Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 27 – Malapetaka


__ADS_3

Tepat ketika gema suara nenek itu hilang, pemukiman murid baru yang sudah jadi puing-puing itu menjadi sunyi senyap. Hanya suara api yang dengan lapar terus melahap kayu-kayu rumah saja sebagai pemecah sepi.


Beberapa saat berlalu, mereka mendengar suara seseorang yang berlari secara terburu-buru dari arah barat. Serentak orang-orang ini bersiap dan mencabut senjata. Akan tetapi betapa kaget mereka begitu melihat siapa yang datang.


"Sung Han!" Gu Ren tampak sumringah mengetahui anak itu baik-baik saja. Walau pun banyak bagian bajunya yang compang-camping, namun setidaknya pedang gerhana masih berada pada tempatnya.


Sung Han ngos-ngosan, sembari menggendong Yu Ping untuk mendaki bukit dengan tergesa-gesa, ditambah letih setelah dikeroyok, ternyata cukup melelahkan juga.


Orang-orang juga menjadi lega hatinya mengetahui Pedang Gerhana Matahari tidak kena rampas orang. Akan tetapi Sung Han tak hiraukan semua itu. Matanya menatap ke sekitar dengan terbelalak, begitu pula Yu Ping yang tampak membisu.


"Ini....benarkah ini tempat kita?" Yu Ping bicara seperti orang mengigau.


Sung Han cepat-cepat mengarahkan pandangannya ke arah rumah yang berapa pada pohon tinggi. Sebuah rumah pohon yang letaknya paling tinggi dibandingkan rumah pohon lainnya.


"Yu Ceng!" hatinya lega karena melihat rumah itu masih baik-baik saja. Tanpa pikir dua kali, ia berlarian ke rumah pohon itu dan dalam beberapa kali lompatan saja, dia sudah sampai atas.


"Yu Ceng!" seru Sung Han sambil membuka pintu. Dan kelegaan hatinya musnah seketika saat mengetahui pintu rumah sama sekali tidak terkunci.


Ruangan di sana gelap sekali, karena api yang berkobar jauh di bawah, juga di atas rumah ini daunnya sangat rimbun untuk mampu menutupi cahaya rembulan, maka ruangan itu nampak remang-remang.


Sung Han cepat menurunkan Yu Ping yang kebingungan, dia berjalan ke salah satu sudut ruangan untuk menyalakan sebatang lilin. Ia bawa lilin itu masuk ke dalam rumah.


Kakinya terasa lemas saat mengetahui banyak jejak kaki berlumpur yang terlihat di lantai rumah. Jejak kaki itu mengarah ke kamar Yu Ping dan Yu Ceng. Firasat Sung Han memburuk.


Ia bergegas melihat ke dalam kamar Yu Ceng dan....


"Yu Ceng!!!!!"


Yu Ping sangat terkejut, ia hampiri kamarnya dan memandang. Begitu melihat rupa seseorang di sana, sontak gadis kecil ini menjerit dan roboh pingsan.


Di bawah sana, orang-orang terkejut sekali mendengar teriakan dua orang itu. Baru mereka sadar kalau ternyata rumah Yu Ceng dan Yu Ping sama sekali tidak terbakar. Gu Ren mengajak Bao Leng dan Pat Kue untuk melihat.


Sampai di ambang pintu, ia melihat Sung Han yang terpaku di tempatnya berdiri. Sedangkan Yu Ping rebah tak sadarkan diri. Gu Ren serta dua kawannya mendekat, dan begitu melihat, hati mereka perih tersayat.


"Yu Ceng....." gumam mereka penuh duka.


...****************...

__ADS_1


Malam tadi, ketika Sung Han dan Yu Ping masuk, Yu Ceng sudah ditemukan rebah di tempat tidurnya dalam keadaan tak bernyawa. Lebih hebat lagi, tanpa busana apa pun.


Kepalanya terkulai lemas menghadap pintu. Matanya belum tertutup sepenuhnya, namun Sung Han dapat melihat banyak sekali bekas air mata kering di kedua pipi. Mata yang belum menutup sempurna itu, penuh kesedihan.


Yang membuat orang prihatin adalah, di antara kedua kaki Yu Ceng, nampak darah segar yang tidak sedikit. Juga....ah, tak perlu dilanjutkan.


Malam itu juga, Sung Han menangis sejadi-jadinya. Inilah tangis ketiganya setelah kehilangan Tang Qian dan Xiao Shi Yong. Biarlah orang anggap dia cengeng, saat itu Sung Han sama sekali tidak peduli dengan harga diri.


Pagi harinya, orang-orang bekerja dalam diam. Pemukiman murid baru nampak ramai, namun tidak ada satu pun suara terdengar selain suara orang yang membuat lubang kuburan.


Naga Hitam sedang berkabung.


Pemukiman penduduk yang sebelumnya penuh dengan rumah-rumah, kali ini digantikan dengan tumpukan puing-puing gosong.


Sedangkan tanah yang ada di sana, sudah penuh dengan gundukan tanah dan batu nisan sederhana. Itulah kuburan tiga puluhan orang murid baru yang hanya menyisakan dua orang selamat. Itu adalah Yu Ping dan seseorang yang pergi melapor ke Gu Ren saat malapetaka terjadi.


Gu Ren tak menghendaki satu lubang untuk banyak orang. Ia ingin semua mendapat kuburan yang layak dengan satu lubang satu orang.


Sung Han merangkapkan kedua tangan di depan batu Yu Ceng yang berada paling tinggi di antara yang lain. Sedangkan Yu Ping, hanya duduk di samping Sung Han dengan ekspresi kosong dan linglung.


"Paman Gu Ren....maaf atas keterlambatanku." katanya tanpa menoleh ke arah orang yang diajak bicara. "Andai saja aku datang lebih cepat...."


Sung Han tersenyum pahit, "Aku selalu disayang oleh kedukaan....."


Gu Ren memandang dengan kening berkerut. Dia mengepalkan tangan, menahan amarahnya untuk menyumpah serapah Hati Iblis si pembuat onar itu.


Sung Han berkata lagi setelah diam beberapa saat, "Paman, menurutmu siapa yang salah di sini?"


"Hati Iblis." jawab Gu Ren cepat-cepat hampir tak berjeda.


Akan tetapi ternyata Bao Leng punya pikiran lain. Ia menyahut dengan agak keras, tapi karena ingat dengan kedukaan perkumpulannya, ia masih sedikit lunak.


"Tentu kau biang keladinya!" cercanya menuding Sung Han, "Andai kata kau tak bawa-bawa pedang sialan itu, tentu tak akan terjadi malapetaka ini!"


Sung Han melebarkan bola matanya kaget. Namun detik berikutnya dia tersenyum masam, lebih tepatnya senyum dingin.


"Jika itu pendapatmu, maka akan kubalik dengan kenyataan yang sudah-sudah. Coba renungkan, apa jadinya kalau lima tahun lalu kau tidak main gila dengan asal membunuhi orang-orang kami?" yang ia maksudkan adalah bentrokan Rajawali Putih dengan Naga Hitam di hutan kala itu.

__ADS_1


"Jika itu tak pernah terjadi, maka Rajawali Putih tak akan pernah bentrok dengan kalian. Dengan begitu mereka masih tetap ada dan sampai sekarang hingga masa depan aku akan tetap menjadi kacung mereka. Otomatis, aku tak pernah bertemu dengan guru dan mendapat pedang ini."


Kalimat-kalimat ini diucapkan dengan nada dan intonasi yang sedikit berubah. Gu Ren serta Bao Leng bergidik.


"Jadi....siapa biang keladinya? Bukankah kalian sendiri?"


Sung Han menoleh, dan betapa terkejut juga gentar hati mereka berdua saat bertemu pandang dengan mata Sung Han. Sekilas, ia melihat sesuatu yang mengerikan, entah apa itu tapi memaksa dua orang ini mengalihkan pandangan.


Begitu pula dengan Sung Han, kematian Yu Ceng serta seluruh murid baru, ditambah tuduhan Bao Leng yang tak berdasar dan menurutkan egonya, membuat kemarahannya timbul.


Semua orang murid baru adalah orang-orang yang disayangnya. Mereka semua memperlakukan dia dengan baik, sehingga dasar hatinya yang lembut itu secara otomatis sudah menganggap mereka semua bukan orang lain lagi.


Namun di lain sisi, Bao Leng malah seenaknya menimpakan kesalahan padanya. Hal itu sungguh membuatnya murka dan menganggap Bao Leng tak tahu diri.


Ia bangkit perlahan, namun sedetik kemudian, tangannya sudah mencabut pedang gerhana dan tebasan horisontal yang mengarah leher Bao Leng tak dapat dihindarkan.


"Trang!!"


"Sung Han...tahan!"


Sung Han kaget sekali, kiranya pedang pusaka yang ampuhnya entah sekuat apa itu mampu ditahan oleh pedang seseorang. Orang itu adalah Giok Shi yang entah datang dari mana sudah mencabut pedang Gu Ren dan menahan pedang Sung Han. Detik berikutnya, pedang di tangan Giok Shi rontok bagai butiran debu.


"Sungguh luar biasa! Pusaka keramat!" hatinya menjerit kagum.


Melihat datangnya Giok Shi, Sung Han mundur selangkah. "Coba jelaskan, kenapa muridmu yang satu ini sangat kurang ajar dalam menggunakan mulutnya? Apakah dahulunya dia merupakan ketua bandit yang kau taklukkan?"


Sung Han memang sudah tahu asal-usul Naga Hitam dan perbedaan antara murid lama dan murid baru. Maka dia berani berkata demikian.


"Sung Han, tenangkan pikiran dan hatimu. Ini semua bencana, tidak ada yang patut dipersalahlan di sini. Mari bicara untuk menemukan jalan keluar bersama."


"Tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan!!"


Pedang itu berkelebat dan...


"Sraaatt!!"


"Aakkhhhh!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2