
"Begitulah," Gu Ren menutup penjelasannya.
Keheningan total menyambut tepat setelah Gu Ren mengakhiri penjelasannya. Tiga orang itu sama sekali tidak menuntut untuk membiarkan Sung Han dan Sung Hwa berpikir. Sedangkan Sung Hwa hanya diam mendengarkan sejak tadi, bahkan kini dia hanya akan menurut kepada Sung Han. Apa pun keputusan orang itu, sebagai seorang istri, dia tak boleh menolak.
Sung Han memeras otaknya sampai beberapa menit berselang terlihat bulir-bulir keringat di dahinya. Jari tangannya diketuk-ketukkan ke atas batu datar di sebelah kiri, sedangkan tangan kanannya mengusap-usap dagu.
Sampai seperempat jam Sung Han sama sekali tidak memberikan jawaban. Khuang Peng jadi sedikit tak sabar dan dia coba membujuk.
"Sung Han, terlepas dari semua fitnah yang ditujukan padamu, percayalah bahwa tuan putri sudah mengampunimu bahkan merasa menyesal sekali atas fitnah itu. Kupikir kau sudah tahu. Juga, kami yakin kau bukanlah seorang yang membiarkan negeri sendiri diinjak-injak orang."
Sung Han mengangkat mukanya, membuka mulut namun menutupnya lagi. Beberapa saat berselang dia membuka lagi mulutnya namun segera tertutup bahkan lebih cepat dari yang pertama.
Sung Hwa yang tahu jalan pikiran Sung Han itu merasa terharu sekali. Terdapat getaran dalam hatinya yang tanpa sadar telah memperbesar dan mempertebal cintanya kepada Sung Han.
Pemuda itu dihadapkan dengan pilihan sulit, terlalu sulit malah. Sung Hwa paham itu.
Demi kebaktian terhadap guru, Sung Han harus melaksanakan perintahnya untuk tinggal di Goa Emas dan menjaga tempat itu. Di sisi lain dia merasa berat untuk membiarkan negerinya dijajah oleh bangsa asing, mengingat wilayah selatan sudah direbut. Bahkan Sung Han sampai menangis ketika dia sama sekali tidak bisa membantu di Benteng Mustika Naga.
Hal terakhir adalah dirinya sendiri! Sung Han tahu bahwa Sung Hwa masih dalam keadaan kurang prima. Tubuhnya masih terlalu lelah karena setiap malam mereka harus "bertarung". Dan itu tidak sebentar. Sung Hwa sama sekali tak ada hak untuk menolak itu kecuali dia bersedia mendapat julukan "istri durhaka".
Sung Hwa sama sekali tak sadar betapa besar cinta kasihnya terhadap pemuda itu sampai membuat rasa kewanitaannya, kepekaannya, tajam sekali hingga mampu membaca segala kegelisahan Sung Han.
Dia mengangkat tangan dan mengelus lengan Sung Han. Pemuda itu menoleh dan Sung Hwa memberinya senyuman. "Aku ikut denganmu."
Sung Han mau tak mau harus tersenyum mendengar itu. Selama beberapa saat, dia tak memikirkan soal urusan ini dan merasa betapa beruntung dirinya mendapat pendamping hidup seperti Sung Hwa.
Namun pada saat berikutnya, tiba-tiba terkenang wajah-wajah familier yang tak jarang sampai menghantui tidur malamnya.
Yu Ping, si gadis kecil yang telah tumbuh menjadi seorang cantik manis dan menggemaskan, lincah jenaka penuh semangat. Kemudian Bu Cai, perempuan malang dengan wajah hancur. Sifat keras kepalanya itu kadang membuat Sung Han senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Lalu Kay Su Tek, sahabat dekat sekaligus orang yang mati di bawah ujung pedangnya. Coa Ow, Fang Chu, dan Yu Ceng, tiga orang muda yang harus mati secara tragis. Sampai kini Sung Han selalu merasa menyesal mengapa dia tak mampu berbuat sesuatu akan hal itu.
Dan yang terakhir, yang selalu menghiasi sudut relung kalbunya, dua orang yang tak pernah ia lupakan sampai mati, yang ketika diingat selalu membuat dadanya sesak.
Tang Qian dan Yang Ruan. Dua orang wanita yang telah merenggut cinta kasihnya. Teman masa kecil yang tanpa sadar telah dicintanya, dan gadis malang mantan pelacur yang juga menarik hatinya. Dengan cara yang amat menyedihkan, mereka terpaksa harus berpisah.
Tanpa sadar, Sung Han mengeluh dan menutupi mukanya dengan kedua tangan. Dia merasa amat lemah, merasa amat kecil dan tak berdaya. Baru sekarang inilah dia bingung untuk mengambil keputusan apa. Melindungi orang-orang agar tidak kehilangan keluarga mereka, namun mengingkari sumpahnya terhadap guru. Atau menuruti perintah guru dan mengabaikan nyawa banyak orang dengan pura-pura buta.
"Sung Han ...." Sung Hwa merangkulnya, membenamkan kepala Sung Han ke dadanya. Ia memandang kepada tiga orang itu dengan tajam, lalu katanya singkat. "Beri kami waktu. Besok datanglah ke mari."
Tiga orang itu mengerti dan tanpa banyak cakap lagi segera menjura lalu pergi dari sana.
Sung Hwa membiarkan keadaan terus seperti itu sampai beberapa lamanya. Dia merasakan kedukaan Sung Han. Betapa beban berat sebesar gunung telah ditimpakan ke atas pundaknya. Penyesalan dan rasa bersalah yang sama sekali tak bisa ditebus, kewajibannya sebagai pendekar dan murid yang terus mengusik ketenangannya. Seolah dunia memang tak mengizinkan Sung Han untuk hidup tenang.
Tanpa terasa, saking hebatnya kedukaan menghimpit batin, Sung Han tertidur dalam pelukan Sung Hwa. Wanita itu meletakkan kepala Sung Han di pangkuannya, mengelus kepalanya, dan ... air matanya mengalir.
Kini makin menyesallah ia, mengapa dahulu dengan membuta mendendam kepada Sung Han. Berusaha mati-matian untuk membunuhnya. Kiranya hidupnya masih lebih baik dari pada pemuda itu.
...****************...
"Sudah sejak lama kau tahu semua kisahku sejak kecil sampai bertemu denganmu," kata Sung Han seraya memandang ke kejauhan. "Sung Hwa, apa yang harus kulakukan? Kupikir, semua yang kuputuskan selama ini hanya mengakibatkan sengsara. Yu Ping yang kehilangan kakaknya. Coa Ow dan Fang Chu yang mati dibantai pemerintah. Bu Cai yang entah bagaimana kabarnya. Kegagalan cinta Kay Su Tek dan Yang Ruan yang kemudian memaksa perempuan malang itu mengambil jalan pendeta. Lalu, desa Alang-Alang."
Sung Hwa tak tahu harus menanggapinya bagaimana, sejak tadi dia hanya mampu mengelus kepala Sung Han yang bersandar pada pundaknya.
Pemuda itu berkata lagi. "Dan kemudian, yang terakhir, adalah dirimu."
"Heh? Kenapa dengan aku?" Sung Hwa bingung.
"Kupikir, setelah kita kembali ke Goa Emas, maka kita bisa hidup tenang. Walau aku tahu perang masih berkecamuk, namun aku ingin membutakan mata dan menulikan telinga setelah mendengar perintah guru. Aku ingin berkata pada diriku sendiri, 'karena perintah guru aku wajib menurut'. Namun saat mendengar seberapa kacaunya keadaan dari mereka bertiga, ah ... pikiranku tak karuan." Sung Han mengelus punggung tangan Sung Hwa yang digenggamnya dan tersenyum pahit. "Sepertinya aku akan menyeretmu kepada kesengsaraan. Aku sudah ambil keputusan. Akan kuantar kau ke Goa Emas dan aku–"
__ADS_1
"Jangan panggil aku istri jika kau berpikir begitu." Nada suara Sung Hwa dingin. Dingin sekali seperti sosok Rajawali Merah yang sedang berhadapan dengan musuh. "Aku istrimu, tolong pahami itu."
Sung Han terkejut sekali mendengar nada suara barusan. Ia bangkit dan memandang Sung Hwa dengan mata terbelalak. "Karena kau istriku maka aku harus melindungi– eh, Sung Hwa, kau kenapa?"
Sung Han makin panik ketika air mata Sung Hwa mengalir membasahi pipinya. Namun dia sama sekali tidak menunjukkan perubahan ekspresi. Wajahnya tetap datar.
"Sung Hwa, kau–"
"Aku sebagai istri harus ikut kemana pun suami pergi. Cukup dengan segala kenangan pahitmu itu, suamiku. Kau butuh seorang wanita sebagai pendamping, aku akan ikut. Kemana pun itu," ujar Sung Hwa bersungguh-sungguh. "Atau mungkin ... kau sama sekali tidak menganggapku sebagai istri?"
"Ah ... Sung Hwa," Sung Han tak dapat menahan diri dan memeluk nyonya muda itu.
Sampai lama mereka saling peluk dan berciuman ketika ada suara janggal dari kejauhan. Mereka melepaskan diri dan melihat bahwa Gu Ren, Khuang Peng dan Nie Chi telah terlihat dari jauh.
"Apa keputusanmu?" tanya Sung Hwa.
"Intinya, aku ingin kau ada di sampingku!"
Sung Hwa mengembangkan senyum. "Kupikir sudah kukatakan sebelumnya. Seorang istri harus ikut kemana pun suami pergi. Seorang pendekar tak akan menarik kembali perkataannya."
"Haha, lagi-lagi aku harus bersyukur kau telah mendendam padaku dan kita bisa saling kenal."
Beberapa saat kemudian, tiga orang itu telah tiba dan segera menjura hormat. Tak ada yang berbicara dari ketiganya, namun jelas mereka sedang menunggu jawaban.
Sung Han bangkit bersama Sung Hwa. Dia mengatakan jawabannya dengan tegas. "Untuk memenuhi permintaan guru, selama satu minggu kami akan berdiam diri di Goa Emas. Lalu setelahnya baru akan pergi ke tempat kalian. Setuju?"
Wajah ketiganya berseri dan Gu Ren mewakili dua kawannya menjawab. "Itu lebih dari cukup."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG