
Nie Chi terus membayangi tujuh orang itu dari kejauhan. Diam-diam dia cukup berwaspada dengan tujuh orang itu yang gerakannya demikian ringan dan tangkas. Menunjukkan bahwa orang-orang itu bukan hanya tidak lemah, namun memiliki kepandaian cukup tinggi.
Nie Chi menghentikan langkahnya ketika melihat di kejauhan sana tujuh orang itu juga berhenti. Mereka tiba di satu persimpangan yang membuat ketujuh orang itu tentu saja bingung. Yang mereka kejar hanya satu orang dengan sebuah gerobak, tak mungkin dia membelah diri.
"Kau ke sana, kau dan kau juga. Aku ke sini bersama kau dan kau. Sedangkan kalian berdua ke arah sana yang agaknya jalan paling sukar." kata pemimpin rombongan menunjuk orang-orangnya untuk diperintahkan bergerak ke arah mana. "Arah batu-batu terjal menuju tebing itu tak mungkin ditempuh orang itu. Hal itu cukup menyulitkan perjalanan mengingat dia membawa kereta kuda." lanjut pemimpin rombongan kepada dua orang yang diperintah menuju jalan paling kanan. Yang penuh dengan batu terjal.
Keenam orang itu mengangguk tanpa banyak cakap dan langsung berlari ke arah masing-masing. Pemimpin rombongan itu menuju ke jalan lurus. Satu jalan yang kelihatan paling aman, paling mulus, paling mudah.
Nie Chi mengangguk-angguk ketika dia sudah membuat pilihan hendak mengejar ke mana. Tentu ke jalan lurus, pikirnya. Tak mungkin lelaki itu membawa barang di kereta kuda melalui jalan kiri, yang di sepanjang jalannya terganggu oleh akar-akar pohon menonjol. Sedangkan untuk ke kanan, kiranya hanya orang gila yang akan melakukan hal itu saat dirinya membawa kereta.
"Tak!!" tongkat bambu itu mengenai kepalanya cukup keras. Ternyata kakek cebol yang hinggap di punggungnya telah mengemplang kepala Nie Chi dengan tongkatnya sendiri.
Nie Chi memandang dengan bingung. "Ada apakah guru?" dia bertanya.
"Murid goblok!!" makinya yang cukup menjengkelkan hati Nie Chi jika tak ingat dia adalah gurunya. Lalu kakek itu melanjutkan, "Pembawa kereta kuda tadi pastilah ke arah kanan. Berani mati aku mengatakan ini!"
Nie Chi memandang bingung, matanya sampai terbelalak dan mulutnya melongo. Dia lantas memandang jalan menuju ke kanan sekali lagi dan makin heranlah ia. Dari atas sini saja sudah nampak betapa jalan itu amat berbahaya dengan hiasan batu-batu terjal di sepanjang turunan curam. Bahkan dia sendiri sampai meneguk ludah susah payah.
"Guru, jalan itu jika dilalui dengan jalan kaki saja cukup sulit. Di sebelah kanannya merupakan tebing curam. Mengingat pria itu membawa kereta kuda, bukankah akan menyiksa kudanya di samping membahayakan barang bawaan?"
"Nah...nah!!" bentak gurunya. Membuat Nie Chi makin bingung. "Tujuh orang itu dan engkau berpikir demikian. Tapi si pembawa kereta dan aku berpikir lain lagi!" lanjutnya tegas penuh percaya diri.
"Lihat ke sana!!" tunjuknya ke arah jalan kiri yang penuh dengan akar malang melintang di sepanjang jalan, "Itu bukanlah akar dari pohon-pohon tinggi sekitar. Melainkan satu tanaman racun yang bentuknya memang mirip akar. Hidup di dalam tanah dan saking gemuk serta sehatnya, tumbuhan itu sampai menyembul keluar. Racun dari tumbuhan berbentuk akar itu amat kuat, bahkan bisa mencemari udara. Jika masuk ke sana, siapa pun pasti akan berjumpa dengan si raja maut."
Nie Chi terkejut sekali mendengar ini. Tak disangka ternyata "akar-akar" itu adalah tumbuhan beracun!
"Tiga orang itu sudah pasti mati."
Kemudian dia menunjuk ke jalan lurus, "Untuk jalan itu, hanya orang tolol saja yang melewatinya."
Lalu dia menunjuk ke arah kanan. Namun Nie Chi lebih dulu bertanya, "Kenapa hanya orang tolol yang melewati jalan lurus itu guru? Bukankah dia harusnya cukup pintar untuk lewat sana, selain jalan mulus yang memudahkan dia melarikan diri, dia sendiri pun juga tidak terancam akan marabahaya alam sekitar."
"Waduh, kiranya muridku tak lebih waras dari orang tolol!" maki gurunya dan kembali menggebukkan tongkat ke kepala Nie Chi yang mengaduh-aduh kesakitan. Dia lalu berkata, "Memang dia lebih mudah melarikan diri, tapi lebih mudah pula terkejar. Para pengejar akan lebih mudah dan cepat untuk sampai pada tempatnya."
Dia tak menghiraukan lagi dan lanjut membicarakan jalan ke kanan, "Untuk jalan ke kanan, tak pernah orang berpikir bahwa seseorang yang sudah tua, kurus kering kerempeng hampir mati, membawa kereta kuda pula, akan melewati jalan itu. Maka si pemimpin tadi memandang rendah dan hanya mengirim dua orang. Padahal kalo aku yang jadi pemimpin, akan kukerahkan enam-enamnya sekalian!"
__ADS_1
Nie Chi kembali terkejut, dengan kening berkerut dia bertanya lagi.
"Kenapa begitu guru?"
"Lihat!! Keadaan di jalan kanan itu amat membahayakan diri sendiri, namun juga membahayakan para pengejar. Hal itu jelas bisa dimanfaatkan untuk merobohkan mereka." kata gurunya, "Ini membuktikan, bahwa lelaki tua pembawa barang tadi bukan orang biasa. Entah setinggi apa ilmu silatnya, namun yang jelas dia lebih pintar daripada engkau! Hayo lekas kejar, kita sudah tertinggal jauh!!"
Nie Chi tersadar dan cepat melesat menuju jalan kanan. Walaupun penasaran sekali dan ingin cepat-cepat membuktikan ucapan gurunya, tapi pemuda ini masih harus hati-hati untuk melewati jalan terjal di atas tebing itu.
...****************...
"Trak-trak-trak!"
Suara sepatu kuda memecah kesunyian di tebing itu. Seorang kusir tua yang mengendalikan kudanya menampakkan ekspresi tegang sekali. Keringat sudah menetes membasahi kepala sampai leher.
Dia memandang ke belakang ketika mendengar seruan.
"Heii.....berhenti kau di sana!! Apakah kau tuli!!?"
Lantas ia mempercepat laju kudanya.
Gerobaknya sedikit terangkat ke depan karena kuda itu terlalu mendadak berhentinya. Namun untung tidak ada satu pun barang jatuh dan si kusir selamat.
Lelaki tua ini cepat mengambil golok di gerobak dan meloncat turun. Saat itu dia sudah disambut oleh sambaran dua bilah pedang yang hampir saja mengenai lehernya.
"Syut-syut!!"
"Craaakk!!"
Cepat dia mengelak dan dua pedang itu membabat pinggiran gerobak. Hal ini jelas membikin takut si kuda yang tak bisa berbuat apa-apa, bergerak takut jatuh, tak bergerak takut kena serangan nyasar. Maka mereka hanya mampu diam sambil terus meringkik-ringkik.
Lelaki tua ini bergulingan ke kiri. Ketika bangun tangan kirinya sudah menyambitkan dua buah kerikil yang ditujukan pada wajah lawan. Maklum jika kerikil itu tak akan dapat melukai dua orang yang dia tahu amat lihai itu, maka dia melakukan gerakan susulan berupa sabetan mendatar dengan goloknya.
"Siiing!"
"Keparat!" salah satu dari mereka membentak dan menangkis kerikil. Sedang satunya lagi sudah menggerakkan pedang menangkis.
__ADS_1
"Trang!"
Bunga api berpijaran, dan si kusir terjajar sampai tiga langkah. Sedangkan lawannya masih berdiri di tempat. Wajah si kusir memucat, tahulah ia saat ini sedang berhadapan dengan manusia sakti.
"Serahkan!!" bentak salah satu dari mereka sambil menyodorkan tangan kiri.
Muka yang awalnya pucat itu mendadak menjadi merah padam, matanya berkilat-kilat penuh kemarahan. Dari kerongkongan, terdengar suara gerengan seperti singa marah. Lantas dia membentak.
"Lebih baik mati!! Heeyyaaahhh!!" dia kembali menerjang.
"Cari di gerobak!" seru orang yang tadi membentak kepada kawannya dan meloncat maju menyambut terjangan golok lawan.
Terjadilah pertandingan yang seru di pinggir tebing itu. Si pria tua yang bersikap amat gagahnya ini berusaha menyerang mati-matian sungguhpun sadar dia tak akan bisa menang. Sedangkan lawannya yang menghendaki sesuatu dari si kakek ini terpaksa harus menahan diri sampai sesuatu itu berhasil ia dapatkan. Ia tak bisa membunuh kakek ini lebih dulu.
Tapi walaupun begitu, kepandaian mereka bedanya seperti bumi dan langit. Terlampau jauh. Maka sungguhpun sudah menahan diri, namun kakek itu akhirnya roboh juga ketika mencapai jurus ke dua puluh. Dia roboh dengan luka memanjang di pundaknya.
Lawannya berdiri dengan sikap angkuh, kemudian dia berbalik memandang kawannya. Saat hendak bertanya, betapa kaget ia mengetahui kawan satu-satunya sudah lenyap, digantikan dengan seorang kakek cebol yang duduk di atas gerobak sambil menggigiti rumput kering. Sedang ada satu pemuda yang sibuk menenangkan dua kuda.
Ia menjadi marah, matanya jelalatan mencari temannya namun nihil, dia telah hilang. Lantas dia menjadi pucat dan segera berpikir kalau kawannya itu sudah terlempar masuk jurang.
Tapi mengetahui hal ini, dia menjadi marah sekali dan membentak kepada kakek cebol itu.
"Setan cebol, engkaukah yang menghilangkan temanku!? Siapa kalian dan mau apa!?"
Kakek ini nampak tak senang dan menjawab setelah meniup rumput kering di mulutnya ke tanah.
"Phuuuhh!! Heh, setan tanggung, apa masalahmu kalau aku membuang setan satunya ke situ karena mengganggu tempat dudukku?" kakek itu menunjuk ke jurang di belakangnya.
"Setan tanggung" makin marah dan kembali dia membentak, "Apa maksudmu dengan setan tanggung?"
"Kelakuanmu macam setan, tapi wajahmu kurang buruk!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1