
Pagi hari itu, Naga Hitam sedang berkabung. Semuanya memakai pakaian hitam-hitam guna mengiringi sebuah peti mati ke pemakaman. Pemakaman itu bertempat di bekas pemukiman baru Naga Hitam, yang di mana tempat itu sudah penuh oleh batu-batu nisan.
Siapakah yang meninggal dunia? Sampai-sampai semua orang terlihat suram tanpa senyum menghias wajah?
Hal ini wajar karena selain merasa bersedih dengan bencana Petaka Para Pendekar yang menewaskan Bao Leng, selaku tangan kanan ketua. Juga tadi malam mereka telah kehilangan sosok guru yang paling dihormati. Dialah Giok Shi.
Karena termakan usia, tubuhnya makin hari makin lemah. Juga bentrokan dengan Sung Han yang hanya singkat itu, namun memaksa Giok Shi mengerahkan seluruh tenaga, membuat tubuhnya kian memburuk.
Tapi bukan berarti Sung Han yang membunuh dia, kakek itu meninggal memang karena sudah amat tua.
Gu Ren memimpin rombongan, berjalan paling depan. Sungguhpun dalam keadaan berkabung, tapi sorot matanya tetap tajam dan cara berjalannya gagah tegap. Agaknya dia tidak ingin membuat anggota lain kian larut dalam kesedihan, maka dari itulah pria ini menyembunyikan kesedihan itu dengan raut wajah keras.
Di belakangnya, pria gendut besar yang bukan lain adalah Pat Kue, membantu tiga orang lainnya membawa peti mati. Dia pun sama, tidak menunjukkan raut kesedihan. Orang ini mampu menyembunyikannya dengan baik.
Setelah menaiki bukit kecil itu, sampailah mereka di tempat yang dipenuhi puing-puing bangunan. Memang sengaja tidak dibersihkan untuk mengenang anggota baru Naga Hitam yang sudah habis.
"Kita akan memakamkan di tempat paling tinggi." ucap Gu Ren menghentikan langkah sejenak sambil memandang sekitar. Lalu pandangannya terhenti di sebuah tempat yang lebih tinggi beberapa meter di antata tempat lain. Di sanalah Giok Shi dimakamkan.
Setelah selesai dikubur pun, belum ada yang mau beranjak dari sana. Mereka mulai menangis dalam diam sambil terus memandangi batu nisan indah itu. Gu Ren hanya diam dan terus menunduk.
Sampai siang hari lah mereka baru membubarkan diri dan menyisakan Gu Ren seorang.
Pria ini berlutut dan menyentuh gundukan tanah itu, "Tenanglah di sana guru, murid-muridmu ini akan meneruskan tekadmu."
Ia mengusap-usap tanah itu sejenak sebelum lanjut berkata, "Guru, sudah banyak bandit dan segala macam rampok yang kita taklukkan, tapi sampai hari ini pun mereka tak pernah habis." selang beberapa saat ia lanjut berkata, "Tapi anda terus yakin bahwa mereka akan dapat kembali ke jalan benar. Bermodalkan hal ini, saya dan lainnya akan meneruskan keyakinan guru."
Gu Ren bangkit berdiri, sebelum pergi dari sana dia kembali mengucapkan sepatah kata, "Soal ilmu warisan itu, saya berjanji akan menguasainya!"
Setelah itu, tubuh Gu Ren lenyap dari sana. Menyisakan debu-debu dan daun berterbangan yang tadi dipijak oleh pria tersebut.
Gu Ren menuju ke goa tempat di mana Giok Shi menyimpan sepasang kipas serta ilmu Gulungan Ombak Samudra. Satu ilmu warisan dari pendekar berjuluk Topeng Putih, salah seorang dari Raja Dunia Silat berabad-abad lalu.
__ADS_1
Sampai di goa, lekas ia berjalan masuk. Namun betapa kaget hatinya ketika tiba di satu ruang di mana seharusnya dua benda itu berada, kali ini tak nampak apa pun.
Tubuhnya gemetaran, mulutnya bergumam lirih, "Hilang....."
...****************...
"Hilang......"
Gadis itu tak menghiraukan pintu yang belum sempat ditutup untuk kemudian berlari ke kamar sebelahnya, "Di sini juga tidak ada."
