Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 177 – Naga Sakti


__ADS_3

Semua orang menjauh dari tempat pertempuran itu, mereka tak memedulikan rasa sakit yang masih menggerogoti setiap urat nadi, tak diacuhkan dan terus berlari atau merangkak ke tempat jauh. Karena jika tidak demikian, matilah mereka. Sudah pasti itu.


Untuk orang-orang yang sudah sadar lebih dulu, buru-buru menggendong atau menyeret teman mereka yang masih belum siuman. Tergopoh-gopoh mereka lari mendekati gerbang untuk mencapai tempat aman.


Sudah sekitar satu jam pertandingan itu berlangsung dengan serunya. Selama itu pula, belum terlihat sekali pun pemuda itu nampak terdesak. Entah sengaja atau memang kepandaiannya yang sudah mencapai tingkat tinggi, sejak tadi pemuda ini seperti bergerak seenaknya.


Tiga orang Naga Sakti itu juga merasa penasaran dan marah bukan main. Masa mereka yang telah mendapat julukan demikian garang dan agung, tak mampu menundukkan satu orang bocah tokoh baru yang belum lama terkenal? Panaslah hati mereka.


Sejak tadi, mereka bertiga terus bersilat menggunakan formasi yang selama ini menjadi andalan mereka. Dalam formasi itu, walau musuh berjumlah dua sampai tiga kali lebih banyak dari jumlah mereka pun, tetap saja mereka mampu meratakan lawan.


Namun kali ini, melawan seorang bocah yang seperti bergerak berdasarkan insting saja, sejak tadi belum pernah satu pun serangan mampu mendarat di tubuh pemuda itu. Sebaliknya malah, sudah beberapa kali tubuh mereka kena tendang dan tinju kaki tangan pemuda tersebut.


"Ahhh....sudahlah, biarkan aku pergi..." Sung Han mengeluh sambil menghindari serangan naga pertama. Kakek yang paling tua dari mereka. Sambil menunduk dia menotok sambungan lengan kakek itu.


"Tukk!"


"Aduhh!!" kakek ini memekik dan dia melompat ke belakang sambil memegangi siku tangannya yang nyeri. Dia memandang Sung Han dengan mata melotot.


Naga ketiga yang lebih berangasan daripada dua naga lainnya, segera membentak begitu mendengar ucapan Sung Han. "Kalahkan kami dahulu baru kau boleh angkat kaki!"


Sung Han mendengar ini dan dia segera menolehkan kepala menghadapnya. Pandangannya tajam sekali seorang mengeluarkan sinar-sinar berkilat. "Nah, seorang gagah tak akan pernah menarik kembali perkataannya!"


Ketika serangan naga kedua, seorang kakek bermata dalam itu melayangkan tinjuannya ke pelipis Sung Han, dengan tangan miring Sung Han menyampok tangan itu.


Akan tetapi belum juga kedua tangan itu bertemu, tiba-tiba dari belakang Sung Han meluncur serangan ganas berupa tendangan dari naga pertama dan ketiga.


"Mampus!!"


"Blaarrr!!"


Suara ledakan keras terdengar menggema di seluruh puncak itu disusul debu mengepul tinggi yang segera menutup tubuh keempat orang itu.

__ADS_1


Orang-orang yang menonton dengan tegang segera meramkan mata karena khawatir ada pasir nyasar memasuki mata mereka. Setelah reda, barulah mereka berani membuka mata dan menanti dengan hati tegang.


Berangsur-angsur debu itu mulai lenyap terbawa angin. Mereka yang menonton tak ada yang berani mengedipkan mata, takut kalau-kalau mereka tertinggal pertandingan ini barang sekedip pun.


Samar-samar mulai nampak bayangan keempatnya di balik kepulan debu itu, makin lama makin jelas. Dan akhirnya tampak nyatalah tubuh keempatnya yang membuat mereka semua berseru kaget sekaligus heran.


Sung Han yang diserang dari segala penjuru dengan serangan mematikan itu seharusnya sudah tewas sekarang. Namun apa yang terjadi benar-benar luar biasa menakjubkan, di luar dugaan mereka sebelumnya.


Serangan naga kedua yang berupa pukulan maut itu berhasil ditahan oleh Sung Han dengan cara mencengkeram pergelangan tangan kakek itu yang berdiri dengan muka pucat. Sedangkan tendangan dua orang lain berhasil dihentikan dengan cara yang lebih hebat lagi.


Serangan keduanya membentur sesuatu yang keras sekali melebihi baja. Dan ternyata sesuatu itu bukan lain adalah suatu tenaga aneh namun kuat sekali yang seolah menjadi tembok pemisah antara tubuh Sung Han dan keduanya.


Sung Han hanya mengarahkan telapak tangan kirinya ke arah dua kaki itu, dan tanpa sadar pemuda ini telah mengerahkan tenaga sakti inti bumi. Karena dia sedang memijak tanah dalam keadaan kuda-kuda rendah, tanpa setahu dirinya sendiri, hawa bumi yang bersarang pada tanah merambat naik melalui kakinya dan terus keluar dari tangan kiri Sung Han. Membentuk semacam tembok tak kasat mata yang hebat sekali.


Itu hanya sebagian kecil dari kekuatan hawa sakti bumi yang dimiliki Sung Han, jika dia sudah mampu menguasainya benar-benar, dapat dibayangkan betapa mengerikan pemuda yang masih hijau ini.


Sung Han sendiri pun sebenarnya terkejut dengan kekuatannya itu. Namun dia mencoba untuk tidak terkejut dan bersikap seolah dia sudah terbiasa dengan ini.


"Gawat, sejak tadi baru sekarang dia hendak serius?" batin tiga naga itu dengan muka makin pucat.


Belum sempat untuk mengedipkan mata, tiba-tiba tubuh Sung Han sudah mengambang di udara. Karena bergerak secara tiba-tiba ini, maka tubuh ketiganya terhuyung ke depan. Akan tetapi tahu-tahu pelipis mereka terasa nyeri sekali dan tubuh mereka telah melambung tinggi. Kiranya dengan kedua kakinya, Sung Han sudah menendang mereka dengan kecepatan tak mampu dilihat.


"Jatuhlah dengan berdiri maka aku akan kalah!!" seru Sung Han keras dan lantang.


Dia memasang kuda-kuda rendah lalu meletakkan kedua tangan di samping pinggang. Mengerahkan tenaga sepenuhnya dan dalam sekali hentakan, kedua tangan itu diarahkan ke langit dengan posisi telapak menghadap atas. Inilah jurus ampuh milik Sung Han yang bernama Tangan Menopang Bulan.


Angin badai menyambar ke arah tubuh tiga orang itu dan seketika mereka berputaran di udara cepat sekali. Orang-orang yang menonton menelan ludah susah payah saking ngerinya. Tak pernah dalam mimpi pun mereka berpikir tiga tokoh datuk itu dapat dipermainkan sedemikian rupa. Oleh seorang tokoh muda lagi.


"Uaaahhh!!"


Setelah berputaran di udara beberapa saat lamanya, Sung Han menarik tenaganya dan terpelantinglah tiga naga itu ke sana-sini. Mereka mendarat dalam keadaan yang tidak indah sama sekali.

__ADS_1


Naga tertua mendarat kepalanya lebih dulu, menancap sebatas leher. Naga kedua jatuh di tumpukan batu-batu runcing, pantat dan pinggulnya terjepit batu-batu. Membuat tubuhnya melengkung dengan lutut menyentuh wajah.


Naga ketigalah yang paling memprihatinkan. Dia jatuh dengan kepala di bawah dan kaki di atas, namun sayang dia tersangkut pada dahan batang pohon. Celananya menyangkut di dahan pohon dan karena inilah tubuhnya tidak jatuh, namun karena tersangkut inilah maka celananya tertarik ke atas dan membuat pinggang sampai selutut tidak tertutup apa-apa.


Sung Han melihat ini sambil menahan geli.


"Nah, habis perkara. Sudah, aku mau pergi." Sung Han berkata selepas memandang sekeliling. Dia lalu mulai bersiul-siul lagi sambil berjalan perlahan meninggalkan tempat itu.


Tiba-tiba, dia melihat ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu sudah berdiri di depannya. Sung Han menghentikan siulannya dan memandanng dingin.


"Sekali ini aku tak akan melepaskan kalian." desis Sung Han kereng.


Kiranya tiga Naga Sakti itu sudah bangkit dan dengan wajah bonyok-bonyok mereka sudah menghadang di depan Sung Han. Namun naga ketiga itu masih sibuk mengikatkan ikat pinggangnya.


"Persetan, serbu!!" seru naga pertama.


Jelas orang-orang itu nampak ngeri sekali mendengar perintah ini. Mereka sudah tak ada nyali untuk menyerang Sung Han. Nyali mereka tidak lagi ciut, melainkan sudah lenyap sama sekali. Diam-diam mereka mengutuk tiga orang kakek itu, mengapa tidak dibiarkan pergi saja.


Sung Han masih berdiri tenang, kemudian dia malah bertolak pinggang, "Aku tak takut menghadapi kalian sungguhpun maju bersama. Hanya saja aku khawatir jika dunia persilatan akan tertawa sampai terpingkal-pingkal saking gelinya melihat kelakuan tiga ekor naga yang ingkar janji dan mengeroyok seekor kucing muda."


Ucapan ini bagai kilat yang menghujam hati ketiganya dan wajah mereka langsung berubah merah. Naga kedua yang agaknya lebih berpemandangan luas dari dua naga lain maju dan menjura.


"Kami kagum atas kepandaian tuan muda. Seorang gagah sekali berkata akan dipegang sampai mati. Sesuai perkataan kami, tuan muda telah mampu mengalahkan kami, berarti sudah selayaknya tuan muda boleh pergi." naga kedua ini lalu melirik dua naga lain dan mereka memberi jalan.


Sung Han tersenyum dan balas menjura pula, "Hahaha, kiranya naga satu ini masih punya kehormatan. Bukan seperti naga lain yang hanya pandai menyombongkan nama kosong. Aku pamit."


Sung Han pergi dari sana, sambil bersiul-siul. Setelah kepergian mereka, mereka semua seolah baru bisa bernapas sebagaimana mestinya. Jika saja tadi semua orang mengeroyok, mungkin bisa membunuh Sung Han, namun tak mungkin jatuh korban sedikit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2