Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 106 – Jenderal Hong Ciu [][][]


__ADS_3

Pintu diketuk dari luar, dan percakapan antara dua orang itu terpaksa dihentikan sejenak. Sang putri memandang ke arah pintu beberapa saat lalu mempersilahkan orang itu untuk masuk.


"Ada apa?" kata sang putri tepat ketika pengawalnya berlutut memberi hormat.


"Jenderal Pek Kong datang menghadap, beliau hendak melapor."


"Suruh masuk."


Orang itu lantas pamit undur diri dan menutupkan pintu kembali. Tak berselang lama, masuklah seorang pria empat puluhan tahun lebih dengan salah satu pundak dibalut perban. Dia segera berlutut ketika melihat putri dan jenderal besarnya.


"Lapor kepada paduka putri, pertahanan di perbatasan terluar daerah pantai sudah diruntuhkan, saat ini mungkin pasukan Jeiji telah menduduki benteng di daerah sana. Mohon kebijakan paduka."


Putri itu bukan lain adalah putri Chang Song Zhu. Dia menghela napas lelah dengan wajah tak enak dipandang. Sungguhpun usianya masih tiga puluh lima tahunan, namun saat ini terlihat jauh lebih tua.


Jenderal yang sedang berlutut itu sedikit terkejut ketika mengetahui seekor burung dara putih berkalung emas nampak bertengger di pinggiran meja. Sebagai tentara, jelas dia mengenal burung ini.


"Pesan dari kaisar...." gumamnya lirih.


"Baru saja burung ini datang dan menyampaikan pesan ayahanda kaisar. Bahwasannya aku diminta untuk kembali ke utara dan menyerahkan kepemimpinan di sini kepada jenderal Hong Ciu." katanya kepada jenderal itu.


"Tapi mendengar laporanmu...." putri ini nampak meragu.


"Kabar baik putri!" seru jenderal Pek Kong dengan wajah berseri. Jelas ini membingungkan putri itu.


"Apa maksudmu?"


"Disaat semua sedang kacau balau seperti sekarang ini, nyawa keluarga kaisar sangatlah penting. Yang mulia kaisar sungguh bijaksana, memang tuan putri harus lekas pergi dari sini. Secara diam-diam."

__ADS_1


Putri itu nampak tak senang. Ia memicingkan matanya ketika menggeberak meja, bahkan burung dara itu sampai ketakutan dan melompat ke pundak jenderal tua yang duduk di depan putri itu.


"Apa tanggapan orang akan hal itu? Pasti namaku akan dicap sebagai putri pengecut!" bentaknya. Wajahnya sudah merah padam.


Jenderal tua yang sibuk menenangkan burung dara itu memandang dan berkata, "Tak peduli apa kata orang, tapi ini merupakan perintah langsung dari Yang mulia kaisar. Anda tidak boleh sampai menolak tuan putri. Biarkan saya menjaga di sini sesuai perintah Yang mulia."


"Jenderal Hong Ciu, aku akan tetap di sini, mempertahankan bangsaku!" putri itu terus bersikeras tak mau kalah.


"Nona..." sergah jenderal Hong Ciu tenang. "Apa jadinya jika anda dalam bahaya?"


"Aku tidak takut, itu resiko! Mati pun aku sama sekali tidak ada rasa jeri!"


"Jika begitu, maka rakyat akan kehilangan pegangan, mereka kehilangan tuan putrinya. Jika sudah seperti ini, semangat mempertahankan tanah air akan menurun drastis, dan akibatnya....bukannya kemenangan mengusir penjajah, justru penjajahlah yang menang."


Saat putri itu hendak membantah lagi, dia sadar tidak ada satu pun hal yang bisa digunakan untuk mendebat. Memang jenderal sekaligus penasihatnya itu memiliki pandangan luas, dia menyarankan satu hal yang benar-benar menjadi jalur paling aman. Tapi tetap saja dia tidak puas. Jika dia pergi, dia merasa seperti telah menyerah bahkan sebelum perang.


Akan tetapi, setelah beberapa saat akhirnya dia sadar betapa tepatnya ucapan jenderal Hong Ciu. Saat seperti ini, yang ia pikirkan seharusnya hanyalah rakyat, bagaimana cara menyelamatkan para rakyat! Urusan penjajah dapat dipikir belakangan, namun kekaisaran Chang tak bisa terus bertahan jika kehilangan rakyatnya. Ia mendudukkan dirinya dan berkata lagi.


Jenderal itu mengangguk-angguk seraya mengelus jenggotnya. Matanya melirik ke kanan atas tanda sedang berpikir. "Untuk sementara, bagaimana kalau mengungsikan seluruh warga pesisir ke kota-kota dekat sini?"


"Itu sudah dilakukan tuan." kata jenderal Pek Kong yang masih berlutut. Jenderal Hong ciu dan putri itu menoleh meminta penjelasan. Pek Kong berkata lagi, "Tanpa disuruh pun, mereka sudah berbondong-bondong pergi ke barat."


"Kau yakin para warga di sana sudah aman semua?" tanya Hong Ciu.


"Saya tak bisa memastikan tuan, karena banyak dari mereka yang cukup keras kepala. Hanya karena tak ingin kehilangan mata pencaharian, mereka tak mau pergi dan membiarkan tempat mereka diduduki kekaisaran Jeiji."


Raut ketidaksukaan nampak jelas di wajah jenderal dan putri itu. Keduanya saling pandang seolah bicara dengan tatapan mata saja. Dua orang ini sudah cukup berpengalaman, dan melihat situasi ini, perasaan mereka tidak enak.

__ADS_1


Putri Chang Song Zhu bertanya, "Rakyat tidak diganggu?"


"Untung saja mereka masih manusia nona. Semua orang dibiarkan hidup aman, asal suka membayar pajak dan mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Bahkan wanita dan anak-anak pun dibiarkan bebas." kata Pek Kong.


Putri itu bertanya lagi, jelas nadanya gusar, "Kau yakin dengan hal itu? Tidak ada satu pun yang diganggu?"


Pek Kong menjawab lagi, "Benar nona. Kecuali saat pertempuran pecah, banyak warga tewas dan bersembunyi di hutan sekitar. Tapi setelah perang mereda, mereka kembali lagi dan beraktivitas seperti biasa."


Kali ini jenderal Hong Ciu membentak marah, "Sialan, pasti mereka hendak menghasut rakyat kita!! Pintar sekali, mereka ingin secara perlahan agar rakyat menerima mereka. Karena kalau sudah demikian, posisi kita yang tanpa dukungan rakyat akan sangat lemah."


Jenderal Pek Kong itu terkejut, tak pernah sekali pun dia berpikir demikian. Diam-diam dia menyalahkan kebodohan sendiri yang terlalu fokus pada pasukan tentara, sampai tidak menyadari bahwa dalam keadaan seperti sekarang, dukungan dan suara rakyat amat pentingnya.


"Jika begitu maka gawat sekali, bagaimana baiknya sekarang?" tanya Pek Kong.


"Jenderal Pek Kong, sesuai perintah Yang mulai, maka engkau kutugaskan mengepalai dua ratus orang untuk mengawal paduka putri ke utara. Nanti setelah keluar dari wilayah Pegunungan Tembok Surga, akan ada pasukan lain dari Yang mulia yang menjemput." ujar Hong Ciu seraya bangkit berdiri. Dia berkata lagi setelah beberapa saat, "Untuk urusan ini, biarkan aku yang urus."


Putri Chang Song Zhu dan jenderal Pek Kong mengangguk setuju. Maka pada saat itu, segera disiapkan dua ratus prajurit pilihan untuk mengawal putri mereka berangkat ke utara.


Sedangkan jendetal Hong Ciu sendiri sudah menurunkan berbagai macam perintah untuk mengirim pasukan ke perbatasan pantai, memerintah mereka agar berjaga di dusun-dusun dan kota-kota dekat sana guna mengantisipasi jika kekaisaran Jeiji melakukan pergerakan.


Tiga hari kemudian, rombongan dua ratus pasukan itu berangkat meninggalkan kota Emas. Diiringi oleh tatapan warga kota Emas yang masih bingung dan tak tahu menahu, putri Chang Song Zhu meninggalkan kota Emas untuk pergi ke kota Zamrud, kota raja kekaisaran Chang.


Dia dikawal oleh lima orang pengawal pribadi. Lima orang ini merupakan panglima lihai yang selain pandai siasat, juga pandai dalam pertempuran perorangan.


Menggunakan kereta kuda yang amat sederhana, seperti kereta-kereta jasa angkut. Putri itu sengaja menyembunyikan identitas agar tidak menarik perhatian, juga para pengawal dan perwira sama sekali tidak ada yang menggunakan pakaian seragam. Mereka menyamar menggunakan pakaian petani atau pedagang atau sastrawan.


Sedangkan putri itu, tanpa riasan dan hanya bermodalkan sebatang pedang, ia memakai baju petani wanita pada umumnya. Memang dia tak terlihat seperti seorang putri, namun kecantikan itu tak pernah meninggalkan wajahnya. Walaupun nampak sangat sederhana.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2