata. Lalu tiba-tiba terdengar suara pekik tertahan dan entah bagaimana satu pedang katana di antara mereka telah berpindah tangan.


"Pedang yang bagus."


"Keparat!" seru orang yang dirampas pedangnya tadi. "Kembalikan!"


Wajah orang itu sampai memerah bahkan ke mata-matanya, menunjukkan jika kemarahannya bukan hanya pura-pura semata. Xian Fa memandang penuh perhatian dan dia mengangguk.


"Kiranya kalian tidak membohong," ia lemparkan kembali pedang itu kepada pemiliknya. "Kalian memang benar samurai."


"Kau meremehkan kami!" seru salah seorang lainnya. "Beraninya menghina kami dengan cara merampas pedang. Majulah jika kau punya nyali."


"Hmph!" terdengar dengusan dari hidung Xian Fa yang tak nampak dari luar. "Kau bicara seolah kau punya nyali saja. Majulah satu-satu jika kalian punya kegagahan!"

__ADS_1


Wajah kedelapan orang itu memerah, merasa dipermalukan habis-habisan oleh seorang pemuda yang mereka taksir pasti tak lebih dari dua puluh lima tahun. Suara yang demikian jernih dan dalam itu entah bagaimana terdengar amar sinis menjengkelkan.


"Kalau begitu, jaga serangan!" pekik seorang yang tadi menantang nyali Xian Fa. Ia sudah menerjang maju dengan langkah-langkah teratur dan tegap.


Bergerak ke kanan dan kiri, mencoba membingungkan pandangan Xian Fa. Diam-diam pemuda ini menjadi kagum karena kalau sampai kurang waspada, pasti orang itu tidak akan sadar begitu musuh telah berada tepat di depan mata.


Dia memekik nyaring, dan tahu-tahu sudah berada di samping kanan Xian Fa. Pedangnya menebas secara mendatar dari kanan ke kiri dengan jalur setengah lingkaran.


Namun sayang sekali, sebelum laju tebasan secara sempurna membentuk setengah lingkaran, tangan Xian Fa sudah lebih dulu bergerak melakukan tangkisan. Ketika tebasan baru mencapai seperempat lingkaran, pedang lengkung itu sudah terpental membalik dan pemegangnya terhuyung.


"Cring!!"


Demikian suara nyaring yang dikeluarkan bersamaan dengan memerciknya bunga api ketika katana beradu dengan pergelangan Xian Fa. Betapa kaget semua orang ketika memandang tangan itu masih utuh tak bercacat satu apapun. Kiranya pemuda ini memakai sebuah pelindung tangan dari besi.


"Hm...." dengus Xian Fa. Namun dia tak melakukan serangan susulan. Sebaliknya, ia menarik lengannya kembali ke dalam jubah dan menanti serangan berikutnya.


Tindakan ini merupakan penghinaan besar bagi semua orang gagah. Jika musuh tak balas menyerang, itu hanya menandakan jika dia percaya dengan kemampuan sendiri dan meremehkan kemampuan lawan.


Samurai itu menjadi berang dan maju lagi. Dua kali tebasan beruntun berupa bacokan disusul tebasan ke samping dengan putaran penuh.


Dua tebasan itu dengan mudah saja dihindari Xian Fa dengan elakan mundur dan merundukkan kepala. Lalu ia melompat ke kanan ketika datang serangan ke tiga dan mencelat ke atas ketika datang serangan ke empat.


"Kau kalah!" bentak Xian Fa dari atas sana. Ketika itu, tangan kanan pemuda ini sudah terulur ke bawah dan terasalah oleh samurai itu sebuah angin menyambar. Berat dan tajam, menyakitkan sekali.


"Ngeekk..."


Terdengar suara seperti babi disembelih ketika angin itu menerpa tubuh si samurai. Tubuh itu tergencet ke bawah dengan tulang dada dan tulang belakang remuk. Tubuh itu jatuh ke tanah dalam keadaan membingungkan. Tubuh itu seolah telah ditindih batu sebesar kerbau dan seluruh tubuhnya tergencet ke bawah. Mengerikan.


Xian Fa mendarat dan memungut katana itu. Ia lemparkan kepada si pedagang yang memandang pucat.


"Majulah bersamaan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2