Lalu berlari lagi ke kamar lain dan bergumam, "Hilang!!"
Wajahnya makin panik dan tegang setiap kali membuka satu ruangan dan tidak menemukan apa pun di sana. Pada kamar terakhir, tak mampu ditahan lagi, gadis ini berteriak kencang.
"Hilang!!! Nona hilang!!!"
Perguruan Putri Elang siang hari itu gempar akan teriakan melengking di salah satu bangunan. Segera tujuh orang melesat masuk ke dalam untuk menemukan seorang murid junor jatuh terduduk dengan raut muka sulit dijelaskan.
Orang ini memegang pundak seniornya erat-erat dan kembali berteriak, "Nona hilang!! Nona Yang Ruan hilang!!!"
"Apa!!?"
Tak dapat dicegah lagi, tujuh orang itu terhenyak dan berseru kaget. Langsung saja tujuh orang itu berkelebat ke sana-sini melakukan tindakan yang sama seperti junior mereka, mengecek satu per satu kamar.
Selang beberapa saat mereka kembali dengan wajah pucat.
"Setelah beberapa bulan ini, setelah kelakuan anehnya, kali ini malah kabur dari perguruan." ucap wanita yang paling tua, tiga puluhan tahun.
"Cepat laporkan pada ketua!" usul salah seorang lainnya.
Delapan orang ini bergegas menuju bangunan utama tempat ketua mereka bersemayam. Tak ada yang berani menghadang karena ketujuh orang itu merupakan murid-murid kelas atas.
__ADS_1
Beberapa murid juga mengikuti jejak mereka, hanya sekedar penasaran karena tadi mendengar teriakan bahwa nona mereka hilang.
Delapan orang ini menghadap seorang wanita tua lima puluhan tahun, duduk di dipan bambu ditemani secangkir teh hangat.
"Ada apa ribut-ribut?" tanya nenek itu. Tatapannya lembut penuh kesabaran.
Wanita tertua, yang berumur tiga puluhan tahun itu menjawab mewakili kawan-kawannya, "Nona muda hilang. Setelah segala perilaku anehnya, kali inilah yang paling mengkhawatirkan."
Nenek itu menampakkan ekspresi sulit, walaupun begitu sinar matanya tetap sabar dan mulutnya tersenyum tipis. Dia berkata seolah sedang menenangkan bocah bandel.
"Dasar anak muda...sulit dimengerti...."
...****************...
Di hutan belantara entah di mana tak perlu dipusingkan, ada satu sosok yang sangat menarik sekali. Kalau saja dia sedang berada di desa atau kota, pastilah para pemuda terpaku menatapnya.
Bahkan kinipun di pundak serta pahanya, tiga kupu-kupu cantik sedang bertengger di sana. Bau harum semerbak yang berasal dari tubuhnya agaknya menarik perhatian serangga bersayap indah itu.
Pakaiannya putih bersih, sebuah jubah panjang dan lebar. Kedua tangannya tenggelam ditelah lengan jubah yang lebar. Sabuknya berwarna hijau daun dan nampak baru, terlihat terbuat dari sutra kualitas tinggi.
Di kanan dan kiri pinggang, terselip dua buah kipas. Sepasang kipas pusaka yang ampuhnya bukan main.
Gadis ini cantik sekali wajahnya, tak heran jika ia memakai sebuah cadar agar tidak terlalu menarik perhatian. Tapi karena sedang di hutan seorang diri seperti ini, dia tak perlu khawatir dan melepas cadarnya.
Ia duduk di atas tebing tinggi menghadap ke timur, ke arah terbitnya matahari. Matanya sedikit menyipit ketika matahari itu perlahan mulai beranjak naik. Dan akhirnya terpejam sepenuhnya ketika cahaya mulai menyengat. Menikmati hangatnya cahaya matahari, membuat suasana hatinya yang dalam beberapa bulan ini gundah, menjadi sedikit lebih tenang.
Gadis itu terus berada dalam posisi ini sampai lama. Hingga saat matahari sudah benar-benar tinggi, ia baru bangkit dan memakai cadarnya. Sebelum pergi, gadis itu memandang ke dua arah yang berbeda. Seolah matanya menerawang ke kejauhan sana.
Mulutnya bergumam lirih, matanya nampak sendu, "Maaf semuanya...maafkan aku...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG