
"Bruk!"
Beruntung saat itu Sung Han bergerak cepat, dia sudah melangkah maju dan menangkap tubuh Yang Ruan agar tidak terbanting ke atas tanah. Kiranya gadis itu sudah dalam posisi setengah sadar dan begitu tubuhnya ditangkap Sung Han, dia sudah pingsan sepenuhnya.
Sung Han cepat menotok beberapa bagian di tubuh Yang Ruan setelah itu merebahkannya. Setelah tubuh gadis itu rebah, Sung Han menempelkan ujung jari telunjuk dan tengah ke ulu hati Yang Ruan, mengerahkan hawa saktinya dan sebentar kemudian wajah pucat Yang Ruan sudah menjadi kemerahan.
Setelah memastikan keadaan gadis itu sudah tidak terancam lagi, Sung Han bangkit dan menghampiri putri Hati Iblis itu. Mereka berdiri berhadapan sejauh dua tiga tombak.
"Nah, sekarang hanya tinggal kita berdua." ucapan Sung Han ini seolah merupakan air dingin yang menyiram kepala Sung Hwa. Menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
Sebelumnya dia termenung saking kaget dan herannya dengan serangannya kepada Yang Ruan barusan. Menurut taksirannya yang amat jarang keliru, seharusnya sekali totok dada Yang Ruan tadi, pasti orang itu akan mati ditempat. Namun kali ini gadis itu masih hidup dan hanya menderita luka parah yang mengakibatkan pingsan.
Dia sadar kekuatannya dengan Yang Ruan beda jauh, dia telah mencapai pendekar sejati sedangkan Yang Ruan hanya mendekati. Sehingga dia yakin benar akan dapat menangkan Yang Ruan dalam pertandingan.
Namun, kenapa dia tidak mati?
"Hah.....?" Sung Hwa terkejut ketika dia melirik kakinya, ada bercak-bercak kemerahan yang ternyata adalah noda darah.
Dia melihat dada Yang Ruan yang yang rebah itu. Di jubah putihnya sama sekali tidak nampak bercak darah, hal ini hanya bisa membuktikan bahwa Yang Ruan tak mengeluarkan darah selain muntahannya tadi. Sedangkan tak mungkin kakinya sendiri yang berdarah padahal sepatunya masih utuh.
Dia memandang Sung Han penuh perhatian, pasti ada campur tangan orang ini pikirnya. Dia memerhatikan dari atas sampai bawah, seperti sikap pendekar pada umumnya. Berdiri tegak dengan dada tegap.
Namun sejak tadi Sung Han menyembunyikan kedua tangan di balik punggungnya. Sung Hwa menatap tajam dan dia menemukan ada beberapa tetes darah segar yang nampak di tanah belakang kaki Sung Han.
"Ahh...." lantas dia teringat. Bukankah tadi pedangnya berhasil melukai tangan pemuda itu.
Pastilah tadi ketika serangan terkahir, Sung Han menyelamatkan nyawa Yang Ruan dengan darahnya. Dan hal ini memang tidak salah.
__ADS_1
Dalam sepersekian detik tadi, mata Sung Han yang awas dapat melihat bahaya yang hampir menerkam diri Yang Ruan. Luka ditangannya yang sudah berhasil dikeringkan dengan pengerahan tenaganya itu ia buka lagi dan dia menyemburkan darahnya sendiri menuju kaki Sung Hwa.
Sung Han sadar jika kepandaiannya masih sedikit lebih rendah dari Sung Hwa, maka dari itu dengan mengandalkan hawa pukulannya saja agaknya tak mungkin untuk membelokkan laju kaki Sung Hwa. Karenanya dengan bantuan percikan darah yang menjadi lebih berat karena telah diisi tenaga dalam, Sung Han berhasil menangkis kaki maut Sung Hwa.
Diam-diam, Sung Han menyembunyikan tangan kananya yang sedikit gemetar. Tenaganya sudah banyak berkurang untuk mengurangi pendarahan, lalu menyelamatkan Yang Ruan dan mengobati gadis itu. Jika sekarang harus melakukan perkelahian, jelas dia akan kalah.
"Sekarang, kau memusuhi aku karena aku membunuh orang-orang perkumpulanmu, benar?" tanya Sung Han memastikan.
"Benar!"
Sung Han mengangguk-angguk, "Lalu, apa yang hendak kau lakukan padaku?"
"Membunuhmu, apa lagi?" dengan napas memburu, Sung Hwa berdiri dengan kaki terpentang lebar. "Karena kau sudah terluka, silahkan maju terlebih dahulu membuka serangan pertama!"
"Gadis picik!" Sung Han menghardik, "Kukira kau orang baik sebagaimana seperti tindakanmu memberiku roti–"
Sung Han terdiam beberapa saat, dia melanjutkan, "Kukira kau orang baik mengingat kau telah menyelamatkan aku dengan Yang Ruan. Kiranya kau sama saja seperti mereka."
Sung Han mulai pasang kuda-kudanya, kaki kiri ke depan dan kaki kanan di belakang dengan lutut sedikit ditekuk. Sedang kedua tangannya berada di depan dada dengan telapak saling berhadapan dalam jarak dekat.
"Tapi, seorang gagah tak akan pernah melupakan budi orang lain. Kau sudah menolongku dua kali, walaupun yang pertama secara tidak langsung dan di luar kehendakmu. Maka dengan itu aku tidak akan mau mati sebelum membalas kedua jasamu!"
Sung Hwa menggeram sambil menggertakkan giginya, pedangnya sudah tercabut karena dia tak mau meremehkan Sung Han. "Kalau begitu matilah untuk pembalasan jaaku!!"
Dibarengi bentakan ini, tubuhnya melambung dan menerjang. Dari atas sana dia melakukan tendangan-tendangan dan tusukan pedang yang berbahaya sekali. Sung Han cepat mengelak ke sana-sini dan menangkis beberapa kali.
Sung Han mainkan ilmunya Tangan Menopang Bulan dibarengi dengan Tangan Panas Inti Matahari dan Badai Salju Pembeku Darah secara berganti-gantian. Hawa sakti yang tanpa sadar telah dikuasainya sedikit itu menyambar-nyambar ke atas menyambut setiap serangan dari Sung Hwa.
__ADS_1
Gadis itu menerjang hebat, lebih banyak menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dibarengi tendangan dan serangan pedang. Dia tak mau beradu kuat secara langsung karena agaknya dia sedikit tidak untung. Namun menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang memang lebih tinggi tingkatnya dari Sung Han. Maka dia berkelebat ke sana-sini melakukan serangan yang mengurung Sung Han dari segala sisi.
Sung Hwa lebih sering menyerang dari atas sedangkan Sung Han lebih banyak bertahan sambil menapak bumi. Entah karena tidak sengaja atau sugesti, namun hawa sakti bumi itu seolah membuat Sung Han enggan mengambil resiko untuk meloncat terlalu tinggi.
Memang keistimewaan hawa sakti bumi adalah bumi itu sendiri. Semakin dekat dengan bumi, maka akan semakin kuat dan mematikan serangan hawa sakti bumi.
"Bress....bukk....dess!!"
Mencapai jurus ketujuh puluh, dua kali tendangan Sung Hwa berhasil mendarat di kanan dan kiri tulang iga Sung Han. Membuat pemuda itu mengeluh pendek dan terpental beberapa langkah.
Sung Han sudah terluka, kekuatannya jelas menurun. Apalagi harus mengerahkan tenaga untuk mengobati Yang Ruan tadi. Walau hanya sebentar namun tenaga yang terbuang bukannya sedikit.
Sedangkan Sung Hwa sudah mencapai setingkat lebih tinggi dari Sung Han. Dalam keadaan seperti itu, bukan merupakan hal aneh bila Sung Han berhasil didesak dan dirobohkan.
"Sial....aku tak boleh mati di sini!!" gumam Sung Han.
Sung Hwa sudah melangkahkan kakinya lagi, dengan pedang terhunus di depan dada, dia melompat menubruk Sung Han. Jelas ini merupakan serangan mematikan.
Sung Han tak mau menyerah begitu saja, dia mengerahkan tenaga pada dua tangannya dan berusaha membelokkan laju pedang.
"Kena kau!!"
Sung Han terkejut karena ternyata tindakannya ini termasuk ke dalam rencana Sung Hwa. Begitu pedang gadis ini membelok, dia memanfaatkan tenaga dorongan itu untuk memutar tubuh secara aneh dan tahu-tahu Sung Han sudah jatuh terlentang terkena tendangannya.
Ketika itu, dia melihat Sung Hwa masih melayang dengan pedang mengarah tepat pada lehernya. Sung Han yakin kali ini agaknya akan benar-benar tamat riwayatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG