Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 172 – Ingin Bertemu Keluargaku


__ADS_3

Sudah sekitar tiga jam lebih Sung Han menunggu gadis di sebelahnya itu untuk bangun. Selama itu pula, dia terus melakukan meditasi untuk menghimpun hawa alam guna mengobati diri sendiri. Bagaimana pun juga, sejak awal pertandingan tubuhnya sudah dalam keadaan yang tidak sangat segar bugar, sehingga ditambah pertempuran itu yang memaksanya untuk mengerahkan tenaga, membuat luka-lukanya terbuka lagi.


Lukanya itu walaupun tidak mengancam nyawa, namun cukup parah juga. Selama pertandingan melawan Sung Hwa, tidak ada bekas luka luar kecuali pukulan-pukulan brutal itu. Namun efek daripada tembakan hawa sakti milik Sung Hwa membuat tubuh bagian dalamnya tidak sehat lagi.


Setelah berjam-jam bermeditasi, wajahnya yang sebelumnya pucat berubah kemerahan lagi. Boyok-boyok di wajah pun sudah mulai memudar seiring berjalannya waktu dan kali ini sudah hampir hilang sepenuhnya.


Matahari sudah berada di ufuk barat ketika Sung Han menyelesaikan meditasinya. Dia melihat betapa langit sudah berwarna jingga kemerahan, tanda hari akan segera beranjak gelap.


Ketika itu, dia mendengar suara orang merintih di sebelahnya. Cepat-cepat dia menoleh untuk menemukan Yang Ruan sudah mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Kau sudah sadar? Baguslah." Sung Han berkata setelah menghela napas beberapa kali.


Yang Ruan mulai membuka matanya perlahan, dia mengerjap-ngerjap beberapa kali dan melirik ke kanan dan kiri. Matanya yang jernih dan indah itu tiba-tiba melotot dan dia sudah meloncat berdiri. Tentu saja hal ini mengejutkan Sung Han yang lekas memperingatkannya.


"Jangan banyak bergerak dulu!"


Namun terlambat, Yang Ruan sudah berdiri dan dia terhuyung sebelum jatuh terduduk. Di depan matanya nampak ribuan bintang berputar-putaran.


"A-apa yang terjadi? Mana keparat satu itu?" katanya dengan nada penasaran akan Rajawali Merah. Dia merasa belum menerima dengan sepenuh hati atas kekalahannya itu.


"Dia sudah pergi."


"Kenapa kau biarkan saja?!"


Sung Han menampakkan ekspresi yang sulit diartikan.


"Bukankah kau kuat? Apa mengalahkan seorang gadis seperti itu saja kau tak mampu?" Yang Ruan merasa panas di dadanya. Wajahnya memerah karena marah, "Dia jelas akan menjadi ancaman bagi kita di masa depan!!"

__ADS_1


"Yang Ruan!!" tukas Sung Han tegas. Dia menunduk dalam, "Biarkanlah dia pergi..."


Sung Han kemudian berdiri dan dia berjalan menuju ke hutan tanpa berkata-kata. Yang Ruan memandangnya dengan kening berkerut dalam dan sinar mata menyiratkan tanda tanya besar. Mengapa pula sosok Sung Han yang merupakan pendekar muda, dapat menampakkan ekspresi serta sikap seperti itu? Apa maksudnya dengan pundak yang melorot seperti orang putus cinta itu?


"Aku akan mencari makan." ujar Sung Han singkat dan sebentar saja sudah berkelebat pergi dari sana.


Dia selalu kepikiran dengan Sung Hwa. Setelah mengetahui betapa gadis itu masih menjadi keturunan keluarga Sung yang sejak kecil dia kira sudah habis. Betapa gadis itu menjadi keturunan Sung Hwa, adik dari Sung Lan yang menjadi nenek moyangnya.


Sebelumnya, setelah mengatakan bahwa dirinya masih merupakan saudara sepupu yang teramat jauh, Sung Hwa mengambil pedangnya dan pergi dari sana. Ketika Sung Han bertanya mengapa tidak jadi membunuhnya, sedangkan dia adalah penghancur hidup gadis itu. Sung Hwa menjawab.


"Mulai saat ini, aku akan mengakuinya. Sudah, aku pergi."


Tentu saja ucapan yang tak jelas apa maknanya itu selalu menghantui pikiran Sung Han yang sedang lelah lahir batin. Pandangannya selalu nampak sayu dengan kening berkerut, hingga tanpa dia sadari sendiri, dia telah menangkap dua ekor ayam hutan gemuk-gemuk.


Sekembalinya dia ke tempat Yang Ruan tadi, ternyata gadis itu sudah menyiapkan sebuah api unggun. Dia duduk termenung di pinggiran memandangi api itu.


"Tanpa cadar seperti itu, dia memang amatlah cantik. Aku tidak menyadarinya ketika di pertemuan pemilihan ketua golongan hitam kala itu!" gumam Sung Han.


Setibanya Sung Han, Yang Ruan menoleh dan dia tersenyum. "Maafkan sikapku tadi, ke marilah dan biarkan aku membuat hidangan dari dua ekor ayam hutan itu." katanya sambil menepuk-nepuk rumput tebal di sebelahnya.


"Ceritakanlah apa yang terjadi. Pasti ada sesuatu kan?" Yang Ruan buka suara ketika Sung Han sudah duduk di sebelahnya. Tangannya sibuk membolak-balikkan ayam panggang itu.


"Yang Ruan, sebenarnya...."


...****************...


Sung Hwa duduk termenung di atas batu besar. Batu itu berada di pinggiran sungai, sehingga suasana di sana amat nyaman dan tenteram. Suara gemericik air sungai bukannya menambah berisik, namun justru menambah sunyi keadaan di sekitar sungai itu.

__ADS_1


Gadis ini memandang bulan yang tergantung di ketinggian sana dengan raut wajah datar. Namun jika diperhatikan, matanya itu nampak kosong. Entah apa yang dilihat tidak ada yang tahu.


Dia duduk meringkuk di atas batu itu, sudah sejak sore tadi dia tak bergerak. Seolah sudah menjadi arca baru yang belum sempat lumutan.


Walau keadaan luarnya demikian sunyi, namun sejatinya di dalam diri Sung Hwa, di dalam hatinya sedang terjadi kebisingan yang sangat berisik. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk mengaduk-aduk isi dadanya. Dan dia bingung akan hal itu.


Sung Hwa menghela napas beberapa kali, "Mengapa aku tak bisa membunuhnya? Bukankah hal itu sudah menjadi tujuan hidupku?" Sung Hwa menatap kedua tangannya lamat-lamat, "Ada apa dengan diriku?"


Kemudian dia kembali termenung seperti tadi, memandangi langit malam yang gelap dengan hiasan bulan dan beberapa bintang yang nampak bersinar redup. Mata Sung Hwa seolah seperti bintang-bintang itu, redup tak bercahaya.


Tiba-tiba dia teringat perkataannya pada Sung Han tepat sebelum dia pergi.


"Mulai saat ini, aku akan mengakuinya. Sudah, aku pergi."


Demikian apa yang dikatakan oleh Sung Hwa sebelum angkat kaki dari sana. Dan dia benar-benar tak habis pikir dengan dirinya. Walaupun saat itu dia bicara seperti itu, namun sejatinya dia belum mau mengkuinya secara keseluruhan. Buktinya sampai malam larut seperti sekarang, hatinya masih meragu.


Dia menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangan yang ditaruh di atas kedua lutut. Terdengar helaan napas beberapa kali dari mulutnya, dan pundaknya bergerak naik turun seiring pergerakan napasnya.


"Hah...sepertinya, memang seperti itu..." gumamnya. "Namun dia telah membunuh seluruh perkumpulanku...."


Makin dipikir, Sung Hwa makin meragu. Hingga akhirnya dia bangkit berdiri dengan tangan terkepal, matanya menyinarkan api semangat yang berbeda dari sebelumnya. Sungguhpun api itu terkesan nampak redup sekali hampir tak terlihat. Tapi setidaknya saat ini masih ada semangat terkandung dalam sorot matanya.


"Seorang gagah tak boleh menyangkal apa yang telah dilakukannya. Aku harus mengakuinya, aku tak boleh berpaling!" dia berkata pada diri sendiri.


Kemudian dengan ragu Sung Hwa melanjutkan, "Kiranya....aku hanya kesepian dan ingin bertemu dengan keluargaku....karena itulah aku mati-matian mencarinya..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2