
Sung Han rebah miring dengan napas tersenggal-senggal. Dalam keadaan seperti itu, Yang Ruan hanya mampu memandang dengan nanar di sudut ruangan. Tangannya terbelenggu dengan batu misterius pengekang tenaga dalam. Bagaimanapun dia belum sampai ke tingkat pendekar sejati.
Di hadapan Sung Han, berdiri kokoh bagai sebuah gunung raksasa seorang kakek tinggi besar bermuka seram. Matanya hanya tinggal satu, dialah Naga Bertanduk.
Pemuda ini memandang Naga Bertanduk dengan tatapan permusuhan yang teramat hebat. Sedang yang dipandang hanya senyum-senyum saja.
"Setelah aku kembali ke tempat ini, permintaan kalian tetap sama?"
Topeng emas dan dua orang pengawal setianya, Yu Fei dan Bo Tsunji, yang masih terluka di sana-sini akibat amukan Rajawali Merah yang meloloskan diri, hanya diam memandang saja.
Pertanyaan ini dijawab oleh Naga Bertanduk, "Hm....setelah kau mencoba menghalangi kami menculik putri, membebaskannya, lalu menghalangi pekerjaan kami di desa itu. Hm....Sung Han, apa maumu sebenarnya?"
Sung Han terkekeh, "Heheh....kemauanku?" setelah menarik napas beberapa kali, dia melanjutkan, "Mungkin....kepunahan kalian...."
"Bangsat!" Naga Bertanduk menggerakkan kaki untuk menginjak kepala Sung Han.
"Hentikan!!! Kalian para pengecut busuk, hentikan!!" Yang Ruan menjadi histeris melihat Sung Han yang tak berdaya itu. Sebenarnya mampu saja pemuda ini membebaskan diri dari belenggu batu pengekang tenaga dalam, namun yang berjaga di sana adalah Naga Bertanduk!
"Naga Bertanduk, cukup!" ucap topeng emas perlahan namun tegas. Setelahnya ia datang menghampiri dan berjongkok di hadapan Sung Han, "Kau sudah tahu permintaan kami, berikan ilmu-ilmu simpananmu."
"Pangeran pengkhianat, mana sudi!!" bentak Sung Han yang mengejutkan Yang Ruan.
"Buaaghhh!!"
Satu pukulan mendarat di pipi Sung Han, namun untung pengerahan hawa saktinya berhasil mengurangi rasa sakit dari pukulan itu.
"Kau sudah tahu siapa aku, maka akan kubuat kalian berdua mengalami sesuatu yang lebih hebat dari kematian!" katanya gemetar saking geramnya, "Sebentar lagi kalian akan kulepas, tapi lihatlah setelahnya, kalian akan selalu kejar-kejaran dengan yang namanya maut!"
"Singg!!!"
Pedang gerhana tercabut dan berhasil menorehkan sedikit luka di pipi Sung Han. Pemuda ini sama sekali tidak takut, pantang baginya untuk merasa takut dengan segerombolan pengecut ini.
Tak berselang lama, datanglah tiga orang setelah mendengar tanda dari sang pangeran atau topeng emas itu, "Perkenalkan, inilah Sung Han, Rajawali Merah dan Ratu Elang."
__ADS_1
Sung Han dan Yang Ruan sontak memucat ketika melihat tiga orang itu. Orang pertama adalah seorang pemuda, namun mukanya cukup buruk dengan warna kulit pucat seperti mayat. Dia mengenakan pakaian yang persis seperti Sung Han, bahkan perawakannya pun mirip.
Orang ke dua adalah seorang pria mengenakan baju serba merah. Di tangannya memegang sebuah topeng. Namun dadanya menonjol seperti dada perempuan, namun jika diperhatikan, dua tonjolan ini bukanlah asli tapi palsu. Melihat orang ini, terbukalah mata Sung Han jika Rajawali Merah yang menjadi teror desa itu tidaklah benar. Dan orang inilah yang menyamar sebagai Rajawali Merah.
Sedangkan orang ketiga juga laki-laki, kurus sekali. Juga memakai dua buah bantalan dada. Agaknya orang ini menyamar sebagai Ratu Elang.
"Apa yang akan kalian lakukan dengan mereka!!??"
"Bangsat, kalian!"
Yang Ruan dan Sung Han sudah memekik-mekik mengirim umpatan segala macam bentuk. Namun topeng emas hanya terkekeh dan berkata singkat, "Kalian akan tahu setelah keluar dari sini."
...****************...
Dua belas orang prajurit kekaisaran datang ke desa itu dengan sikap gagah dan kereng. Pakaian mereka menggunakan pakaian perang yang sangat indah bentuknya. Di pinggang masing-masing, tergantung sebatang pedang yang berukir indah.
Mereka ini bukan lain adalah serombongan prajurit yang dikirim dari kota raja untuk menjemput dua orang nona dan nyonya Han. Waktu itu, keadaan desa masih tertutup oleh awan kedukaan, apalagi nona Han. Namun melihat kedatangan mereka, semua warga sebisa mungkin untuk mengukir senyum dan bersikap ramah.
Namun Han Fu Ji yang masih berumur belasan itu, tak cukup pandai dan pengalaman untuk main sandiwara dengan berpura-pura bahagia di depan orang lain. Dia sama sekali tak bisa senyum sejak kejadian Sung Han kemarin itu. Perasaan menyesal hebat menggerogoti seluruh hatinya, membuatnya selalu dalam keadaan menangis walaupun tak ada air mata yang keluar.
Sejak saat itu, lama-lama dia agaknya mulai sedikit memahami Sung Han. Sung Han yang tidak marah itu sama sekali bukan tanpa tujuan, pasti dia dapat memaafkannya karena semua tindakannya waktu itu adalah demi menyelamatkan ibunya. Betapa mulianya hati pemuda itu bahkan sampai rela menantang maut dengan tertangkap oleh rombongan Serigala Tengah Malam.
Ketika ibunya datang ke kamarnya, dia memandang iba. Han Fu Ji menoleh, "Ibu....bagaimana keadaan mereka?"
"Aku pun tidak tahu." katanya dengan nada sedih, "Dan aku pun tidak tahu harus senang atau marah dengan penyelamatanmu yang seperti itu."
Mata Han Fu Ji memerah, lalu terisak, lalu merengek, dan dia sudah menubruk ibunya, menenggelamkan wajahnya di dada ibunya untuk meredam suara tangisnya.
"Apa yang harus kulakukan? Aku tak ada pilihan lain."
Ibunya tak mampu menjawab, hanya mengelus kepala anaknya tanpa berucap sepatah kata pun.
Kurang lebih satu jam kemudian, adalah waktunya bagi mereka untuk berangkat. Dengan pakaian indah bagai putri istana, dua orang nona dan nyonya Han ini diiringi oleh para warga berjalan menuju kereta kuda besar yang sudah disiapkan.
__ADS_1
Tentara-tentara yang berjumlah belasan itu berdiri di kanan kiri dengan bentuk barisan rapi. Berdiri tak bergerak seperti arca, hal ini membuat kagum mereka semua. Betapa gagahnya para prajurit kekaisaran.
Para pendeta yang ikut menonton tak lupa selalu memanjatkan doa-doa untuk keselamatan keduanya. Juga kepala desa yang sudah sepuh itu melempar-lemparkan bunga berbagai macam warna saking bangganya kepada dua orang wanita cantik itu.
"Selamat jalan! Sampai berjumpa di istana!!" teriak para pemuda dan gadis yang diam-diam berharap suatu saat juga akan dilirik oleh pihak kekaisaran untuk direkrut ke istana.
Setelah memasuki kereta kuda mewah itu, pintu ditutup dan para tentara lekas menaiki kudanya. Pemimpin rombongan ini tak lupa mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga desa atas sambutan yang demikian meriah. Setelahnya dia naik kuda, memberi aba-aba, dan berabgkatlah rombongan ini menuju kota Zamrud. Kota raja Chang.
Di sepanjang perjalanan itu, Han Fu Ji selalu nampak murung. Ibunya sadar akan hal ini namun dia juga tak dapat membantu banyak.
Sedangkan nona Han sendiri, pikirannya selalu berkecamuk mengenangkan beberapa hari tinggal bersama Yang Ruan dan Sung Han. Jika dia teringat akan hal itu, mulutnya tersenyum.
"Betapa menyenangkan tinggal bersama mereka." batinnya.
Namun mengenangkan perbuatannya itu, dia murung kembali.
Perjalanan terus dilanjutkan tanpa berhenti sedikit pun, kecuali ketika malam hari tiba. Mereka tak ingin mengambil resiko dengan melakukan perjalanan di tengah gelapnga malam yang berbahaya. Maka diputuskanlah untuk istirahat di tengah hutan itu, membangun tenda dan beberapa api unggun.
Akan tetapi ketika sang pimpinan rombongan sedang mengatur anak buahnya melakukan ini dan itu, salah seorang anak buahnya datang dan melapor.
"Tuan, kita kedatangan tamu."
"Siapa?"
Belum sempat orang itu menjawab, tiba-tiba di atas salah satu pohon, sudah berdiri tiga orang dengan sikap kereng. Dua diantaranya memakai topeng, sedang satu lagi memakai caping lebar.
"Kami lah tamunya."
Pimpinan itu mendongak, "Siapakah tuan-tuan di sana?"
Yang berkata tadi adalah si caping, maka kini dia pulalah yang menjawab, "Aku Sung Han."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG