Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 137 – Kisah Kelam Ratu Elang


__ADS_3

Di kekaisaran Chang sebelah selatan sana, ada salah satu tempat bernama distrik merah. Suatu tempat hiburan bagi para pelancong atau orang-orang sekitar untuk melepas penat kehidupan mereka.


Dulunya, tempat ini sudah tidak berdiri lagi sampai beberapa tahun karena telah diobrak-abrik dengan pertarungan dua pendekar sejati. Akan tetapi setelah Pertempuran Hitam Putih, pemerintah memutuskan untuk mendirikan tempat ini kembali. Di tempat yang sama.


Tempat ini memang resmi dan mendapat ijin dari pemerintah langsung, namun seiring berjalannya waktu, para tentara dilarang keras untuk memasuki tempat ini. Karena jika dibiarkan, bisa-bisa mereka terlena akan tugas mereka.


Banyak sekali perempuan penghibur yang muda dan cantik-cantik. Orang-orang menjuluki mereka sebagai Bidadari Petang. Karena memang orang-orang ini menunjukan "sosok bidadarinya" di waktu hari mulai gelap.


Salah satu dari Bidadari Petang ini adalah, seorang anak gadis empat belas tahun yang memiliki tampang seperti anak enam belasan tahun. Berasal dari keluarga Yang yang miskin dan anak ini digunakan sebagai pelunas utang.


Walaupun tergolong masih muda dan termuda, namun laki-laki hidung belang sekitaran sana sangat senang dengan pelayanan anak ini. Bahkan sering kali terjadi keributan sampai bentrokan. Karena itulah anak bermarga Yang ini memiliki nilai jual paling tinggi.


Hingga tepat di umur yang ke enam belas, dia merasa sudah dewasa dan tidak membutuhkan perlindungan nyonya rumah tempatnya tinggal itu. Maka dengan nekat anak ini kabur dari distrik merah. Meninggalkan secarik surat yang mengatakan bahwa dia sudah bosan tinggal di sana.


Maka pergilah anak ini yang bukan lain adalah Yang Ruan itu ke segala arah. Entah ke mana dia tak tahu, hanya menuruti langkah kakinya saja.


Namun dasar wajahnya yang cantik, di sepanjang perjalanan, dia selalu tak dapat luput dari godaan para lelaki yang berada di desa atau kota-kota. Dia menjadi risih.


Akan tetapi apalah daya, dia hanyalah gadis lemah pelacuran yang dengan nekat melarikan diri. Maka pada suatu hari ketika ada seorang yang berasal dari rimba persilatan tertarik padanya, dia beraksi dan Yang Ruan tak dapat melakukan apa-apa. Bermalam-malam lamanya dia di keram di goa tempat pendekar itu bermalam.


Namun pada suatu malam, datanglah seseorang ke mulut goa. Yang Ruan yang selalu dalam keadaan tertotok lumpuh itu hanya dapat memandang terbelalak ketakutan seperti seekor kelinci yang hendak diterkam harimau.


Akan tetapi dia terkejut tatkala melihat seorang wanita separuh baya yang berdiri di depan mulut goa dengan sikap tenang. Di tangan kanannya itu, membawa sebuah benda hitam entah apa itu.

__ADS_1


"Gadis kecil yang malang....." gumam wanita tua itu, kemudian dia menggerakkan obornya dan untuk sesaat, Yang Ruan melongo saking bingungnya.


Menatap sesuatu di tangan nenek itu, dia menjerit, "Akkhhhh.....itu...itu kepalanya!!"


Wanita tua melirik kepala yang sedang dipegang di tangan kanannya, dia berkata, "Memang benar ini kepalanya. Kelakuannya terlalu biadap untuk mengurungmu di sini sampai beberapa waktu. Maafkan aku yang datang terlambat." setelahnya ia bebaskan totokan di tubuh Yang Ruan.


Yang Ruan merasa seperti hidup kembali. Karena sudah beberapa malam tak bergerak sama sekali, maka sekali bergerak seluruh urat syaraf dari ujung rambut sampai jari kaki menjerit kesakitan.


"S-siapa kau! Apakah kau berniat untuk membawaku ke tempat pelacuran itu lagi untuk mendapat keuntungan?" tubuhnya yang masih telanjang sepenuhnya itu berkeringat dingin dan matanya jelalatan melirik ke sana-sini. Ketika melihat sebuah batu runcing, cepat dia ambil dan mengarahkan kepada leher sendiri, "Mundur!! Kau tak akan bisa mendapat keuntungan dariku!!"


Namun saking lelah dan sakitnya tubuhnya, setelah berkata demikian pandangannya berkunang dan dia jatuh pingsan.


Wanita tua ini menggelengkan kepalanya dan menggendong Yang Ruan, setelahnya dibawa lari dengan kecepatan cepat sekali.


...****************...


Setelah diam beberapa saat, dia berkata lagi, "Dia membawaku ke Perguruan Putri Elang dan ternyata dia menjadi ketua di sana. Namun anehnya, tak ada yang mengenal siapa nama aslinya sampai sekarang. Semua orang hanya mengenal ibuku sebagai Yang Xue. Sebelum aku datang, mereka semua hanya memanggil dengan sebutan ketua atau guru."


Sung Han mendengarkan kisah luar biasa itu dari awal sampai akhir, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan raut perubahan. Namun diam-diam jantungnya berdegup keras dan beberapa kali sampai berhenti saking kagetnya mendengar cerita itu.


Tanpa sadar tangannya terkepal.


Yang Ruan yang melihat ini cepat bangkit berdiri dan tertawa hambar, "Hahaha, kau sudah tahu siapa sebenarnya Ratu Elang ini. Karena itulah tak ada waktu lagi untukku pergi denganmu, sampai jumpa." dia sudah berbalik dan hendak pergi.

__ADS_1


Namun tiba-tiba, dia berhenti ketika merasa tangannya ditahan oleh seseorang. Kiranya itu Sung Han.


"Tunggu sebentar!" kata pemuda itu dan merobek ujung lengan jubahnya sendiri.


"Apa yang–" belum sempat Yang Ruan selesai bicara, Sung Han sudah menutupkan kain jubahnya itu ke mulut Yang Ruan. Membuang cadar lamanua dan menggunakan cadar baru yang berasal dari robekan jubahnya itu. Membuat mulut serta hidungnya tertutup kain jubah itu.


"Hahahaha, kalau sudah begini, pastilah mereka-mereka itu mengira kau ini istriku dan aku suamimu yang pencemburu, tak mengijinkan wajah istriku kelihatan orang. Ayo kita lanjutkan perjalanan, kemana pun itu yang penting kau temani aku. Setidaknya sampai kau mendapat tempat sembunyi yang cocok." kata Sung Han, penuh semangat tanpa keraguan. Lalu pergi meninggalkan Yang Ruan seorang diri.


Sedangkan gadis itu, tubuhnya gemetaran dengan wajah memanas. Hampir dia menangis saking terharunya. Melihat sikap Sung Han yang sama sekali tidak berubah kepadanya setelah melihat masa lalu kelam itu, dia merasa makin rendah dan hina untuk dapat berjalan bersama pemuda itu.


"Aku bersumpah, jika memang ada kehidupan kedua, aku akan menemanimu seumur hidup!! Jika jadi naga aku akan menjadi pelindungmu. Jika jadi anjing aku akan jadi penjaga ladangmu. Jika jadi kucing aku akan jadi penghiburmu. Jika jadi cacing aku akan menyuburkan tanah ternakmu. Dan jika jadi manusia lagi...." Yang Ruan berseru lantang tanpa keraguan, namun di akhir kata ucapannya sedikit lirih.


"Aku akan jadi istrimu!" teriaknya tanpa berani menolehkan muka.


Tentu pemuda itu terkejut sekali mendengar ini, matanya melebar sempurna. Namun sedetik kemudian dia tersenyum tipis saat berkata, "Yang Ruan, aku kasihan padamu. Lebih baik sekarang pergilah dari hadapanku, bagaimana pun aku adalah pewaris pedang gerhana. Aku dan Kay Su Tek akan saling bunuh."


Yang Ruan menggeleng perlahan, "Aku tak bisa meninggalkan kalian berdua."


"Mengapa begitu?"


"Aku tak tahu."


Sung Han merasa tak puas dengan jawaban itu. Tapi yang pasti, mulai dari hari itu, perasaannya makin cemas.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2