
Dengan hati sakit dan penuh sesal, Sung Han menguburkan mayat wanita itu dengan seadanya. Ia memberi satu batu kecil untuk dijadikan nisan dan dia berdoa sebentar di sana.
Keadaan wanita itu sungguh mengenaskan, telanjang bulat tanpa satu pakaian pun. Ketika Sung Han tiba, dia melihat kepalanya sudah tak utuh lagi. Tahulah ia apa yang telah terjadi sebelumnya.
Setelah selesai berdoa, dia berdiri dan lekas pergi dari sana. Namun saat itu Sung Han merasa bingung, hendak terus menuju ke barat menyeberangi sungai, atau ke arah lain.
Karena kebimbangan inilah maka ia memutuskan untuk pergi ke desa atau kota terdekat lebih dulu.
Ia berjalan ke utara, mengikuti arus sungai itu mengalir. Sesekali dia berhenti hanya sekedar untuk minum atau makan daging dari hewan hutan. Tepat sehari kemudian, dia sampai di suatu desa kecil.
Ketika dia memasuki desa, dia dikejutkan oleh seorang anak kecil yang berlari-lari dan menabraknya. Dia terjatuh, tapi seolah tak melihat Sung Han, anak itu kembali berlari menuju ke satu arah.
"Hm?"
Sung Han mengerutkan kening melihat tujuan dari anak itu. Sebuah rumah yang sangat ramai dikunjungi orang-orang desa. Karena penasaran, akhirnya Sung Han memilih untuk ikut dalam kerumunan. Ia menyelinap dan sebentar saja sudah sampai di tengah kerumunan.
Terlihat di ruang depan rumah itu, beberapa orang berusaha menenangkan seorang pria paruh baya yang sedang menangis histeris. Sayup-sayup Sung Han mampu mendengar raungan si lelaki dan dia terkejut sekali.
"Sudah satu hari putriku hilang, mana bisa aku tenang?" bentaknya kepada satu orang yang berusaha menenangkan.
Mendengar ini Sung Han menjadi tertarik sekali. Ia perhatikan lebih teliti lelaki itu dan jantungnya berdebar.
"Mirip dengan perempuan itu!" katanya dalam hati ketika teringat wajah wanita yang mati dengan setengah wajahnya hancur itu.
Sung Han membelah kerumunan dan tanpa permisi menaiki tangga untuk masuk ke dalam rumah. Saat Sung Han dengan seenak jidat berjalan memasuki rumah, banyak orang yang berusaha menghentikan. Namun melihat pedang di pinggangnya, segera orang menyingkir karena tahu jika pemuda ini adalah orang persilatan.
Tiba di hadapan si tuan rumah, lelaki itu tampak bingung. Ia memandang Sung Han dengan penuh tanya. Begitu pula dengan tiga orang yang sejak tadi menenangkan orang itu.
"Sebutkan ciri-cirinya." kata Sung Han singkat.
Empat orang itu terbelalak, apalagi si pria paruh baya, ia terbelalak makin lebar. Melihat penampilan Sung Han, dirinya merasa ada harapan, maka cepat ia menjatuhkan diri bersujud di kaki Sung Han.
__ADS_1
"Harap tuan pendekar sudi menolong hamba ini..." katanya memelas, "Putri hamba sudah satu hari tak pulang."
"Bangun!" tukas Sung Han dan menyentuh dua pundak si lelaki. Akibatnya, ada semacam tenaga menyedot yang memaksa pria itu untuk bangkit berdiri.
"Ceritakan!" kata Sung Han.
Pria ini mempersilahkan Sung Han duduk dan segera menceritakannya. Kemarin waktu pagi hari, putrinya itu pergi ke salah satu desa untuk menjual hasil panen mereka. Namun ketika siang hari dan bahkan sampai malam hari, putrinya itu tak kunjung pulang.
Pria ini masih berpikir positif untuk menganggap putrinya kemalaman di jalan dan mungkin sedang beristirahat di goa atau pinggir sungai. Namun sampai pagi ini, ia tak kunjung pulang juga. Mulailah berbagai macam pikiran buruk merasuki pikirannya.
"Dia hanya putriku satu-satunya dan temanku di rumah ini. Tolong saya tuan pendekar." katanya memelas di akhir cerita.
Sampai di sini, Sung Han makin merasa yakin kalau putri orang itu adalah wanita yang dikuburkannya belum lama ini. Ingin ia berkata yang sebenarnya namun tidak tega. Ia berpikir, bukan untuk memikirkan rencana selanjutnya, namun berpikir bagaimana cara paling tepat untuk mengungkapkan nasip putrinya kepada pria itu.
Tiba-tiba, ada dua orang pria yang berpakaian seperti Sung Han–pakaian ahli silat, masuk ke dalam rumah. Ia menjura kepada Sung Han yang segera dibalas pula oleh Sung Han.
"Siapakah dua sahabat ini kalau saya boleh tahu?" tanya Sung Han sopan.
Dua orang ini saling lirik sejenak kemudian pemuda yang seumuran dengan Sung Han menjawab lebih dulu, "Saya Yu, dan dia seniorku namanya Mi."
"Namaku Sung Han." kata Sung Han sebelum melanjutkan, "Kalian berdua ini hendak menolong orang susah juga?"
Yu mengangguk, "Benar, dan kami punya informasi penting untukmu, sahabat Sung Han."
"Tak perlu sungkan, panggil saja namaku." sergah Sung Han.
"Baiklah," Yu mengangguk. "Sung Han, kemarin itu kami melihat si botak berkeliaran di wilayah ini, mungkin dialah yang bertanggung jawab atas hilangnya putri tuan ini."
Sung Han bingung, "Si botak?" tanyanya kemudian.
"Eh, engkau tak tahu? Kukira kau bahkan lebih tahu dari kami." Mi menimpali. Ia lalu menunjukkan sebuah gambar yang membuat Sung Han kaget, "Dia sama persis seperti dalam gambar yang kau bawa ini."
__ADS_1
"Itu kan..."
"Tadi jatuh saat kau menembus kerumunan memaksa masuk ke mari." sahut Yu sambil menyambar kertas dari tangan Mi dan mengembalikannya kepada Sung Han.
"Dia salah satu petinggi Hati Iblis." Mi menambahkan.
"Aku tahu, karena itulah aku mencarinya."
Yu dan Mi saling pandang sejenak, kemudian terdengar Mi berkata, "Dia lari menuju utara."
Pemuda ini serta tuan rumah dan beberapa orang yang mendengar lantas terkejut. Mereka memandang Mi dengan tatapan tak percaya.
"Benarkah itu?" Sung Han dan tuan rumah bicara hampir berbarengan.
Mi mengangguk, "Ya, kami sudah pastikan itu. Sejujurnya, kami tidak turun tangan karena sadar akan kemampuan sendiri, maka dari itulah kami mengikuti ke mana dia akan pergi setelah singgah di desa ini. Setelah beberapa waktu, kami melihat dia sedang menuju ke kota Talas di utara sana."
Sung Han memandang gambar itu lekat-lekat dan meremasnya ringan. Kemudian ia kembali menggulungnya dan memasukkan ke dalam saku di balik jubah.
"Terima kasih informasi kalian." Sung Han bangkit. Sebelum pergi, ia menengok sejenak ke belakang untuk memandang si pria paruh baya itu, "Paman, apakah putirmu memakai anting hijau yang di tengahnya ada ukiran bungai mawar?"
Pria itu nampak terkejut sekali, kemudian bangkit dan menjawab cepat, "Benar....benar....ah, apakah tuan pendekar sudah bertemu dengannya? Di mana dia?"
Sung Han menghela nafas, sungguh tak enak rasanya mengatakan hal ini tapi apa boleh buat. Daripada berbohong dan malah menimbulkan permasalahan panjang, maka dia memilih untuk berkata jujur.
"Di hutan sebelah selatan dari sini, kurang lebih sehari perjalanan, aku menguburkan jasadnya." ucapnya dan ia menjeda singkat ketika mendengar seruan dari orang itu. "Dia sudah mati, diperkosa orang. Wajahnya tak utuh lagi. Carilah di sekitar hutan itu, kuburannya masih baru, terlindung di antara semak-semak."
Sebelum benar-benar pergi, ia berbalik dan menunjukkan gambar si botak itu. "Aku menduga orang inilah pelakunya. Mendengar dari kesaksian dua sahabat itu, aku semakin yakin. Paman, aku akan memburunya sampai dapat."
Setelah berkata demikian, tanpa menoleh lagi ia berlalu pergi dari desa tersebut. Meninggalkan si tuan rumah yang sudah pingsan saking syoknya.
Sedangkan dua orang bernama Yu dan Mi itu saling pandang. Ada tatapan aneh juga penasaran di mata mereka. Tapi keduanya menghendikkan bahu dan ikut pergi sekalian.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG