
"Entah apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikan budimu yang tak terhingga ini."
"Jangan berlebihan."
Kakek nelayan itu memeluk Sung Han erat, tanpa terasa air matanya jatuh membasahi baju Sung Han di bagian pundak. Dalam keadaan seperti itu, mulutnya terus berbisik.
"Beruntungnya.....beruntung dunia masih memiliki orang baik macam dirimu....."
Sung Han hanya diam seraya balas memeluk si kakek. Sedangkan Bu Cai, hanya mampu menahan haru sambil memalingkan muka.
"Hidangan daging dan air hangat tadi malam sudah lebih dari cukup. Semenjak aku pergi dari kediaman guruku, belum pernah aku makan seenak itu." Sung Han berkata setelah sekian lama terdiam, "Juga kamar dan selimut itu, nyaman dan hangat."
Bu Cai dan kakek ini merasa terharu sekali. Mereka tidak tahu apakah Sung Han melebih-lebihkan atau memang jujur, tapi sejatinya hidangan dan tempat tidur tadi malam jauh dari kata layak.
Sung Han disuguhi daging bakar tawar karena memang tidak ada bumbu, sekaligus ditemani air sungai yang direbus sehingga bisa menghangatkan tubuh. Untuk kamarnya sendiri, ia hanya beralas dan berselimut rumput jerami kering.
"Aku akan pergi." ucapnya mendorong tubuh kakek itu perlahan. Jika hal ini tak dilakukan, entah sampai kapan kakek itu akan terus memeluknya.
Sung Han mengalihkan pandangannya ke arah Bu Cai yang sedari tadi hanya diam. "Entah siapa yang mengajari engkau silat, tapi pesanku jaga kakekmu."
Bu Cai hanya mengangguk singkat.
"Kalau begitu aku pamit, semoga kalian sehat selalu." katanya kemudian sambil menjura dan berbalik peegi. Meninggalkan kakek dan seorang cucunya di rumah reyot itu.
...****************...
Aneh rasanya jika hanya mengetahui jalan hidup Sung Han tanpa menelisik bagaimana keadaan dunia saat ini. Maka dari itulah, mari kita lihat tentang daratan luas tempat tinggal Sung Han.
Pada masa itu, kepemimpinan pusat dipegang oleh kaisar Chang Song Bian. Dia terkenal dengan lelaki yang bijaksana, tegas dan tangguh. Bahkan ilmu silat dan bakatnya dalam bidang sastra tak dapat diragukan lagi.
Tapi, pada masa ini bukanlah masa keemasan kekaisaran Chang.
Dahulu kala, setelah Pertempuran Hitam Putih usai, kekaisaran Chang berdiri dengan kaisar pertamanya bernama Chang Song Jie. Pada masa itu adalah masa terbaik dan terjaya di daratan utara maupun selatan.
__ADS_1
Tidak ada pendekar golongan hitam yang berani mati melawan kekaisaran Chang yang kekuatannya tak terbatas. Adanya Sepasang Naga Putih dan Pengelana Tanpa Bayangan serta banyak pendekar sejati lainnya, membuat kedudukan kekaisaran Chang pada masa itu amat kuat. Saat itulah tercipta sebuah masa yang dinamakan masa keemasan Chang.
Namun beberapa tahun setelahnya, ada serbuan dari orang-orang luar daratan. Kekaisaran besar di sebelah timur sana melakukan invasi besar-besaran ke daratan Chang. Mereka berasal dari kekaisaran Jeiji.
Mereka tangguh, sangat tangguh. Tempat pertama yang terkena dampak invasi adalah sepanjang pantai timur daratan. Lalu dilanjut terus menuju barat sampai berhasil menjajah separuh daratan.
Pada masa invasi kekaisaran Jeiji inilah, Shuji si penempa pedang gerhana muncul dan menggegerkan seluruh dunia persilatan.
Namun kekaisaran itu berhasil diusir pergi setelah beberapa tahun menjajah negeri Chang. Tentu saja dengan pengorbanan yang luar biasa banyaknya. Ribuan bahkan jutaan orang mati dalam perang pengusiran penjajah itu.
Pertempuran itu dikenal sebagai Perang Sejarah. Entah siapa yang menamakan ini, tapi semua orang menganggapnya seperti itu.
Setelah perang, keadaan pemerintah Chang berubah total. Tokoh-tokoh patriot jaman dahulu kala banyak yang mati atau hilang, digantikan dengan para manusia korup dan cari kenyang sendiri. Sejak saat itu, munculah berbagai macam pemberontakan.
Sampai bertahun-tahun lamanya, akhirnya dapat diredam pula setelah diangkatnya kaisar Chang Song Bian yang berhasil menumpas orang-orang pemberontak itu, sungguhpun sampai sekarang masih tersisa beberapa. Termasuk para bangsawan yang langganan "membelokkan" uang pajak.
Salah satunya adalah anaknya sendiri, pangeran Chang Song Ci, yang bertempat di ujung timur daratan utara. Dan ada satu lagi, seorang yang sangat menentang pangeran itu, yaitu putri Chang Song Zhu. Yang bertempat di daratan bagian selatan.
Dan saat ini, kedua orang itu sedang sibuk-sibuknya mengumpulkan sebanyak mungkin para pendekar untuk membantu memperkuat kedudukan. Entah siapa yang lebih kuat, pangeran Song Ci si pemberontak, atau putri Song Zhu sang pembela negara.
...****************...
Jarak antara dirinya berdiri sampai ke tembok sana mungkin memakan waktu kurang lebih satu jam, tapi dari sini saja sudah terlihat banyak sekali orang hilir mudik. Entah itu yang berjalan kaki atau membawa gerobak dan kereta kuda. Sung Han memperlambat jalannya, sekedar untuk menikmati suasana.
Sesuai dugaannya, kurang lebih sekitar satu jam kemudian, ia tiba di gerbang ibukota. Harus rela mengantri dan terpanggang sinar matahari untuk memasuki ibukota itu.
Ketika gilirannya tiba, ia dihadang dua orang penjaga yang salah satunya menyodorkan telapak tangan. "Satu koin emas."
"Hah, gila!!" pekik Sung Han tanpa sadar dan spontan.
Penjaga itu nampak tak senang, begitu pula orang-orang sekitar yang menjadi terkejut sekali.
"Ya sudah pergi sana! Kami tak ada waktu untuk meladeni anak bandel sepertimu!" cercanya sinis, "berikutnya!"
__ADS_1
"Tunggu!" Sung Han menyela, "Hei, mana bisa biaya masuk kota sampai satu koin emas? Ini pemerasan namanya!!!" Sung Han bersungut-sungut.
Salah satu penjaga menghampiri dengan marah, "Kau ini cari ribut di sini? Cepat bayar kalau mau masuk!!"
Menurutkan kata hati, sebenarnya ia hendak membantah lagi. Namun ketika melihat para pengantri sudah berceloteh ini dan itu mengumpati Sung Han yang dianggap terlalu lama, ia menjadi tak tega dan akhirnya lenyap juga satu koin emasnya kena pungut pembayaran masuk gerbang.
Koin emas yang entah dia dapatkan dari mana, tiba-tiba secara tak sengaja ia menemukannya di lipatan celana bagian pinggang. Diam-diam ia menyesal mengapa tidak lewat pagar dengan cara lompat saja, bukankah hal itu cukup mudah baginya.
Sambil berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki kesal, mulutnya berkicau, "Bangsat, sialan, keparat!! Memang ini ibukota, tapi apakah itu masuk akal? Satu koin emas masuk gerbang, bah dasar tukang korup!!!"
Dia sebenarnya tidak tahu apa tujuannya datang ke ibukota. Dia datang ke mari hanya karena menurutkan keinginan hati saja.
Akan tetapi beberapa waktu berjalan, di pinggiran jalan kota yang amat ramai penuh dengan orang lalu lalang ini, ia melihat satu hal menarik.
Di depan sebuah bangunan mewah, duduk seorang pria paruh baya berpakaian rapi sekali. Walaupun semua orang di sini terlihat rapi.
Tapi orang itu berpakaian layaknya sastrawan lengkap dengan topi dan pena bulunya. Ia berbicara dengan fasih sekali menyanyikan syair dan puisi untuk kemudian dibayar oleh para penonton yang merasa terhibur.
Sung Han yang tertarik bukan karena orang itu adalah penyair, namun karena beberapa kalimat dalam syairnya yang berbunyi.
"Warisan tiga raja sudah ditemukan...."
"Pedang matahari hitam entah ke mana, pedang bulan merah telah terlihat....."
"Semua orang pergi mencari...."
Sontak Sung Han menoleh dan menemukan banyak sekali orang-orang berpakaian pendekar mengerumuni orang itu. Ada yang berjongkok, berdiri, duduk atau bahkan berbaring miring dengan tangan sebagai tumpuan kepala.
Pikirannya segera bekerja mencerna setiap perkataan itu, hingga secara tidak sengaja munculah satu kesimpulan.
"Pedang Gerhana Bulan sudah ditemukan?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG