Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 62 – Pemilik Goa


__ADS_3

Tubuhnya terombang-ambing di tengah danau tenang itu. Keadaan remang-remang dengan cahya hijau temaram dari dasar danau. Agaknya ada semacam batu bercahya di dasar danau itu.


Kay Su Tek mengerjap-ngerjapkan matanya tubuhnya terus berputaran di tengah danau. Sama sekali belum ada niatan untuk berenang ke pinggir atau melakukan hal lainnya.


Matanya terlalu fokus untuk membaca berulang-ulang tulisan di langit-langit tepat di atas lubang di mana dia tadi jatuh dari ketinggian.


"Danau itu racun. Lebih ganas dari kecelakaanmu yang pertama."


Lalu, tulisan di bawah lubang yang sama, juga berhasil menyita perhatiannya.


"Keherananmu akan terjawab jika kau coba mengingat beberapa waktu lalu."


Ia terus membaca berulang-ulang karena bingung hendak melakukan apa. Dia sudah tahu makna dari dua kalimat itu dan paham pula mengapa ia tidak mati di dalam air yang katanya beracun ini.


Tepat di atas sana, di atas lubang yang menghubungkan dengan danau ini, tertulis jika yang sebelumnya celaka maka akan untung sekarang, dan jika sebelumnya untung akan celaka sekarang.


Setelah serangkaian kejadian di goa aneh ini, dia menjadi waspada dan hati-hati untuk mencerna peristiwa yang satu ini.


Pastilah racun ini akan mematikan orang yang sebelumnya berhasil selamat dari kandang ular tanpa terkena racun sedikit pun. Hal ini mungkin dilakukan dengan menghindari racun ilusi dari asap berbau aneh milik ular-ular itu. Sebenarnya cukup mudah, hanya tinggal melompat dan menempel di langit-langit yang tinggi.


Kay Su Tek sangat bersyukur karena tadinya dia sudah terlanjur panik dan tidak terpikirkan cara ini.


Namun jika seseorang sudah menderita racun ular-ular itu secara parah, maka sungai danau beracun ini akan memakan racun ular sebelumnya dan menyelamatkan si penderita. Beruntung sekali bagi pemuda itu.


Beberapa saat kemudian karena sudah bosan memandangi hal serupa, Kay Su Tek berenang ke pinggir dan naik ke daratan. Di tempat ini tidak ada lagi dinding halus, semuanya natural sebagaimana mestinya. Dengan dinding dan lantai kasar penuh tonjolan batu tajam.


Kay Su Tek duduk selama beberapa waktu hanya untuk menenangkan diri. Dia tidak tahu harus senang atau sedih menghadapi peristiwa yang menimpanya ini. Hanya bermodalkan rasa penasaran, sampai membuat dia memasuki goa aneh yang penuh keganjilan.

__ADS_1


"Hah...." ia menghela napas lelah. Mencoba melupakan urusan lalu. Kay Su Tek bangun dan berjalan ke satu-satunya lorong yang ada di sana.


Sepanjang lorong itu tidak ada yang namanya obor, hanya diterangi dengan batu-batu mutiara yang berkilau dan menghasilkan cahaya temaram.


Kembali sebuah lorong panjang dengan sabar harus ia lalui. Tubuhnya sudah segar bugar dan rasa lemas telah terusir pergi, sehingga langkahnya cukup cepat sebagaimana seorang pendekar semestinya.


Perhatian Kay Su Tek benar-benar teralihkan oleh batu mutiara itu. Tak jarang ia berdecak kagum ketika ada sebuah batu mutiara yang cukup besar dan menghasilkan cukup banyak cahaya.


Namun langkahnya tiba-tiba berhenti dengan wajah sedikit pucat tatkala di depan sana terdapat sebuah kursi batu yang nampak megah. Yang membuatnya ngeri tentu saja bukan kursi itu, melainkan sosok yang duduk di atasnya.


Itu adalah kerangka manusia. Sebuah kerangka lengkap dengan bajunya!


Kay Su Tek menelan ludah susah payah, "Apakah aku harus kembali?" tanyanya kepada diri sendiri merasakan aura mencekam yang datang tiba-tiba. "Ah, sial. Mengapa tiba-tiba aku menjadi begini penakut?"


Kay Su Tek masih bergeming di tempatnya sampai beberapa lama. Ia terus menatap kerangka manusia utuh itu lamat-lamat. Tapi semakin lama dipandang, bukannya makin tenang justru malah sebaliknya. Dia merasa seolah kerangka itu sedang memandang balik padanya. Satu hal yang membuat bulu kuduk tengkuknya berdiri tegak.


Akhirnya, dengan nekat Kay Su Tek paksa kakinya melangkah. Perlahan saja namun lama-kelamaan sampai juga ia di hadapan kerangka yang duduk tegak itu. Saat sampai tepat di depan kerangka itulah baru Kay Su Tek sadari bahwasannya kerangka itu memang sudah mati, dan rasa seram yang dirasakan sebelumnya tak lain berasal dari rasa takutnya.


Bajunya berwarna ungu gelap dengan hiasan bunga-bunga mawar warna hitam. Celana orang itu berwarna putih bersih seolah sarang laba-laba dan debu sekitar tak bisa menempel di sana.


Jika diperhatikan lebih teliti lagi, jubah dan celana orang itu menjelaskan jika dulunya sosok kerangka ini adalah seorang pendekar. Terlihat dari cara memakai pakaiannya itu, Kay Su Tek merasa semakin yakin dengan prasangkanya.


Lalu saat ia meneliti jahitan baju pada bagian kerah, ujung matanya tanpa sengaja membaca sebaris tulisan singkat di tembok. Kali ini huruf-huruf itu tidak terlalu rapi seperti sebelumnya.


"Hanya yang berjodoh yang bisa mencapai tempat itu."


Kay Su Tek mengerutkan kening. Tapi sesaat kemudian ia mengelilingi ruangan yang tak terlalu lebar ini untuk meneliti setiap jengkal bagian dinding. Kalau-kalau ditemukannya sesuatu yang bisa digunakan sebagai petunjuk.

__ADS_1


Tapi nihil, tak ada sesuatu apapun kecuali mutiara bercahaya itu. Kay Su Tek kembali ke hadapan kerangka.


Ia berpikir sambil berdiri, mencoba mencari cara selanjutnya untuk menyingkap misteri di dalam goa aneh ini. Sungguh pemuda ini telah lupa untuk memikirkan cara bagaimana dia harus keluar.


"Ah..." seperti tersadar oleh sesuatu, tubuhnya tersentak dengan mata melebar.


Ia teringat oleh kalimat pertama saat dia masuk ke mari. Yang menyuruh untuk menjaga sopan santun. Sadar bahwa kelakuannya selama di goa ini jauh dari kata sopan karena ketegangan oleh racun itu, diam-diam dia menyesal.


Mungkin maksud si pemilik goa ini adalah, yang berjodoh itu tentu orang yang memiliki sopan santun.


Kay Su Tek memandang kerangka itu dan kembali ia terhenyak kaget. Satu pikiran berkelebat memasuki pikirannya untuk mengharuskan ia bersujud di hadapan kerangka.


"Jangan bilang kerangka ini pemilik dari goa?" batinnya penuh keterkejutan.


Saat bersujud seperti itu, dia melihat satu tulisan kecil di lantai yang berbunyi.


"Sujud delapan kali untuk menjadi muridku."


Kay Su Tek tak berani memusingkan hal itu lagi. Ia segera menuruti tulisan itu dan bersujud sampai delapan kali. Kepalanga mengangguk-angguk seperti seekor ayam mematuk beras di atas tanah. Jidatnya membentur-bentur lantai batu itu delapan kali banyaknya.


Saat ia duduk dalam kondisi semula, matanya melebar ketika menemukan sebuah tulisan lain di kursi itu tepat di bawah kaki kerangka. Di sela-sela kedua kakinya. Kalau saja Kay Su Tek berdiri, tulisan itu pastilah tidak terlihat karena tertutup jubah lebarnya.


Kay Su Tek segera menurut saat selesai membaca tulisan itu. Ia segera duduk bersila di bagian lantai yang tidak rata, di sebelah kiri kerangka. Duduk dan bermeditasi, diam seperti patung dengan mata terpejam. Saking heningnya ruangan ini, sebentar saja kesadarannya seperti tersedot ke dalam kegelapan. Ia sadar, tapi tidak sadar. Ia tidur, tapi tetap bangun.


Isi tulisan di sela-sela kaki kerangka itu adalah.


"Meditasi di atas batu tidak rata itu, jangan buka matamu sebelum merasakan suhu sekitar yang berubah."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2