
Sung Hwa telah berdiri di depannya. Dengan luka sayatan lebar di perut yang masih terus mengalir. Akan tetapi wanita itu dengan gagahnya merentangkan kedua tangan dan memelototkan mata. Sama sekali tidak terbayang rasa takut dari sorot matanya sungguhpun wajah itu pucat pasi.
"Suamiku ... cukup ...." Sung Hwa roboh terguling.
"Sung Hwa!"
Buru-buru Sung Han masukkan pedangnya kembali dan menubruk. Sebelum tubuh istrinya benar-benar menghantam tanah, ia sudah memeluknya erat. Mengguncang-guncangnya dengan panik.
"Istriku ... hei ... Sung Hwa!" Sung Han terus mengguncang tubuhnya. Rasa panik naik ke kerongkongan dan napasnya tercekat, dadanya sesak.
Tanpa berlama-lama kemudian, Sung Han langsung memondong tubuh istrimya dan melesat ke dalam rumah. Membaringkan wanita itu di pembaringan. Kemudian secepat kilat, bagai burung terbang, tubuhnya berkelebat keluar dan hilang di kegelapan.
Lapat-lapat mereka bertiga dapat mendengar suaranya dari jauh.
"Jaga dia!"
Sung Han segera memanggil tabib yang berada di benteng. Lebih tepatnya mendatangkan tabib. Karena begitu sampai di kamar si tabib, tanpa permisi Sung Han langsung memondong tubuh lelaki tua sekaligus tas obatnya. Membawanya keluar seperti seorang rampok.
Di tengah perjalanan, Sung Han tak menghiraukan teriakan dan umpatan tabib tersebut. Ia lebih memilih menampar wajah si tabib agar segera sadar dari tidurnya serta menjelaskan bahwa kondisi istrinya amat gawat sehingga memaksa ia melakukan tindakan tersebut.
Sampai di kediaman, pintu sudah terbuka lebar. Tiga orang saudaranya sudah menunggu. Segera Sung Han bawa tabib itu ke kamarnya.
"Tolong obati dia tuan. Lukanya cukup dalam ...."
Tabib itu bersungut-sungut. Akan tetapi melihat orang terluka, apalagi luka parah, insting tabibnya yang sudah terbiasa menolong orang, menjadi iba. Lekas ia gulung lengan bajunya dan merobek baju Sung Hwa di sekeliling luka itu.
Ketika tindakan ini dilakukan, Sung Han melirik tiga orang lain yang segera tahu diri dan keluar kamar kemudian menutup pintu.
Tabib itu berseru kaget. "Luka apa ini? Kupikir hanya tebasan biasa?" dia menatap Sung Han panik. "Anak muda, senjata pusaka apakah yang melukai nyonya ini?"
"Pedang Darah," jawab Sung Han apa adanya.
"Milik pendekar Khuang Peng? Waduh, gawat!" tabib itu melotot dan tergopoh-gopoh menghampiri tasnya. Karena sudah tua, ketika membungkuk untuk menggapai tas yang diletakkan di lantai, terdengar bunyi "krak" dari punggungnya. Akan tetapi memang wataknya yang seorang tabib tulen, dia menjerit untuk memberi semangat pada diri sendiri. Tak ia hiraukan sakit punggungnya selama pasien belum disembuhkan.
Sung Han merasa terharu, juga kagum. Tabib ini luar biasa, pikirnya. Berhati mulia dan berwatak gagah. Sama seperti pendekar. Dia tak hiraukan diri sendiri ketika ada orang lain sedang kesusahan di depan matanya.
__ADS_1
"Anak muda, ayo bantu aku!" serunya ketika dia menabur obat bubuk di atas luka Sung Hwa. "Luka dari Pedang Darah tidak main-main. Obatku ini tak akan terlalu berguna. Kau harus membekukannya selama aku menjahitnya. Cepat!"
Sung Han tak ada waktu untuk berpikir, dia menurut. Ia letakkan kedua tangan di atas perut Sung Hwa, lalu perlahan mengalirkan hawa dingin.
"Tambah lagi kapasitasnya," titah tabib itu yang sudah siap dengan jarum.
Sung Han menambah tenaga dalam yang dikeluarkan. Darah yang mengalir mulai melambat, lalu menjadi kental sekali mirip seperti menggumpal.
Saat itu, si tabib cepat-cepat membersihkan darah di sekeliling luka. Dengan cekatan tangannya bergerak untuk menjahit luka tersebut. Perlahan tapi pasti, luka itu mulai menutup.
Sung Han tiba-tiba terhenyak ketika melihat suatu kejanggalan. Dia mengerahkan hawa dingin namun melihat perut istrinya mengkilap. Ia perhatkan dan ternyata itu adalah keringat!
Dia menoleh menatap wajah serta leher istrinya. Sudah penuh dengan keringat.
Namun wanita tersebut masih menutup mata seperti semula. Seperti orang pingsan. Akan tetapi Sung Han tahu, orang pingsan tak akan merasakan rasa sakit.
Tak masuk akal rasanya jika Sung Hwa berkeringat sedangkan sejak tadi dia terus mengerahkan hawa dingin. Itu hanya berarti bahwa Sung Hwa merasakan sakit itu dan sedang menahan sakit! Orang pingsan mana ada yang merasa sakit? Itu artinya istrinya sudah bangun dan pura-pura pingsan.
"Oh ... Sung Hwa ...," gumamnya dengan hati tersayat melihat perjuangan Sung Hwa. Hanya demi membuat dirinya tidak khawatir, dia masih terus pura-pura pingsan.
Dia menaburkan obat cair kental dan dioles-oleskan ke atas bekas jahitan. "Nah, selesai. Beberapa hari lagi pasti rasa nyerinya sudah sembuh. Dan seiring berjalannya waktu, bekas jahitannya akan hilang," katanya masih sambil meringis menahan nyeri di punggung.
Sung Han menjura dalam. "Terima kasih tuan."
Si tabib tak mengacuhkan dan pergi ke luar terbongkok-bongkok. Sepanjang jalan dia mengomel kepada Sung Han yang sudah mengejutkan tidurnya.
Sung Han menatap istrinya. Memang bandel sekali wanita itu. Setelah semuanya, dia masih pura-pura tidur.
Sung Han mengecup bibirnya lembut, lalu pergi ke luar. Dia pura-pura tak mendengar akan suara jerit tertahan ketika dia keluar kamar.
...****************...
"Begitulah. Usulku untuk memilih pemimpin adalah agar terhindar dari masalah seperti waktu itu. Maaf saja namun sekarang kita semua merasa bahwa diri kita adalah pemimpin para pendekar. Perasaan ini hanya menimbulkan pertentangan di lain waktu. Pemimpin satu tak mau kalah dengan pemimpin lainnya. Apa aku salah?"
Mereka semua menundukkan kepala. Sekarang baru terlihat oleh mata mereka betapa ucapan Sung Han memang tepat sasaran.
__ADS_1
Sudah satu minggu berselang dan Sung Hwa telah pulih sepenuhnya. Mereka mohon kepada tuan putri untuk diberi waktu sebulan lagi demi kesembuhan Sung Hwa secara total.
"Istriku sudah sembuh. Mungkin kurang dua minggu untuk benar-benar dalam kondisi prima," ujar Sung Han sambil mengelus perut Sung Hwa. Wanita itu meringis sedikit. Masih terasa nyeri di bekas jahitannya walau tidak parah.
Ucapan Sung Han ini merupakan isyarat. Secara tidak langsung pemuda itu ingin melakukan pemilihan pemimpin dua minggu kemudian. Dengan cara pendekar tentunya. Yaitu adu kepandaian. Ucapannya barusan sudah terlalu jelas.
Khuang Peng sejak awal pertemuan tak mau menatap suami istri Sung itu. Sung Han sama sekali tidak mempermasalahkannya. Atau dia yang pura-pura lupa akan ucapan Khuang Peng tepat sebelum membuat perut Sung Hwa terluka. Yang jelas, dia tak pernah melirik ke arah Khuang Peng.
"Di mana?" Gu Ren bertanya.
Sung Han menunjuk ke satu arah. "Di tanah lapang yang waktu itu kita gunakan untuk membagi pasukan. Biarkan para pasukan kita menunggu di bawah, mengamankan bukit." Sung Han mengedarkan pandangannya. "Ada yang keberatan?"
"Setuju!" Gu Ren menyahut.
Khuang Peng dan Nie Chi mengangguk.
"Istriku juga ikut."
"Eh, jika begitu tentu saja aku membelamu," ujar Sung Hwa sedikit bingung. "Bukankah tidak adil?"
"Itu adil," Gu Ren menyahut cepat. "Pertarungan ini adil. Sudah disetujui kita berlima. Jadi jika engkau mau membela suamimu atau siapa pun, terserah. Kita bertempur membawa kehendak sendiri. Siapa yang mau dilawan menjadi keputusannya sendiri-sendiri."
"Itu tidak adil!" Sung Hwa masih membantah. "Jika aku membela suamiku, bukan orang gagah namanya. Aku tak ikut!"
"Kau pengecut kalau begitu."
Sung Hwa menoleh cepat, merasa terkejut dengan ucapan suaminya.
"Ini pertarungan untuk menentukan siapa yang pantas jadi pemimpin di antara kita berlima. Tentu saja kau boleh bersiasat. Jika seandainya kau ingin mengangkat Khuang Peng jadi pemimpin, kau bisa membantunya. Seandainya ...."
"Suamiku!" Sung Hwa membentak. Gu Ren dan Nie Chi menegang. Sung Han sudah memancing.
"Itu kan hanya perumpamaan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG