
Sung Han mengelak ke kanan, hawa pukulan si kakek itu menyambar dan tepat mengenai seorang yang dibelakangnya. Namun pemuda ini tidak mau memberi kesempatan. Begitu di kanan kiri sudah ada dua orang yang hendak menebaskan pedangnya, ia melenting dan mengarahkan telapaknya kepada Walet Hitam.
"Syuutt....daaarr!!"
Dua tangan itu beradu di udara. Terdengar angin berkesiutan tatkala dua tenaga mereka beradu. Saat itu Sung Han menggunakan hawa Yin sedangkan Walet Hitam menggunakan tenaga sebaliknya.
"Uaaahhh!!"
Orang-orang yang berada di sekeliling mereka terpental jauh bergulingan. Mereka dengan kesulitan dan kepayahan merangkak bangun untuk memandang dua orang sakti beda usia itu yang masih mengamuk hebat.
"Luar biasa, apakah jadinya jika mereka bekerja sama menyerang kita?"
"Matilah!" celetuk temannya tak sabar, "Sesuai yang dirumorkan, memang para pendekar Chang terdiri dari orang-orang aneh. Musuh berada di depan mata, mereka justru malah saling hantam sendiri."
Kemudian keenam orang itu saling pandang beberapa saat, lalu mengangguk bersamaan seolah telah memutuskan sesuatu. Seorang pemegang pedang yang agaknya menggantikan kepemimpinan Kushinage Tenko meloncat berdiri dan berteriak.
"Heii....pendekar muda, tadi ketika tua bangka itu melawanku, mulutnya yang keriput menggumamkan sesuatu yang buruk akan masa depanmu!!" teriaknya lantang. Dalam suaranya juga mengandung tenaga dalam, "Dia menyumpahimu agar kelak di masa depan kau jauh-jauh dari yang namanya untung!"
Sung Han melirik orang ini sejenak, namun Walet Hitam memandang tajam. Karena sedang emosi oleh si tua ini yang memang sejak awal dianggap musuhnya, Sung Han menggereng.
"Hmm...kiranya Walet Hitam hanya pandai bertengkar dengan modal sumpah serapah?"
Setelahnya serangan Sung Han makin menggila, bergulung-gulung bagi ombak lautan yang hendak menyapu daratan. Kakek itu melotot melihat perubahan ini dan dia menjadi kewalahan bukan main.
Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara lain lagi yang berteriak lantang dan telinga dua orang tua muda ini mampu mendengarnya jelas.
"Bocah kecil, bukankah kau bilang padaku jika seandainya tak ada pengeroyokan kami berlima, kau dapat mematahkan leher si tua itu dalam sekali tiup?"
Kali ini Sung Han dan Walet Hitam memandang tajam, sesaat kemudian keduanya saling pandang dan terdengar si Walet Hitam tersenyum.
"Hehehe, ternyata cuma bocah yang pandai main lidah. Buktikan omonganmu bocah kecil!" Walet Hitam berteriak dan mempercepat gerakan tangan kakinya. Menyambar-nyambar sampai mengeluarkan angin bercuitan. Sung Han mencebikkan lidah.
__ADS_1
Lalu terdengar suara lain lagi yang mengatakan Burung Walet Hitam begini dan begitu. Kemudian terdengar lagi suara yang membicarakan jika tadi Sung Han seperti itu dan seperti ini. Lalu terdengar lagi, terdengar lagi, dan lagi.
Dua orang pendekar sakti yang memiliki kepandaian tinggi itu tanpa sadar telah jatuh ke perangkap lawan berupa adu kambing. Keduanya saling serang sendiri karena panas hati akibat omongan enam orang itu.
Keduanya tak sadar jika enam orang itu menahan geli hatinya sambil mengistirahatkan diri.
Di sisi lain, perkelahian Kay Su Tek melawan Tenko itu makin panas dan hebat. Pedang keduanya benar-benar sebatang pedang pusaka yang ampuhnya luar biasa.
Sinar hitam kebiruan bergulung-gulung saling libat dengan sinar katana yang mengeluarkan sinar putih keperakan begitu terkena cahaya rembulan. Keduanya mengerahkan kepandaian sekuatanya dan tak ada yang mau mengalah.
Diam-diam Kay Su Tek terkejut dan heran. Tingkat kepandaiannya sudah mencapai tingkat pendekar sejati yang telah menguasai hawa sakti. Bahkan di kalangan para pendekar pun, dia ini merupakan tokoh tingkat atas. Namun melawan seorang yang bernama Kishanagi Tenko itu, dia dapat bertanding seimbang!
Hal ini hanya membuktikan jika seorang bernama Kishanagi Tenko itu juga merupakan seorang yang setingkat pendekar sejati.
"Hyaaahhh!" pekik Tenko menggelegar sambil membacokkan pedangnya dari atas ke bawah.
Seketika angin tajam menyambar dan Kay Su Tek tak mau ambil resiko. Dia menarik pedangnya yang tadi sudah bergerak mengirim serangan dan mengelak ke kanan.
Batu setinggi dua meter lebih yang tadi berada di belakang Kay Su Tek terbelah seketika. Terbelah dengan amat rapi tanpa meninggalkan kecacatan sedikit pun juga.
Kay Su Tek memandang belahan itu beberapa saat dengan kagum. Dia menoleh lagi menghadap Tenko, "Bagus, hebat sekali."
Tenko menarik pedangnya dan kembali menyiapkan kuda-kuda, "Heh, kiranya kau benar-benar seorang pendekar yang selama ini dirumorkan. Pendekar Chang memang hebat!" puji Tenko sungguh-sungguh.
...****************...
Di belakang lumayan jauh dari tempat pertempuran itu, di tempat tinggi, telah berdiri puluhan orang dengan barisan yang rapi. Dipimpin oleh topeng emas sendiri yang ditemani dua pembantu setianya, Yu Fei dan Bo Tsunji di kanan-kiri.
"Pembantu-pembantu baru kita memang amat hebatnya..." puji topeng emas memandang Sung Han, Kay Su Tek dan Walet Hitam yang maish bertempur hebat itu.
Naga Bertanduk yang berdiri di belakangnya, memandang dengan mata tunggalnya sambil mendengus beberapa kali. Yu Fei yang sejak tadi mendengar ini meliriknya untuk bertanya kepadanya. Katanya dingin.
__ADS_1
"Kenapa kau bersikap tidak puas?"
Kembali Naga Bertanduk mendengus, "Huh, apa kau masih bocah yang tidak tahu apa-apa?" balasnya mencela, "Sudah nampak jelasnya jika tiga orang itu belum tentu dapat dipercaya. Dua pemuda itu jelas tidak bisa dipercaya, dan si tua burung walet belum dapat dipercaya benar. Mengapa kau begitu bangga?"
Perkataan ini diucapkan oleh Naga Bertanduk kepada Yu Fei. Namun baik Yu Fei dan semua orang di sana sadar betul betapa ucapan itu merupakan sindiran kepada si topeng emas.
"Huh, bagaimana kalau engkau sendiri yang nantinya kelak akan berbalik haluan dan mengkhianati kami?" kali ini Bo Tsunji berkata.
Naga Bertanduk memandangnya dari belakang. Sejak awal bergabung dia memang merasa kurang suka dengan Bo Tsunji yang dianggapnya sombong itu. Maka tak heran jika jawabannya ketus dan tajam.
"Kubalikkan kata-katamu. Bagaimana jika kelak engkau yang mengkhianati kami? Kau telah mengetahui semua rahasia ketua."
Hanya terdengar kekehan dari Bo Tsunji dan dia tak menjawab lagi. Naga Bertanduk pun tak acuh dan kembali memerhatikan jalannya pertarungan itu.
Mereka berbaris di sini adalah untuk menunggu. Menunggu barangkali ada musuh yang terlolos dari serangan ketiganya. Padahal sudah tidak diperlukan lagi usaha mereka ini mengingat di bawah sana sudah ada seorang yang jauh lebih kuat. Ialah Tok Ciauw.
Sebelumnya Sung Han dan dua orang lainnya dapat memgetahui kedatangan lawan bukan karena mereka bertiga yang melakukan penjagaan. Bahkan di daerah ini tidak ada satu pun penjaga.
Hanya karena kecerdikan pangeran Chang Song Ci itu sajalah yang membuat mereka dapat mengetahui kedatangan lawan.
Sebelumnya mereka sudah memasang berbagai macam jebakan yang akan membuat kerugian di pihak musuh jika tak sengaja terpijak. Namun Chang Song Ci yang cerdik diam-diam sudah menyiapkan rencana lain.
Itu berupa suatu tanda yang mengirimkan sinyal ke perkemahan mereka jika ada musuh datang namun tak ada satu pun jebakan yang berhasil aktif. Sebuah tanda berupa getaran benang yang menggetakkan cawan arak berisi air. Jika tak ada jebakan yang terkena melainkan musuh dapat lolos, maka air dalam cawan itu bergetar bahkan sampai tumpah.
Karena hal inilah maka Chang Song Ci sudah maklum bahwa yang datang kali ini tentu seorang berilmu tinggi. Maka sekaligus mencoba pembantu baru, dia mengutus Sung Han, Kay Su Tek dan Burung Walet Hitam.
Namun sayang, dia harus menahan kesal dan pasukan anak panah di sekelilingnya tak mampu digunakan karena adanya Tok Ciauw yang datang secara tak terduga.
"Si tua tengkorak itu benar-benar berotak besar. Pintar sekali..." gumam pangeran itu menahan kemendongkolan hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG