
Dibawalah rombongan para pendekar yang berjumlah tujuh belas orang itu diiringi oleh puluhan pasukan manusia gunung. Dipimpin langsung oleh jenderal Sakha, mereka menuju ke jantung hutan yang lebih dalam.
Memang agaknya sudah menjadi adat atau kebiasaan atau mungkin karena efek kekuatan dalam tubuh, di mana setiap orang sakti yang ada selalu bersikap aneh-aneh. Sebagai contoh adalah sekarang inilah.
Tujuh belas orang bersama dua puluh orang pengawalan itu sama sekali tidak ada yang lemah. Bahkan jika terjun ke dunia persilatan, mereka ini menduduki jajaran atas dari para pendekar. Namun kini, saat berjalan bersamaan, sama sekali tidak ada yang buka suara.
Jenderal Sakha yang memimpin terus berjalan tanpa pernah mau menoleh ke belakang seolah dia sudah merasa yakin benar bahwa tamunya itu akan dapat mengikuti. Sedangkan makin dekat dengan letak Kerajaan Manusia Gunung, medan di sana makin sulit karena banyaknya semak belukar dan akar-akar pohon yang menghadang.
Tak jarang Sakha harus melompat untuk melewati jebakan yang telah dipasang oleh pasukannya sendiri. Namun dia hanya melompat, sama sekali tidak memperingatkan para tamunya itu.
Dan anehnya, belasan orang tamunya itu tidak ada yang merasa heran dengan sikap tersebut. Jika Sakha melompat mereka ikut melompat. Jika Sakha tiba-tiba miringkan kepala mereka ikut miringkan kepala. Bahkan pada satu saat Sakha berloncatan menggunakan tali-tali pohon, dan tujuh belas orang itu mau tak mau harus berloncatan dengan tali pohon sampai membuat Tok Ciauw salah pegang, mengira sebagai tali pohon yang ternyata adalah ekor ular.
Untuk keadaan puluhan orang manusia gunung itu, sungguh amat mengerikan. Jika saja tamu-tamu mereka itu bukan orang yang berkepandaian tinggi, mungkin mereka sudah kencing di celana.
Sikap pasukan manusia gunung ini seperti mayat berjalan. Sama sekali tidak berbicara, bahkan tatapan matanya pun terus lurus ke depan. Ketika berjalan, mereka tidak menatap tanah melainkan menatap di kejauhan. Luar biasa.
Selang setengah jam, akhirnya mereka sampai juga di tempat yang disebut Kerajaan Manusia Gunung. Sejatinya, sudah sejak tadi rombongan pendekar ini memasuki wilayah Kerajaan Manusia Gunung. Namun tempat yang mereka datangi kini boleh dibilang sebagai ibukotanya.
Rumah-rumah penduduk yang sederhana namun cukup terawat. Jalan-jalan di perkampungan itu yang bersih. Keadaan temaram akibat pohon tinggi yang menutupi sinar matahari, benar-benar membuat sejuk suasana. Dan Tok Ciauw, tanpa sadar, memejamkan mata dan mengambil napas dalam-dalam.
Di tengah-tengah pemukiman itu, ada bangunan paling besar dan paling megah jika dibandingkan dengan bangunan lain. Para tamu sudah dapat menduga bahwa inilah istana dari Kerajaan Manusia Gunung itu.
Sakha lalu memerintahkan para prajurit itu untuk kembali ke tempatnya masing-masing. Sedangkan dia sendiri memimpin rombongan ke tempat istana berada.
Karena para penjaga gerbang sudah mengenal Sakha, maka dengan mudah saja rombongan ini melewati pintu gerbang istana. Saat sudah sampai di pintu istana, Sakha berpesan.
"Jangan masuk sebelum aku panggil."
__ADS_1
Mereka semua mengangguk dan menunggu. Sakha membuka pintu lalu masuk ke dalam istana. Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka dan Sakha memberi isyarat kepada mereka untuk masuk.
Sesampainya di dalam, pemandangan pertama yang terlihat adalah bahwa istana ini cukup luas. Namun amat sederhana, tidak seperti istana-istana kaisar atau pembesar daerah yang mewahnya kelewatan.
Di depan sana, di kursi singgasana, duduk seorang pria tinggi yang mungkin berumur antara tiga puluh lima sampai empat puluh lima tahun. Entah lebih muda atau lebih tua karena sukar menaksir umur dari wajah yang halus namun sudah beruban itu.
"Baginda, mereka inilah tamu-tamu kita," Sakha berkata.
Dipimpin oleh si kakek tinggi besar, mereka semua menjura. "Maaf mengganggu."
Dialah Raja Chunglai. Seorang raja Kerajaan Manusia Gunung yang baru beberapa tahun naik tahta. Namun dengan adanya dirinya, Kerajaan Manusia Gunung menjadi lebih stabil dari pada masa kepemimpinan raja Torgan.
Chunglai tersenyum. "Tak perlu sungkan. Sikap kalian seolah kami ini tukang makan manusia. Hahaha ... Jenderal Sakha, siapkan tempat duduk!"
Sakha segera menjalankan perintah tanpa menjawab. Dia dibantu beberapa pelayan menyiapkan tempat duduk yang segera diduduki oleh ketujuh belas pendekar itu. Berhadapan langsung dengan raja Chunglai.
"Ada apakah tuan-tuan sahabat pendekar sudi untuk datang ke tempat kami? Adakah sesuatu? Jarang sekali kami mendapat tamu dari dataran rendah." Raja Chunglai memulai percakapan.
Tanpa sungkan-sungkan, Tok Ciauw menggasak sebuah apel dan meminum air itu.
"Enak!" katanya.
"Bagus, kami senang engkau menyukainya," Raja Chunglai tertawa gembira. Dia juga mencegah si mata putih yang tadi hendak menegur Tok Ciauw.
Raja itu kemudian juga mengambil sebutir anggur dan memakannya. Akhirnya, dia memutuskan untuk menjamu para tamunya lebih dulu. Mereka bercakap-cakap mengenai suatu hal yang tak terlalu penting, hanya untuk mengisi suasana di tengah perjamuan itu.
Selang beberapa menit, akhirnya Raja Chunglai memulai pembicaraan yang lebih serius. "Baiklah, kupikir sudah cukup untuk basa-basinya. Ada keperluan apakah hingga kami mendapat kehormatan untuk menerima kunjungan para pendekar?"
__ADS_1
"Perkenalkan, kami tiga orang tua yang sudah melupakan nama sendiri ini sering dikenal orang sebagai Pertapa Sunyi. Sedangkan untuk saudara yang duduk di sana," katanya sambil menunjuk Tok Ciauw. "Dia bernama Tok Ciauw berjuluk Iblis Peti Goa Emas."
Mata Chunglai sedikit melebar. "Ah, kiranya Pertapa Sunyi dan majikan Goa Emas di utara? Wah ... wah, ada angin apa sampai-sampai bisa menerbangkan kalian ke sini?"
"Kami ingin membicarakan soal invasi Kekaisaran Jeiji, Baginda," kata si tinggi besar mewakili kawan-kawannya.
"Oh, apa itu?" raut wajah raja itu sedikit berubah sungguhpun nada suaranya tidak berubah.
"Seperti yang sudah kita semua ketahui. Kekaisaran Jeiji telah menguasai selatan dan hanya tinggal menunggu waktu sampai mereka menyerbu ke utara. Dan jika demikian, kemungkinan besar mereka akan melewati Pegunungan Tembok Surga, karena itulah mungkin sekali keberadaan Kerajaan Manusia Gunung akan terancam."
Raja Chunglai tak langsung menjawab, matanya menatap ke kejauhan. "Sebenarnya, aku sudah mengambil keputusan sejak lama."
Semua tamu terkejut, bahkan sekali ini Sakha terkejut sampai bangkit dari kursinya. Dia memandang rajanya dengan tatapan tak percaya.
"Baginda, belum pernah saya mendengar mengenai hal itu," ucap Sakha.
Raja Chunglai tersenyum. "Ya, ini rahasiaku. Ini ... berhubungan dengan malapetaka beberapa tahun lalu itu. Insiden nona Songli."
"Ah ...." Dengan anehnya, seketika wajah Sakha menjadi muram. "Kalau begitu, saya tidak berhak ikut campur."
Tentu saja para tamu tidak paham, juga tidak mengenal siapa itu adanya nona Songli. Namun mereka tidak menanyakan itu dan hanya diam.
"Perang Sejarah rstusan tahun silam, adalah malapetaka hebat yang membuat daratan kita terguncang. Namun manusia gunung sama sekali tidak ikut campur sehingga Kekaisaran Jeiji tak akan mengetahui tentang kami," ucap Raja Chunglai. "Sehingga jika kami diam saja dan membiarkan mereka lewat, maka semuanya akan aman."
Dahi Tok Ciauw mengernyit. "Memang aman. Benar sekali. Kalianlah yang aman."
"Jangan salah paham dulu, bukankah sudah kubilang aku sudah mengambil keputusan?" kata Chunglai seraya tersenyum. "Ada satu alasan yang menyebabkan aku harus turun tangan menghalau mereka di sini. Jika kalian sudi, mohon berikan dukungan kepada kami."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG