Sepasang Pedang Gerhana

Sepasang Pedang Gerhana
Chapter : 206 – Pertarungan Mati-Matian


__ADS_3

Jagoan dari Serigala Tengah Malam itu bukan lain adalah Sung Hwa yang dikenal orang banyak sebagai Rajawali Merah. Beberapa tahun ini, sepak terjang Rajawali Merah amat mengerikan. Banyak sudah para perampok atau kaum sesat lain roboh di tangannya. Hal ini menimbulkan kegegeran di dunia persilatan karena bukankah Rajawali Merah tergolong pendekar sesat? Bukankah dia ini sahabat Pendekar Tangan Satu yang sama-sama memberontak? Lalu sekarang berhadapan dengan musuh.


Yang paling heran adalah Sung Han, sebelumnya dia mengira bahwa perwakilan dari Serigala Tengah Malam adalah Walet Hitam atau Naga Bertanduk. Tak disangkanya ternyata adalah Sung Hwa yang dulu selalu ia kenal sebagai sebutan gadis pemberi roti.


Tatapan mata Sung Hwa membuat Sung Han bergidik. Dari dulu sepasang mata itu memang mencorong memancarkan aura dingin dan kejam, namun juga menyembunyikan kelembutan seorang wanita. Saat ini, seolah dia sedang melihat mata setan, mencorong penuh kemarahan, dendam, kekejaman dan kekejian. Tanpa sadar Sung Han meneguk ludah.


Mata Kay Su Tek melebar, namun sebentar saja sebelum kembali seperti sedia kala. "Kau hendak membalas dendam?"


"Ya!" Sung Hwa menjawab tegas.


"Setelah gurunya, kau hendak maju menantangku?" Kay Su Tek bertanya. "Sung Hwa, sungguh amat disayangkan. Aku hendak menarikmu sebagai sahabat."


"Tutup mulutmu!" bentak Sung Hwa. "Ayo segera selesaikan ini."


Kay Su Tek menggeleng. "Kau bukan pemilik asli Pedang Gerhana Matahari, seharusnya yang maju bajingan topeng emas itu," Kay Su Tek mengambil pedang dan memberikannya kepada salah satu naga. "Biar dia mewakiliku."


Lalu satu kakek Naga Sakti yang paling tua, maju untuk mengambil pedang dengan sikap hormat. Dia berhadapan dengan Sung Hwa, sementara Kay Su Tek berjalan ke pinggir.


Sung Han melongo heran. Beruntung tempatnya kali ini berada di pojokan dan sedikit gelap, sehingga agaknya baik Sung Hwa dan Kay Su Tek tak menyadari.


Sung Han bertanya-tanya dalam hati. Kenapa Sung Hwa hendak membalas dendam? Dendam siapa yang hendak dibalaskan? Gurunya, siapa guru Sung Hwa yang menentang Kay Su Tek?


Pertanyaan-pertanyaan ini malah semakin membingungkan dan menegangkan hatinya.


Rombongan pengiring dari dua pihak sudah berjalan ke tepian. Mereka menonton penuh perhatian dari tempat masin-masing. Mata mereka melotot penuh ketegangan.


Baru saat itulah terdengar suara satu di antara kakek pertapa yang masih duduk bersila.


"Selamat datang," ucapnya singkat. "Kami yang jadi penengah. Tiada kecurangan. Lakukan dengan gagah sebagaimana seorang pendekar."


Kay Su Tek meliriknya, keningnya berkerut seolah bertanya-tanya siapa adanya kakek ini.


Dia mendengus. "Apa maksudmu tidak curang. Ini pertarungan hidup mati."


"Maksudku tidak curang adalah, tiada yang boleh membantu salah satu pihak. Yang menonton tetap menonton, mati hidup dan menang kalah dalam adu silat sudah biasa."


"Cukup adil." Sung Hwa berkata tak sabar. "Kapan kami dapat mulai?"

__ADS_1


"Kapan saja kalian siap."


Setelah itu, orang ini kembali diam. Benar-benar diam baik suara maupun tindakannya yang bersila seperti patung itu. Bahkan dirinya terlihat seperti tak bernapas. Seperti mayat yang dibuka matanya.


Naga Sakti dan Sung Hwa saling pandang. Secara serentak tangan mereka mencabut pedang masing-masing yang hari ini hendak diadukan. Naga Sakti dengan Pedang Gerhana Bulan dan Sung Hwa dengan Pedang Gerhana Matahari.


"Nona, sayang sekali," keluh kakek tua itu. "Apa yang dapat dilakukan pangeran bodoh itu sampai membuatmu terpikat? Apakah kau sinting?"


"Diam!" tukas Sung Hwa. Pandangannya berkilat-kilat penuh kemarahan. "Kutekankan padamu, aku berdiri di sini hanya sebgai perwakilan. Kebetulan saja mereka bermusuhan dengan kalian sehingga aku mewakili pertarungan ini sekalian untuk membalaskan dendam guruku."


"Kau tahu kami tidak dalam keadaan tahu bahwa dia adalah gurumu," Naga Sakti menghela napas. "Lagipula, dia yang cari perkara dengan menyelidik ke dalam markas kami."


Sung Hwa menggertakkan gigi. Ucapan itu tak salah, sama sekali tak salah. Namun karena dia tidak mampu menyangkal, membuat kemarahannya semakin membuncah.


"Sudahlah, jangan banyak omong," bentak Sung Hwa memasang kuda-kuda. "Setelah mengalahkanmu, aku akan mengalahkan ketuamu pula! Awas serangan!"


"Bagus, aku juga hendak membalaskan ketiga murid kami, Naga Sakti Ujung Timur kepadamu, Rajawali Merah!" Naga Sakti membentak.


Sung Hwa sadar siapa yang dimaksud muridnya itu. Mereka bukan lain pastinya si Naga Angin, Naga Putih, dan Naga Hitam.


Kakek itu tak mau memandang remeh, maklum siapa adanya Sung Hwa yang merupakan pendekar sejati. Maka dia segera mengerahkan ilmu pedangnya yang paling ampuh. Segera dihadapinya serangan Sung Hwa secara langsung.


Mulailah keduanya beradu pedang dengan amat hebat. Sinar hitam biru dan hitam merah berkeredapan menyilaukan mata, suara nyaring dan bunga api menghias tengah puncak itu di mana tak satupun para penonton sempat berkedip.


Sampai sini Sung Han maklum mengapa dilakukan semacam penyaringan siapa-siapa saja yang boleh naik ke puncak. Jika semua orang diijinkan, nantinya siapapun yang memiliki kepandaian kurang tinggi, hanya akan berakhir pingsan melihat sinar-sinar kedua pedang itu.


Kedua sinar pedang yang saling bergulung-gulung itu makin lama makin cepat gerakannya. Namun tak ada satupun yang terlihat terdesak. Dua orang pendekar sejati itu benar-benar memiliki kepandaian berimbang.


Tanpa terasa, pertarungan mereka telah menginjak jurus ketiga puluh. Naga Sakti yang sedikit lebih lemah dari Sung Hwa belum juga dapat mendesak lawan menjadi penasaran dan dia mulai menggereng-gereng. Lalu membentak nyaring sekali yang berhasil menulikan indera pendengar mereka semua selama beberapa detik. Tak terkecuali Sung Hwa.


"Aarrrgggg!!"


Itulah ilmu Auman Naga milik Naga Sakti yang sudah mencapai tingkat hampir sempurna itu. Jantung Sung Hwa serasa dicengkeram dan dia cepat-cepat mengerahkan hawa sakti untuk mengendalikan tubuhnya.


Pada saat itu, pedang lawan sudah berkelebat hendak menusuk dahinya. Sung Hwa melakukan elakan diringi jerit ngeri.


Saat itu, Sung Hwa juga sudah mengerahkan ilmunya yang diwarisi dari Chunglai. Sebuah ilmu mirip gerakan rajawali yang lebih sering menggunakan kaki sebagai serangan. Juga serangan ini lebih diuntungkan jika penggunanya melakukan serangan udara.

__ADS_1


Bahkan Sung Hwa juga mengimbangi auman-auman Naga Sakti dengan lengkingan-lengkingan nyaring yang saking nyaringnya sulit ditangkap pendengaran biasa. Suara seperti pekik rajawali yang sedang marah.


Maka anehlah pertarungan itu, aneh juga teramat seru. Terdengar suara-suara auman dari Naga Sakti yang segera diredam dengan lengkingan aneh hampir tak terdengar.


Juga Sung Hwa melakukan serangan-serangan dari atas, menggunakan kedua kaki bagaikan cakar rajawali dan pedangnya seolah menjadi paruh rajawali. Di mana Naga Sakti selalu membendung semua serangan dengan pedangnya dan hawa sakti yang dahsyatnya bukan kepalang.


Ributlah keadaan di sana. Ribut oleh suara-suara hantaman yang terdengar bagaikan petir di siang bolong. Juga ribut dengan berdesingnya angin serangan menyambar-nyambar yang tak jarang nyasar ke sana-sini. Ribut pula oleh teriakan-teriakan penonton yang hampir kena serempet serangan nyasar itu.


Bahkan orang-orang yang menunggu di kaki gunung, merasa tegang sekali mendengarkan suara-suara mirip guntur itu. Beberapa ada yang mencoba memilih angkat kaki dan cari aman saja.


Tak terasa, pertarungan sudah mencapai jurus keseratus lebih dan belum juga ada yang nampak terdesak. Orang-orang semakin tegang.


"Bresshh....desss..."


Dua kaki Sung Hwa dengan telak mengenai lengan Naga Sakti yang menangkis. Kakek itu terhuyung lima langkah. Begitu mendarat, Sung Hwa cepat-cepat mengejar untuk mengirim serangan penghabisan.


Namun Naga Sakti menampakkan seringaian aneh. Sung Hwa sadar akan hal ini dan dia terkejut. Kiranya ketika kakek itu terhuyung, hal itu merupakan siasat saja untuk menariknya mendekat. Dan inilah yang dinantikan kakek itu. Sung Hwa hendak menarik serangannya namun tak sempat. Maka dengan terpaksa dia mengadu nyawa.


"Hiaaaa!!"


Sung Hwa melengking nyaring.


Naga Sakti menggerakkan pedangnya, berupa sinar hitam kebiruan yang langsung memapakai sinar pedang Sung Hwa.


"Trang!!"


Semua penonton terkejut, mata terbelalak dan terdengar seruan di sana-sini. Ketiga kakek sepuh itu memelototkan matanya, dan rombongan kedua belah pihak berteriak keras. Salah satu berteriak girang, salah satu berteriak ngeri.


Sung Hwa pun berteriak penuh rasa kaget. Bahkan Naga Sakti pun sama.


Agaknya hanya Sung Han yang masih tetap tenang dengan wajah datar.


Pedang Gerhana Matahari telah dipatahkan!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2