
Masih dalam keadaan bengong terlongong karena kesulitan mencerna keadaan, dari kamar samping muncul dua orang lain yang tadinya hendak menangkap Sung Hwa. Satu orang adalah pendekar sewaan yang suaranya serak itu, sedang seorang lagi kawannya.
Melihat dua kawannya yang disuruh membunuh Kay Su Tek telah tewas, pendekar suara serak itu bersiul nyaring sekali.
"Syuutt!!"
Sampai sini, tangan Kay Su Tek sudah bergerak cepat memukul wajah orang itu. Namun dengan cekatan pendekar itu mengelak mundur dan lompat keluar dari jendela.
Tangan Kay Su Tek berkelebat dan seorang lain telah tewas dengan pedang gerhananya. Selama itu terjadi, Sung Hwa hanya berdiri termenung tak dapat berkata-kata. Dia bingung harus melakukan apa.
"Mari Sung Hwa, kita pergi dari desa ini!" akak Kay Su Tek lalu meloncat keluar. Seperti tersadar dari mimpi, Sung Hwa hanya mampu mengikuti untuk keluar dari jendela pula.
Namun sekeluarnya mereka dari jendela, empat orang sudah datang menerjang dengan hebat sekali. Keduanya kaget karena empat orang itu jauh lebih kuat dari tiga orang pertama. Salah satu empat orang ini adalah si suara serak.
"Hiyaaaa!!" pekik Sung Hwa dahsyat. Bebareng dengan itu tubuhnya melambung dan mengirim tendanga putaran di udara. Angin kencang menyambar membuat duawannya terpental.
Kay Su Tek lebih kejam lagi, dia tak segan-segan menurunkan tangan maut untuk mengakhiri pertarungan ini. Tanpa ragu dia cabut Pedang Gerhana Bulan dan sekali tebas buntunglah kepala mereka.
"Sialan kau!! Kau berlebihan!!" tegur Sung Hwa keras.
"Jika tidak begini, mereka hanya akan membuat masalah di masa depan."
"Mereka bukan pemberontak!"
"Apa bedanya? Pemerintahan hanya mencari keuntungan saja."
Jawaban Kay Su Tek ini selalu diucapkan dengan nada dingin. Tanpa ekspresi seolah pemuda itu sama sekali tidak keberatan untuk membunuh orang pemerintahan layaknya membunuh semut.
Memang Kay Su Tek bisa dibilang telah buta segalanya. Hanya karena perguruannya dihancurkan oleh pangeran Chang Song Ci, maka dia menganggap semua orang pemerintahah memiliki sifat tak jauh-jauh beda dengan pangeran iu. Maka dari itulah dia memusuhi mereka semua tanpa kecuali.
Dia tak membenci negaranya, justru sebaliknya. Namun dia amat membenci pemerintahan. Apalagi ditambah Pedang Gerhana Bulan di tangannya dan hawa sakti bumi yang berhasil dipelajarinya atas arahan Songli. Semua kekuatan itu membuat ia percaya diri akan ambisinya dan makin besarlah kobaran api kebencian dalam dadanya.
__ADS_1
Tapi walau begitu, entah hati Sung Hwa yang terlalu penyayang atau bagaimana, dia sama sekali tidak mampu membenci sosok Kay Su Tek yang seperti itu. Sikapnya ini mengingatkan ia kepada Mi Cang dan Yu Nan Sia, maka dari itulah dia sangat ingin menarik pulang pemuda itu ke jalan benar. Setidaknya tidak lagi memusuhi pemerintah.
Ketika keduanya berloncat-loncatan mencari jalan keluar, dari jauh terdengar bentakan-bentakan nyaring. Kiranya itu adalah suara sepasukan pemerintahan yang sudah mengejar-ngejar mereka.
"Panah!!" dipimpin oleh dua orang perwira yang tadi siang itu, mereka mengejar Kay Su Tek dan Sung Hwa. Dua orang itu mengejar di barisan paling depan dengan menunggang kuda. Mereka lekas bergerak setelah sebelumnya salah seoranv bawahannya melapor.
"Ahh...ini karena ulahmu!" bentak Sung Hwa laku berbalik dan menerjang. Sekalian menghindari anak-anak panah yang hendak memblokir jalan depan mereka, Sung Hwa juga ingin mengurangi jumlah pengejar.
Melihat Sung Hwa putar balik, tak ada pilihan lain bagi Kay Su Tek. Lagipula dia sudah marah sekali ketika melihat orang-orang pemerintahan itu yang mencari kesempatan dalam siatuasi kacau ini, maka tanpa ragu menggunakan pedang gerhana, dia mengamuk hebat.
Pertempuran melawan dua orang itu terjadi dengan seru dan hebatnya. Desa kecil itu berubah seperti lautan darah ketika pedang Kay Su Tek seperti bernyawa mengejar kepala-kepala mereka. Maka banyaklah yang tewas akan amukan dua orang pemuda-pemudi itu.
Setelah pengepungan mulai melonggar, keduanya mencari celah dan meloloskan diri. Tak ada yang berani mengejar karena dua perwira mereka telah tewas di pedang Kay Su Tek. Mereka juga jeri sekali menyaksikan kelihaian dua orang itu.
Sejak saat itu, wajah mereka diingat sebagai pemberontak. Para prajurit pemerintahan itu menamai mereka dengan sebuah julukan baru. Pendekar Tangan Satu untuk Kay Su Tek, sedang julukan Rajawali Merah ditujukan kepada dara jelita yang gerakannya lebih sering terbang ke udara itu.
Sebentar saja, nama mereka menjadi terkenal dan semua orang, baik dari kalangan pemerintah maupun dunia persilatan sangat berwaspada terhadap dua orang muda ini.
Kay Su Tek dan Sung Hwa melanjutkan perjalanannya menuju kota raja. Namun kali ini wajah mereka sudah diketahui sebagai pemberontak. Di tembok-tembok bangunan desa atau kota, terpampang jelas wajah keduanya yang mengatakan jika siapapun dapat membawanya dalam keadaan hidup atau mati, pemerintah akan memberikan hadiah besar.
Karena wajah mereka sudah dikenali di mana-mana, maka sulitlah perjalanan mereka. Sehingga waktu tempuh ke kota raja semakin lama dari perjalanan biasa.
Di satu kesempatan, Kay Su Tek mengatakan sesuatu yang selalu membuat risau hati Sung Hwa selama menjadi buronan.
"Kau yakin ingin menemui putri? Aku berani bertaruh bahwa dia sudah mengetahui kondisi kita."
Sung Hwa tak dapat langsung menjawab. Sejatinya dia juga merasa bimbang akan hal itu. Tapi jika tidak menemui putri Chang Song Zhu, lantas harus pergi ke mana lagi?
Bukannya menjawab, dia malah balik bertanya, "Engkau sendiri, hendak pergi ke mana? Tak mungkin kan untuk selalu mendampingiku?"
Kali ini Kay Su Tek yang nampak ragu, ia merenung menatap kejauhan dengan pandangan kosong. Katanya setelah sekian lama terdiam, membuat Sung Hwa kaget bukan main, "Beberapa waktu lalu, kita mendengar jika Perkumpulan Pedang Hitam hendak mengundang seluruh orang rimba persilatan untuk memilih ketua aliran hitam bukan. Aku tertarik untuk melihat ke sana."
__ADS_1
Sung Hwa mengangguk-angguk tanda paham, kemudian keduanya kembali terjebak dalam kesunyian. Hingga tiba-tiba Sung Hwa mendelik sambil lompat berdiri. Satu tindakan yang mengejutkan Kay Su Tek, apalagi ketika mendengar suaranya yang mengandung kemarahan.
"Kau!! Mau apa kau pergi ke sana!? Jangan katakan kau hendak menjadi ketua golongan hitam!?" sambil menarik kerah Kay Su Tek, Sung Hwa membentak tepat di wajah pemuda itu.
Jawabnya santai, "Iya, aku akan melakukan hal itu. Lagipula mereka mengijinkan siapapun yang merasa punya kepandaian, diperbolehkan mengikuti pemilihan ketua itu."
"Kau gila!!"
"Kau juga!" balas Kay Su Tek yang mukanya telah merah padam, amarahnya bangkit. "Hanya karena mencari Sung Han, kau sudah menghancurkan kerajaan manusia gunung. Membuat guruku mati! Kau ingin mencari kekuatan bukan? Kau sudah menghalalkan segala cara. Sama seperti aku!!"
Teriakan keras dari Kay Su Tek ini menghujam tepat di hati Sung Hwa. Dia melepas cengkeraman kerah pemuda itu dan mundur perlahan dengan muka pucat. Memang sebelumnya dia pernah menceritakan tentang Sung Han dan dendamnya terhadap pemuda itu, namun Kay Su Tek pura-pura tidak peduli.
Sekarang melihat Sung Hwa yang seenak jidat mencampuri urusan orang tanpa melihat diri sendiri, kemarahan Kay Su Tek bangkit.
"Apa pun yang kau katakan, aku akan tetap pergi. Perkumpulan Pedang Hitam adalah perkumpulan kuat yang ikut dalam Pertempuran Hitam Putih. Sisa-sisa anggota meraka mendirikan perkumpulan ini selama ratusan tahun sambil menyembunyikan diri. Baru sekali inilah mereka keluar. Pasti orang-orang perkumpulan itu bukan orang lemah." ucap Kay Su Tek sambil bangkit berdiri.
"Lebih baik kita berpisah di sini, lakukan apa yang hendak kau lakukan, temui putri itu, lalu bunuhlah Sung Han jika kau memang mampu. Karena sahabatku yang satu itu kekuatannya tak bisa diukur." lanjut Kay Su Tek yang mengatakan kebenarannya. Dan membuat Sung Hwa kembali terkejut karena pemuda teman seperjalanannya ini adalah sahabat musuh besarnya.
Sebelum benar-benar pergi, Kay Su Tek berkata lagi, "Untuk urusanmu dengan Sung Han, aku tak mau ikut campur. Tapi jika ada hal lain yang butuh bantuanku, datanglah ke markas Perkumpulan Pedang Hitam, aku akan selalu menerimamu."
"Tunggu!"
Namun terlambat, Kay Su Tek sudah lebih dulu melesat cepat meninggalkan Sung Hwa seorang diri.
Kembali Sung Hwa merenung, dia telah ditinggal oleh orang kesayangannya untuk ke sekian kali. Pertama ditinggal mati saudara-saudara perkumpulannya, lalu ditinggal Mi Cang dan Yu Nan Sia, kemudian belum lama ini terpisah dari sang putri, dan yang terakhir harus ditinggal pergi oleh sosok lelaki yang diam-diam berhasil merenggut cinta kasihnya.
"Perjalanan bersama yang singkat ini, ternyata tak bisa meluluhkan hatimu...." berkata Sung Hwa dengan senyum pahit. Mengenang segala peristiwa menyedihkan dalam hidupnya. Tak terasa, dia menitikkan air mata. Dan kembali semua nasib buruk ini Sung Han lah yang ia salahkan.
"Aku harus membunuhnya...." desisinya dengan mata yang memerah disertai air mata bercucuran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG